Kebutuhan masyarakat akan pangan sehat saat ini semakin meningkat, namun tidak banyak masyarakat yang dapat mengakses informasi langsung dari penyedia pangan sehat tersebut. Hubungan yang terjalin antara produsen dan konsumen biasanya hanya melalui produk yang tersedia di pasar. Sayangnya, informasi yang terbatas pada label produk seringkali tidak cukup untuk menumbuhkan kepercayaan dalam diri konsumen akan produk tersebut.
Outlet Pamor sebagai sebuah wadah yang menyediakan berbagai produk organik, melihat pentingnya mempertemukan produsen produk organik dengan konsumennya sebagai upaya membuka komunikasi dua arah sehingga dapat saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Minggu (11/01/2015), Outlet Pamor dan Aliansi Organis Indonesia mewujudkan pertemuan tersebut melalui kegiatan bertajuk Piknik Organik “Temu Produsen dan Konsumen”.
Piknik Organik mengajak 15 keluarga muda mengikuti kunjungan ke Kampung Cijulang Bawah, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Bogor. Peserta yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak ini diajak mengunjungi lahan pertanian masyarakat dan merasakan pengalaman menanam serta memanen sayuran organik, seperti bayam, lobak, dan kacang merah. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai proses bertani organik dari hulu ke hilir termasuk kendala dan tantangan yang dialami para petani.
Selain praktek bertani organik, peserta diajak menonton film mengenai pertanian organik dan juga diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan proses produksi maupun produk organik. Berbagai pertanyaan menarik justru datang dari anak-anak. Rasa keingintahuan yang tinggi membuat mereka melemparkan banyak pertanyaan mengenai proses bertani, menumbuhkan tanaman sayuran, dan lain-lain. Beberapa anak juga bersemangat ingin menanam sayuran di halaman rumah mereka.
Menurut Direktur AOI, Rasdi Wangsa, kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan partisipasi konsumen dan produsen dalam kampanye pertanian organik.
“Organik tidak akan tercapai kalau hanya petani sendiri, konsumen juga harus terlibat. Kenapa anak-anak? Karena masa depan kita ini tergantung anak-anak kita”, ujar Rasdi. (guli/SNY)
Dorong Petani Gunakan Pupuk Organik, Pemprov Bagikan Kambing
Jum’at, 09 Januari 2015, 15:32 WIB
Wisnu Wage
(antara)
Bisnis.com, BANDUNG–Meski masih mengalokasikan pupuk kimia, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengaku pihaknya tetap mendorong penggunaan pupuk organik.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan karena itu pada sejumlah wilayah, Jabar menurutnya mengalokasikan bantuan ternak kambing yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber pupuk organik.
“Lihat di Ciptagelar, di Badui, Banten, pernah enggak mereka kekurangan pangan. Padahal mereka tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida,” katanya di Bandung, Jumat (9/1/2015).
Menurutnya kesadaran penggunaan pupuk organik harus terus dibangun, karena pengenalan pupuk kimia andilnya lebih banyak oleh pemerintah.
“Karenanya sekarang mulai gunakan kembali pupuk organik atau kompos. Jadi muda-mudahan dengan pemberian ternak kambing bisa menjadi solusi masalah pupuk,” katanya.
_____________________________________________________________
Editor : Adi Ginanjar Maulana
http://bandung.bisnis.com/m/read/20150109/5/524645/dorong-petani-gunakan-pupuk-organik-pemprov-bagikan-kambing
Pemerintah Didorong Bantu Promosikan Produk Pertanian Organik
Miftahul Khoer – Kamis, 25 Desember 2014, 16:51 WIB
Gula kelapa organik
Bisnis.com, BOGOR – Aliansi Organik Indonesia meminta pemerintah membantu promosi dan pengenalan pada masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi produk pertanian organik.
Ketua Aliansi Organik Indonesia Wahyudi mengatakan respons masyarakat terhadap produk pertanian organik selama ini belum begitu menggembirakan.
“Sehingga serapan produk pertanian organik tidak hanya tersebar di kota-kota besar yang selama ini mendominasi pasar,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (25/12/2014).
Menurut Wahyudi, masih terbatasnya pemasaran pertanian organik membuat produk olahannya pun kurang berkembang. Padahal, kata dia, industri olahan pertanian organik memiliki potensi cukup besar.
Dia menjelaskan saat ini produk olahan pertanian organik sebagian besar terdapat pada komoditas rempah dan umbi-umbian. Kebanyakan olahan tersebut dijadikan makanan ringan yang dipasarkan di sejumlah pameran dan swalayan.
“Pemasaran produk olahannya pun harus melalui promosi yang maksimal, karena kebanyakan olahan pertanian organik diproduksi secara home industry,” paparnya.
Wahyudi berharap ada kebijakan khusus yang mengatur pertanian organik agar perkembangan sektor tersebut bisa menyaingi produksi seperti di beberapa negara tetangga.
Selama ini, kata dia, regulasi yang mengatur terkait pertanian organik masih menumpang pada kebijakan pertanian.
“Padahal, apabila pemerintah ingin pertanian organik berkembang, aturannya harus lebih fokus dan mandiri,” ujarnya.
Editor : Nurbaiti
http://jakarta.bisnis.com/read/20141225/383/385907/pemerintah-didorong-bantu-promosikan-produk-pertanian-organik
Masakan Organik Melly Manuhutu di Momen Natal
21 Dec 2014 | 09:51
Melly ingin mengurangi kimia berbahaya bagi tubuh.
Tomi Tresnady, Nanda Hadiyanti
Suara.com – Keseriusan penyanyi Melly Manuhutu menggeluti masakan sayur organik bukan cuma untuk berbisnis, ia juga terapkan di rumah. Contohnya saja ketika Natal tiba, Melly akan menyiapkan masakan yang serba organik.
“Kalau Natal pasti masak juga yang organik. Ayam rica-rica, sayuran, organik semua, berasnya pun beras merah,” kata Melly saat berbincang dengan suara.com, baru-baru ini.
Di saat hari raya di mana keluarga berkumpul, dimanfaatkan Melly untuk mengedukasi keluarganya tentang produk organik.
“Misalkan ke kakak saya, saya kasih tahu juga kalau produk organik itu bukan cuma sayur,” ujar ibu dua anak dari Kaçamelyv Prakaca, dan Qalycea Prakaca ini.
Sejak merambah bisnis sayur organik sejak 2001, Melly berhasil mengembangkan banyak produk lainnya, seperti kecap dan garam organik.
Dengan mengkonsumsi organik, perempuan berusia 39 tahun ini berharap keluarganya bisa hidup lebih sehat.
“Kita mengurangi bahan kimia yang nggak baik buat tubuh.”
http://www.suara.com/entertainment/2014/12/21/095128/masakan-organik-melly-manuhutu-di-momen-natal
Pelesir dan Belanja Sayur Organik di Yogyakarta
Senin, 05 Januari 2015 | 22:44 WIB
TEMPO.CO, Yogyakarta – Jamu tradisional kunyit asam mengisi botol air mineral di sudut warung berdinding bambu. Hidangan sayur urap berisi parutan kelapa dan daun pepaya menemani segarnya jamu itu. Tak hanya makanan matang, aneka sayur dan buah ada di sana, di antaranya buncis, tomat, selada, pepaya. Produk umbi-umbian dan beras organik juga dijual. (Baca: Kuliner Sehat Berbahan Pangan Lokal ‘Ndeso’ )
Ini adalah produk yang dijual komunitas produsen dan pedagang pangan lokal dan organik di kawasan Milas Vegetarian Resto, Jl Prawirotaman 4. Komunitas itu bernama Pasar Organik Jogja atau Pojog. Selain di Milas Vegetarian Resto, mereka juga rutin membuat pasar organik di sejumlah tempat. “Ini gerakan mempertemukan produk organik dengan masyarakat,” kata anggota komunitas Imam Hidayat, Senin, 5 Januari 2015. (Baca:Balik ke Beras Lokal, Sehat dan Berdaulat)
Menurut dia, produk organik yang dijual pedagang ada yang langsung didatangkan dari kawasan pertanian organik. Misalnya dari pertanian organik di Pakem, Sleman. Lewat komunitas ini, mereka ingin mengenalkan produk pertanian organik yang sehat dikonsumsi masyarakat. Selain itu, mereka ikut mempromosikan makanan berbahan pangan lokal yang tumbuh di lingkungan sekitar masyarakat.
Imam mengatakan pasar organik yang ada di Milas Vegetarian Resto itu tak lepas dari kesediaan restoran untuk menyediakan tempat di sana. Pasar organik di area parkir resto ini berlangsung setiap hari Rabu dan Sabtu pukul 10.00-13.00. Hampir semua produk yang dijual merupakan produk Sahani, produsen atau toko yang menjual produk pertanian organik dari sejumlah kelompok petani. (Baca: Cerita Keraton Yogya Kecoh Belanda Lewat Kuliner)
Menurut dia, produk organik tak hanya bicara pangan yang sehat, melainkan juga bicara menjaga kelestarian lingkungan. Dia mencontohkan penggunaan pupuk organik yang menjaga kerusakan tanah. Ia berharap gerakan mengkonsumsi produk pertanian organik dan pangan lokal ini mendapat dukungan dari masyarakat. “Ini bicara menghargai petani, menyajikan produk berkualitas yang sehat untuk konsumen, dan menjaga lingkungan,” kata dia.
Lisa Virgiano, pemerhati makanan tradisional Indonesia menyambut baik gerakan komunitas di Yogyakarta untuk memasarkan produk pertanian organik dan pangan lokal. Menurut dia, komunitas di Yogyakarta tumbuh dinamis untuk mengkampanyekan produk pangan sehat. “Kuliner sehat di Yogyakarta berkembang dengan baik. Komunitas organik pun hidup,” kata dia.
Gerakan itu, kata Lisa penting supaya masyarakat juga bisa mengenal pangan lokal dan produk organik dengan baik. Kegiatan itu juga perlu supaya masyarakat juga mengenal proses distribusi produk pertanian maupun pangan berbahan produk pertanian lokal. Dia mencontohkan misalnya makanan tradisional berbahan singkong, yakni tiwul. Masyarakat perlu mengenal dari mana bahan makanan itu diproduksi, bagaimana dijual, dan pengolahannya.
_____________________________________________________________
SHINTA MAHARANI
http://www.tempo.co/read/news/2015/01/05/204632992/Pelesir-dan-Belanja-Sayur-Organik-di-Yogyakarta
Organis Edisi 33 Th. 11 (Januari-Maret) 2014
Penuhi Hak Atas Pangan Organik
Indonesia memiliki peluang untuk jadi pelaku pertanian organik yang penting. Diantaranya karena Indonesia mempunyai potensi pasar yang besar, lahan untuk pertanian organik masih cukup luas, teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia, seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah, pestisida hayati, dan praktik lainnya. Bagaimana masa depan pertanian organik seperti program Go Organic untuk bisa memenuhi hak atas pangan masyarakat di Indonesia? Simak selengkapnya dalam Organis Edisi 33 ini http://issuu.com/aoi-2002/docs/isi_organis_33
Organis edisi 37 (Januari – Maret 2015)
Permintaan produk pangan organik diharapkan tumbuh dari waktu ke waktu. Dukungan dana pemerintah dan keterlibatan pihak swasta di pasar pangan organik juga cliharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor |ni. Menurut data dar1PRnewsw1re,pasar makanan dan mmuman organik global diperkirakan bernilai $ 80,4 mityar pada tahun 2013 dan diperkirakan akan mencapai $161.5 milyar pada tahun 2018, dengan lalu pertumbuhan rnencapai 15%. Eropa memillk1segmen terbesar pasar gtobal ini dan diperkirakan akan tumbuh sebesar14,7% dan mencapai $ 84,3 mityar pada tahun
2018 dari $ 42,5 milyar pada tahun 2013.
Simak Selengkapnya di Organis edisi 37
http://issuu.com/aoi-2002/docs/organis_37



