Pelatihan Value Chain yang di Inisiasi oleh Trukajaya

Pada hari kamis (18/7) Aliansi Organis Indonesia (AOI) melakukan kegiatan tentang apa itu Value Chain. Kegiatan ini di inisiasi oleh Trukajaya. Pada kegiatan ini AOI menjadi Narasumber untuk menyampaikan tentang apa itu Value Chain.

Menurut pemaparan Pak Wangsit (AOI) Value Chain / Rantai Nilai adalah sekumpulan aktifitas bisnis , kemudian tahapan serta penambahan nilai, baik Produk ataupun Jasa. Contoh untuk produk itu bisa saja ada perubahan nilainya dalam tampilan , bentuk ataupun manfaatnya.

Dalam pelatihan value chain saat ini semua peserta diajak untuk memetakan value chain (rantai nilainya) masing-masing. Rantai nilai yang kita petakan pada pelatihan kali ini ada pada dua komoditas. Komoditas pertama yaitu empon-empon (seperti jahe, kunyit, lengkuas dan lainnya) dan untuk yang kedua adalah penyusunan rantai nilai untuk komuditi beras. Peserta yang hadir pada pelatihan Value Chain ada dari daerah Boyolali, Sala tiga, Wonogiri dan Bantul.

Anggota AOI Sumatera Utara Ber”Tak-Tik-Bum” Dalam FGD Kebijakan Regional

Setelah sebelumnya menggelar diskusi kebijakan di Pontianak dengan melibatkan sejumlah lembaga anggota dan jaringan di wilayah Kalimantan Barat, Aliansi Organis Indonesia (AOI) kembali menyelenggarakan diskusi serupa di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara (18/7). Acara yang dimotori sekretariat dan anggota AOI wilayah Sumatera Utara tersebut diikuti oleh sedikitnya 30 peserta dari berbagai lembaga diantaranya Bitra dan Petrasa.

Anggota Dewan Perwakilan Anggota (DPA) AOI Sumut, Lidya, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya acara diskusi di daerah-daerah basis anggota AOI. “Ini adalah salah satu upaya sekretariat yang baik dan perlu didukung. Dengan demikian wacana dan gerakan advokasi AOI terkait pertanian organis juga secara langsung dapat dirasakan melalui pelibatan anggota-anggotanya di daerah”, paparnya.

Diskusi bertajuk “Reorientasi Kebijakan Pertanian Organik” itu berlangsung meriah. Bertempat di aula YAK Sibolangit, acara dibuka dengan roleplay yang melibatkan seluruh peserta yang hadir. Permainan bernama Tak Tik Bum yang difasilitasi oleh Anta Tarigan (Bitra) tersebut selain mampu mencairkan suasana dan melatih konsentrasi juga dapat menjadi alat untuk saling berkenalan satu sama lain.

Seusai roleplay acara segera disusul dengan inti paparan tentang hasil riset, kertas kebijakan, visi dan langkah kerja advokasi AOI yang disampaikan oleh Loji (Divisi advokasi AOI) , Wahyudi David (Tim riset), dan Gunawan (praktisi hukum dan kebijakan).

Dalam presentasi pengantarnya, Divisi Advokasi AOI menjelaskan tentang sejarah riset yang dilakukan oleh AOI hingga penyusunan policy paper yang melibatkan sejumlah pihak serta berbagai upaya penting untuk mendiseminasikan materi policy paper tersebut kepada jaringan masyarakat sipil lainnya. “Diskusi kebijakan semacam ini juga sudah dilakukan oleh AOI dengan melibatkan sejumlah lembaga lain beberapa waktu yang lalu. Hal ini penting untuk menggalang dukungan karena juga akan dapat membawa manfaat yang lebih luas dan beririsan dengan semangat serta perjuangan kawan-kawan dari banyak lembaga lain, khususnya organisasi petani”, paparnya.

Sementara itu Wahyudi David, anggota tim riset dari Universitas Bakrie Jakarta yang sebelumnya terlibat dalam riset kebijakan tersebut mempresentasikan sejumlah kisi penting diantaranya tentang ketimpangan pasar organik, reduksi makna organik hingga ketimpangan akses dalam rantai organik. Paparan tersebut secara substansi merupakan hasil analisis atas temuan riset sebagaimana sudah disusun dalam policy paper yang telah diterbitkan oleh Aliansi Organis Indonesia. Dokumen policy paper tersebut dapat diakses pada platform online library http://repository.bakrie.ac.id/2304/.

Pada kesempatan yang sama, Gunawan yang mewakili koalisi nasional, dalam paparannya menjelaskan tentang revolusi hijau dan paten hingga sejarah dikeluarkannya UU Sistem Budidaya Tanaman (SBT) dan UU Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) . Dia juga menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi sehubungan judicial review atas UU SBT hingga Prioritas Prolegnas RUU Sistem Pertanian Berkelanjutan yang juga menjadi salah satu bagian dari materi rekomendasi sebagaimana dalam policy paper. Dalam kaitan perlindungan dan pemberdayaan petani tersebut dipaparkan pula tentang peluang pada Undang-undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (UU Perlintan) , Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial. “Pertanian organik bukan hanya tentang sertifikasi organik dalam rangka perdagangan global. Untuk itu perlu diperbanyak petani pemulia benih. Dan sesuai putusan MK, perseorangan petani kecil tidak dilarang atau tak perlu izin dalam mencari, mengembangkan dan mengedarkan benih di komunitasnya”, ungkapnya.

Forum diskusi siang itu makin tampak hidup pada saat sesi tanya jawab berlangsung. Sejumlah peserta mempertanyakan peran pemerintah yang dianggapnya tidak serius dalam mendukung kemajuan pertanian, khususnya pertanian organik. Seperti putusan MK tentang pengembangan benih oleh petani diyakini belum tersosialisasi oleh pemerintah sendiri di tingkat daerah. Selain itu dukungan pemerintah terhadap pertanian organik juga dianggap belum optimal. “Masih setengah hati terutama yang berhubungan dengan produsen. Pertanian organik sejauh ini masih dipahami sebagai produk, bukan proses. Karenanya para petani juga lagi-lagi tetap berada pada posisi pengguna akhir dan menjadi objek dari perdagangan input pertanian walaupun klaimnya sudah dikatakan sebagai input pertanian organik”, ungkap Ridwan dari Petrasa.

Kegiatan Diskusi Kebijakan dalam format FGD regional tersebut merupakan rangkaian dari agenda Seminar Nasional Pertanian Organik yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan Agustus mendatang di Jakarta. Direktur Aliansi Organis Indonesia, Stevanus Wangsit, menegaskan tentang pentingnya mendorong upaya advokasi kebijakan bersama dengan anggota AOI di berbagai wilayah di Indonesia. “Bahkan untuk yang bukan anggota AOI sekalipun”, tegasnya. “Penerima manfaat langsung dari materi advokasi ini tentu para petani, khususnya petani organik. Bukan hanya AOI dan anggotanya. Ini karena yang terdampak oleh kebijakan nasional adalah semua pihak dalam jangkauan wilayah kebijakan tersebut diberlakukan. Karenanya sangat perlu acara diskusi semacam ini dilakukan untuk memastikan anggota juga dapat terlibat secara aktif di dalamnya”, lanjutnya lagi.

BIOFACH SEA 2019 – Hari ketiga

Pada hari ke 3 (13/07/2019) tidak seramai hari pertama dan kedua, kebanyakan pengunjung berasal dari pengunjung umum, terdapat beberapa potential buyer yang tertarik dengan produk Indonesia, akan di follow up oleh mitra AOI.

Meeting dengan Nuremberg Messe (Lidia, Elsje, Miske) :

Nuremberg Messe minta agar tiap exportir mengirimkan formulir peserta BIOFACH SEA (lengkap dengan data produk) lebih awal dari biasanya, agar mereka bisa input data produk di web mereka sebagai bagian dari promosi untuk memancing buyer dari Eropa.

Untuk BIOFACH Roadshow, Messe berharap acara ini bisa digabung dengan acara masing-masing asosiasi AOF karena mereka mengalami keterbatasan dana.

BIOFACH SEA 2020 akan diadakan pada tanggal 9 – 12 Juli 2020 di Impact, Bangkok – Thailand.

Pergantian Advisory Board AOF untuk AOI sudah diumumkan kepada Nuremberg Messe dan AOF, bahwa Lidia Naibaho digantikan oleh Elsje Mansula dan diback up oleh Miske M.T.

Hasil presentasi Ibu Lidia :

Presentasi berjalan dengan lancar, ada beberapa pertanyaan mengenai apa kredibilitas PGS dan CB, kemudian bagaimana cara AOI melakukan advokasi ke pemerintah agar PGS diakui.

Report Errol (OI) :

1.         Bui Duc Son, Visimex – Vietnam

•          Membahas potensi ekspor dan kebutuhan produk di Vietnam

•          Komoditi yg dibutuhkan : pepper, cinnamon

•          Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : PMA & SOS

2.         Amaury Janny, UFAB – Perancis

•          Mencari komoditi lokal Indonesia untuk pakan ternak di Perancis

•          Komoditi yg dibutuhkan : soybean, green bean, and spices

•          tindak lanjut akan dikirim melalui email untuk kebutuhan produk, quantity dan harga

AOI Gelar FGD Kebijakan di Pontianak, Kalimantan Barat

Aliansi Organis Indoneaia (AOI) menggelar diskusi terfokus kebijakan pertanian organik di Pontianak, Kalimantan Barat (11/7). Acara yang digagas bersama jaringan anggota AOI Kalbar tersebut merupakan bagian dari rangkaian seminar nasional yang sedianya akan diselenggarakan setelahnya di Jakarta. “Melalui FGD ini kami berharap kawan-kawan jaringan di Kalbar, khususnya para anggota memahami latar belakang, konteks dan materi advokasi kebijakan yang dilakukan oleh AOI”, kata Supia, pengurus Yayasan Dian Tama, Pontianak. “Dengan demikian anggota juga dapat terlibat secara aktif di dalamnya serya dapat memberikan berbagai masukan yang bermanfaat.”, lanjutnya.

Kegiatan yang digelar di Canopy Center Pontianak tersebut dihadiri sedikitnya puluhan peserta dari sejumlah lembaga dan petani organik Kalimantan Barat. Direktur Aliansi Organis Indonesia, Stevanus Wangsit,  menegaskan tentang pentingnya mendorong upaya advokasi kebijakan ini secara bersama dengan anggota AOI di berbagai wilayah di Indonesia, bahkan yang bukan anggota AOI sekalipun. “Penerima manfaat langsung dari materi advokasi ini tentu para petani, khususnya petani organik. Bukan hanya AOI dan anggotanya. Ini karena yang terdampak oleh  kebijakan nasional adalah semua pihak dalam jangkauan wilayah kebijakan tersebut diberlakukan. Karenanya sangat perlu acara diskusi semacam ini dilakukan untuk memastikan anggota juga dapat terlibat secara aktif di dalamnya”, tegasnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut koordinator divisi advokasi, Loji. Dalam presentasi pengantarnya ia menjelaskan tentang sejarah riset yang dilakukan oleh AOI dan penyusunan policy paper yang melibatkan sejumlah pihak hingga upaya penting untuk mendiseminasikannya kepada jaringan masyarakat sipil lainnya. “Beberapa waktu lalu kita sudah bikin diskusi kebijalan ini dengan melibatkan sejumlah lembaga lain. Ini penting untuk menggalang dukungan karena hal tersebut juga akan membawa manfaat yang luas, yang juga beririsan dengan visi dan perjuangan kawan-kawan dari banyak lembaga lain, khisisnya organisasi tani”, paparnya. Sementara itu Pius Mulyono dari Lesman Boyolali  yang sebelumnya terlibat dalam riset kebijakan tersebut  mempresentasikan sejumlah kisi penting diantaranya tentang ketimpangan pasar organik, reduksi makna organik hingga ketimpangan akses dalam rantai organik. Paparan tersebut secara substansi merupakan hasil analisis atas temuan riset sebagaimana sudah disusun dalam policy paper yang diterbitkan Aliansi Organis Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Gunawan yang mewakili koalisi nasional, dalam paparannya menjelaskan tentang revolusi hijau dan paten hingga dikeluarkannya UU Sistem Budidaya Tanaman dan UU Perlindungan Varietas Tanaman. Dia juga menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi atas judicial review UU SBT hingga Prioritas Prolegnas RUU Sistem Pertanian Berkelanjutan yang juga menjadi salah satu bagian dari materi rekomendasi policy paper. Dalam kaitan pemberdayaan  dipaparkan pula tentang peluang pada UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial. “Pertanian organik bukan hanya tentang sertifikasi organik dalam rangka perdagangan internasional. Untuk itu perlu diperbanyak petani pemulia benih. Dan sesuai putusan MK, perseorangan petani kecil tidak dilarang atau tak perlu izin dalam mencari, mengembangkan dan mengedarkan benih di komunitasnya”, ungkapnya.

Diskusi Terfokus pra Seminar Nasional bertajuk Re-orientasi Kebijakan Organik tersebut meski digelar dengan peserta terbatas, namun tidak mengurangi semangat peserta untuk bertukar pikiran. Hal tersebut tampak dari sejumlah pertanyaan yang dilontarkan peserta selama diskusi berlangsung. Meski tak secara langsung menukik pada masalah-masalah produk kebijakan, sejumlah pertanyaan yang muncul secara jelas merupakan ekspresi terutama dari petani agar pertanian benar-benar dapat berkembang secara luas dan mendapatkan dukunhan penuh pemerintah dalam hal pemberdayaan dan perlindungan. Selain diselenggarakan secara regional di Kalimantan Barat, FGD Kebijakan ini juga rencananya akan digelar di Medan pada 18 Juli memdatang.

BIOFACH SEA 2019 – Hari kedua

Hari Kedua (12 Juli 2019)berbeda dengan suasana di hari pertama, di hari kedua pameran BIOFACH SEA 2019 kali ini agak ramai pengunjung setelah jam makan siang, baik dari potensial buyer maupun dari para konsumen.

Booth AOI dikunjungi oleh mantan Menteri Pertanian Bpk. Anton Apriantono periode 2004 – 2009. Kemudian di pengunjung hari TOTA mengadakan bisnis matching di ASEAN Paviliun dengan 4 grup unit usaha, 1 grup importir, 3 grup lainnya pengusaha. Setiap anggota advisory board mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi mengenai peluang dan potensi kerjasama.

Kemudian pada malam hari tim BIOFACH mengundang para exhibitor dari Jerman dan ASEAN Paviliun untuk menghadiri acara “Industry Get – Together”. Di mana acara ini berkonsep untuk membangun jaringan dengan suasana yang lebih santai sambil menikmati hidangan.

Miske & Else:

  1. Sonya dari Kementrian Pertanian Jerman.

Peluang : Kerjasama dengan Indonesia melalui lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah Jerman, seperti : Naturland, GIZ

  • TOPS Supermarket, memiliki gerai di Thailand lebih dari 200 gerai. Produk yang mereka jual 50% diimport dari negara lain, dan dari semua produk yang diimport hampir semuanya adalah buah dan sayuran segar (konvensional dan organic).

Peluang : Ekspor untuk buah/sayuran segar, dengan catatan produk yang diekspor terdapat dalam daftar produk yang boleh diimpor oleh Thailand.

  • Naturland

Sebuah lembaga sertifikasi dari Jerman dengan standart lebih tinggi dari Badan Sertifikasi lainnya, dan ingin memperluas jaringan di Indonesia.

Peluang : Naturland dapat membantu market untuk anggotanya, termasuk support jika ada produsen yang mempunyai produk dengan high demand di Jerman.

  • Agroisolab

Laboratorium yang mempunyai akreditasi Eropa untuk memastikan produk organic atau bukan. Oleh karena itu para trader/eksportir cukup menggunakan 1 lab untuk menguji.

Else :

  1. Oil Palm Organic

Perantara antara investor dengan pelaku bisnis untuk organic oil palm.

Peluang : Mengajak PMA untuk mengembangkan produk ini, dan investor dari Belanda.

Lidia & Erol & Devi :

Pertemuan ini adalah business matching antara AOI dengan 3 grup usaha :

  1. Hotel dan Resort Peninsula

Mereka tertarik dengan produk pangan, terutama spices yang dilengkapi dengan sertifikat internasional.

  • Supermarket Bluport

Unit usaha ini tertarik dengan sabun yang diproduksi oleh Sumatran Organic Spices.

  • Organic and Natural Food Shop

Mereka menginginkan produk selain spices dan pangan atau produk organic yang tidak tersedia di Thailand.

Secara umum, ke tiga grup usaha ini mengatakan bahwa produk yang dihasilkan Indonesia dan Thailand hampir seluruhnya sama, sehingga peluang tejadinya transaksi sangat rendah.

Errol :

  1. Starindo Vac : Am + Mei
  2. Membahas potensi pasar di Thailand
  3. Komoditi yg dibutuhkan : beans, spices
  4. Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : PMA & SOS
  • Rudi Antoni : Rafa Topaz Utama
  • Project development
  • Priority : Sugar à Aren & Kelapa, Pepper, Vanili & Spices
  • Follow Up : New project OI, bikin penawaran dan rencana realisasi kegiatan
  • Hiro Kim
  • Tertarik dengan produk sabun SOS, planning ekspor ke Jepang
  • Komoditi yg dibutuhkan : Natural Soap
  • Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : SOS
  • Marcel Murder
  • Post harvest handling manufacturer
  • Komoditi yg dibutuhkan : Kerjasama untuk post harvest handling dengan perusahaan Indonesia
  • Follow up : Training & Post Harvest Development
  • Sureerat Darbavasu
  • Penawaran untuk ikut pameran natural & organic product Chiang Mai
  • Komoditi yg dibutuhkan : –
  • Follow up : Request informasi waktu
  • Fong Jen Chih
  • Tertarik dengan produk organic Indonesia
  • Komoditi yg dibutuhkan : Spices & Sugar
  • Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : SOS & PMA
  • Maheshkumar
  • Tertarik dengan produk organic Indonesia
  • Komoditi yg dibutuhkan : Spices & Sugar
  • Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : SOS & PMA

BIOFACH SEA 2019 – hari pertama

Pada hari ini (11/7/2019) pengunjung pameran ini tidak terlalu banyak dan justru didominasi oleh pembeli retail seperti tahun sebelumnya. Hal ini juga disebabkan oleh kunjungan keluarga kerajaan Thailand selama kurang lebih 4 jam, di mana tidak diperbolehkan satupun pengunjung masuk di dalam ruang pameran.

Pengunjung yang datang ke booth AOI juga kebanyakan adalah sesama Exhibitor di pameran ini. Pertukaran informasi mengenai sertifikasi, permintaan produk terjadi di antara sesama Exhibitor.

Seperti yang dilakukan Ibu Elsje (PMA) ketika berbincang dengan perwakilan dari Natural Efe (Thailand), Tofu Town (Jerman), dan Good Karma (Thailand) membuatnya mendapatkan peluang permintaan akan Jackfruit (raw materials).

Untuk perwakilan dari Organic Institute mas Erol ada perbincangan dengan Allan dari Green Pro (Phillippines), ingin mendalami mengenai AOI dan anggota2nya terutama mengenai produk, sekaligus menawarkan teknologi dari perusahaannya fungsinya untuk packaging dan drying produk. Dari segi peluang : Kerjasama pelatihan maupun pembicara dalam berbagai training post harvest handling.

Kedatangan dari Sanjay Deshmuth dari NACA dan Jayprakash dari QMS. Mereka dari lembaga sertifikasi di India dan berdiskusi mengenai lembaga dan sistem sertifikasi di Indonesia.

Selain itu Tim Mahler dan Dir GIZ Thailand, berdiskusi mengenai program peningkatan kapasitas petani kopi di Indonesia. Dengan pertemuan ini terbukanya peluang kerjasama dengan kelompok tani/Lembaga untuk mencapai standard yang diinginkan.

Policy Paper – Kebijakan Pertanian Organik (AOI)

Makalah kebijakan ini merupakan hasil dari sebuah proses penelitian kolaborasi banyak pihak seperti tercantum pada sampul depan makalah kebijakan ini, oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh tim peneliti dan penyusun makalah ini yang sudah mencurahkan seluruh hati, pikiran, tenaga dan waktu yang tidak terkira demi terwujudnya reorientasi kebijakan pertanian organik di Indonesia. Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu proses penyusunan makalah kebijakan (Policy Paper) ini sehingga bisa selesai tepat pada waktunya.

Harapan yang sangat besar bagi kami bahwa makalah kebijakan ini bisa memperkaya khasanah pemikiran dan ilmu pengetahuan mengenai pertanian organik dan memberikan rekomendasi untuk dapat mempertimbangkan kembali Kebijakan Pertanian Organik yang berlaku di Indonesia terutama sesudah dan pada pelaksanaan program “Go Organik 2010” dan “Seribu DesaPertanian Organik” sebagaimana judul dari makalah kebijakan ini.

Download Policy Paper - Kebijakan Pertanian Organik (AOI)

Lengkapi data Anda untuk mendownload dokumen. Informasi yang Anda berikan membantu kami memahami kebutuhan dan latar belakang pembaca dokumen ini.

Budidaya Pertanian Organik Desa Pulosari

Pada tanggal 25 – 27 Juni, AOI telah melakukan pemantapan budidaya pertanian organik di Pulosari, Sukabumi – Jawa Barat.

Dimulai dihari pertama (25/7/2019) dengan pembuatan mikroorganisme lokal, (MoL) yang melibatkan perwakilan kelompok tani desa Pulosari, PPL Kalapanunggal, Kelompok Wania Tani (KWT) dan Kader PKK Desa Pulosari. Pada sesi ini para peserta mampu mengenali bahan-bahan pembuatan (MoL) dan mempraktekan cara pembuatan (MoL) dari bahan nasi, gedebong pisang dan sisa sayuran hijau.

Dihari kedua (26/7/2019) para peseta dikenalkan dengan bahan-bahan pupuk kompos dan pupuk organik cair yang ada di sekitar desa Pulosari, yang selanjutnya para peserta memperaktikan cara pembuatan pupuk kompos dari bahan kotoran ayam, kotoran kambing dan starter alami dan peserta juga mampu mempraktikan pembuatan pupuk organik cair dari bahan urine kelinci, kotoran kambing dan dedaunan hijau

Dihari terakhir (27/5/2019) AOI menerangkan tentang pembuatan pestisida nabati, yang langsung dipraktikan oleh para peserta dimuali dari pengenalan bahan sampai proses pembuatan pestisida nabati dari bahan daun sirsak, empon-empon (jahe, lengkuas, kunyit) dan cabe rawit.

Bagaimana dengan hasilnya ?

Peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan praktik dan ikut terlibat aktif dalam kegiatan praktik. Peserta melakukan tanya jawab dan diskusi terfokus terkait materi praktik yang diajarkan serta diiringi dengan sesi berbagi pengalaman antar peserta praktik. Kehadiran dari PPL Kalapa Nunggal juga semakin menambah antusiasme petani dalam mengikuti kegiatan praktik yang diadakan selama 3 (tiga) hari berturut-turut. Pada saat kegiatan praktik, peserta juga melakukan pendokumentasian baik berupa foto dan video kegiatan. AOI akan terus mendorong para peserta untuk melakukan replikasi kegiatan serupa baik secara masing-masing maupun berkelompok sehingga bisa melatih kemampuan dalam hal praktik pembuatan MoL, Pupuk Organik, dan Pestisida Nabati. Selain itu juga menjadikan hasil praktik ini untuk diaplikasikan pada praktek penanaman dan pemeliharaan tanaman di demplot pembelajaran pertanian organik.