13 Ton beras organik asal Tasikmalaya dikirim ke Italia

TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Sebanyak 13 ton beras organik asal Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, diekspor kembali ke Italia.
“Dua hari kemarin kita sudah berhasil mengirim tiga belas ton kembali ke Italia, negara lainnya di Eropa. Sebelumnya masih berjalan di beberapa negara lainnya,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, Muhammad Zein, Selasa (21/3/2017).
Ekspor ke negara lain yang masih berjalan adalah ke Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Belanda dan Jepang.
Zein menambahkan, selama ini hampir 25 persen petani di Kabupaten Tasikmalaya telah beralih ke penanaman padi organik. Sampai sekarang pun, pengalihan tanaman padi biasa ke organik terus akan bertambah melalui program pemerintah daerah setempat.
Para petani sedang diberikan pola penanaman padi organik karena dinilai memiliki nilai jual tinggi.
“Sampai sekarang baru 25 persen petani organik yang aktif dan telah berhasil di Kabupaten Tasikmalaya. Tiap tahunnya tidak kurang dari 1.000 hektar lahan padi organik yang dibuka. Sekarang dari 25 persen sudah ada ribuan hektar sawah dengan padi organik di Tasikmalaya,” tambah Zein.
Sementara itu, Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum mengaku, sampai sekarang, pihaknya terus mengembangkan perluasan lahan sawah di wilayahnya untuk pengembangan padi organik.
Menurut dia, padi organik asal Tasikmalaya memiliki kualitas standar Internasional dengan harga yang relatif paling murah di pasaran luar negeri.
“Kalau permintaan beras organik di luar negeri ke Tasikmalaya sekarang sangat melimpah. Permintaan itu sedang kami maksimalkan dengan terus melakukan perluasan lahan sawah baru dan pengalihan penanaman padi konvensional ke padi organik,” ujarnya.
Program ini pun telah mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI. Bahkan, program padi organik Tasikmalaya pun ditargetkan bisa memenuhi stok permintaan luar negeri yang banyak selama ini.
“Program ini semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan para petani,” kata dia.
Pengalihan penanaman padi biasa ke padi organik selama ini dirasakan oleh para petani. Hasil panen padi organik memiliki keuntungan lebih karena harga jualnya lebih tinggi. Biasanya petani menjual gabah kering biasa Rp 4.000 per kilogram, sedangkan gabah kering organik bisa mencapai Rp 12.000 per kilogram.
“Sangat terasa sekali perbedaannya setelah panen padi biasa dulu dengan padi organik yang sekarang ditanam. Mudah-mudahan permintaan dari luar negeri terus bertambah. Apalagi kalau sudah jadi beras organik harganya bisa mencapai Rp 25.000 per kilogram. Kami pun terus menjaga dan meningkatkan kualitas padi tersebut,” ungkap Ketua Kelompok Tani Dusun Cantilan, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Agus Robert.
 

Penulis : Kontributor Tasikmalaya, Irwan Nugraha
Editor : Caroline Damanik
Sumber : https://goo.gl/4e7WZe

Restoran organik nan cantik di Yogyakarta

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Meski identik dengan gudeg dan bakpia, banyak tempat wisata kuliner yang bisa dikunjungi di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. KompasTravel bersama rombongan “Take Me Anywhere 2” yang berkunjung ke Yogyakarta pada 14-16 Oktober 2016 lalu menyambangi beberapa restoran yang ciamik.
Warung Bumi adalah salah satu restoran yang menjadi highlight kunjungan kami waktu itu. Restoran ini terletak di Jalan Imogiri-Mangunan Km 3, Desa Giriloyo, Wukirsari, Kabupaten Bantul. Warung Bumi menempati sebuah pendopo dengan beberapa kursi kayu panjang dan deretan kursi santai.
Terletak di atas bukit, pemandangan dari Warung Bumi sungguh memanjakan mata. Lanskap indah Mangunan, yang terkenal oleh Kebun Buah dan Hutan Pinus-nya terhampar di depan mata.

Restoran ini terletak di Jalan Imogiri-Mangunan Km 3, Desa Giriloyo, Wukirsari, Kabupaten Bantul. Warung Bumi menempati sebuah pendopo dengan beberapa kursi kayu panjang dan deretan kursi santai.(KOMPAS.COM/ARI PRASETYO)

Hal yang menjadikan restoran ini patut dikunjungi adalah bahan-bahan organik yang digunakan. Warung Bumi sendiri merupakan bagian dari Bumi Langit Institute, sebuah komunitas berbasis lokal yang memproduksi aneka panganan dan kerajinan lokal.
Bahan-bahan yang digunakan dalam tiap masakan berasal dari sekeliling restoran. Menunya beragam mulai dari Nasi Campur, Nasi Goreng Kecombrang dengan Petai dan Teri, juga aneka camilan seperti Roti Desa Panggang dan Pisang Goreng.
Nasi yang digunakan tak sembarangan. Warnanya agak kekuningan, dan bertekstur agak kasar. Ini adalah unpolished organic rice yakni nasi pecah kulit. Asupan gizi nasi jenis ini 90 persen lebih bermanfaat dibanding nasi putih biasa.
Roti yang disajikan pun tak main-main. Warung Bumi membuat sendiri roti gandum dari bahan lokal. Hasilnya, bantalan roti yang renyah di luar dan empuk di dalam. Roti disajikan dengan aneka selai homemade seperti markisa-nanas, stroberi-murbei, dan kacang.
Tiap Minggu pagi, digelar Pasar Organik yang menjajakan aneka bahan makanan organik. Meski begitu, selain hari Minggu, Anda juga bisa membeli aneka produk organik olahan lokal langsung di restoran Warung Bumi.

Anda bisa membeli aneka produk organik olahan lokal di restoran Warung Bumi.(KOMPAS.COM/ARI PRASETYO)

Untuk minuman, KompasTravel sangat merekomendasikan Kombucha. Ini merupakan fermentasi teh dengan jamur, yang mengubah gula menjadi minuman sehat. Ada pula Kefir, Mint Serai, juga Wedang Jahe dan aneka kopi.
Untuk produk lokal organik, harga makanan dan minuman di restoran ini sangat bersahabat. Nasi Campur dibanderol Rp 22.000. Nasi Goreng Kecombrang dengan Petai dan Teri dihargai Rp 25.000. Seporsi Roti Desa Panggang dibanderol Rp 20.000 lengkap dengan selai homemade yang sangat nikmat.
Untuk minuman, segelas Kombucha nan menyegarkan dihargai Rp 15.000. Segelas Kefir seharga Rp 12.000 (tawar) dan Rp 18.000 (selai buah). Aneka kopi dibanderol mulai Rp 16.000-20.000 per cangkir.

Warung Bumi membuat sendiri roti gandum dari bahan lokal. Hasilnya, bantalan roti yang renyah di luar dan empuk di dalam. Roti disajikan dengan aneka selai homemade seperti markisa-nanas, stroberi-murbei, dan kacang.(KOMPAS.COM/ARI PRASETYO)

Waktu KompasTravel berkunjung beberapa waktu lalu, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung. Salah satu turis, Paul (31) asal Kanada menyebutkan, dia sangat suka nasi organik buatan Warung Bumi.
“Saya suka rasanya. Tempatnya juga indah, benar-benar untuk hidup sehat,” tuturnya kepada KompasTravel.
Selain menikmati makanan, Anda juga bisa berkeliling kompleks Bumi Langit yang sangat indah. Rumah tradisional Jawa terletak di bagian bawahnya. Warga lokal dengan senang hati akan mempersilakan Anda masuk ke dalam rumah mereka.
 

Penulis : Sri Anindiati Nursastri
Editor : I Made Asdhiana
Sumber : https://goo.gl/aJdm2g

Wisata kampung organik, tempat asyik menikmati alam pedesaan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Menikmati sejuk serta keasrian suasana pedesaan terkadang menjadi alternatif lain untuk berekreasi. Udara pedesaan yang masih bersih dan sejuk, membuat sebagian orang memilih untuk berlibur di desa.
Salah satu tempat untuk menikmati nuansa pedesaan yang masih asri dan sejuk ialah Wisata Kampung Organik. Terletak di Dusun Bumen Desa Karangrejo, Borobudur, Jawa Tengah, Wisata Kampung Organik merupakan sebuah tempat untuk beristirahat dan berekreasi sambil menikmati keindahaan alam sekitar desa. Wisata Kampung Organik ini, dikelola oleh PGN dan juga warga sekitar Desa Karangrejo. Menurut Hani, salah seorang warga Karangrejo, tempat ini dikelola pihak PGN hanya dalam kurun waktu lima tahun, lalu selebihnya akan dikelola oleh warga sekitar. Di lokasi tersebut Anda dapat menikmati kemegahan pegunungan Menoreh yang terletak di sebelah selatan Kampung Organik tersebut.

Selain gubug-gubug yang berdiri di tempat itu, beberapa cottage dan homestay sederhana di buat untuk menginap para tamu. Cottage-cottage tersebut, dibuat artistik dengan nuansa outdoor yang sejuk. Wisata Kampoeng Organik tersebut juga menyediakan berbagai menu kuliner yang cukup lengkap. Mulai dari kopi hingga makanan khas tradisional. Hani yang juga selaku pemandu wisata di Desa Karangrejo juga membuat paket wisata di Desa Karangrejo ini.
Menggunakan mobil VW, ia memberi paket tour mulai dari borobudur, Puncak Setumbu, rafting di Sungai Elo hingga makan siang dan makan malam sambil menikmati sunset di Wisata Kampung Organik ini. Jika sore hari anda juga dapat menikmati bersepeda mengelilingi desa menggunakan sepeda ontel yang telah disediakan juga oleh Hani dan komunitasnya. “Biasanya yang menyewa sepeda ontel di sore hari yaitu wisatawan mancanegara. Mereka sangat tertarik mengelilingi desa melewati jalan di tengah-tengah persawahan, sambil memotret keadaan sekitar,” kata Hani.

Selain beberapa fasilitas wisata yang mendukung tersebut, Wisata Kampung Organik juga bisa menggelar tari-tarian tradisional jika dipesan jauh-jauh hari oleh para tamu. Wisata di Kampung Organik juga menjadi pembelajaran serta pengenalan seni dan budaya kepada para turis mancanegara. Suasana pedesaan yang masih sangat kental bisa Anda nikmati ketika Anda benar-benar mengelilingi desa Karangrejo tersebut menggunakan sepeda atau kendaraan pribadi. Para petani yang sedang memanen hasil bumi menjadi pemandangan menarik, serta menjadi potret human interest yang menarik.
Menurut Hani, saat senja hari yang cerah, panorama perbukitan Menoreh di sebelah selatan tidak tertutup kabut, membuat detail-detail di perbukitan tersebut terlihat jelas.

“Saat senja hari yang cerah, pengunjung dapat melihat, detail di sekitar perbukitan menoreh, rumah-rumah yang nampak dari kejauhan dengan kemerlip lampu dapat anda saksikan di senja hari,” ujar Hani.
Wisata Kampung Organik menjadi salah satu lokasi wisata pedesaan yang dapat menjadi alternatif rekreasi bagi para wisatawan ketika berkunjung ke Magelang. Nuansa desa yang masih sangat asri membuat setiap sudut desa tersebut layak untuk dijelajahi keindahannya. (tribunjogja.com)
 
Editor : I Made Asdhiana
Foto : (TRIBUN JOGJA/GILANG SATMAKA)
Sumber : https://goo.gl/XoWXAJ