Sekolah Lapang Iklim (SLI) Berkelanjutan dibuka dengan semangat tinggi di Desa Kebun Kelapa, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai elemen: petani, Aliansi Organis Indonesia (AOI), BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Deli Serdang, Polbangtan Medan, BITRA Indonesia, BPP Secanggang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Langkat, Sekretaris Camat Secanggang, dan Pemerintah Desa Kebun Kelapa.
SLI ini merupakan kolaborasi antara AOI dan BITRA Indonesia yang bertujuan untuk mendorong petani menghadapi perubahan iklim dengan praktik bertani yang adaptif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Kegiatan ini disambut hangat oleh para pihak, dengan harapan petani mulai mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, lebih memahami kondisi iklim lokal, dan menerapkan teknik pertanian berkelanjutan.
Salah satu momen paling menginspirasi datang dari Soekirman, Ambassador Organik ALGOA dan juga seorang petani senior, yang membagikan praktik uniknya:
“Keong itu teman kita. Jangan diracun. Saya kumpulkan dan jual untuk makanan bebek,” ucapnya sambil tertawa ringan. Petuah ini bukan sekadar cerita, tapi contoh nyata bagaimana membangun hubungan harmonis dengan ekosistem—bagian penting dari pertanian yang lestari dan berdaulat.
SLI ini dirancang berlangsung selama 3–4 bulan ke depan, dengan rangkaian pertemuan lanjutan yang akan menguatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menyesuaikan praktik pertanian mereka terhadap iklim yang terus berubah. Direktur AOI, Sukmi Alkausar, dan Direktur BITRA Indonesia, Rusdianah, menekankan bahwa proses ini akan menumbuhkan kesadaran dan kemampuan petani sebagai pengelola utama tanah, air, benih, dan pangan secara mandiri.
Sebagai penutup, para peserta melakukan aksi tanam bersama di lahan berkelanjutan. Dua jenis benih lokal, Mentik Susu dan Cibatu, ditanam sebagai simbol harapan tumbuhnya benih pengetahuan, kemandirian, dan panen yang membawa masa depan yang lebih adil bagi petani dan lingkungan.
Mengokohkan Kedaulatan Benih Lokal: Pelatihan Budi Daya Benih Organik di Gianyar, Bali Ketika benih bukan lagi berada di tangan petani, kedaulatan pangan pun menjadi rentan. Inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Pelatihan Budi Daya Benih Lokal Organik bertajuk “Benih Kita, Masa Depan Kita: Membangun Kedaulatan dari Akar Rumput” yang diselenggarakan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerja sama dengan Yayasan IDEP Selaras Alam, pada tanggal 21–23 Juli 2025 di Gianyar, Bali. Pelatihan ini mempertemukan petani dan pendamping dari berbagai daerah yang selama ini berjuang menjaga keberlanjutan pertanian organik di komunitas masing-masing.
Pelatihan dibuka dengan suasana hangat dan penuh semangat. Peserta disambut oleh panitia dan fasilitator, lalu diperkenalkan dengan tujuan serta agenda kegiatan. Dalam sesi awal, peserta menyampaikan harapan serta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka mengenai kedaulatan benih dan budi daya benih lokal.
Materi pelatihan difokuskan pada penguatan pemahaman dan keterampilan teknis petani dalam membudidayakan benih lokal hortikultura. Narasumber menyampaikan bahwa benih lokal bukan hanya soal varietas tradisional, tetapi juga soal kontrol, akses, dan keberlanjutan. Petani yang mampu mengelola benihnya sendiri berarti petani yang berdaulat tidak tergantung pada perusahaan benih, tidak tunduk pada sistem yang merusak lingkungan, dan mampu menentukan masa depan pangan secara mandiri. Peserta dibekali dengan prinsip-prinsip dasar dalam memperoleh keturunan benih yang baik, termasuk pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati lokal. Diskusi interaktif pun mengalir saat peserta diajak menggali pengalaman masing-masing terkait metode pembenihan yang telah mereka praktikkan serta potensi tanaman hortikultura lokal yang layak dikembangkan sebagai sumber benih komunitas.
Pelatihan berlanjut dengan pemahaman teknis melalui pengenalan Seed Saving Cycle mulai dari tahap penanaman, perawatan, panen, hingga tahap-tahap pascapanen seperti pembersihan, pengeringan, pengujian daya tumbuh, penyimpanan, hingga distribusi. Para peserta juga diperkenalkan dengan alat sederhana seperti seed dryer untuk menjaga kualitas benih selama penyimpanan. Tidak hanya pada sistem generatif, pelatihan juga membahas sistem pembibitan vegetatif serta pentingnya mengenali genotipe dan fenotipe tanaman sebagai dasar untuk seleksi dan pemuliaan benih secara lokal.
Menjelang akhir pelatihan, peserta diperkenalkan dengan konsep bank benih dan perpustakaan benih sebagai sistem komunitas dalam pengelolaan benih jangka panjang. Tak kalah penting, peserta juga diajarkan sistem pencatatan benih dan manajemen stok sebuah keterampilan yang kerap terabaikan namun sangat penting untuk memastikan kualitas dan ketersediaan benih dari musim ke musim.
Pelatihan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut oleh peserta, yang akan diaplikasikan di wilayah masing-masing. Evaluasi dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Lebih dari itu, suasana kebersamaan dan semangat gotong royong selama pelatihan menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun jaringan petani mandiri di seluruh Indonesia.
Melalui pelatihan ini, AOI dan para mitranya membuktikan bahwa membangun kedaulatan pangan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari kerja-kerja kecil dan nyata di tingkat akar rumput. Dari tangan petani yang kembali memegang kendali atas benih, kita menapaki jalan menuju masa depan pertanian yang berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Sekolah Lapang Iklim (SLI) ke-2 yang diselenggarakan pada tanggal 17–18 Juni 2025 di Desa Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, merupakan bagian dari rangkaian pelatihan petani yang diinisiasi oleh Yayasan Ayo Indonesia bekerja sama dengan Aliansi Organis Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan petani dalam menerapkan sistem pertanian berkelanjutan berbasis ekosistem, khususnya dalam budidaya tanaman sorgum, serta memperkenalkan praktik pertanian organik dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Kegiatan diikuti oleh 30 orang peserta dari kelompok tani setempat. SLI 2 dibuka secara resmi oleh pihak penyelenggara dan didampingi oleh narasumber utama, Bapak Mansianus Jemarus, SP., serta Bapak Yosep Subarsi dari PPL/POPT. Pelatihan ini diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta, dan diakhiri dengan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan setelah kegiatan.
Pada hari pertama, peserta diberikan pemaparan materi tentang fase-fase pertumbuhan tanaman sorgum, agroekosistem yang sesuai untuk budidaya sorgum, teknik pemupukan dasar dan susulan, serta pengenalan terhadap pembuatan pupuk kompos dan pestisida nabati. Peserta juga diperkenalkan metode penentuan tanaman contoh dan teknik pengamatan lapangan secara berkala untuk menganalisis pertumbuhan dan gangguan pada tanaman. Selain itu, peserta belajar membaca dan menggunakan kalender musim sebagai acuan dalam menyusun jadwal tanam dan pemeliharaan sorgum.
Pada hari kedua, kegiatan difokuskan pada praktik lapangan. Peserta mendapat pengarahan teknis mengenai cara pemupukan, penyiangan, serta penyemprotan pestisida nabati. Mereka juga melakukan pengamatan terhadap masing-masing varietas sorgum menggunakan lima tanaman sampel di setiap petak. Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi hasil pengamatan kelompok, yang kemudian dianalisis secara bersama-sama. Dari hasil pengamatan ke-2, disimpulkan bahwa tanaman menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik. Perbedaan pertumbuhan antar tanaman disebabkan oleh variasi kesuburan tanah dan keberadaan tanaman penaung.
Selain fokus pada tanaman sorgum, peserta juga dilatih cara membuat dan mengaplikasikan bahan-bahan hayati organik seperti PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria), pestisida nabati dari daun lokal, dan BIOSAKA—sebuah herbisida alami sekaligus stimulan pertumbuhan tanaman berbasis energi hayati dan kearifan lokal. Semua praktik dilakukan dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar petani.
Secara umum, kegiatan ini membekali peserta dengan ilmu praktis dan pendekatan ekologi pertanian yang relevan untuk kondisi lahan dan iklim setempat. SLI 2 juga mendorong petani untuk lebih mandiri dalam mengelola sistem pertanian mereka dengan memanfaatkan teknologi organik berbasis sumber daya lokal, serta meningkatkan kesadaran kolektif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan produktivitas lahan.
Sekolah Lapang Iklim (SLI) 1 merupakan salah satu kegiatan edukatif dan partisipatif yang diselenggarakan pada tanggal 23–24 Mei 2025 di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri dari para petani anggota Kelompok Tani Maring Woja dan Damer, serta didukung oleh penyuluh lapangan dan narasumber ahli dari sektor pertanian.
SLI 1 bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas petani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, khususnya melalui budidaya pangan alternatif yang adaptif dan berkelanjutan. Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah budidaya sorgum, yang diperkenalkan sebagai komoditas tahan kering dan ramah lingkungan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk AYO Indonesia, Aliansi Organis Indonesia (AOI), penyuluh pertanian, dan narasumber teknis Bapak Mansianus Jemarus, SP, yang juga menjabat sebagai Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda. Acara dibuka dengan sambutan dari masing-masing perwakilan lembaga pendukung, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program ini dan komitmen terhadap penguatan ketahanan pangan lokal.
Materi yang disampaikan mencakup dampak perubahan iklim di wilayah Manggarai Timur, teknik budidaya sorgum organik dan berkelanjutan, serta tahapan teknis mulai dari pemilihan benih, pengolahan lahan, metode penanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama. Peserta juga dikenalkan dengan tiga varietas sorgum unggulan yang akan ditanam di demplot, yaitu Bioguma, Suri 4, dan Super 1.
Kegiatan hari kedua difokuskan pada praktik langsung penanaman sorgum di demplot dengan perlakuan berbeda (organik dan berkelanjutan). Selain itu, peserta diberikan pelatihan tentang cara melakukan pengamatan pertumbuhan tanaman secara periodik setiap dua minggu untuk menilai efektivitas teknik budidaya yang digunakan.
Melalui Sekolah Lapang Iklim ini, para petani tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga didorong untuk lebih mandiri dan adaptif terhadap risiko iklim dalam upaya menjaga ketahanan pangan di tingkat lokal secara berkelanjutan.
Pada tanggal 29–30 Mei 2025, sebanyak 15 peserta yang terdiri dari petani muda, penyuluh pertanian, dan pelaku agribisnis dari berbagai daerah berkumpul di Salatiga untuk mengikuti Pelatihan Analisa Usaha Tani. Kegiatan ini dirancang untuk membantu para pelaku pertanian memahami cara menilai kelayakan usaha tani secara teknis dan finansial, agar usaha yang dijalankan bisa lebih efisien, menguntungkan, dan berkelanjutan.
Selama dua hari pelatihan, peserta diajak untuk belajar melalui pendekatan yang interaktif—tidak hanya duduk di ruang kelas, tetapi juga langsung mengunjungi praktik usaha tani organik yang telah terbukti sukses. Pelatihan ini diadakan di Hotel Loren, Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, sebuah lokasi yang sejuk dan nyaman di kaki Gunung Merbabu.
Belajar Langsung dari Para Ahli dan Praktisi
Pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber yang berpengalaman di bidangnya:
Bapak Sudaryanto dari PT. Kapol Antar Nusa, yang membahas dasar-dasar analisa usaha tani.
Bapak Muhadi dari Bogo Food, yang berbagi studi kasus dan pengalaman di dunia agribisnis.
Shofyan, pemilik Sayur Organik Merbabu (SOM), yang menjelaskan bagaimana pertanian organik bisa dijalankan secara profesional dan menguntungkan.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi seputar perhitungan biaya produksi, analisa keuntungan, hingga cara menyusun rencana usaha tani sederhana. Suasana kelas dibuat aktif dan terbuka untuk diskusi, sehingga setiap peserta bisa bertanya dan berbagi pengalaman.
Kunjungan Lapangan: Belajar Langsung dari Usaha Tani Organik
Hari kedua diisi dengan kunjungan ke Sayur Organik Merbabu, sebuah usaha pertanian organik yang terletak di lereng Gunung Merbabu. Di sana, peserta melihat langsung proses budidaya sayuran organik, sistem pengolahan hasil panen, hingga cara pemasaran dan distribusi yang sudah terhubung dengan pasar modern.
Yang paling menarik, peserta bisa berdialog langsung dengan pemilik dan para petani yang terlibat dalam usaha tersebut. Dari sini, peserta belajar bahwa keberhasilan usaha tani tidak hanya soal teknik bertani, tetapi juga kemampuan membaca peluang pasar, membangun jaringan, dan menjaga kualitas produk.
Menuju Usaha Tani yang Lebih Cerdas dan Berkelanjutan
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan penyusunan rencana tindak lanjut oleh masing-masing peserta. Mereka diminta merancang langkah konkret yang bisa langsung diterapkan di wilayahnya masing-masing, agar ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di pelatihan, tapi menjadi bekal nyata untuk membangun usaha tani yang lebih baik.
Pelatihan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan generasi petani yang tidak hanya terampil di lapangan, tetapi juga mampu berpikir strategis dan menjalankan usaha pertaniannya secara profesional. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pelaku pertanian di berbagai daerah.
Pada 22–25 April 2025, Aliansi Organis Indonesia (AOI) mengadakan Pelatihan Budidaya, Pemuliaan, dan Penyilangan Benih Padi Lokal di Sidikalang, Sumatera Utara. Pelatihan ini diikuti oleh para pendamping tani dan petani dari berbagai wilayah di Sumatera. Di tengah berbagai tantangan pangan saat ini, pelatihan ini menjadi langkah nyata untuk merebut kembali kedaulatan benih, sebuah fondasi penting bagi kedaulatan pangan bangsa.
Kita tak bisa bicara kedaulatan pangan tanpa berbicara soal benih. Sejak masa Revolusi Hijau, untuk meningkatkan produksi pangan dunia petani Indonesia perlahan terputus dari tradisi dan pengetahuan lokal mereka. Benih lokal tergantikan oleh benih-benih pabrikan yang hadir sepaket dengan pupuk dan pestisida kimia. Petani diposisikan sebagai pengguna, bukan lagi penjaga dan pemulia benih.
Di sinilah pentingnya pelatihan ini, yakni menghidupkan kembali pengetahuan tentang benih lokal padi, yang kini menjadi makanan pokok mayoritas rakyat Indonesia, sekaligus menguatkan petani sebagai aktor utama dalam sistem pangan.
Belajar dari Akar: Metode Pedagogi Partisipatif
Selama empat hari, pelatihan berlangsung dalam suasana dialogis dan partisipatif. Alih-alih pendekatan satu arah, Bapak Joharipin sebagai pemulia benih dan narasumber dalam pelatihan ini mengusung metode pedagogi yang dimulai dengan menggali pengalaman dan pengetahuan dari peserta. Proses belajar menjadi ruang bertukar cerita dan praktik antar petani, memperkaya pemahaman dari bawah.
Hari pertama dan kedua diisi dengan materi dasar mengenai sifat fisik, biologi, dan kimia tanaman padi. Peserta diajak mengenali keragaman benih padi lokal Sumatera dan memahami mekanisme reproduksi tanaman, jenis-jenis bunga padi, hingga waktu ideal untuk melakukan proses perkawinan atau penyilangan.
Na
Dari Teori ke Praktik: Merawat Harapan dalam Setiap Butir Benih
Hari ketiga dan keempat difokuskan pada praktik langsung. Peserta belajar memilih induk tanaman, baik betina maupun jantan, yang akan disilangkan. Mereka juga mempraktikkan teknik penyerbukan manual dan merawat benih hasil penyilangan.
Namun penyilangan benih tidak berhenti di satu musim. Hasilnya belum stabil secara genetika, dan diperlukan proses seleksi berulang selama 7 hingga 8 musim tanam untuk mendapatkan varietas unggul yang sesuai harapan. Karena itu, peserta juga belajar mencatat galur benih secara sistematis—langkah penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam proses seleksi benih unggulan.
Mengembalikan Kedaulatan Petani
Pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan bagian dari gerakan besar untuk mengembalikan kontrol benih ke tangan petani. Dengan menguasai kembali proses budidaya, pemuliaan, dan penyilangan, petani-petani kecil dapat bangkit sebagai penjaga keberagaman hayati dan pelaku utama dalam sistem pangan berkelanjutan.
Di tengah krisis pangan global dan tantangan perubahan iklim, membangun kedaulatan benih lokal adalah investasi masa depan—bukan hanya untuk petani, tetapi untuk seluruh bangsa.
Kegiatan Training Ekologi Tanah yang dilaksanakan selama tiga hari di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, merupakan salah satu langkah strategis dalam upaya peningkatan kapasitas petani untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan. Melalui pelatihan ini, 31 peserta dari Kelompok Tani Maring Woja dan Damer memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis dalam menjaga dan mengelola tanah secara ekologis. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Aliansi Organis Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Ayo Indonesia ini menunjukkan bahwa edukasi lapangan berbasis komunitas sangat penting dan efektif dalam membangun kesadaran serta mengubah pola pikir petani terhadap praktik pertanian ramah lingkungan.
Pada hari pertama, peserta dikenalkan pada konsep dasar tanah, fungsi ekologisnya, dan pentingnya menjaga kesuburan tanah. Diskusi interaktif dan reflektif mendorong peserta memahami bahwa tanah bukan hanya media tanam, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang kompleks dan bernilai tinggi. Sesi pengambilan sampel tanah mengajarkan peserta bagaimana cara mengenali kondisi tanah mereka sendiri secara ilmiah dan mandiri, menjadi fondasi awal dalam membentuk pendekatan berbasis data dalam bertani.
Hari kedua difokuskan pada praktik pembuatan pupuk organik padat dan cair menggunakan bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitar peserta. Kegiatan ini bukan hanya mengedukasi, tetapi juga memberikan solusi nyata terhadap masalah tanah yang mulai kehilangan kesuburan akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus. Peserta belajar bahwa limbah organik rumah tangga dan pertanian dapat diolah menjadi sumber nutrisi yang sangat baik untuk tanah, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian berbasis industri.
Pada hari ketiga, peserta diperkenalkan dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), yang merupakan alat sederhana namun sangat efektif untuk mengukur kandungan unsur hara tanah, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Melalui praktik langsung, peserta dapat memahami cara kerja alat tersebut, membaca hasilnya, dan menerjemahkannya menjadi rekomendasi pemupukan yang presisi. Hal ini membuka wawasan baru bahwa pemupukan tidak harus bersifat seragam dan asal-asalan, melainkan berdasarkan kebutuhan nyata tanah, sehingga lebih hemat, efisien, dan tidak merusak lingkungan.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan antusiasme tinggi dan partisipasi aktif dari para peserta. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat secara langsung dalam diskusi, praktik, dan refleksi. Pelatihan ini membuktikan bahwa pendekatan partisipatif dan kontekstual sangat efektif dalam membangun pemahaman ekologis pada komunitas petani. Ke depan, pelatihan seperti ini perlu direplikasi dan diperluas ke wilayah lain dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal agar perubahan menuju pertanian berkelanjutan dapat benar-benar terwujud.
Dengan demikian, kegiatan Training Ekologi Tanah ini tidak hanya memberikan ilmu dan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran ekologis dan sikap tanggung jawab terhadap tanah sebagai aset kehidupan jangka panjang. Kesadaran ini menjadi pondasi penting dalam menciptakan sistem pertanian yang adil, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi saat ini dan yang akan datang.
Suasana asri dan semangat gotong royong menyelimuti Desa Sendangmulyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, saat Sekolah Lapang Iklim (SLI) pertemuan kedua digelar pada 28–30 April 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian SLI yang berlangsung dari Maret hingga Juni 2025, sebagai upaya mendorong praktik budidaya pertanian yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi apik antara Aliansi Organis Indonesia (AOI) dan Yayasan Gita Pertiwi (GP) dalam proyek “Transformation of Food Systems through Sustainable Agricultural Practices Towards Farmer Sovereignty in Indonesia”. Total 36 peserta hadir, yang terdiri dari para petani dari KWT Lestari Alam, KWT Melati Lestari, Poktan Desa Sendangmulyo, Poktan Ngudi Waras, perwakilan Karang Taruna, BPP Tirtomoyo, serta tim dari GP, AOI, dan para narasumber.
Hari Pertama: Belajar Mengenal Tanah dan Membuat Pupuk Kompos Plus
SLI dimulai dengan persiapan pada 28 April, dan pertemuan resmi berlangsung pada 29 April. Hari pertama diisi dengan materi seputar karakteristik tanah yang cocok untuk budidaya padi, teknik persemaian ramah lingkungan, dan fase vegetatif tanaman padi. Materi disampaikan oleh Pak Yus Wisman Ali dari JAMTANI yang menekankan pentingnya menjaga kesuburan tanah.
“Tanah yang gembur itu mudah diolah dan ditanami. Tapi kalau terus-menerus pakai pupuk kimia, tanah bisa rusak karena unsur kimia mengendap,” ujar Pak Yus. Ia mengajak para petani mulai beralih ke cara bertani yang lebih alami dan berkelanjutan.
Selain teori, peserta juga praktik langsung membuat pupuk kompos plus bersama Pak Lilik Sri Haryanto dari Yayasan Gita Pertiwi. Pupuk ini istimewa karena bisa berfungsi ganda sebagai pestisida nabati. Kompos plus dibuat dengan bahan alami, termasuk Nitrobacter yang berperan mengubah nitrit menjadi nitrat—nutrisi penting bagi tanaman. Pupuk ini diberikan saat peralihan dari fase vegetatif ke generatif agar tanaman tumbuh optimal. Tak ketinggalan, peserta juga belajar mengaplikasikan pupuk organik cair untuk mempercepat pertumbuhan tanaman.
Hari Kedua: Pengamatan di Demoplot dan Diskusi Seru
Tanggal 30 April, peserta diajak terjun langsung ke demoplot untuk melakukan pengamatan lapangan. Mereka dibagi menjadi enam kelompok untuk mengamati tanaman padi dari tiga varietas—Pajajaran, Pepe, dan PMJ—dengan dua perlakuan berbeda: organik dan lokal berkelanjutan.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa varietas Pajajaran tumbuh lebih cepat karena tinggi tanamannya lebih pendek. Di umur 45 hari setelah tanam (HST), tanaman sudah mendekati fase generatif, sehingga perlu pemupukan lanjutan.
Setelah pengamatan, peserta berdiskusi dengan menggambar kondisi tanaman yang diamati: tinggi, jumlah anakan, warna daun, hingga jenis serangga yang ditemukan. Pak Yus menjelaskan bahwa tidak semua serangga adalah hama. “Ada juga serangga baik yang jadi predator hama. Jadi nggak perlu langsung dibasmi pakai pestisida kimia,” jelasnya. Keanekaragaman rumput di lahan pun menjadi indikator kesuburan tanah—kalau hanya satu jenis rumput yang tumbuh, bisa jadi lahannya terlalu asam.
SLI Wonogiri: Praktik membuat pupuk organik. SLI Wonogiri: Petani mengobservasi ekosistem sawah demoplot untuk tanaman padi lokal.SLI Wonogiri: Petani mengobservasi ekosistem sawah demoplot padi organik dan lokal berkelanjutan.SLI Wonogiri: Petani mengamati dan mengukur tinggi tanaman padi. SLI Wonogiri: Petani dibagi ke dalam kelompok untuk melakukan observasi perkembangan tanaman padi. SLI Wonogiri: Pembuatan kompos dan pupuk organik secara berkelompok.
Menyemai Harapan, Menjaga Alam
Kegiatan SLI ini memberikan banyak manfaat nyata bagi para petani. Mereka jadi lebih paham pentingnya pupuk organik dan pestisida nabati sebagai alternatif yang ramah lingkungan, serta diajak lebih jeli dalam mengamati ekosistem pertanian. Proses belajar yang interaktif juga mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kesehatan tanah demi ketahanan pangan dan kemandirian petani.
SLI akan berlanjut dengan materi tentang fase generatif dan persiapan panen, bahkan direncanakan pula pertemuan khusus saat panen raya. Harapannya, petani makin mantap menerapkan budidaya padi yang adaptif terhadap iklim, dengan pengamatan lapangan yang dilakukan rutin sesuai jadwal.
Karena bertani bukan hanya soal menanam, tapi juga merawat tanah, menjaga alam, dan menyemai masa depan.
Pelatihan Ekologi Tanah berlangsung pada 11–13 April 2025 di Desa Sendangmulyo, Wonogiri, diikuti oleh 36 petani dari berbagai kelompok tani dan Karang Taruna. Kegiatan ini didampingi oleh staf Yayasan Gita Pertiwi, Aliansi Organis Indonesia, dan narasumber. Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman petani soal kesuburan tanah dan konservasi lahan sebagai bentuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dalam praktik pertanian berkelanjutan.
Hari pertama diisi dengan pre-test dan materi dasar tentang perubahan iklim, sifat tanah, hingga pengelolaan air. Hari kedua difokuskan pada praktek uji sifat kimia dan fisik tanah menggunakan berbagai metode seperti PUTS, uji KTK, uji daya tahan air, hingga pengecekan tekstur dan aerasi tanah. Hasil uji menunjukkan bahwa tanah dari sawah organik cenderung memiliki kualitas lebih baik, terutama dalam hal kandungan kimia dan daya simpan air.
Di hari ketiga, peserta melakukan praktek melihat sifat biologi tanah dengan mengamati organisme seperti cacing. Mereka juga belajar membuat pestisida nabati dari bahan alami seperti gulma, air kelapa, tempe, dan nanas. Sebagai tambahan, peserta melakukan pengamatan di lahan Sekolah Lapang Iklim, yang menunjukkan pertumbuhan padi lebih cepat di sawah berkelanjutan. Untuk mengejar pertumbuhan, sawah organik direncanakan diberi pupuk organik cair yang telah disiapkan.
Selain mengikuti pelatihan, petani di Desa Sendangmulyo juga berbagi pengalaman tentang perlakuan yang biasa mereka lakukan di lahan. Beberapa petani menggunakan cara alami untuk mengusir hama seperti memukul raket atau kayu di sawah agar hama menjauh. Mereka juga sudah mulai menggunakan pestisida nabati buatan sendiri dari bahan-bahan alami sekitar. Untuk pengolahan tanah, sebagian petani rutin memberi pupuk kandang dari ternak mereka, terutama yang sawahnya berada dekat dengan kandang. Perlakuan-perlakuan ini menunjukkan bahwa petani sudah mulai menerapkan praktik ramah lingkungan dalam mengelola lahan mereka.
Sebagai kelanjutan dari kegiatan ini, pelatihan ekologi tanah juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Wonogiri yang masih terus berlangsung. Pengamatan di lahan demoplot akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan pertumbuhan padi hingga masa panen, sambil mengevaluasi perlakuan-perlakuan terbaik yang ramah iklim. Rencananya, SLI ini akan terus mendampingi petani dalam menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, seperti penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati, agar petani lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga kesuburan dan kesehatan tanah dalam jangka panjang.
Mengukur pH tanah pada Pelatihan Ekologi Tanah di WonogiriDiskusi kelompok dalam Pelatihan Ekologi Tanah di WonogiriMemahami Sifat Dasar Tanah dalam Pelatihan Ekologi Tanah di WonogiriMemahami Sifat Dasar Tanah dalam Pelatihan Ekologi Tanah di WonogiriMemahami Sifat Dasar Tanah dalam Pelatihan Ekologi Tanah di WonogiriKhoirunisa, narasumber menjelaskan tentang pH tanah dalam pelatihan ekologi tanah di Wonogiri.
Sektor pertanian di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, memiliki peran krusial dalam perekonomian daerah. Namun, kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, akses pasar, dan teknologi pertanian. Untuk mengatasi permasalahan ini, Aliansi Organis Indonesia (AOI) dan Yayasan AYO Indonesia menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) bertema “Arah Pengembangan Pertanian Berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Timur” pada 18 Februari 2025. Kegiatan ini diadakan di Aula Pastor Paroki, Dampek, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Timur.
FGD ini bertujuan untuk menyajikan hasil penelitian baseline study mengenai kondisi pertanian di Manggarai Timur, menggali perspektif petani dan pemangku kepentingan, serta menganalisis tantangan dan peluang dalam penerapan pertanian berkelanjutan. Diskusi ini dihadiri oleh Camat Lamba Leda Utara, Agus Supratman, Kepala Pertanian Manggarai Timur, Yohanes Sentis, S.P., serta berbagai kelompok tani dan stakeholder lainnya.
Diskusi ini merumuskan beberapa catatan penting untuk menjawab tantangan pertanian berkelanjutan di Manggarai Timur, antara lain:
Pendampingan dan Pemahaman Petani Banyak petani belum memahami praktik pertanian organik secara menyeluruh. Oleh karena itu, edukasi dan pendampingan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) serta pemerintah sangat diperlukan.
Peluang dan Tantangan dalam Pengembangan Pertanian Organik Petani masih bergantung pada sistem pertanian konvensional yang kurang ramah lingkungan. Sorgum dipilih sebagai komoditas unggulan karena kaya gizi dan tahan terhadap perubahan iklim. Namun, jaminan pemasaran hasil pertanian masih menjadi kendala utama.
Demplot sebagai Model Pengembangan Demonstration plot (demplot) diharapkan menjadi contoh bagi petani dalam menerapkan praktik pertanian organik. Sekolah lapang iklim juga direncanakan untuk membekali petani dalam menghadapi perubahan iklim.
Peran Kelembagaan dan Pemerintah Koperasi produsen dianggap sebagai solusi dalam mengelola dan memasarkan hasil pertanian. Kolaborasi yang lebih erat antara petani, pemerintah, dan pihak swasta diperlukan untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
FGD ini menegaskan bahwa pengembangan pertanian berkelanjutan di Manggarai Timur membutuhkan edukasi dan pendampingan intensif, serta dukungan kebijakan yang lebih kuat. Demplot harus diperluas dengan berbagai metode pertanian organik, sementara kolaborasi antar lembaga perlu ditingkatkan untuk regenerasi petani muda dan peningkatan daya saing pertanian. Selain itu, pemerintah diharapkan memperkuat jaminan pemasaran hasil pertanian agar petani lebih termotivasi untuk beralih ke pertanian organik.
Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang kondisi pertanian di Manggarai Timur serta langkah-langkah strategis untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan bagi petani. Tidak berhenti sampai di sana, Aliansi Organis Indonesia dan Yayasan AYO Indonesia beserta seluruh stakeholder setempat akan berkolaborasi untuk mengembangkan program pertanian berkelanjutan di Manggarai Timur.