Proses Sertifikasi Produk Pala di Sangihe [2]

Serangkaian proses sertifikasi organik mulai dari pendataan petani, penyuluhan standar organik internal, inspeksi internal, dan sampai pada proses inspeksi eksternal yang mana pada kegiatan ini akan dihasilkan beberapa rekomendasi perbaikan dan hasil dari semua implementasi organik yang telah dilakukan. Apakah implementasi yang selama ini dilakukan sudah benar dalam mempraktekan pertanian organik..
Proses demi proses telah dilakukan oleh APO KOMASA beserta 10 KT yang tersebar di Kepulauan Sangihe. Tiba saatnya untuk melakukan perbaikan hasil dari inspeksi eksternal kemarin.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
#sangiheisland
#sulut
#kepulauansangihe
@Kec.Tamako Kepl.Sangihe

TERANGI NUSANTARA : the learning event 2018

Hivos menandatangani sebuah kesepakatan kerjasama dengan Millenium Challenge Account – Indonesia (MCA-I) untuk mendukung peningkatan akses terhadap energi terbarukan melalui Proyek TERANG, yang merupakan kombinasi dari dua program kunci Hivos dalam energi terbarukan yaitu Biogas Domestik Program BIRU dan Sumba Iconic Island (SII).
Kemitraan antara Proyek MCA-I dan TERANG akan mencapai tahap akhir. Sehubungan dengan diseminasi praktik terbaik selama pelaksanaan proyek, dan berbagi pengalaman mengenai tantangan dan peluang untuk menyediakan akses terhadap energi terbarukan skala kecil untuk masyarakat di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan, Hivos akan menyelenggarakan sebuah Pembelajaran Acara bertajuk “Terangi Nusantara. Kegiatan ini diselengarakan pada tanggal 24 Januari 2018 di Upper Room – Annex Building (Pullman Hotel/Wisma Nusantara).








 

Mentan: Beras Organik Masa Depan Pertanian Indonesia

TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa beras organik akan menjadi masa depan pertanian Indonesia. Harga jualnya yang tinggi dinilai akan lebih menguntungkan petani.
“Beras organik ini harus kita kawal bersama-sama karena menguntungkan petani. Ini masa depan ekspor Indonesia untuk padi,” papar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menghadiri acara pelepasan ‘Sewindu Ekspor Beras Organik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik’ di Desa Mekarwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (1/9/2016).
Menurut dia, harga jual beras organik yang tinggi di pasar dunia dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Masa depan pertanian Indonesia pun ada di beras organik.
“Nilai jual beras organik per kilogram bisa mencapai Rp 90.000 atau enam Euro di Eropa. Artinya, bisa 15-20 kali lipat dengan harga beras biasa atau naik 1500 persen,” tutur Amran.
Lalu, berapa harga jual di petani dalam negeri? Amran mengatakan, harga jual di petani sendiri berkisar Rp 20.000/kg.
“Bila dibandingkan dengan harga jual beras biasa, angka tersebut lebih tinggi tiga kali lipat atau naik 300 persen. Ke depan harga jual di petani bisa mencapai Rp 30.000 dan itu sudah naik 600 persen,” ujar Amran.
Dalam acara tersebut, sebanyak 40 ton beras organik yang dihasilkan Gapoktan Simpatik akan diekspor ke Belgia. Pemerintah pun, lanjut Amran, akan mendukung dan mendorong ekspor beras organik.
“Kita akan mendorong ekspor beras organik dengan memperbaiki regulasi yang ada. Kita juga akan mendorong sawah baru yang dibangun tiap tahun minimal 100-200 hektare untuk pertanian organik,” ujar Amran yang juga almamater Universitas Hassanudin itu.
Selain Belgia, beras organik Indonesia sudah menembus pasar di beberapa negara, seperti Italia, Amerika, Singapura, Malaysia, dan Uni Emirat Arab (UEA). Kecenderungan negara luar menyukai produk organik memang sejalan dengan meningkatnya pasar produk tersebut.
Menurut data yang dikeluarkan Dinas Pertanian Tasikmalaya, setiap tahun pangsa pasar organik global selalu meningkat 20 persen. Pada 2013 saja nilai pasar organik global mencapai 72 miliar dollar AS.
Berdasarkan data hasil Research Institue of Organic Argiculture dan International Federation of Organik Agriculture Movements (IFOAM) tahun 2015, Amerika menjadi pasar produk organik terbesar dengan nilai mencapai 27,04 milliar dollar AS. Di posisi kedua ada Jerman dengan nilai 8,45 miliar dollar AS, Prancis 4,8 miliar dollar AS, dan China 2,67 miliar dollar AS.
 
Penulis : Mikhael Gewati
Editor : Latief
Sumber : https://goo.gl/uKo59M

Pemkab Banyuwangi Dorong Produksi Padi Organik

BANYUWANGI,KOMPAS.com – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menargetkan sebanyak 200 hektar sawah sudah tersertifikasi organik pada tahun 2020.
Saat ini baru 45 hektar sawah dengan sertifikat organik di Banyuwangi, yang tersebar di tujuh kecamatan. Sementara, 110 hektar masih masuk kategori konversi yaitu peralihan dari sawah anorganik menjadi organik. Adapun total lahan persawahan yang ada di Banyuwangi seluas 65.457 hektar
“Peralihan dari anorganik menuju ke organik membutuhkan waktu sekitar 4 tahun. Sawah organik ini dimulai tahun 2015 di tiga kecamatan dan sekarang dikembangkan di tujuh kecamatan yaitu Singonjuruh, Sempu, Rogojampi, Glenmore, Kalibaru, Licin dan Glagah,” jelas Aris Setiawan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi kepada Kompas.com senin (10/4/2017).
Menurutnya, pada awal peralihan menuju organik, hasil panen akan menurun, biaya juga akan bertambah terutama untuk pembelian pupuk organik lebih banyak. Namun ke depannya akan semakin efisien karena ada perubahan tekstur tanah menjadi lebih baik, lebih hemat serta harga beras organik lebih mahal.
“Memang butuh proses, tidak serta merta hasilnya kelihatan bagus dan yang terpenting adalah harus berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menekankan, banyak keuntungan bagi petani jika beralih ke sawah organik. Selain biaya lebih murah, harga beras juga lebih mahal 30 persen dibandingkan harga beras biasa.
Sementara itu Mawardi, Ketua Gabungan Kelompok Tani Ketangi Santoso Desa Kelibaru Wetan Kecamatan Kalibaru menjelaskan, kelompoknya menggunakan benih padi organik Salmona yang benih dasarnya berasal dari pemerintah.
“Benihnya kami beri nama salmona, singkatan dari salam organik nasional. Sudah setahun ini kami sudah beralih ke organik dan tahun ini semoga sudah sertifikasi. Masih dalam proses,” jelasnya.
Ia mengatakan pada setangkai padi Salmona berisi sampai 400 bulir sedangkan untuk padi bibit unggul antara 200 sampai 250 bulir dan padi normal hanya 150 bulir.
“Jika menanam organik, panen pertama bisa turun hingga 20 persen dari panen sebelumnya. Biasanya satu hektar sawah yang tidak organik hasil panennya 4 sampai 6 ton dan jika organik panen awal masih turun tapi jika kondisi tanah sudah baik sekitar 4 tahun kemudian satu hektar bisa mencapai 10 ton. Kuncinya harus sabar,” pungkasnya.
Foto : Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat panen raya padi organik di Desa Kalibaruwetan Senin (10/4/2017)
Penulis Kontributor : Banyuwangi, Ira Rachmawati
Editor : M Fajar Marta
Sumber : https://goo.gl/AkoPVA

Pilih Kosmetik Natural atau Organik?

Tren kembali ke alam membuat semua produk yang memakai embel-embel alami atau tradisional laris dicari orang, termasuk kosmetik. Lantas, apakah produk kosmetik yang menggunakan bahan kimia berbahaya? Dan, tahukah Anda bahwa natural tidak sama dengan organik?
Menurut situs cosmeticinfo.org, arti kata organik dan natural dalam produk kosmetik tidaklah sama.
Natural berarti tidak ada bahan kimia yang digunakan dalam produk tersebut. Pada umumnya produk yang memiliki label natural biasanya dibuat dari bahan-bahan alami, seperti tanaman, mineral, atau rumput laut. Meski begitu, mereka tetap menggunakan bahan kimia, tentu saja dalam dosis yang aman, misalnya untuk menghasilkan busa atau meningkatkan performa kerja bahan aktif.
Sementara itu, organik berarti bahan-bahan yang digunakan dalam produk itu diambil dari tanaman yang dikembangkan secara organik, mulai dari benih hingga panen, tanpa bahan kimia. Produk organik biasanya mengklaim aman dari bahan kimia yang bisa menimbulkan efek samping, seperti reaksi alergi. Jadi secara umum, produk organik lebih ramah lingkungan,karena tanamannya dikembangkan dengan standar organik. Kalau di AS atau Eropa, standar tersebut dibuat oleh Departemen Pertanian.
Certified Organic, bila Anda menemukan produk kosmetik yang memasang label ini, berarti tanaman organik yang dipakai dalam produk ini telah mendapatkan sertifikat sah dan dikontrol ketat oleh National Organic Program, Departemen Pertanian AS. Untuk menghasilkan produk yang certified organic, paling tidak 95 persen kandungannya harus mendapat sertifikat dari lembaga tersebut.
Nah, setelah Anda mengetahui perbedaan bahan-bahan tersebut, ada beberapa hal yang perlu diketahui:
– Produk yang berbahan dasar organik mengandung 40 persen lebih banyak antioksidan, baik berat dan jumlahnya, dibandingkan dengan produk berbahan kimia.
– Faktanya, 87 persen bahan yang digunakan di kulit akan terserap sampai ke aliran darah di tubuh. Dengan menggunakan bahan natural atau alami, maka kita mengurangi paparan bahan kimia pada kulit.
– Dengan membeli produk natural dan organik, secara tidak langsung kita telah ikut peduli pada lingkungan.
– Beberapa bahan-bahan dalam produk natural bisa menimbulkan iritasi, terutama pada kulit sensitif. Misalnya saja rosemary, mint,minyak lemon, lavender, kayu manis, dan bergamot oil.
– Tanpa bahan kimia atau nonsintetik, produk natural dan organik biasanya akan lebih cepat kedaluwarsa.
 
Sumber : https://goo.gl/2SEvr6

Srini Maria, “Ibu Sayur Organik” dari Lereng Merapi

Memperingati Hari Perempuan Internasional setiap tanggal 8 Maret, Redaksi Kompas.com menayangkan beberapa artikel yang mengangkat kisah-kisah inspiratif perempuan dari berbagai wilayah Indonesia.

MAGELANG, KOMPAS.com
– Siang itu, gerimis mengguyur sebagian kawasan lereng Gunung Merapi. Udara seketika menjadi dingin dan berkabut. Namun cuaca itu tidak membuat Srini Maria Margaretha berdiam diri di dalam rumah.
Wanita setengah baya itu masih terlihat sibuk melayani sekelompok mahasiswa yang ingin berkonsultasi terkait penelitian perkebunan organik dengannya.
“Ya begini, setiap hari banyak yang datang ke rumah saya untuk belajar bersama tentang bercocok tanam dan ternak secara organik,” tutur Srini kepada Kompas.com saat bertandang ke rumahnya, Minggu (6/3/2016).
Warga Dusun Gowok Ringin, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu memang dikenal sebagai petani wanita yang gigih mengggerakkan para petani, khususnya petani wanita, sekitar lereng merapi untuk gemar bercocok tanam.
Rumah Srini tidak begitu besar. Hanya saja memiliki pekarangan sekitar 2.500 meter persegi mengelilingi rumah. Aneka macam tanaman sayuran, seperti sawi, pokcoy, peterseli, tomat, cabai, rosemary, lettuce, buncis, hingga buah-buahan seperti jeruk, srikaya, dan bit.
Di belakang rumahnya, ada belasan kambing dan sapi ternak miliknya sendiri dan milik mitra taninya. Tampak seorang pegawai yang sedang sibuk membersihkan kandang binatang ternak itu.
“Coba cium baunya, tidak bau kotoran kambing dan sapi kan?” ujar Srini saat kami mendekat kandang kambing dan sapinya.
“Kandang jadi tidak bau kotoran karena kami pakai sistem organik, rumput atau pakan ternak difermentasi dahulu sebelum diberikan ternak. Kotoran dan air kencing juga dipisah untuk nantinya diolah lagi menjadi pupuk tanaman,” ungkapnya.
Menggunakan sistem organik, lanjut dia, memiliki banyak keuntungan. Tidak ada kotoran maupun limbah yang terbuang sia-sia. Semua bisa diolah lalu dimanfaatkan kembali. Di samping ramah lingkungan, pengelolaan ternak menjadi lebih hemat dari segi biaya dan tenaga.
“Kami tidak lagi ngarit (merumput) setiap hari karena rumput sudah difermentasi. Kami tidak lagi perlu bermacam-macam pupuk kimia yang harganya mahal. Semua pupuk kami olah dari bahan-bahan sekitar kami,” tutur dia.
Sarjana pendidikan bahasa

Srini Maria Margaretha, merawat tanaman sayur dan buah organik di pekarangan rumahnya di Dusun Ringin, Desa Sengi, Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.(Kompas.com/Ika Fitriana)

Belakangan Srini memang dikenal sebagai wanita yang handal dan gigih mengkampanyekan budaya bercocok tanam dan beternak organik. Dia tidak pelit ilmu sehingga para petani sekitar dan dari luar daerah kerap bertandang ke rumahnya untuk berkonsultasi.
Dari latar belakang pendidikan, sejatinya Srini bukanlah sarjana pertanian. Ia merupakan alumnus jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar Magelang.
Lulus kuliah, Srini pun menekuni profesi yang bertolak belakang dengan aktivitas bercocok tanam. Dia pernah menjadi guru TK di Kecamatan Muntilan dan guru SMA di Kota Magelang. Srini juga pernah menekuni bisnis multilevel marketing (MLM).
Kemudian saat mulai pensiun, dia beraktivitas sebagai pendamping wisata Live In untuk anak-anak kos yang tinggal di desanya. Saat itu, tanpa sengaja dia bertemu dan berkenalan dengan seorang petugas Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah. Dari perkenalannya itu, ia kenal dengan dunia pertanian.
Di dunia barunya itu, dia seolah menemukan kehidupan yang jujur. Kehidupan yang senantiasa berdampingan dengan alam dan masyarakat sekitar. Dia pun optimistis untuk menghabiskan masa pensiunnya dengan bertani dan berternak.
“Kehidupan seperti ini tidak saya temukan di dunia pekerjaan saya sebelumnya. Saya benar-benar belajar kehidupan di sini (pertanian). Karena kalau kita baik dengan alam maka alam juga memberi imbas baik kepada kita,” ungkapnya.
Pertama kali ia tertarik dengan tanaman baby buncis yang kemudian mengantarkannya menjadi eksportir baby buncis sejak pertengahan 2010 silam. Ia sempat belajar tentang pertanian di Bandung Jawa Barat.
Setiap dua hari sekali, dia mengirim puluhan kuintal sayuran ke luar Singapura, Malaysia dan berbagai negara. Dari usaha ekspor sayuran itu, dia mampu membangun rumah packing sayuran samping rumahnya.
Berbagi
Menjadi petani perempuan sukses bukan perkara mudah. Dia juga berpikir ilmu yang didapatkannya harus ditularkan kepada perempuan-perempuan sekitarnya yang saat itu menjadi petani konvensional.
Dia rajin pergi ke berbagai arisan maupun pertemuan untuk sosialisasi hingga akhirnya terkumpul 28 orang petani perempuan untuk membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Merapi Asri sampai sekarang.
Namun, baru saja merintis usaha packing sayuran bersama anggota KWT-nya, erupsi Merapi 2010 nyaris menggagalkan semuanya. Tanamannya habis, modal ludes diterjang bencana.
Dengan sisa semangat dan modal dari bantuan suami yang juga pensiunan PNS, dia bertekad memulai lagi pertaniannya.
Penulis Kontributor : Ika Fitriana, Magelang
Editor : Caroline Damanik
Sumber : https://goo.gl/ZKTPj2

Produk Organik Sumut Kesulitan Pemasaran

PEMATANG SIANTAR, MINGGU – Produk pertanian organik dari beberapa kabupaten di Sumatera Utara masih sulit dipasarkan. Bahkan karena tak bisa menembus pasar khusus, produk organik asal Sumatera Utara terpaksa dijual layaknya produk pertanian yang biasa menggunakan pupuk kimia.
Menurut petani organik di Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara, OP Purba, meski dari sejak pengolahan lahan hingga pemeliharaan tanaman dari serangan hama, petani sudah menggunakan pupuk dan pestisida organik, namun saat panen tiba, produk organik mereka ta k bisa dipasarkan secara khusus. “Sebenarnya dari hasil panen maupun kualitas produk pertanian organik kami tak kalah dengan produk pertanian yang menggunakan pupuk kimia. Tetapi itulah kelemahan kami. Kami masih belum bisa memasarkan secara khusus produk pertanian organik ini,” ujar Purba di Pematang Siantar Sabtu (12/7).
Menurut Purba, tak jarang produk pertanian organik bahkan bisa mengungguli produk pertanian yang menggunakan pupuk kimia. Purba mencontohkan, dengan pupuk organik dan perawatan menggunakan pestisida organik, dia bisa menghasilkan satu kilo gram kentang hanya dengan tiga buah. Purba dan kelompok taninya membudidayakan produk organik mulai dari sayuran hingga jeruk dan kopi.
Purba mengungkapkan, bersama anggota kelompok taninya yang berjumlah 20 orang, mereka sebenarnya sempat mendapat bantuan mesin pembuat kompos dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara. Dengan mesin seharga Rp 40 juta ini, petani bisa mengolah rumput hingga jerami padi menjadi bahan kompos. Mesin ini juga bisa mencampur kompos dengan bakteri pengurai.
Namun kata Purba, bantuan pemerintah daerah sebatas hanya membuat petani beralih tidak lagi menggunakan pupuk kimia. “Selebihnya ya kami masih tak bisa memasarkan produk organik ini secara khusus, berbeda dengan produk pertanian yang menggunakan pupuk kimia biasa,” katanya.
Menurut konsultan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Simalungun Janri P Damanik, produk pertanian organik semestinya bisa lebih mahal dibanding produk pertanian yang menggunakan pupuk kimia. “Petani organik kan membantu masyarakat agar bisa sehat dengan mengkonsumsi produk-produk bebas bahan kimia dan pes tisida. Produk yang membantu kesehatan masyarakat, harus dihargai lebih mahal dari produk pertanian biasa,” katanya.
Menurut Janri, yang bersama kelompok taninya sudah bisa memasarkan bakteri pengurai, konsumen masih belum banyak yang sadar bahwa produk pe rtanian organik membantu mereka mendapatkan kesehatan dari konsumsi makanan sehari-hari. Pemerintah kata Janri juga tak bisa berbuat banyak karena ditekan kepentingan produsen pupuk kimia besar.
Akhirnya kata Janri, produk pertanian organik baru bisa dipasarkan dalam skala dan konsumen yang sangat terbatas. “Hasil sayuran organik yang saya tanam hanya bisa dipasarkan ke tetangga-tetangga yang memang mengenal bahwa produk ini bebas dari bahan kimia,” katanya.
Untuk bisa memasarkan secara khusus, menurut Purb a, petani organik membutuhkan dampingan ahli pemasaran dan investor. Dia mengatakan, banyak petani di Sumut yang sebenarnya sudah mulai beralih menggunakan pupuk dan pestisida organik. Namun di tengah jalan mereka terhadang ancaman, tak bisa memasarkan produknya secara khusus. “Kami ini kan enggak tahu bagaimana cara mengemas produk untuk dijual di supermarket. Banyak di antara kami yang tak tahu bagaimana menembus pasar di kota-kota besar seperti Medan. Kalau sama saja dengan produk pertanian biasa, mereka selalu bilang, ngapain harus susah-susah mengolah bahan-bahan pupuk organik,” katanya.
Penulis : Khaerudin
Sumber : https://goo.gl/zsFbTP

Nih, Kopi Papua Arabika Organik Penuh Khasiat

BANDUNG, KOMPAS.com – Tanah yang subur membuat Indonesia kaya akan hasil perkebunan, terutama perkebunan dataran tinggi seperti kopi. Salah satu dataran tinggi di Indonesia ternyata memproduksi kopi arabika terbaik, rendah asam dan kafein.
Kwei Ing, salah satu penyedia kopi arabika Papua saat Organic Weekend Festival di Hotel Crowne Plaza Bandung, Sabtu (19/3/2016) mengatakan kopi arabika dari dataran tinggi Papua merupakan salah satu kopi terbaik yang dimiliki Indonesia.
(BACA: Doyan Kopi? Kunjungi 2 Warkop Legendaris di Belitung)
“Kopi arabika yang ditanam di area puncak pegunungan Jayawijaya memiliki kadar asam yang mendekati nol, dan kafein yang rendah. Karena semakin tinggi tempatnya, kopi arabika akan semakin bagus,” ujar Ing kepada KompasTravel.
Menurut Ing, kopi arabika ditanam pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, secara geografis termasuk yang tertinggi di dunia. Sehingga bebas polusi, bebas hama, dan tidak membutuhkan pupuk.
(BACA: “Kawanua Menyeduh”, Ngopi Pagi Bayar Suka-suka…)
Kopi tersebut pun diekspor ke beberapa negara Eropa bahkan Amerika, tapi masyarakat Indonesia banyak yang belum mengetahui kehebatan kopi Papua tersebut.
Menurutnya kopi organik tersebut memiliki antioksidan 10 kali dari buah lemon, dan digunakan sebagai obat beberapa penyakit di Amerika, seperti kanker payudara dan vertigo. Kafein yang didapat dari dataran tinggi papua merupakan pencegah kanker payudara terbaik.
Salah satu kopi arabika organik asal Papua tersebut ber label Hibo, kopi tersebut dipanen hingga diolah di Papua. Dia menambahkan proses tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas biji kopi yang di panen, untuk langsung diolah dan dikemas.
“Kopi arabika yang rentan terhadap hama, ditanam secara organik dan diberi perlakuan khusus agar bebas hama. Untuk menjaga kualitas, langsung di-roasted di Papua, baru dibawa keluar setelah siap,” ujar Ing.
Hibo sendiri hanya mengeluarkan dua jenis atau dua varian rasa yang berbeda sesuai dari tahapan pengolahannya. Pertama dark french yang lebih ringan dan black italian, yang memiliki cita rasa arabika lebih kuat dan lebih hitam.
KompasTravel berkesempatan mencicipi keduanya di stand kopi organik Papua tersebut, saat acara Organic Weekend Festival di Crowne Plaza Bandung. Dark french memiliki warna yang lebih tembus pandang, dibanding black italian.
Ketika diseruput, dark french memiliki rasa pahit yang sama seperti arabika pada umumnya tapi rasa asamnya lebih tipis. Sedangkan black italian, memiliki aroma dan pahit yang lebih kuat, tapi sama sekali minim rasa asamnya.
Ing menambahkan jika ampas dari kopi organik tersebut baik untuk detoksifikasi. Dengan cara diseduh ulang dengan menggunakan air pans, dan diminum tanpa campuran.
Kopi arabika organik dari Papua tersebut dapat Anda dapatkan di Natural Farm, Trans Studio Mall Bandung, dan Graha Radio Maestro, Jalan Kacapiring nomor 12, Bandung. Untuk takaran 100 gram seharga Rp 65.000 dan 200 gram seharga Rp 100.000.
 
Penulis : Muhammad Irzal A
Editor : I Made Asdhiana
Ilustrasi : kopi papua(KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia)
Sumber : https://goo.gl/ImY3uW