14 November 2014. Mengusung tema “Pangan Lokal dan Organik”, Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerjasama dengan Aliansi Petani Indonesia (API) dan Pemerintah Kota Bogor menggelar Bogor Organic Fair (BOF 4) dan Family Farming 2014. Acara yang berlangsung di lapangan Sempur Bogor ini akan akan berlangsung selama tiga hari terhitung dari tanggal 14-16 november 2014. Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman hadir meresmikan acara yang ditandai dengan pengguntingan pita bersama Sekjen API M. Nuruddin, Coordinator AOI Wahyudi, dan Presiden IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement) Andrew Lew.
Saat melakukan peninjauan langsung ke beberapa stand Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman mengatakan Pemerintah kota Bogor menyambut baik dan sangat mendukung kegiatan ini, karena Kota Bogor yang memiliki luas 11.850 hektar hampir 80% nya sudah terbangun. Karena itu diperlukan basis pertanian organik. “Pembangunan berkelanjutan itu sangat dibutuhkan tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Dengan hadirnya presiden IFOAM di Kota Bogor itu menandakan betapa pentingnya pertanian organik kedepan,“ kata Usmar.
Pertanian yang berbasis masyarakat menurut Usmar adalah pertanian yang kembali ke alam yang tidak menggunakan produk kimia yang bisa merusak lingkungan. Outputnya adalah bahan pangan yang sehat, yang berkualitas, baik dari sisi nilai pangan dan harganya.
Sementara itu ketua panitia BOF 4 Ani Purwati mengatakan tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk mempromosikan produk pangan dan non pangan lokal serta organik di Indonesia. “Selain itu untuk mempertemukan antara produsen (petani kecil), konsumen, pedagang produk local dan organic,” tambahnya.
Koordinator Dewan Perwakilan Anggota Aliansi Organik Indonesia Wahyudi turut menambahkan bahwa BOF 4 kali ini merupakan momentum yang paling strategis karena bersamaan dengan pencanangan tahun Internasional Pertanian Keluarga oleh PBB melalui sebuah deklarasi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).
Tanggapan positif juga disampaikan Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API) M. Nuruddin. “Ini waktunya dan momentum bagi rumah tangga petani di Indonesia yang mengalami penurunan dari segi jumlah dan pendapatan akibat praktek-praktek pertanian yang tidak berkelanjutan. Dengan perayaan tahun pertanian keluarga dan kegiatan BOF 4 dan Family Farming 2014 akan dibangun kembali praktek-praktek pertanian yang berkelanjutan,” tandas Nuruddin. (Tria S)
Sumber: http://kotabogor.go.id/index.php/show_post/detail/820/promo
Pemkot Dukung Kampanye Pangan Lokal dan Organik
Jumat, 14 November 2014, Prayogi/Republika
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mendukung kampanye pengembangan pangan lokal dan organik karena dianggap lebih bergizi dan menyehatkan.
Wakil Wali Kota Bogor, Usmar Hariman, mengatakan perubahan global dapat mengubah mindset masyarakat mengenai pertanian yang konvensional. Oleh sebab itu, harus ada upaya melestarikan pertanian organik.
“Harus ada pembaharuan dan pemahaman mengenai pertanian organik berbasis keluarga,” kata Usmar, dalam pembukaan Bogor Organic Fair 4 (BOF 4) & Family Farming 2014 di Sempur, Jumat (14/11).
Usmar mengaku, di lingkungan Pemkot Bogor saat ini juga tengah terjadi perubahan pola konsumsi. Buah impor telah banyak diganti menjadi buah-buahan lokal dan organik.
“Lihat di meja saya, adanya pisang dan ubi rebus,” ujarnya.
Pemkot Bogor sangat mendukung kampanye yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pangan di Kota Bogor. Ia juga berharap pemkot dapat membantu peran petani ke depannya.
Wilma, peserta BOF 4 dari Bogor Berkebun, mengaku senang dengan diadakannya kembali acara BOF yang digagas oleh Aliansi Organis Indonesia yang bekerjasama dengan Pemkot Bogor. Menurutnya, tema kali ini cukup menarik karena mempromosikan pangan lokal dan organik.
“Tanaman lokal lebih mudah dibudidaya,” jelasnya, Jumat (14/11).
Ia menyebut tanaman lokal sudah dapat beradaptasi di lingkungan sekitar dan tidak perlu pupuk khusus. Selain itu, produk yang dihasilkan lebih sehat untuk dikonsumsi.
“Kualitas tanaman lokal tidak kalah dengan tanaman hybrid,” kata Wilma.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/11/14/nf0wli-pemkot-dukung-kampanye-pangan-lokal-dan-organik
Petani Harapkan Pelatihan Pertanian Organik
Petani di Tanah Karo, Sumatera Utara mengharapkan perlunya pelatihan pengelolaan tanaman pertanian organik. Selama ini, penggunaan pupuk dan pestisida kimia dirasakan sudah mencapai titik jenuh.
Mulia Tarigan, salah seorang anggota Koperasi Petani Sejahtera Tanah Karo (KPSTK) mengatakan sebagian besar petani di Tanah Karo perlu diajarkan pengelolaan tanaman organik. “Selama ini pemerintah gencar mempromosikan kehebatan tanaman organik, tapi kok malah pupuk kimia dan pestisida malah semakin banyak. Seharusnya pupuk organik yang diperbanyak jadi petani bisa menggunakannya,” katanya di Kabanjahe, Sumatera Utara, Minggu (7/12).
Sebagai anggota koperasi aktif, katanya, dia sudah pernah mengikuti pelatihan pertanian, namun pelatihan tatacara pengelolaan dan penggunaan pupuk organik dirasakan masih kurang memadai. Oleh karena itu, diharapkan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Karo berinisiatif memfasilitasi pengadaan pelatihan pertanian organik bagi masyarakat petani di Tanah Karo.
Sumber: http://www.jurnas.com/news/162869/Petani-Harapkan-Pelatihan-Pertanian-Organik–2014/1/Bisnis/Ekonomi#sthash.n7r42V6w.dpuf
Bogor organic fair & family farming 2014
5 November 2014
Belum punya acara di akhir pekan? Bagi warga Bogor dan sekitarnya beruntung, Aliansi Organis Indonesia (AOI) kembali akan menggelar “Bogor Organic Fair & Family Farming ” pada tanggal 14-16 November. Hajatan mengusung tema “Tahun Internasional Pertanian Keluarga”, bertempat di Lapangan Sentul, Kota Bogor.
Menurut keterangan pihak penyelenggara, acara ini diadakan setiap tahun. Kali ini sudah menginjak yang ke-4 kalinya. Tujuannya untuk mempromosikan produk pertanian organik lokal dan sebagai forum interaksi antara produsen dan konsumen pangan organik.
Acara yang digelar selama tiga hari ini tidak hanya diisi dengan pameran. Melainkan juga ada berbagai seminar, diskusi, perlombaan untuk anak, hiburan dan kegiatan edukatif lainnya.
Ada yang unik dalam pameran kali ini, yaitu acara napak tilas makan. Pengunjung akan diajak mengenal asal dan bagaimana makanan berproses hingga siap saji. Mulai dari penanaman hingga pengolahan di dapur kita.
Peserta akan ditunjukkan suatu resep makanan dan disuruh menemukan bahan-bahan tersebut di area pameran. Kemudian diberikan pada chef untuk dimasak. Setelah matang dimakan bersama, asyik bukan?
Sekilas Bogor Organic Fair
Bogor organic fair merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Organik Indonesia (AOI). Organisasi ini bercita-cita untuk mengembangkan pertanian dan pangan organik di Indonsesia.
AOI merupakan anggota dari International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM), sebuah gerakan pertanian organik internasional yang anggotanya tersebar di 117 negara.
Bogor organic fair mulai digagas AOI pada 6-7 November 2010. Saat itu, hajatan digelar di kampus IPB Baranangsiang dan terbuka bagi masyarakat umum. Respon terhadap pameran ini cukup besar. Terbukti lebih dari 2000 pengunjung antusias mendatangi hajatan pertama ini.
Masih ditempat yang sama, pada penyelenggaraan yang ke-2 pada 9-10 Juni 2012, Bogor Organic Fair dikunjungi oleh lebih dari 3000 pengunjung. Di penyelenggaraan yang ketiga tahun 2013, kepesertaan semakin diperluas. Meliputi 44 stan pameran yang terdiri dari petani, pedagang, media massa, UKM, lembaga sertifikasi organik dan konsultan organik.
Saat ini adalah pelaksanaannya yang ke empat. Penyelenggara menargetkan jumlah kunjungan lebih dari 5000 orang. Pelaksanaannya pun pindah ke lapangan Sempur, Kota Bogor, yangn lebih luas.
Dalam situs webnya, AOI berharap Bogor Organic Fair bisa berjejaring dengan Biofach. Sebuah pameran pertanian organik tingkat internasional yang cukup bergengsi.
Sumber: http://alamtani.com/aktual/bogor-organic-fair-2014.html
Organis-Edisi 26/Th.8 (Sept-Des-2011)
Sertifikasi bisa menjaga agar produk organik terhindar dari pemalsuan dan memberikan jaminan kualitas dari
produk organik itu. Namun sertifikasi bukanlah satu-satunya jalan untuk memberikan jaminan kualitas produk organik. Petani bisa meyakinkan konsumen akan kualitas produk organiknya melalui sistem yang terbuka, informasi yang jelas serta penjaminan partisipatif… download
Organis Edisi 32/Th. 10 (September-Desember 2013)
Pangan Sehat, Masyarakat Sehat
Pangan yang dihasilkan dari sistem pertanian organik lebih aman dan sehat dikonsumsi. Pangan organik jauh lebih sedikit mengandung residu pestisida atau bahkan bebas sama sekali dari residu pestisida dan antibiotik maupun obat-obatan pada produk dari ternak. Bagaimana manfaat pangan organik dalam menyediakan pangan yang sehat untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Simak selengkapnya di Organis 32http://issuu.com/aoi-2002/docs/isi_organis_32
Mentan: Kenapa Anak Petani Tak Mau Jadi Petani?
Tangerang -Cangkul, kerbau, dan ani-ani (alat panen tradisional) dan alat pertanian lainnya menjadi barang yang asing bagi generasi muda saat ini. Bahkan seorang anak petani pun bisa tak tertarik untuk terjun ke pertanian.
Kini, Kementerian Pertanian (Kementan) terus memberikan bantuan alat dan mesin pertanian seperti alat tanam, alat olah lahan dan alat panen modern kepada para petani.
Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, dengan alat pertanian modern maka anak muda bisa tertarik jadi petani dengan menggunakan alat modern. Kegiatan bertani bisa sambil bermain hanphone dengan alat modern.
Dengan alat modern, petani tidak lagi kelelahan membajak tanah dengan cangkul dan kerbau, tergantikan dengan hand tractor. Petani tidak lagi membungkuk berhari-hari menanam bibit satu demi satu karena tergantikan dengan transplanter atau alat tanam otomatis.
Selain itu, panen pun bukan tidak lagi memakai pisau arit dan memisahkan gabah dengan cara dipukul-pukul dengan risiko kehilangan hasil yang tinggi. Bantuan alat pertanian modern tidak hanya meringankan kerja petani. Mentan Amran ingin juga agar anak muda mau jadi petani karena kini sudah banyak alat modern dan ada upaya pemerintah menjaga harga pasca panen.
“Kenapa anak petani nggak mau jadi petani? mereka lihat bapak ibunya nangis panen harga jatuh. Sudah lelah, jualnya padi murah,” kata Amran Sulaiman di Desa Rawakidang, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (7/12/2015).
Setiap blusukan ke sawah, Mentan Amran tidak pernah absen memberikan alat pertanian modern tersebut. Termasuk saat blusukan ke Desa Rawakidang hari ini. Mentan membagikan belasan alsintan terdiri dari pompa air, combine harvester, transplanter dan hand tractor.
“Anak muda sekarang kalau jadi tani bisa naik combine harvester atau olah tanah sambil main HP, berkomunikasi, pakai kacamata hitam. Gaya kan,” kata Mentan.
Mentan mengatakan, sejak setahun terakhir, kementeriannya terus mengguyur bantuan alat. Puluhan ribu alat pertanian modern diantaranya alat olah tanah (hand tractor) dan alat tanam benih otomatis (transplanter). Ada pula alat panen dari tanaman yang bisa langsung keluar gabah (combine harvester) hingga penggilingan gabah mini (mini rice mill).
“Tanam pakai alat, panen pakai alat. Ke depan pertanian harus modern. Ini solusi untuk generasi muda. Makanya saudaraku petani jangan pakai baju compang-camping. Angkat harga diri petani,” katanya.
Lani Pujiastuti – detikfinance
(hen/hen)
http://goo.gl/3tgcEP


