“Meningkatkan Nilai Ekonomi untuk Membangun Pertanian Organik Berkelanjutan”

Pengembangan pertanian organik saat ini belum berdampak signifikan terhadap ekonomi petani khususnya petani kecil di daerah. Sebagian besar komunitas petani masih lemah dalam ketelurusan produk dan penanganan pasca panen. Padahal dalam perdagangan, ketelusuran dan penanganan pasca panen adalah kunci pemasaran berkelanjutan. Penanganan produk yang baik akan bermutu tinggi sesuai standar akan menambah nilai pada harga jual petani. Jika tidak ditangani dengan baik seringkali produk organik dihargai sama dengan produk konvensional. Masih minimnya kontribusi pertanian organik dalam meningkatkan pendapatan petani dan pelaku pertanian organik dikhawatirkan akan berdampak pada keberlanjutan pertanian organik itu sendiri. Berangkat dari hal tersebut, AOI bekerjasama dengan BfdW (brot fur de welt) untuk meningkatkan nilai ekonomi untuk membangun pertanian organik berkelanjutan. Kegiatan ini berupa peningkatan kapasitas anggota AOI dan petani dampingannya dalam mengelola bisnis model pertanian organik berkelanjutan, penanganan pasca panen, penerapan ICS (internal control system) untuk menjaga ketelusuran produk, temu buyer dan produsen. Tidak hanya itu, AOI juga menjalankan kegiatan Advokasi kebijakan Pertanian Organik serta media publikasi dan riset. Harapannya dengan kegiatan ini petani mendapatkan pendapatan signifikan dari pertanian organik.

Program selengkapnya kerjasama AOI dengan BfdWà untuk keperluan website

Latar belakang :

Pengembangan pertanian organik saat ini belum berdampak signifikan terhadap ekonomi petani khususnya petani kecil di daerah. Sebagian besar komunitas petani masih lemah dalam ketelurusan produk dan penanganan pasca panen. Padahal dalam perdagangan, ketelusuran dan penanganan pasca panen adalah kunci pemasaran berkelanjutan. Penanganan produk yang baik akan bermutu tinggi sesuai standar akan menambah nilai pada harga jual petani. Jika tidak ditangani dengan baik seringkali produk organik dihargai sama dengan produk konvensional. Masih minimnya kontribusi pertanian organik dalam meningkatkan pendapatan petani dan pelaku pertanian organik dikhawatirkan akan berdampak pada keberlanjutan pertanian organik itu sendiri.

Sebagian besar produsen organik juga memiliki masalah dalam ketersediaan dan keberagaman produk yang diperdagangkan. Dalam upaya memenuhi ketersedian dan keberagaman produk, produsen membutuhkan sdm yang memiliki kemampuan untuk mengelola kebun dengan baik. Di rezim sertifikasi ini Indonesia pun memiliki aturan PO lewat Permentan 64 th 2013 tentang Sistem Pertanian Organik yang salah satu isinya menyatakan “Organik adalah istilah pelabelan yang menyatakan bahwa suatu produk telah diproduksi sesuai dengan standar produksi organik dan disertifikasi oleh lembaga sertifikasi resmi”. Kenyataan menunjukkan bahwa program sertifikasi organik yang telah diberikan kepada petani, entitas bisnis pertanian organik sebagian besar tidak berkelanjutan. Sebagian besar sertifikasi organik hanya bertahan hingga batas waktu pelaksanaan program, petani belum mampu melanjutkan program sertifikasi secara mandiri. Mirip dengan program pemerintah Indonesia 1000 Desa Organik, banyak program LSM masih menempatkan sertifikasi sebagai tujuan kegiatan pertanian organik, sehingga dibutuhkan desain umum pemanfaatan produk organik bersertifikat.

Tujuan

“Meningkatkan Nilai Ekonomi untuk Membangun Pertanian Organik Berkelanjutan”

Kegiatan

  1. Peningkatan kapasitas
    1. Workshop bisnis model pertanian organik berkelanjutan
    1. Monitoring kegiatan bisnis model pertanian organik berkelanjutan
    1. Pelatihan manajemen bisnis pertanian organik berkelanjutan
    1. Pelatihan ICS (Internal Control System) pertanian organic
    1. Pelatihan manajemen pasca panen
    1. Penjaminan mutu organik (PAMOR) berbasis komunitas dan partisipatif
    1. Pertemuan bisnis antara buyer dengan produsen
    1. Promosi bisnis pertanian organik (lokakarya/pameran)
  • Advokasi dan riset
    • Pertemuan Nasional untuk membangun koalisi, OMS (Organisasi Masyarajat Sipil), organisasi petani, badan pangan, untuk membentuk koalisi nasional yang mengadvokasi pertanian organik
    • Analisis penelitian kebijakan pertanian oleh IOA dan koalisi
    • Penelitian tentang “Program 1.000 Desa Organik” untuk memberikan informasi kepada anggota, termasuk program pemantauan 1000 desa organik
    • Menulis draf kebijakan strategis berdasarkan hasil penelitian untuk pengembangan pertanian organik berkelanjutan di Indonesia.
    • Seminar nasional IOA dengan koalisi untuk pengembangan strategi advokasi pertanian organik
    • Dialog multi-pemangku kepentingan dengan pemerintah dan koalisi untuk membahas hasil studi koalisi
    • Persiapan draft akhir dari usulan “Strategi pengembangan pertanian organik berkelanjutan di Indonesia”
    • Pengajuan dokumen “Strategi pengembangan pertanian organik berkelanjutan di Indonesia” kepada pemerintah
  • Media dan publikasi
    • Pembaruan dan penerbitan Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI)
    • Meneliti pengetahuan lokal tentang benih lokal di Indonesia
    • Optimalisasi situs web, media sosial, buletin elektronik (Pertanian Organik Berkelanjutan dan Kampanye Perdagangan Adil; platform online dan aplikasi smartphone);
    • Penerbitan Majalah ORGANIS (online dan offline) dan cetak tambah
    • Menyelenggarakan Pekan Raya Organik di Indonesia
    • Partisipasi dalam pameran dan jaringan internasional
    • Memperkuat jaringan internasional