Bagaimana pengembangan pertanian organik di Indonesia sebagai masa depan bangsa, simak selengkapnya di Organis edisi 30 ini….http://issuu.com/aoi-2002/docs/isi_organis_30
Organis Edisi 34/Th.11 (April-Juni 2014)
Pertanian Organis Itu, Simbiosis Mutualisme
Melihat berbagai keuntungan baik untuk masyarakat sebagai petani maupun konsumen organik dan lingkungan hidup, maka perlu terus digalakkan penyadaran terhadap komunitas petani dan konsumen organik tentang fungsi dan manfaat pertanian organik baik dari segi ekonomi, ekologi maupun mitigasi dan perubahan iklim, sehingga masyarakat meningkatkan partisipasi dalam mengembangkan pertanian organik. Bagaimana simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan) antara lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, pertanian organik dan masyarakat di dalamnya? Simak selengkapnya dalam Organis Edisi 34
http://issuu.com/aoi-2002/docs/isi_organis_34_2014/0
Kualitas Ekspor, Buah Naga Organik Buleleng Minim Dukungan
DENPASAR, BALIPOST.com-Bali memiliki salah satu komoditi organik yang layak menembus pasar luar negeri. Komoditi itu, buah naga yang dikembangkan di wilayah Buyan, Buleleng. Selain berkualitas ekspor, buah naga tidak mengenal musim.
“Kalau lahan kering, bahan organiknya harus bagus. Saat ini bahan organik masih kurang. Ini yang mesti digalakkan,” kata Ketua BOA, Dr. Ni Luh Kartini, Selasa (18/3).
Sayangnya, pengembangkan tanaman organik ini benyak terganjal kendala. Padahal, respon masyarakat sangat bagus. Dia berharap, pemerintah mendukung gerakan pertanian organik. Seperti, perkebunan buah naga di Buyan, Buleleng. Mestinya dikembangkan hingga mampu ekspor. Pasalnya buah naga organik berkualitas ekspor. “Saat ini baru pemenuhan kebutuhan Bali. Di Buyan ada perkebunan buah naga seluas puluhan hektar. Selain itu, pohon naga tidak mengenal musim,” tegas dosen Fakultas Pertanian Unud ini. (ngurah/balipost)
http://balipost.com/read/headline/2014/03/19/7422/kualitas-ekspor-buah-naga-organik-buleleng-minim-dukungan.html
Harga Beras Naik, Eksportir Beras Organik Untung
Senin, 09 Maret 2015 , 01:59:00 WIB
RMOL. Mahalnya harga beras di beberapa daerah membawa berkah tersendiri bagi pelaku eksportir beras organik di Tasikmalaya. Pasalnya harga beras kualitas ekspor ini ikut terdongkrak naik sehingga bisa meningkatkan keuntungan.
Ya, sejak sebulan terakhir di beberapa daerah harga beras mengalami kenaikan hingga 30 persen. Tak dipungkiri kenaikan tersebut cukup memberatkan kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Namun dibalik kenaikan harga beras, berkah tersendiri bagi pelaku eksportir beras organik. Karena harga beras ekspor turut naik hingga 18 persen.
Seperti dirasakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik di wilayah Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya. Ekspor beras organik sejak 2009 ini harganya terdongkrak. Semula harga beras yang sudah dikemas tersebut berada dikisaran Rp 17 ribu per kilogramnya. Kini dijual dengan harga Rp 20 ribu.
Sayangnya kenaikan harga beras organik tidak diimbangi dengan pasokan gabah, karena musim panen jatuh pada akhir bulan Maret 2015,” kata salah seorang eksportir beras organic, Saiful Bahri, kepada wartawan, Minggu siang.
Selain itu, tambah Bahri, adanya peningkatan pesanan hingga 270 ton untuk dikirim ke beberapa negara Eropa maupun di Amerika, membuat para petani kewalahan.
Kini Gapoktan Simpatik akan terus melakukan sosialisasi kepada para petani, terkait cara bercocok tanam padi organik dengan baik, agar hasilnya bisa maksimal. [zul]
Sopyan Munawar
http://www.rmol.co/read/2015/03/09/194654/Harga-Beras-Naik,-Eksportir-Beras-Organik-Untung-
Organis-Edisi 27/Th.9 (Jan-Aprl-2012)
Harga yang relatif lebih tinggi ketimbang produk konvensional membuat produk organik terkesan mahal
dan eksklusif. Seolah hanya mereka yang berpenghasilan tinggi yang mampu membelinya. Padahal di
balik harga yang relatif lebih mahal tersebut ada nilai – nilai manfaat baik untuk konsumen maupun petani
sebagai produsen-nya… download
Jual Produk Organik, Pemkot Malang Dirikan Pasar Tani
TEMPO.CO, Malang – Pemerintah Kota Malang membuka Pasar Tani di Lapangan Rampal. Pasar yang dibuka setiap pekan itu menjual aneka produk pertanian, terutama hasil pertanian organik. “Ada beras, sayuran, dan buah organik,” kata Wali Kota Malang Mochamad Anton, Jumat, 6 Maret 2015. Dibuka mulai pukul 06.00 hingga 11.00, pasar itu juga menjual hasil ternak, ikan budi daya air tawar, bunga potong, dan bunga hias.
Pasar Tani diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Lantaran harga yang ditawarkan biasanya lebih mahal, petani menjual langsung ke pembeli. Mata rantai perdagangan produk pertanian dipangkas, agar petani tidak menjual melalui tengkulak.
Beragam produk pertanian yang ditawarkan diharapkan akan menarik pembeli. Apalagi Lapangan Rampal selama ini menjadi pusat kegiatan olahraga masyarakat Malang. Pasar Tani dikelola atas kerja sama antara tim penggerak PKK dan Persatuan Istri Tentara (Persit) Chandra Kirana.
Anton berharap Pasar Tani dapat meningkatkan gairah di sektor pertanian. Mengingat keterbatasan lahan pertanian menyebabkan produk pertanian di Malang rendah, Anton meminta petani mempertahankan lahan pertanian. Kebun atau sawah diharapkan tidak beralih fungsi menjadi kawasan permukiman. Selain itu, masyarakat Kota Malang bisa bertani dengan memanfaatkan pekarangan serta menggunakan sistem hidroponik. Jika sektor pertanian kuat, ucap Anton, ketahanan pangan juga kuat.
“Sulit membendung alih fungsi lahan, tak ada aturan hukumnya,” kata Kepala Dinas Pertanian Hadi Santoso. Rencana ini dituangkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Tujuannya, agar lahan pertanian tetap terjaga, tak menyusut signifikan.
Pendataan Dinas Pertanian, lahan pertanian di Malang tersisa 2.000 hektare yang tersebar di Lowokwaru, Kendangkandang, Sukun, dan Blimbing. Sedangkan Klojen tak menyisakan lahan pertanian sama sekali, karena wilayah itu merupakan pusat kota yang dipenuhi bangunan. Klojen menjadi kawasan perdagangan, industri, permukiman, dan pusat pemerintahan, termasuk pusat perbelanjaan berdiri di kawasan Klojen.
Pemerintah Kota Malang bekerja sama dengan TNI untuk melaksanakan program ketahanan pangan. Sejumlah lahan aset Pemerintah Kota Malang yang tak produktif dimanfaatkan untuk menanam aneka tanaman pangan. Menurut Anton, program itu sangat efektif, terutama saat harga beras mahal seperti sekarang. Selama empat tahun, luas lahan pertanian menyusut 250 hektare.
Lahan pertanian juga menjadi upaya untuk mempertahankan ruang terbuka hijau. Selain itu, Dinas Pertanian mendorong adanya pertanian di kawasan perkotaan. Konsepnya, setiap rumah ditanami aneka jenis tanaman produktif. Selain sebagai penghijauan, itu untuk menambah lahan pertanian.
EKO WIDIANTO
http://www.tempo.co/read/news/2015/03/06/090647654/Jual-Produk-Organik-Pemkot-Malang-Dirikan-Pasar-Tani


