Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2013

check this out….
 
Nama Buku: STATISTIK PERTANIAN ORGANIK INDONESIA 2012
Jumlah Halaman:
70 hal + xiv
Harga: @ Rp.
100.000 (belum termasuk ongkos kirim)
DAFTAR ISI :

PENGANTAR//UCAPAN TERIMA KASIH//DAFTAR ISI//DAFTAR TABEL& GAMBAR//DAFTAR ISTILAH//TENTANG ALIANSI ORGANIS INDONESIA//PENDAHULUAN: A.Tinjauan Umum, B.Metodologi//STATISTIK PERTANIAN ORGANIK INDONESIA 2011: Luas Area, Produk, Pelaku//PERKEMBANGAN PASAR ORGANIK– STUDI KASUS KOTA BESAR DI INDONESIA:

  1. Pasar Mainstream, 2. Pasar Khusus  //TREN PERTANIAN ORGANIK INDONESIA TAHUN 2012//

PUSTAKA//LAMPIRAN
Berminat?

Hubungi: Aliansi Orgnis Indonesia

Telp: +62 251 7556328

E-mail: office@organicindonesia.org

Website: www.aoi.ngo

Sayur Organik dari Halaman Rumah

03:51 WIB | Selasa, 08 Juli 2014 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Julianto
Pangan organik kini menjadi satu kebutuhan masyarakat yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Keinginan untuk hidup lebih sehat membuat masyarakat kembali memilih produk alami alias organik.
Begitu juga lahirnya KWT (Kelompok Wanita Tani) Vigur Organik. Sempat merasakan sakit yang sulit sembuh, akhirnya Titiek Widayati pendiri KWT Vigur Asri mengembangkan produk pertanian organik.
Bahkan nama KWTnya pun berganti menjadi Vigur Organik pada tahun 2010. Upaya keras Titiek akhirnya membuahkan hasil. Sebab pada tahun 2011, produk yang dia hasilkan mendapatkan sertifikasi organik dari LeSOS (Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman) untuk tanaman sayuran dan produk olahan.
“Awalnya ibu Titiek menanam tanaman organik hanya untuk kebutuhan pribadi,” kata Wakil Ketua Vigur Organik, Malang, Diyah Rahmawati kepada Sinar Tani saat menunggu stand Vigur Organik yang berada di Pasar Tani depan pintu utama Stadion Kanjuruhan.
Menurut Diyah, KWT Vigur Organik fokus dalam pengembangan sayuran yang bisa ditanam di halaman rumah. Jika awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, maka pada perkembangannya diperluas ke sekitar wilayah tempat tinggal. “Sebagai istri dari Ketua RT, ibu Titiek dengan mudah mengajak kalangan ibu rumah tangga,” katanya.
Diyah bercerita, memang pada awal pengembangan terbatas pada kalangan ibu rumah tangga yang mempunyai pendidikan tinggi. Namun kemudian ibu Titiek melihat bahwa ada kalangan ibu rumah tangga yang berpendidikan rendah juga perlu mendapat pengetahuan mengenai pangan organik.
Secara sosial ternyata mengajak kalangan ibu rumah tangga yang berpenghasilan rendah sangat membantu. Bukan hanya meningkatkan ketahanan pangan, tapi dapat menambah pendapatan rumah tangga.
“Jadi dengan lahan yang terbatas bisa menghasilkan produk yang berkualitas. Pada akhirnya secara sosial bisa meningkatkan pendapatan rumah tangga,” katanya.
Saat ini anggota KWT Vigur Organik beranggotakan 18 orang. Dengan luas lahan pengelolaan sekitar 6 ribu meter.  “Semua produk yang dihasilkan kita selalu awasi. Apalagi kita sudah mendapatkan sertifikasi organik,” ujar dia. Pengawasan produk sayuran segar dilakukan oleh internal control system (ICS).  Standar mutunya pengacu pada SNI.
Dari 100 produk sayuran segar yang pernah dikembangkan, KWT Vigur Organik kini hanya fokus pada 10 produk sayuran segar. Yakni, kangkung, caisim, pokcoy, sawi pahit, sawi wangi, kailan, bayam hijau, bayam sembur, bayam merah dan bayam Jepang. Pasar produk sayuran masih sekitar malang dan wilayah Jawa Timur lainnya. Pemasarannya, selain melalui supermarket, juga direct seller.
Produk Olahan
Berhasil mengembangkan tanaman sayuran organik, KWT Vigur Organik melebarkan sayap produknya yakni membuat pangan olahan. Beberapa produk olahan tersebut yakni, kecap manis, kecap autis, beras merah organik, sereal beras hitam dan beberapa produk lainnya. “Ke depan kami tengah mengkaji membuat produk sayuran kering,” katanya.
Keinginan mengembangkan sayuran kering ini karena selama ini terjadi kendala saat mengirim produk segar ke luar Jawa Timur atau luar Jawa. Pihaknya pernah mengirim produk segar melalui travel, ternyata terjadi penurunan mutu. Produk sayuran kering yang tengah dikaji adalah bayam kering. “Kami berupaya menyiasati agar harga produk sayuran kering tersebut lebih terjangkau harganya,” kata dia. Yul
Sumber:
http://tabloidsinartani.com/content/read/sayur-organik-dari-halaman-rumah/

Menteri PDT Apresiasi Gerakan Pertanian Organik di Bondowoso

11 Juli 2014; Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Helmi Faishal Zaini, mengapresiasi gerakan pertanian organik di Bondowoso. Ia mengungkapkannya saat berkunjung ke kelompok tani Karya Tani 2 di Desa Karangmelok, Kecamatan Tamanan.
Menteri PDT mengharapkan gerakan pertanian organik ini terus dilakukan dengan berbagai terobosan agar dapat menjadi sebuah gerakan yang bisa mendorong sekaligus mengangkat perekonomian Bondowoso.
Dalam kesempatan itu, Helmy didampingi Bupati Bondowoso Drs. H. Amin Said Husni mengelilingi beberapa unit pengelolaan pertanian milik Buharto, salah satu pengelola pertanian organik yang sukses di Bondowoso.
Menteri PDT memuji konsep yang telah dilakukan sekaligus dikembangkan kelompok Karya Tani 2. “Saya bangga atas pengembangan konsep pertanian terpadu oleh kelompok Karya Tani 2. Dengan konsep ini, saya yakin bisa memberikan sumbangsih besar untuk memajukan pertanian di Bondowoso,” katanya.
Sedangkan konsep pertanian terpadu adalah metode pertanian yang diterapkan mulai dari hulu ke hilir. Contohnya, kotoran hewan ternak bisa dijadikan pupuk. Sedangkan limbah pertanian bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.
Untuk Pemerintah Kabupaten, Helmy berharap agar terus memberikan support kepada kelompok-kelompok agar bisa terus berkembang lebih baik. Sedangkan, pihak Kementerian PDT pada tahun-tahun mendatang, akan menambah program-program untuk Bondowoso.
Dengan harapan, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Sementara Bupati Bondowoso menyampaikan Pemerintah Kabupaten akan terus memberikan support, karena pertanian organik memang menjadi salah satu fokus pengembangan. “Semua kita lakukan agar masyarakat Bondowoso menjadi masyarakat yang Berdaya,” tutur Bupati.(humas dan pde)
____________________________________________________________
Sumber: http://bondowosokab.go.id/menteri-pdt-apresiasi-gerakan-pertanian-organik-di-bondowoso-2.html

Batu Bentuk Klaster Pertanian Organik, Ini Tujuannya

Senin, 11 Agustus 2014, 16:26 WIB
Bisnis.com, BATU — Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, melalui dinas pertanian dan kehutanan setempat akan membentuk klaster guna memudahkan pembudidayaaan serta mengawasi perkembangan program pertanian organik di wilayahnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, Arif As Sidiq, mengatakan klaster khusus tersebut meliputi pertanian organik pangan, budi daya pangan, budi daya tanaman holtikultura seperti apel jeruk dan buah lainnya, serta sayur.
“Selain itu juga ada pertanian organik yang diorientasikan pada pekarangan-pekarangan milik warga,” kata Arif, Senin (11/8/2014).
Menurutnya hingga akhir 2014 dinas pertanian akan membentuk percontohan organik yang bisa diadopsi di rumah warga agar menjadi inspiratif bagi masyarakat untuk bertani organik.
Dalam hal ini pihaknya akan melibatkan seluruh komponen masyarakat mulai petani, masyarakat yang menjadi konsumen hasil pertanian, organisasi massa seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) serta pengurus Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk mendukung petani agar lebih mengingkatkan mutu dan kualitas produk pangannya.
“Selain klaster, kami juga akan memberikan insentif kepada petani, serta melakukan sosialisasi terkait program tersebut,” jelas dia.
Insentif tersebut berupa pupuk organik, obat-obatan organik, serta penghargaan khusus bagi petani organik yang berhasil mengingkatkan mutu dan kualitasnya dengan memberikan bantuan permodalan kepada mereka.
Asisten I Sekretaris Kota Batu, Siswanto, sebelumnya mengatakan saat ini terdapat sekitar 30 hektare lahan pertanian organik di Batu yang tersebar di tiga kecamatan yakni Bumiaji, Batu, dan Junrejo dengan luas masing-masing 10 hektare.
“Sedangkan lima hektare lainnya berada di desa Penden kecamatan Junrejo yang merupakan kawasan tambahan untuk pertanian organik khusus padi,” ujarnya.
Kendati petani disejumlah wilayah telah menerapkan pertanian organik pada tanamannya, namun bila dievaluasi lebih lanjut, ternyata program pertanian organik yang dijalankan Pemkot Batu masih berjalan cukup lambat.
Dari hasil pantauan tim evaluasi yang diterjunkan oleh pemkot beberapa waktu lalu terungkap jika pertanian organik di Batu masih berjalan sekitar 40%.
Minimnya petani yang menggunakan pertanian organik tersebut salah satunya disebabkan karena sulitnya petani menerapkan pola pertanian tersebut. Serta faktor kebutuhan petani yang membuat mereka memilih tetap menggunakan pola pertanian an-organik (kimia).
Sumber : JIBI
Editor : Wahyu Darmawan
http://surabaya.bisnis.com/m/read/20140811/10/73640/batu-bentuk-klaster-pertanian-organik-ini-tujuannya

Penanaman Padi Organik Tetap Dipertahankan

08 Agustus 2014, KUDUS, suaramerdeka.com– Meski tidak banyak petani di Kabupaten Kudus yang mengembangkan penanaman padi organik namun penanaman padi dengan metode system of rice intensification (SRI) berupaya tetap dipertahankan.
Kepala Dinas Pertanian, perikanan, dan Kehutanan Kudus, Budi Santoso mengatakan, persoalan mengapa petani enggan menanam padi organik dikarenakan lebih pada kebiasaan.
“Umumnya mereka ingin tanaman padi berbuah dengan cepat namun tanpa memperhitungkan efek yang ditimbulkan ketika mereka menggunakan bahan kimia sebagai pendukung untuk mengembangkan tanaman tersebut,” katanya.
Di samping itu petani masih meragukan akan hasil dari padi organik yang sebenarnya justru akan menghasilkan buah yang baik. “Ini merupakan kendala klasik, namun sejatinya hal tersebut bisa disiasati dengan melakukan tanam bersama gapoktan tentunya tidak mahal. Namun lagi – lagi hal itu juga belum banyak dilakukan petani,” ujarnya.
Meski demikian ada juga lahan pertanian padi yang berhasil mengembangkan padi organik, di antaranya adalah Kecamatan Kaliwungu luasnya 40 hektare, Undaan 280 hektare, Jati 160 hektare, Mejobo 180 hektare, Jekulo 300 hektare, Bae 20 hektare, dan Gebog 20 hektare. “Dipastikan tahun ini akan ada peningkatan, karena penanaman padi organik mulai digalakkan kembali,” katanya.
Budi juga menjelaskan bahwa keunggulan secara ekonomi bagi petani adalah tanaman hemat air,  karena selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen. Selanjutnya hemat biaya, hanya butuh benih lima kilogram per hektare. Kemudian hemat waktu, ditanam bibit muda 5 – 12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal produksi meningkat.
( Ruli Aditio / CN26 / SMNetwork )
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2014/08/08/212288/Penanaman-Padi-Organik-Tetap-Dipertahankan

Mahasiswa KKN-PPM UBH Ajarkan Masyarakat Buat Pestisida Organik

5 Agustus 2014, Bunghatta.ac.id. Saat ini petani masih menggunakan pestisida sintetis untuk membasmi hama pada tanaman. Padahal pestisida sintetis dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem bila dosis yang diberikannya tidak mengikuti ketentuannya.
Untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetis Lola Ineli Saputri mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta yang melakukan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Jorong Pauah, Nagari Panta Pauah, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam melakukan sosialisasi dan memberi pembelajaran mengenai pembuatan pestisida organik bagi petani dan masyarakat.
Lola mengatakan pestisida organik ini merupakan ramuan obat-obatan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang dibuat dari bahan-bahan alami. Salah satu pestisida organik adalah dengan menggunakan ekstrak daun pepaya untuk mengendalikan hama ulat dan hewan pengisap.
“Pemilihan daun pepaya sebagai bahan untuk pembuatan pestisida karena mengandung senyawa papain yang cukup efektif untuk membasmi hama pada tanaman,” ungkapnya.
Ia menjelaskan proses pembuatan pestisida organik ini cukup mudah, menggunakan bahan-bahan yang sederhana seperti deterjen, minyak tanah, air dan daun pepaya sebagai bahan utamanya serta alat yang digunakan pisau, alat penghalus/batu, tabung semprot dan ember.
Cara membuatnya, kita cuci bersih daun pepaya kemudian dihancurkan dan ditumbuk hingga halus. Masukan daun pepaya kedalam ember tambahkan air, deterjen dan beberapa sendok makan minyak tanah. Selanjutnya, didiamkan selama satu malam setelah itu disaring dan jadi pestisida organik dari daun pepaya.
Menurutnya untuk penggunaan pestisida tersebut cukup dimasukan kedalam tabung semprot dan disemprotkan ke tanaman yang akan dibasmi hamanya
“Keunggulan dari pengunaan pestisida organik dari daun pepaya ini adalah jenis pestisida yan mudah terurai, relatif aman bagi manusia dan tanaman, bahan yang digunakanpun tidak sulit dijumpai dan ekonomis,” tambahnya.
Selain sosialsiasi mengenai pestisida organik, Lola juga melakukan pengenalan sampah organik dan anorganik kepada masyarakat Jorong Pauah, Nagari Panta Pauah. (**Ubay-Humas UBH)
 
http://www.bunghatta.ac.id/news-1503-mahasiswa_kkn-ppm_ubh_ajarkan_masyarakat_buat_pestisida_organik.html

Petani Malang Ogah Pakai Pupuk Organik Bersubsidi

Senin, 04 Agustus 2014,
TEMPO.CO, Malang – Kebanyakan petani di Kabupaten Malang malas menggunakan pupuk organik bersubsidi. Akibatnya, pupuk organik bersubsidi yang terserap masih sangat sedikit.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pasar Pemerintah Kabupaten Malang Helijanti Koentari mengatakan sejak awal hingga pertengahan 2014 serapan pupuk organik bersubsidi masih yang paling rendah dibandingkan dengan pupuk kimia sintetis bersubsidi. “Karena masyarakat sekarang sudah bisa mandiri memproduksi pupuk organik,” kata Helijanti, Senin, 4 Agustus 2014.
Dia menyebut pupuk organik yang terserap baru 8.390 ton atau hanya 28,61 persen dari total kuota sebanyak 29.319 ton. Serapan pupuk organik ini lebih sedikit dari serapan pupuk kimia sintetis (anorganik) bersubsidi, seperti pupuk urea, zwavelzure ammoniak (ZA) alias amonium sulfat, NPK Phonska, dan SP-36.
Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung tiga unsur hara atau nutrisi utama sekaligus, yakni nitrogen, fosfat (phosphat), dan kalium. Pupuk NPK biasa disebut pupuk lengkap. Pupuk SP atau Superphosphat-36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari batuan fosfat yang ditambang.
Sedangkan pupuk organik di dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah didefinisikan sebagai pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Helijanti memprediksi rendahnya serapan pupuk organik bersubsidi berlanjut hingga akhir tahun anggaran sehingga dia pesimistis seluruh pupuk organik yang diberikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terserap habis.
Namun, Helijanti menekankan bahwa gabungan serapan pupuk organik dan pupuk anorganik bersubsidi masih kurang dari 50 persen. Hingga pertengahan Juli lalu, total pupuk bersubsidi yang terserap masih 69.922 ton atau setara 46,90 persen dari total kuota sebanyak 149.080 ton.
Dari lima jenis pupuk bersubsidi itu, hanya pupuk urea dan SP-36 yang serapannya melebihi 50 persen. Pupuk urea yang terserap sebanyak 27.002 ton atau 68,53 persen dari total kuota 39.403 ton. Sedangkan pupuk SP-36 yang terserap sebanyak 3.185 ton atau 56,58 persen dari total kuota 5.629 ton.
__________________________________________________________
http://www.tempo.co/read/news/2014/08/04/058597040/Petani-Malang-Ogah-Pakai-Pupuk-Organik-Bersubsidi

BOF4 & Family Farming 2014: Rayakan Tahun Pertanian Keluarga 2014 untuk Pangan Lokal dan Organik

Siaran Pers
BOF4 & Family Farming 2014: Rayakan Tahun Pertanian Keluarga 2014 untuk Pangan Lokal dan Organik
Bogor, 5 November 2014
Bogor Organic Fair yang keempat (BOF4) akan hadir kembali pada 14-16 November 2014 di Lapangan Sempur Bogor, Jawa Barat. Dalam suasana pencanangan Tahun 2014 sebagai Tahun Pertanian Keluarga oleh FAO, perhelatan akbar tahunan ini bertajuk BOF4 & Family Farming 2014.
“Tahun ini, BOF4 & Family Farming 2014 akan menyampaikan ke publik akan pentingnya Pertanian Keluarga untuk menghasilkan pangan organik dan lokal yang sehat, baik untuk masyarakat maupun lingkungan sekitarnya karena melihat pentingnya pola makan dan makanan yang sehat bagi tubuh dan kelangsungan generasi muda,” jelas Ani Purwati sebagai Ketua Panitia BOF4 & Family Farming 2014.
Dijelaskannya, BOF4 & Family Farming 2014 diselenggarakan Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerjasama dengan  Aliansi Petani Indonesia (API) , Pemerintah Kota Bogor, anggota AOI dan para pihak baik pemerintah, akademisi maupun swasta ingin menyampaikan pada publik (masyarakat) akan pentingnya pola hidup dan makanan sehat untuk tubuh serta proses produksinya hingga sampai di meja makan.
“Masyarakat terutama generasi muda kiranya bisa memikirkan kembali pola hidupnya, bagaimana cara makan dan bahan makanan yang dikonsumsinya. Apakah makanan itu organik, lokal dan sehat? Apakah proses produksinya memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan keluarga petani dan sebagainya?” tutur Ani.
Berbagai kegiatan di BOF4 dan Family Farming 2014 seperti pameran produk organik dan local; seminar “pentingnya peran perempuan dalam pertanian keluarga”; Organic Honey Lemon Shot (mengenal & menikmati aneka minuman kesehatan dari madu); pembukaan oleh Presiden IFOAM; klinik organic; talkshow: peta rasa pangan lokal, organic lifestyle for young generation, smart mom; kids planting; lomba mewarnai; interactive cooking; kelompencapir; pentas seni dan musik tradisional; talk & demo: tips dan trik membuat happy healthy smoothies vs juice, membuat permen dari sari buah, kerajinan dari koran bekas, kids planting; quize dan organic sale.
Menurut Sri Nuryati sebagai Direktur Program AOI, BOF sebagai event tahunan ini bisa menggerakkan publik untuk berperan aktif dalam menjaga dan menerapkan pola hidup sehat secara organik. Baik pola makan, bertani, maupun dalam kebiasaan sehari-hari. Dengan mengonsumsi pangan organik, masyarakat bisa lebih sehat dan petani bisa lebih sejahtera karena hasil panen lebih baik dengan harga lebih tinggi juga.
“Dengan peran aktif publik secara lebih luas, diharapkan perubahan lebih baik dalam hal kesehatan masyarakat dan lingkungan bisa terwujud dengan mudah. Begitupun kesejahteraan petani organik dan lokal bisa tercapai,” ungkap Sri.
Lebih lanjut Sri mengatakan bahwa pertanian organik mampu meningkatkan pendapatan usaha tani petani. Sampai saat ini harga produksi pertanian organik, utamanya beras dan berbagai sayuran, masih lebih tinggi dibandingkan komoditas konvensional. Contohnya adalah petani di Boyolali. Petani Appoli mampu menghasilkan gabah kering panen 1,5-2 ton atau 700-1000 kg beras dari lahan seluas 0,25-0,3 ha sekali musim tanam. Dengan harga beras Rp 15.000 per kg, maka pendapatan petani kotor mencapai Rp 45 juta per hektar.
Dalam perayaan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014, IFOAM (International Federation Organic Agriculture Movements) pun mengakui peran penting dari pertanian keluarga dan petani kecil dalam produksi pangan dan ekonomi pedesaan berkelanjutan. IFOAM mendorong agar adopsi pertanian organik di pertanian keluarga sebagai pendekatan yang berkelanjutan. Ini didasarkan pada disiplin ilmu agroekologi yang terbukti efektif dalam mencapai intensifikasi ekologi, agronomi dan sosial ekonomi untuk pertanian rakyat.
Sementara itu menurut Ika N. Krisnayanti, Divisi Hubungan Internasional Aliansi Petani Indonesia, pertanian keluarga adalah basis produksi pangan yang berkelanjutan, bertujuan mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan, mengelola dan menjaga kelestarian lingkungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, serta menjadi landasan bagi pelestarian warisan sosial-budaya yang penting dari bangsa-bangsa dan komunitas pedesaan di seluruh dunia.
Dari berbagai sumber, tercatat sekitar 3 miliar penduduk dunia tinggal di pedesaan. Kebanyakan dari penduduk itu adalah keluarga yang melakukan kegiatan pertanian (disebut pertanian keluarga). Dari jumlah itu, sekitar 1,5 miliar perempuan dan laki-laki petani hidup dari 404 juta lahan pertanian kecil (kurang dari 2 hektar). Sementara, sekitar 410 juta orang mengumpulkan hasil hutan dan padang rumput, 100-200 juta menjadi penggembala, sekitar 100 juta merupakan nelayan kecil, dan 370 juta lainnya merupakan kelompok masyarakat asli yang sebagian besar bertani. Selain itu, 800 juta manusia bertanam di kebun-kebun (pekarangan) di perkotaan.
“Oleh sebab itu, pertanian keluarga mempunyai nilai strategis, karena memiliki fungsi ekonomis, sosial, budaya, lingkungan, dan kewilayahan (teritori). Baik perempuan maupun laki-laki dalam pertanian keluarga menyumbangkan 70% pangan dunia,” jelas Ika.(*)
_____________________________________________________________
Info selengkapnya:
Ani Purwati (081932898698/ani@organicindonesia.org)
Sri Nuryati (08128164009/sri@organicindonesia.org)
Ika N. Krisnayanti (08128387971/ikank@yahoo.com)

BOF 4 dan Family Farming 2014 Berlangsung Kembali

Rayakan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014
Siaran Pers
Bogor, 14 November 2014
Bogor Organic Fair 4 (BOF-4) dan Family Farming 2014 berlangsung pada 14-16 November 2014 di Lapangan Sempur Bogor, Jawa Barat. Perhelatan akbar ini diselenggarakan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerjasama dengan Aliansi Petani Indonesia (API) dan Pemerintah Kota Bogor.
Untuk merayakan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014, Bogor Organic Fair keempat  kali ini mengambil tema Bogor Organic Fair 4 dan Family Farming 2014: “Pangan Lokal dan Organik.” Dengan tema ini, BOF 4 dan Family Farming 2014 bertujuan untuk mempromosikan produk pangan dan non-pangan lokal dan organik Indonesia,  mempertemukan produsen (petani kecil) – konsumen  – pedagang produk lokal dan organik, mempromosikan pentingnya eksistensi Pertanian Keluarga /Family Farming dalam mewujudkan kesejahteraan petani dan kesehatan konsumen dan mengangkat dan memfasilitasi para petani lokal untuk mempromosikan produknya dan menjadi ajang promosi efektif dan berkesinambungan bagi semua peserta pameran, maupun pihak sponsor.
Untuk mempromosikan pentingnya pertanian keluarga dan produk-produk lokal dan organik, BOF4 dan Family Farming 2014 diisi dengan berbagai acara talkshow, seminar, lomba, pameran dan quiz yang menampilkan produk lokal dan organik dari pertanian keluarga. Ada 54 peserta pameran produk lokal dan organik baik pangan maupun non pangan.
Menurut Wahyudi sebagai Koordinator Dewan Perwakilan Anggota-Aliansi OrganisIndonesia (DPA-AOI) bahwa BOF kali ini mendapatkan momentum yang paling strategis bersamaan dengan pencanangan tahun 2014 sebagi Tahun Internasional Pertanian Keluarga (International Year of Family Farming/IYFF) oleh  Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui sebuah deklarasi oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Mengapa? Pertanian keluarga ternyata menyumbang 70% dari pangan dunia dan sekaligus menjadi basis produksi pangan dunia.
“Jika kita ingin mendiskusikan bagaimana menjamin suplai, distribusi, keberlanjutan, kedaulatan dan ketahanan pangan, kita harus memulainya dari lingkup terkecil,  yakni dari pertanian keluarga. Mulailah dari situ kemudian membesar bicara hal-hal yang global. Jangan dibalik,” ungkap Wahyudi.
Sementara itu M. Nuruddin sebagai Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API) menyatakan,”Ini waktunya dan momentum bagi rumah tangga petani di Indonesia yang mengalami penurunan dari segi jumlah dan pendapatan akibat praktik-praktik pertanian yang tidak berkelanjutan.”
“Dengan perayaan tahun pertanian keluarga dan kegiatan BOF4 dan Family Farming 2014 akan dibangun kembali praktik-praktik pertanian yang berkelanjutan, hubungan dan pertukaran petani dengan sumber daya alam yang berkontribusi terhadap tingkat kesejahteraan dan keberlanjutan antar generasi,” lanjut M. Nuruddin.(*)
Notes:
Bogor Organic Fair (BOF) merupakan event tahunan yang diinisiasi Aliansi Organis Indonesia (AOI) sebagai organisasi yang mengemban mandat untuk mempromosikan pertanian organik dan memfasilitasi akses pasar produk pertanian organik di Indonesia. AOI telah merintis sebuah event pameran ini sejak tahun 2010. Pada tahun 2010 pameran ini dikunjungi oleh hampir 500 orang, sementara pada tahun 2011 jumlah pengunjungnya mencapai 1.000 orang, dan pada tahun 2012 meningkat lagi menjadi 3.000 pengunjung.
Untuk ketiga kalinya, pada 2013 pengunjung BOF mencapai 3200 orang. Pameran produk organik yang digelar selama 2 hari pada 2013 dimeriahkan oleh 44 stand peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dengan beragam latar belakang, seperti petani, trader, media massa, UKM, lembaga sertifikasi dan lembaga konsultan organik. Pameran juga dimeriahkan oleh 8 booth food festival yang menyajikan penganan sehat dan ramah lingkungan.
____________________________________________________________
Kontak Media:
Sri Nuryati dari AOI(08128164009/sri@organicindonesia.org)
Ika Nurila Krisnayanti dari API (0812 8387 971/ ikank@yahoo.com)