Peresmian rumah workshop tengkawang di Desa Nanga Yen dihadiri oleh Pejabat Sekretaris Daerah Kabupaten Kapuas Hulu Bapak Ir. H. Muhammad Sukri beserta rombongan yang terdiri dari Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Koperasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, dan jajaran Dinas Kehutanan.
Kegiatan diawali dengan mengunjungi rumah kompos dan kandang sapi komunal yang dilanjutkan dengan mengunjungi lumbung padi dan lantai jemur. Saat mengunjungi rumah kompos Bapak Sekda berpesan kepada Kepala Desa Nanga Yen untuk memperluas lahan pertanian pangan organik berkelanjutan seluas 200 Hektar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kapuas Hulu.
Bapak Sekretaris Daerah Ir. H. Muhammad Sukri juga menekankan bahwa pemanfaatan hasil hutan bukan kayu seperti produk bambu, pengolahan tengkawang, pertanian organik, pengelolaan air bersih dan air minum isi ulang ini bisa benar-benar meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan. Dinas terkait harus memberikan pembinaan kepada koperasi dan kelompok masyarakat lainnya, ujar Bapak Sekretaris Daerah saat memberikan pidato peresmian rumah workshop tengkawang.



Program Hibah Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat memasuki tahap akhir pelaksanaan. Konsorsium Aliansi Organis Indonesia (AOI) adalah salah satu mitra pelaksana Proyek Kemakmuran Hijau yang bekerja di (5) lima desa di Kabupaten Kapuas Hulu, yaitu Desa Nanga Yen Kec. Hulu Gurung, Desa Nanga Jemah, Desa Nanga Sangan dan Desa Sriwangi di Kec. Boyan Tanjung dan Desa Tanjung di Kec. Mentebah.
Masing-masing desa memiliki potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang cukup melimpah seperti tengkawang, bambu, dan jasa ekosistem seperti sumber daya air baik untuk kebutuhan air minum dan pengairan sawah. Dengan mewujudkan manfaat hutan secara maksimal bagi masyarakat maka proyek ini dapat membangun dan meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menjaga kelestarian hutannya sehingga bisa memberikan manfaat ekonomis secara berkelanjutan bagi kehidupan mereka. Hutan yang dikelola secara lestari akan membawa manfaat bagi pengurangan emisi rumah kaca, karena dapat menyerap dan menyimpan gas rumah kaca di alam.
Konsorsium Aliansi Organis Indonesia (AOI) beranggotakan beberapa lembaga NGO/LSM, yakni AOI Bogor, Yayasan PRCF Indonesia Pontianak, Rumpun Bambu Nusantara (RBN) Yogyakarta, Lembaga Energi Hijau (LEH) Pontianak, Koperasi Unyap Bina Usaha – Desa Nanga Yen dan Koperasi Tuah Sidi Easi – Desa Tanjung telah mengawal program Pengembangan Hutan Desa Melalui Pemanfaatan Hasil Hutan BuKan Kayu (HHBK) dan Jasa Ekosistem secara berkelanjutan di Kabupaten Kapuas Hulu. Program ini dilaksanakan sejak bulan Agustus 2016.
Saat ini Proyek Kemakmuran Hijau MCA Indonesia telah sampai pada tahap akhir. Berbagai kegiatan Konsorisum AOI yang direncanakan sejak awal program telah selesai dilaksanakan, termasuk pembangunan infrastruktur untuk desa-desa penerima manfaat. Beberapa proyek pembangunan infrastruktur yang difasilitasi oleh Konsorsium AOI adalah pembangunan fasilitas pengolahan buah tengkawang, sarana pengolahan bambu, sarana pertanian berkelanjutan, sarana air bersih, dan sarana pengolahan air minum isi ulang.
Berbagai fasilitas yang dibangun merupakan hasil kerja bersama dari berbagai pihak baik dukungan pihak pemerintah, lembaga donor, masyarakat maupun pelaksana program. Fasilitas-fasilitas tersebut akan diserahkan oleh MCA Indonesia dan Konsorsium AOI kepada pemerintah daerah yang kemudian akan di serahkan kepada masyarakat masing-masing lokasi proyek. Sebelum diserahkan, akan dilaksanakan peresmian oleh Pemda Kapuas Hulu. Peresmian sarana infrastruktur pengolahan HHBK ini diharapkan akan menjadi momentum yang sangat berharga bagi pengakuan kerja-kerja bersama tersebut.
Telah terbit! Majalah ORGANIC – Edisi 45
Salam ORGANIS,
Majalah ORGANIC edisi 45 kembali menyapa para pembaca setia, dengan topik bahasan pandangan dan upaya “jalan bisnis” produk pertanian organik. Ada banyak model bisnis yang dilakukan, namun satu hal yang pasti adalah bahwa bisnis akan berkelanjutan apabila ada keseimbangan diantara mata rantai bisnis tersebut.
Singkat kata, selamat menikmati sajian kami kali ini di tautan berikut : https://goo.gl/kpNSFK
Terima kasih.
Nb: Masukan berharga juga kami harapkan dari Anda, pembaca setia Majalah ORGANIC. Untuk itu kami berharap pembaca berkenan untuk merespon dalam kolom komentar dibawah ini.
Terima kasih sudah berbagi.***
Kementan: Kabupaten Alor Siap Swasembada Pangan
Jakarta – Staf Ahli Mentan Bidang Pembangunan Infrastruktur Pertanian, Ani Andayani, mengapresiasi keberhasilan Kabupaten Alor, NTT. Kabupaten Alor berhasil membangun ketahanan pangan di wilayah tersebut.
“Saya ucapkan terima kasih, khususnya kepada Kadis Pertanian Kabupaten Alor, Yustus Dopong Abor, atas kerja kerasnya selama ini. Sehingga, untuk target Oktober-Maret (Okmar), sudah tercapai di Januari ini 104%. Itu merupakan suatu capaian yang membanggakan,” ujar Ani dalam keterangan tertulis dari Kementan, Rabu (24/1/2018).
Ani mengatakan itu saat memberikan sambutan dalam acara Panen Simbolis Padi Organik, di Desa Malaipea, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/1/2018).
Ani menjelaskan, hal ini juga tak lepas dari peran Pemda Kabupaten Alor, Camat, Dandim, Penanggung Jawab Upsus wilayah Kabupateh Alor dan seluruh masyarakat.
“Saya ingat betul waktu saya datang pertama kali. Pak Bupati ada program khusus untuk model di kelompok tani. Satu hektare diberi Rp 4 juta. Rinciannya Rp 1 juta untuk pembebasan lahan dan ‘land clearing’, Rp 3 jutanya untuk operasional. Terima kasih dukungannya, Pak Bupati,” tuturnya.
Ini artinya, lanjut Ani, share itu pertanda kita sudah gayung bersambut. Program dari pusat itu didampingi oleh program-program dari APBD.
Bahkan kini, menurutnya, ada Satgas Pangan yang telah melibatkan pihak Kepolisian dan TNI-AD khususnya Kodim 1622 Alor, yang telah membantu dan bersinergi dengan semua pihak terkait dalam rangka pengamanan dan pengawalan untuk keberadaan pangan.
“Untuk itu, saya secara khusus menyampaikan terima kasih kepada jajaran TNI-AD, jajaran Kepolisian, khususnya di Kabupaten Alor ini, atas sinergitas dan kebersamaan kita selama ini, sehingga bisa mencapai capaian-capaian terbaik,” tutur Ani, selaku penanggung jawab Upaya Khusus (Upsus) Padi Jagung Kedelai (Pajale ) Provinsi NTT tersebut.
Kemudian, Ani juga menambahkan, sebagai upaya mendorong percepatan program swasembada pangan, Presiden Jokowi telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) untuk bisa mengakses Dana Desa yang diperuntukkan untuk pembangunan embung kecil dan bangunan tata air irigasi lainnya. Menurutnya, dari Alokasi Dana Desa (ADD) yang bisa diakses itu, dari capaian serapan selama ini, memungkinkan untuk bisa dinaikkan lagi sebagai belanja komponen irigasi.
“Itu sudah ada inpresnya. Baru saja terbit pada 11 Januari 2018 kemarin,” ungkapnya.
Ani menegaskan, kalau belanja pembangunan irigasi itu merupakan suatu keputusan dari musyawarah desa, itu bisa diangkat untuk akses dari dana desa. Jadi, jelas Ani, dana desa tidak hanya untuk infrastruktur di pedesaan seperti jalan, bangunan, ataupun alat-alat yang lain. Tetapi bisa pula utk irigasi, sehingga ketahanan pangan bisa lancar.
Dengan seluruh penunjang tersebut, Ani berharap tingkat produksi, produktivitas, dan ketersediaan pangan di NTT, khususnya di Kabupaten Alor, semakin meningkat.
“Mudah-mudahan, dengan semangat kita, tiap hari ada tanam, tiap hari ada panen, kita bisa swasembada,” tandasnya.
Berdasarkan data dari Kementan, di Desa Malaipea, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, memiliki luas areal kurang lebih 40 hektare, dengan jumlah 208 kepala keluarga tani. Panen kali ini, produktivitas padi organik dari Desa Malaipea per hektare rata-rata hampir 5 ton, dan sudah bisa panen 3 kali dalam setahun. Kesuksesan desa tersebut tentu saja mendapat apresiasi dan pujian dari semua pihak, khususnya dari Bupati Alor, Amon Djobo.
“Saya bangga dengan masyarakat saya di Malaipea ini. Walaupun jauh dari kabupaten, transportasi dan komunikasi sedikit ada hambatan, masyarakat di sini sudah bisa 3 kali panen. Di kecamatan lain di Alor ini, lahan cukup, air cukup, manusianya ada, tapi tidak sampai 3 kali panen seperti di Malaipea ini,” kata Amon.
Ini, menurutnya, disebut sebagai mukjizat. “Jadi, masyarakat Malaipea kalau besok itu kiamat, penduduk sini akan masuk surga,” demikian kelakar Bupati Alor tersebut memotivasi petaninya.
“Kami tahu, orang lain bisa, kenapa kami tidak bisa. Tuhan menganugerahkan alam bagi kami. Tuhan juga menganugerahkan cuaca yang baik bagi kami. Tuhan juga menganugerahkan air yang berlimpah bagi kami. Tinggal bagaimana kemauan baik kami. Tinggal bagaimana kami punya semangat untuk mengelola lahan ini menjadi aset yang luar biasa bagi kami,” imbuhnya.
Amon mengakui, semua capaian keberhasilan di bidang pertanian Kabupaten Alor tersebut tak bisa dijauhkan dari peran para pejabat, baik di tingkat pusat maupun provinsi, yang intensif mendampingi rakyat. Sehingga, program Upsus yang dicanangkan pemerintah pusat betul-betul bisa menyentuh kepentingan rakyat.
“Kita berharap, berkat kerja sama semua pihak tersebut, masyarakat Alor bisa tumbuh menjadi masyarakat yang kenyang, sehat, dan pintar,” pungkasnya.
Selain dihadiri oleh Ani dan Amon, panen raya tersebut juga dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Alor, Martinus Alopada, Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan NTT Adang Warya selaku penanggungjawab Upsus Kabupaten Alor, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT, Syamsuddin, Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi NTT, Miqdonth dan Camat Alor Selatan, Marthen G. Moubeka. Hadir pula Wakapolres Alor, Dandim 1622 Alor, Asisten 1 dan Asisten 2 Pemkab Alor, tokoh adat, tokoh agama, penyuluh dan masyarakat Alor Selatan, khususnya warga Desa Malaipea, dan desa tetangga di lembah Mainang dengan total audiens sekitar 100 orang.
(nwy/hns)
Niken Widya Yunita – detikFinance
Sumber : https://goo.gl/jU3JCk
Ini inovasi pelajar Lamongan agar tomat tak cepat membusuk
Lamongan – Daun kersen yang selama ini tumbuh di semua tempat, rupanya menyimpan manfaat. Pelajar di Lamongan memanfaatkan daun kersen sebagai bahan pengawet buah tomat yang selama ini dikenal gampang membusuk dan berjamur.
Mereka yang berinovasi yakni, Ahmad Shofiyul Labib, Safira Firda Machsun dan Poppy Rizki Khrisna Arditya. Mereka pelajar kelas 12 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lamongan. Dan berkat daun kersen, mereka berhasil menyabet juara 1 lomba karya tulis ilmiah nasional, BISTIC III 2018 yang digelar perguruan tinggi di Malang.
Salah seorang pelajar, Poppy mengaku, penelitian tentang fungsi dari daun kersen ini untuk menghambat pertumbuhan jamur dan meningkatkan mutu komoditas tomat pasca panen.
“Yang kami bertiga lakukan adalah penelitian dan pengujian kandungan daun kersen yang ternyata dapat dijadikan sebagai fungisida organik,” kata Poppy kepada detikcom di MAN 1 Lamongan, Jalan Veteran, Rabu (24/1/2018).
Poppy menuturkan, proses pembuatan fungisida berbahan daun kersen ini sangat mudah. Setelah mendapat daun kersen yang dirasa cukup, dicuci bersih dan dikeringkan menggunakan microwave.

Pohon kersen kaya manfaat/ Foto: Eko Sudjarwo
“Setelah kering diberi zat tertentu untuk kemudian diblender hingga halus dan ekstrak daun kersen inipun siap digunakan,” jelas Poppy.
Hasil dari olahan tersebut lantas dikemas apik. Poppy berharap, ke depannya produk yang mereka sebut dengan Fraction ini menjadikan solusi bagi para petani tomat khususnya dan petani lain pada umumnya untuk meningkatkan mutu dan kualitas hasil tomat sehingga hasil produksinya lebih baik dan banyak.
“Kami juga ingin memberikan pengetahuan kepada masyarakat, daun yang selama ini kita anggap pengotor lingkungan ternyata memiliki manfaat yang sangat besar sekali,” paparnya.
Sementara, guru pembina para pelajar ini, Siti Kholifah mengatakan, penelitian yang dilakukan anak didiknya baru pada buah tomat.
“Kami akan berusaha membimbing para siswa ini agar bisa melanjutkan penelitiannya lebih jauh lagi,” kata Siti.
(fat/fat)
Eko Sudjarwo – detikNews
Sumber : https://goo.gl/Nu2qAn
Subarno, manfaatkan kotoran sapi jadi bahan bakar dan pupuk kandang
Ponorogo – Beberapa warga Ponorogo kini bisa merasakan berhemat saat memasak. Bagaimana tidak, warga Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, ini memiliki biogas untuk memasak setiap harinya. Setidaknya ada enam rumah yang kini memiliki biogas.
Penggunaan gas elpiji pun berkurang drastis dengan adanya biogas ini. Cara kerjanya pun terbilang mudah. Cukup masukkan kotoran sapi ke dalam lubang reaktor hingga penuh kemudian diolah menjadi bahan bakar gas.
Kepala Desa Bringinan, Subarno saat ditemui menuturkan awalnya karena warga desanya banyak yang memelihara sapi dan kotorannya belum termanfaatkan secara maksimal. Saat itu hanya dijadikan kompos atau malah ditumpuk begitu saja.
“Akhirnya terpikirkan untuk membuat biogas dari kotoran sapi,” tuturnya kepada detikcom saat ditemui di Balai Desa Bringinan, Rabu (17/1/2018).
Barno sapaannya, mengajukan proposal untuk bantuan reaktor di desanya melalui program Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pada tahun 2016 lalu. “Baru tahun 2017 disetujui dan diberikan dua reaktor yang bisa mengaliri gas untuk enam rumah,” jelasnya.
Untuk bisa memasak menggunakan biogas ini, satu reaktor harus diisi 8 kg kotoran sapi. “Nantinya gasnya bisa dialirkan ketiga rumah yang tersambung dengan satu reaktor ini,” ujarnya.

Biogas untuk memasak warga Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti
Salah satu warga, Mbah Wagiman mengaku terbantu dengan adanya biogas ini karena selain bisa menghemat gas elipiji untuk memasak juga sisa dari pengolahan ini bisa dijadikan sebagai kompos.
“Dalam satu bulan bisa menghemat gas elpiji, kalau biasanya sebulan habis empat tabung melon, saya hanya tiga tabung melon saja, soalnya biogasnya untuk tiga rumah,” terangnya.
Ia bahkan mengaku tak khawatir lagi saat gas elpijinya habis, ia tinggal menggunakan biogas yang sudah terhubung ke rumahnya.
Ia berharap dengan adanya biogas di rumahnya ini bisa menjadi contoh untuk warga lain agar mau memanfaatkan kotoran sapinya sebagai bahan bakar. “Saya berharap warga lain juga ikut menggunakan biogas agar tidak risau lagi saat pasokan elpiji telat atau gas elpijinya tiba-tiba habis, bisa langsung menggunakan biogas ini,” tandasnya.
Sementara itu Subarno juga memanfaatkan kotoran sapi yang melimpah di desanya sebagai bahan baku pembuatan pupuk kandang. Kotoran sapi yang dibuang oleh tetangganya ini kemudian ia olah menjadi pupuk kandang yang bernilai jual tinggi.
Pria yang akrab dipanggil Barno ini menjelaskan awalnya ia prihatin dengan kesehatan warganya yang memiliki sapi tiap rumah namun kotoran sapinya dibuang begitu saja tanpa ada pengolahan lebih lanjut.
Kotoran sapi dijadikan biogas dan pupuk kandang/ Foto: Charolin Pebrianti
“Jadi saya berfikir untuk mengolah kotoran sapi ini sebagai pupuk kandang,” ucapnya.
Namun sayangnya karena belum memiliki izin atau nama atas pupuk organik buatannya, Barno mengaku menjual pupuknya jika ada yang datang dan membeli langsung ke rumahnya.
“Sementara pupuk untuk kalangan sendiri dan harus datang ke rumah saya untuk beli,” paparnya.
Usaha yang digelutinya sejak tahun 2007 lalu ini ternyata membuahkan hasil, banyak petani terutama petani yang menanam sayuran dan buah datang ke rumahnya untuk membeli pupuk organik buatannya. “Cara pembuatannya pun saya sendiri yang membuat, jadi tetap terjaga kualitasnya,” tukasnya.
Pria yang pernah menjadi TKI ini melanjutkan dalam satu bulan ia mampu memproduksi 5-6 ton pupuk kandang yang dibantu oleh dua orang pekerja. Satu karung isi 40 kg pupuk bubuk halus dijual dengan harga Rp 20 ribu. “Kalau yang granul satu karung dijual Rp 25 ribu,” imbuhnya.
Bapak dua orang anak ini yakin pupuk buatannya ini mampu mengarah kepembentukan tanah ada kandungan makro dan mikro sehingga tanah di sawah jauh lebih mudah dibajak dan penyerapan hara tanaman jadi lebih mudah. “Kalau pakai pupuk ini sebelum tanam bisa menghemat penggunaan pupuk kimia 30%,” pungkasnya.
(fat/fat)
Charolin Pebrianti – detikNews
Sumber : https://goo.gl/78FVhp
Berhasil kelola lingkungan, PJB UP Paiton raih PROPER Emas
Probolinggo – Di penghujung tahun 2017 lalu PT PJB Unit Pembangkitan (UP) Paiton sebagai anak perusahaan PT PLN memperoleh penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Penghargaan ini diberikan karena perusahaan ini dinilai bisa mengelola lingkungan serta pengembangan masyarakat secara konsisten dan berkesinambungan.
Menurut, Direktur Utama PJB Iwan Agung Firstantara, pihaknya sudah menyerahkan Proper emas itu kepada PLN. “Kami berharap keberadaan Piala PROPER Emas ini di PLN dapat menginspirasi dan memacu semangat pembangkit di Indonesia, khususnya pembangkit yang ada di lingkungan PLN untuk meningkatkan kinerja lingkungan, demi terciptanya hubungan yang harmoni pembangkit listrik dengan lingkungan,” kata Iwan, Selasa (16/1/18).
Iwan mengatakan, PROPER Emas diperoleh PT PJB Unit Pembangkitan Paiton melalui perjalanan panjang dalam menciptakan keunggulan lingkungan. Melakukan berbagai upaya efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya alam dan pemberdayaan masyarakat secara konsisten dan berkesinambungan.
“Pengelolaan lingkungan dilakukan sesuai yang digariskan pemerintah, bahkan melebihi dari yang apa dipersyaratkan dalam ketentuan perundang-undangan,” jelasnya.
Iwan juga mengatakan, berdasarkan benchmarking yang dilakukan ITS Kemitraan, dalam hal pemanfaatan sumberdaya alam, PT PJB Unit Pembangkitan Paiton berhasil masuk dalam jajaran top ten terbaik dunia. Berhasil meningkatkan efisiensi PLTU sebesar 0,5 persen, setara dengan efisiensi energi 141.472,33 Giga Joule (GJ) atau Rp 4,5 Miliar per tahun dan menempatkan pada posisi peringkat ke-4 terbaik dunia dengan intensitas energi 0,00712 GJ atau setara dengan 25,64 GJ/GWh.
Sedangkan dalam upaya penurunan emisi gas buang, PT PJB Unit Pembangkitan Paiton melakukan condenser cleaning pada saat unit beroperasi normal, bukan saat unit shut down. Walaupun berisiko, program ini tetap dilaksanakan dan berhasil meningkatkan efisiensi thermal 0,254 persen, sehingga menghemat pemakaian batu bara dan mengurangi emisi sebesar 15.915,76 ton CO2/tahun. Upaya lain juga dilakukan untuk menurunkan emisi gas buang adalah modifikasi fin tube boiler, dan berhasil menurunkan emisi 532.933,01 ton CO2/tahun.
“Upaya-upaya tersebut menempatkan UP Paiton dalam hal intensitas emisi menduduki peringkat 9 terbaik dunia,” jelasnya.
Iwan menambahkan, terkait dengan pengolahan limbah padat non B3 di antaranya adalah pemanfaatan limbah berbasis ekonomi kreatif.
“Limbah diolah kembali menjadi aneka kerajinan tangan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Dalam hal intensitas limbah padat non B3, PT PJB Unit Pembangkitan Paiton menempati 6 terbaik dunia,” katanya
Keberhasilan juga diperlihatkan dalam pemanfaatan air dan penurunan beban pencemaran. Dengan berbagai upaya, PT PJB Unit Pembangkitan Paiton dalam hal intensitas air limbah menempati peringkat 10 terbaik dunia. Salah satu upaya yang cukup menonjol adalah inovasi dalam pendingin Motor CWP dengan sistem tertutup, sehingga tidak ada air yang terbuang.
Selain berhasil melakukan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya alam, KLHK menilai PJB Unit Pembangkitan Paiton memiliki keunggulan dalam pelaksanaan program CSR, terutama Program Organik Integrated System (OIS) yang diwujudkan dalam bentuk Pertanian Selaras Alam atau Pertanian Organik di Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton.
Program ini berhasil menghilangkan ketergantungan petani terhadap obat-obatan dan pupuk kimia, serta meningkatkan produktivitas lahan pertanian dari 6,7 ton padi per hektar menjadi 11,6 ton padi per hektar. Keberhasilan itu menginspirasi banyak petani di daerah sekitar. Program OIS pun secara alami bergulir bak bola salju, hingga wilayah Paiton dan sekitarnya kini dikenal sebagai Setra Pertanian Organik.
Sistem pertanian organik dikembangkan bukan hanya di lahan pertanian saja. Iwan mengungkapkan, pihaknya juga mengajak masyarakat untuk melakukan pemanfaatan pekarangan rumah dalam bentuk budi daya aneka sayuran organik.
“Ada yang langsung ditanam di tanah, ada yang mengggunakan media polibag dan ada pula yang dalam bentuk hidroponik dengan media paralon. Sebagian diantara mereka mengolah hasil pertanian menjadi aneka makanan dan minuman organik diwilayah kecamatan Paiton dan Gending Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.
PT PJB Unit Pembangkitan Paiton juga mendapat apresiasi dari KLHK tentang kebersihan kawasan pesisir sekitar pembangkit dan pelestarian terumbu karang. Terumbu karang terpelihara dan berkembang dengan baik di dekat pembangkit listrik. PJB berhasil menciptakan keharmonisan antara pembangkit dengan ekosistem laut.
Sekretaris Tim PROPER KLHK Sigit Reliantoro mengakui kawasan pesisir sekitar pembangkit terlihat bersih, dan terumbu karang berkembang dan terawat dengan baik. Pelestarian terumbu karang dilakukan UP Paiton melalui transplantasi dan penanaman bersama siswa dan warga sekitar.
“Sehingga terumbu karang terpelihara dengan baik dan menjadi rumah bagi bermacam jenis ikan,” katanya.
Berkaitan dengan diperolehnya penghargaan PROPER emas dari KLHK oleh PT PJB Paiton, Direktur Uman Capital Management PT PLN (Persero), Muhamad Ali mengatakan, keberhasilan PT PJB ini perlu diapresiasi dan perlu untuk ditiru oleh pembangkit lain. “Sebab pengelolaan lingkungan dan Pengembangan masyarakat sekitarnya sangat baik,” jelasnya.
Ali mengatakan, prestasi ini tidak mudah diperoleh oleh PT PJB. Akan tetapi memerlukan kerja keras serta perjuangan tinggi dalam upaya pengelolaan lingkungan dan pengembangan masyarakat. Terbukti dengan adanya pengelolaan lingkungan yang baik pada pantai di daerah PT PJB biota laut dan terumbu karangnya tunbuh dan berkembang baik.
“Maka keberhasilan PT PJB perlu untuk dipertahankankan dan patut untuk bisa dijadikan contoh bagi pembangkit listrik lainnya di Indonesia,” harapnya.
PT PJB Unit Pembangkitan Paiton mendapatkan PROPER Emas. Penghargaan diberikan atas pengelolaan lingkungan dan pengembangan masyarakat.
(iwd/iwd)
M Rofiq – detikNews
Sumber : https://goo.gl/Qet2Z7
‘Chocolate Yoga’ Ini cocok buat pencinta Yoga dan Cokelat
London – Suka yoga dan cokelat? Yoga yang satu ini cocok buat docoba. Sambil melakukan gerakan yoga peserta akan diajak menikmati cokelat. Asyik!
Melakukan gerakan yoga bisa memperlancar peredaran darah dan membuat tubuh bugar. Selain itu juga melatih daya konsentrasi. Yoga yang dikenal sejak tahun 1900 mulai dikembangkan. Dari yoga iyengar, vinyasa dan kundalini.
Selain yoga klasik dikembangkan juga yoga gaya baru yang disukai banyak orang. Sebut saja yoga bir, Drake yoga, yoga kambing hingga rescue cat yoga. Peminat yogapun makin banyak di dunia.
Foto: instagram/@emmaroberts
Kali ini ‘chocolate yoga’ atau yoga cokelat diperkenalkan oleh Love Cocoa yang dikenal dengan produk cokelat vegan, lapor metro.uk(15/1). Bersama instruktur yoga Guzel Mursalimova, peserta diajak meditasi selama 90 menit dan latihan yoga restoratif. Acara ini akan dilakukan pada tanggal 3 Februari nanti di theLodge Space, London.
Latihan ini meliputi aspek restoratif dan penyegaran, makan cokelat perlahan dan meditasi mencicipi cokelat. Meditasi dengan cokelat akan membuat pikiran peserta terbuka akan spektrum rasa dan sensasi cokelat yang baru. Kemudian restoratif yoga dengan minyak esensial agar lebih fokus pada gerakan pikiran dan memahami tubuh.
Foto: thinkstock
Menurut Guzel, banyak kesamaan antara cokelat dan yoga. Perasaan senang setelah menikmati sepotong cokelat yang lezat sama dengan perasaan ringan setelah melakukan latihan yoga.
‘Gerakan perlahan, kekuatan nafas dan cokelat vegan organik memang sangat cocok,’ ungkapnya.
Untuk ikut kelas ini peserta dipungut biaya 16.31 pounds ( Rp 297.000 ) termasuk 90 menit cokelat meditasi dan latihan yoga juga satu batang Love Cocoa Chocolate dan godie bag cokelat.
Odilia Winneke Setiawati – detikFood
Sumber : https://goo.gl/Ew9kdL
Cara petani di Brebes kurangi kerugian saat harga bawang anjlok
Brebes – Kelompok Tani di Desa Sisalam, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mulai mencanangkan gerakan penggunaan pupuk dan pestisida ramah lingkungan untuk tanaman bawang merah dan padi. Selain untuk menjaga kelestarian tanah sawah, penggunaan produk organik ini untuk menghemat biaya tanam, sehingga bisa terhindari dari kerugian apabila harga jual hasil panen anjlok.
Gerakan ini diprakarsai oleh Kelompok Tani Makmur Desa Sisalam Kecamatan Wanasari Brebes. Pencanangan ini diselenggarakan di Desa Sisalam dengan menghadirkan seluruh kelompok tani dari daerah lain.
Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Sisalam, Darwinto menjelaskan, gerakan ini didasari rasa keprihatinan petani terhadap hasil panen yang mengandung residu berbahaya sehingga ditolak di pasaran termasuk pasaran luar negeri. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia menjadi faktor penyebabnya.
“Maka kami mengajak kepada para petani untuk menggunakan produk ramah lingkungan. Tujuannya adalah produk petani di Brebes aman dikonsumsi. Selain itu, produk ramah lingkungan ini tidak mengganggu kesuburan tanah,” kata Darwinto.
Foto: Imam Suripto/detikcom
Selain lebih aman dan sehat, penggunaan produk ini tergolong lebih murah, namun menghasilkan hasil panen yang bagus. Jika dihitung, penggunaan pupuk dan pestisida organik ini 50% lebih murah dibandingkan dengan pupuk dan obat obatan kimia.
“Kami sudah buktikan selama 10 bulan. Kami sudah membuktikan, bawang yang dihasilkan besar dan tidak terserang hama. Jadi jika harga bawang Rp 10 ribu per kg, kami masih dapat untung. Tapi jika semua pupuk dan obat pestisida menggunakan kimia, harga seperti itu sama sekali tidak bisa menutup biaya tanam,” ungkap Darwinto.

Foto: Imam Suripto/detikcom
Produk yang dihasilkan kelompok tani ini terdiri dari pupuk curah dan cair yang menggunakan bahan dasar kotoran hewan dan limbah lainnya. Pupuk curah maupun cair, menurut Darwinto sudah terbukti bisa meningkatkan kesuburan tanah. Sedangkan pestisida yang dihasilkan adalah dari hasil pengembang biakkan bakteri dan jamur. Bakteri dan jamur ini akan mematikan serangga yang mengganggu tanaman bawang.
Ada lagi produk pestisida alami yang berhasil dibuat oleh kelompok tani ini. Pestisida ini terbuat dari buah Nimbo. Buah dari tanaman yang dikenal dengan sebutan pohon Soekarno ini berfungsi membunuh serangga. Cara pembuatannya pun cukup mudah, yakni diblender dan airnya dipakai untuk menyemprot serangga pada tanaman.
Penggunaan produk pupuk dan obat organik ini, menurut Darwinto belum dilakukan semua petani. Mereka masih beranggapan, pestisida dan pupuk kimia lebih cepat membunuh serangga dibanding organik. Padahal, pestisida kimia ini jika dipakai secara terus menerus akan merusak kesuburan tanah dan mengganggu kesehatan. Dia berharap, petani mulai beralih ke pupuk dan pestisida organik sehingga bisa menekan biaya tanam dan bisa menjaga kesuburan tanah.
“Memang cara kerjanya memakan waktu beberapa hari sejak disemprotkan. Serangga akan mati setelah dua atau tiga hari. Meski lambat beberapa hari tapi pasti. Serangga akan mati dengan sendirinya,” terangnya.
Darwinto berharap, Pemerintah ikut menyukseskan gerakan penggunaan produk pupuk dan pestisida organik ini. Menurutnya, selama ini pemerintah kurang tanggap terhadap kerusakan tanah akibat pestisida yang berlebihan. Campur tangan pemerintah sangat diperlukan sehingga kesuburan tanah tetap terjaga demi ketersediaan pangan generasi yang akan datang.
Sementara, DR Rasipin, peneliti pestisida menjelaskan, dampak yang ditimbulkan tidak saja pada tanah, melainkan juga pada kesehatan. Tanah yang sering terkena pestisida mengandung bahan kimia timbal dalam jumlah besar. Petani yang terpapar juga bisa terkena gangguan kesehatan.
“Tidak hanya pestisida, pupuk an organik ini membawa logam berat seperti timbal dan titanium. Kandungan logam berat tanah sawah di Brebes, lebih besar 10 kali lipat dibanding di Tegal. Timbal dan titanium ini mengganggu sistem endokrin,” terangnya.
Sebagai contoh, Rasipin pernah meneliti penderita gondok di wilayah pantura. Setelah dilakukan penelitian, mereka terkena gondok karena sering terpapar pestisida. (hns/hns)
Imam Suripto – detikFinance
Sumber : https://goo.gl/89rQPd
Rangkul NU, Bupati Anas bersinergi kembangkan daerah
Banyuwangi – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengajak kalangan Nahdlatul Ulama melalui Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk terus bersinergi mengembangkan daerah. Sinergitas tersebut digenjot dalam pemberdayaan ekonomi.
“Saat ini eranya bersinergi. Untuk itu, sinergi yang selama ini telah terbangun baik antara NU dengan Pemkab Banyuwangi harus terus dipertahankan dan ditingkatkan,” ujar Anas di Banyuwangi kepada wartawan di Kantor PCNU, Jalan Ahmad Yani, Selasa (9/1/2018).
Sinergitas tersebut, pinta Anas, digenjot dalam pemberdayaan ekonomi. Ia meminta pengurus NU di tingkat kecamatan bisa berkolaborasi dengan berbagai usaha unggulan yang telah berkembang di masing-masing kecamatan. Selain lebih efektif, hal tersebut juga lebih mudah untuk diaplikasikan.
![]() Bupati Anas di kantor PCNU Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)
|
“Misalnya NU Kecamatan Songgon bisa dengan peternak lele yang telah berkembang. Begitu juga dengan NU Singojuruh bisa berkolaborasi dengan petani beras organik,” saran Anas.
Lebih lanjut, Anas juga mengajak NU untuk memanfaatkan program-program pemberdayaan ekonomi yang ada di Pemkab Banyuwangi. Seperti halnya berbagai program pelatihan soft skill maupun kewirausahaan yang mencapai 400-an paket pelatihan.
Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi KH. Masykur Ali menyambut baik ajakan tersebut. “Sektor pemberdayaan ekonomi memang menjadi perhatian kerja NU. Tawaran bupati ini kami sambut dengan terbuka,” terangnya.
(iwd/iwd)
Liburan ke Banyuwangi? Jangan lupa cicipi buah naga organik
BANYUWANGI, KOMPAS.com – Jika berencana menghabiskan liburan akhir tahun ke Banyuwangi, anda wajib berkunjung di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur. Pasalnya di desa yang berada di bawah kaki Gunung Raung ini menghasilkan buah naga organik yang bebas dari residu berbahaya.
Ada 40 hektar lahan pertanian di Desa Tegalarum yang ditanami buah naga secara organik oleh petani yang tergabung dalam kelompok tani Pucangsari yang terdiri dari 80-an petani.
“Sejak pertama kita menanam buah naga sudah secara organik. Tidak ada suntikan bahan kimia dan pupuk yang digunakan juga secara organik. Buah naga yang dihasilkan oleh petani desa kita sudah tersertifikasi,” kata Rukiyan, ketua kelompok tani Pucangsari kepada Kompas.com, Kamis (21/12/2017).
Ia mengatakan kelebihan dari buah naga organik adalah lebih tahan lama hingga 25 hari sedangkan buah naga yang tidak organik hanya bertahan sekitar seminggu sampai 10 hari.
“Selain itu rasa manis, teksturnya tentu berbeda dengan yang tidak organik. Yang paling penting buah ini lebih sehat,” ujarnya. Selain buah naga, desa tersebut juga mengahasilkan jambu kristal dan juga jeruk organik.
Musim panen buah naga di Desa Tegalarum untuk tahun ini dimulai bulan Desember 2018 hingga bulan Mei 2019.
Untuk sekali musim, dengan luas lahan 40 hektar, hasil panen buah naga organik kelompoknya sebanyak 1.600 ton dengan nlai ekonomis yang lebih tinggi.
“Dengan modal Rp 40 juta juta per hektar, kami bisa memperoleh Rp 560 juta setiap musimnya sekitar enam bulan,” ujarnya.
Ia menjelaskan dalam per bulan, kelompok tani Pucangsari mengirim 40 ton ke Jakarta, 15 ton ke Malang, 8 ton ke Bogor, Bali, Blitar.
“Untuk ke Singapura per bulan kita kirim 4 ton. Sebenarnya banyak permintaan tapi kita menjaga kualitas. Untuk ukurannya buah naga organik antara 4 sampai 6 ons per buah. Ada juga yang minta lebih kecil ukurannya sekitar 3 ons. Tapi kita tidak bisa penuhi,” kata Rukiyan.
Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, kepada Kompas.com menjelaskan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menyediakan outlet khusus produk organik yang diletakkan di Bandara Banyuwangi. Salah satunya adalah menyediakan buah naga organik dari Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu.

“Buah naga organik ini bisa menjadi buah tangan atau oleh-oleh. Bisa datang langsung ke desa atau tinggal beli di bandara. Kita packing sedemian rupa agar lebih menarik, jadi nggak harus dimasukkan kresek. Nanti kalau ke Jakarta saya akan bawa buah naga ini buat oleh-oleh,” katanya.
Menurut Anas, Pemkab Banyuwangi juga memfasilitasi sekolah lapang kepada para petani buah untuk menjalankan praktik agrikultur yang baik atau good agricultural practices (SL-GAP) dan good handling practices (SL-GHP). Dengan penanganan yang baik, buah naga organik bisa terjaga kualitasnya dengan rasa buah lebih manis dan tekstur lebih renyah.
“Nilai ekonomisnya pastinya lebih tinggi dari yang tidak organik. Selisihnya bisa Rp 4.000-5.000 di tiap kilogramnya, tentu lebih mahal yang non-organik. Dan saat ini Banyuwangi adalah sentra buah naga nasional,” kata Anas.
Ia menambahkan, dengan luasnya lahan pertanian buah naga bisa menjadi alternatif kunjungan wisatawan yang datang ke Banyuwangi.
Saat ini, luas panen buah naga di Banyuwangi 2.283 hektare dengan produksi 117.709 ton.






