SNI Multikualitas Beras OrganikTingkatkan Kualitas Produksi Beras Indonesia�

SIARAN PERS

Aliansi Organis Indonesia (AOI)

 

Bogor, 11 September 2015; Dengan adanya SNI Multikualitas Beras Organik diharapkan bisa meningkatkan kualitas produksi beras organik Indonesia. Yang selanjutnya pendapatan petani juga diharapkan meningkat dengan  harga hasil panen yang bagus. Selain itu juga bisa meningkatkan kualitas produk beras organik di pasaran yang bermanfaat untuk konsumen, meningkatkan pendapatan penggiling,  meningkatkan keuntungan pedagang gabah/beras dan menekan impor beras premium/organik.
“Pencetusan ide SNI multikualitas untuk beras organik ini tentunya tak terlepas  dari kondisi petani dan bahan makanan pokok masyarakat Indonesia ini. Adanya perubahan pola konsumsi beras, pentingnya beras sebagai bahan pangan pokok, tantangan impor dan potensi beras organik Indonesia maka diperlukan penerapan sistem standar nasional Indonesia (SNI) beras yang baru agar bisa membedakan antara beras kualitas umum dan kualitas khusus yang organik,”  ungkap Rasdi Wangsa, Direktur Aliansi Organis Indonesia (AOI).
SNI multikualitas beras organik juga sangat penting dalam menghadapi  Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang secara khusus bertujuan mencapai pasar ekonomi tunggal kompetitif, yang memiliki pergerakan barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan modal secara bebas. MEA 2015 merupakan momen penting bagi Indonesia, karena berpeluang memperluas pasar bagi produk-produk industri nasional. Namun di sisi lain, pemberlakuan MEA 2015 juga akan menjadi tantangan, mengingat penduduk Indonesia yang sangat besar, tentunya akan menjadi tujuan pasar bagi produk-produk Negara ASEAN lainnya. Hal ini tentunya menjadi tantangan petani untuk bisa berkompetisi dengan produk-produk dari luar negeri.
Beras, sumber pangan pokok
Sebagai kebutuhan dasar dan hak asasi manusia, pangan sangat penting bagi masyarakat. Akses terhadap pangan harus dihargai, dilindungi dan dipenuhi. Pangan harus cukup jumlah dan mutunya, aman, bergizi, beragam, merata dan terjangkau oleh daya beli masyarakat.
“Hingga saat ini, beras merupakan pangan terpenting di Indonesia. Harga beras memberi kontribusi pada ketahanan pangan, kemiskinan, stabilitas makro ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Juga sangat penting secara politis. Konsumen dan petani skala kecil harus dilindungi. Untuk itu Aliansi Organis Indonesia (AOI) mengupayakan adanya pedoman dalam produksi beras yang multikualitas, yaitu SNI Multikualitas Beras Organik,”  lanjut Rasdi Wangsa.
Produksi beras nasional dalam 20 tahun terakhir mengalami peningkatan meskipun rata-rata di bawah 3%. Pada 2012 produksi beras nasional mencapai 39,1 juta ton dengan konsumsi sekitar 33,4 juta ton sehingga ada surplus sekitar 5,6 juta ton. Hambatan produksi beras diantaranya beras diproduksi sebagian besar oleh petani skala kecil. Jumlah rumah tangga petani padi mencapai 15 juta, dimana 75,98% memiliki kurang dari 0,5% ha sawah. Rata-rata kepemilikan lahan sawah hanya 0,3 ha. Sumber daya (lahan, air, SDM, pupuk, pestisida) semakin terbatas dan semakin mahal. Perlu terobosan teknologi untuk meningkatkan produktivitas beras.
Susut pasca panen relatif besar karena penggunaan teknologi pasca panen yang kurang memadai. Produksi sangat dipengaruhi iklim. Pemanasan global menyebabkan lebih sering el nino. Dibutuhkan model yang lebih baik untuk memprediksi dampak iklim terhadap produksi beras. Upaya-upaya untuk meningkatkan produksi beras adalah peningkatan produktivitas lahan, SDM dan air, perbaikan teknologi pasca panen dengan dukungan kebijakan pemerintah dan para pihak seperti pedoman produksi beras.
Sementara itu pola konsumsi beras masyarakat Indonesia saat ini telah berubah. Kini masyarakat Indonesia mulai memilih mengonsumsi beras dengan kualitas premium dibanding medium. Konsumsi beras premium di Indonesia sudah mendekati 30%-40%, beras medium sekitar 60%-70%. Hal ini meningkat dibanding dulu hanya beras medium saja. Ini karena ada peningkatan daya beli dan pendapatan masyarakat.
Sepanjang periode Januari-Juni (semester I-2015), Indonesia mencatat melakukan impor beras khusus (kualitas premium) dengan volume 194.495.467 kg, dengan nilai US$ 84,943 juta, atau sekitar Rp 1,1 triliun. Namun Indonesia juga mengekspor beras. Pada periode semester I-2015 ekspor beras organik beras ketan, dan beras untuk bibit yang dilakukan Indonesia sebanyak 200,755 ton dengan nilai US$ 258.270, menurun dibandingkan dengan semester I-2014 yang besarnya 247,015 ton dengan nilai US$ 433.929 ribu.
Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan aneka produk organik lebih baik ke depan. Terlebih lagi dengan adanya  Nawacita untuk program pangan melalui pencanangan pengembangan 1000 Desa Organik.
______________________________________________________________
Kontak media:
Ani Purwati (081932898698/ani@organicindonesia.org)
Sri Nuryati (08128164009/sri@organicindonesia.org)

SNI Multikualitas Beras Organik Tingkatkan Kualitas Produksi Beras Indonesia

Bogor, 11 September 2015; Dengan adanya SNI Multikualitas Beras Organik diharapkan bisa meningkatkan kualitas produksi beras organik Indonesia. Yang selanjutnya pendapatan petani juga diharapkan meningkat dengan  harga hasil panen yang bagus. Selain itu juga bisa meningkatkan kualitas produk beras organik di pasaran yang bermanfaat untuk konsumen, meningkatkan pendapatan penggiling,  meningkatkan keuntungan pedagang gabah/beras dan menekan impor beras premium/organik.
“Pencetusan ide SNI multikualitas untuk beras organik ini tentunya tak terlepas  dari kondisi petani dan bahan makanan pokok masyarakat Indonesia ini. Adanya perubahan pola konsumsi beras, pentingnya beras sebagai bahan pangan pokok, tantangan impor dan potensi beras organik Indonesia maka diperlukan penerapan sistem Standar Nasional Indonesia (SNI) beras yang baru agar bisa membedakan antara beras kualitas umum dan kualitas khusus yang organik,”  ungkap Rasdi Wangsa, Direktur Aliansi Organis Indonesia (AOI).
SNI multikualitas beras organik juga sangat penting dalam menghadapi  Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang secara khusus bertujuan mencapai pasar ekonomi tunggal kompetitif, yang memiliki pergerakan barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan modal secara bebas.
“MEA 2015 merupakan momen penting bagi Indonesia, karena berpeluang memperluas pasar bagi produk-produk industri nasional. Namun di sisi lain, pemberlakuan MEA 2015 juga akan menjadi tantangan, mengingat penduduk Indonesia yang sangat besar, tentunya akan menjadi tujuan pasar bagi produk-produk Negara ASEAN lainnya. Hal ini tentunya menjadi tantangan petani untuk bisa berkompetisi dengan produk-produk dari luar negeri,” tambah Rasdi  saat diskusi tentang SNI Multikualitas Beras Organik di Bogor Organic Fair 5 yang berlangsung di GOR Pajajaran Bogor, Jawa barat (11/9).
Terlebih, Wahyu Purbowasito, Kepala Bidang Pertanian, Pangan dan Kesehatan, Pusat Perumusan Standar, Badan Standarisasi Nasional (BSN) mengatakan bahwa “Bukan hanya masyarakat yang mengonsumsi beras organic itu, tapi juga yang tidak mengonsumsi, karena pada suatu saat produk itu bisa masuk lewat pintu mana saja,” ungkap Wahyu.
Menurutnya, inti standar adalah bagaimana kita semua menyadari bahwa beras yang kita konsumsi itu memang benar memenuhi standar yang ada, dan tingkat kesadaran masyarakat itu adalah kunci dari keamanan kita semua.
Disisi lain MA Samosir, Direktorat Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, sebenarnya tanpa mengikuti MEA ini kita tetap harus melihat, apa yang harus kita perbuat? Yang kita perbuat adalah meningkatkan standar untuk memperkuat posisi ASEAN, meningkatkan pendapatan masyarakat mikro. Jika kita ingin meningkatkan produk, jangan hanya di satu produk, tapi juga harus meningkatkan di produk yang lain. Mengenai beras, sudah diatur dalam Permendag No.11 tahun 2012. Intinya, kenapa ekspor beras hanya dilakukan jika di dalam negeri sudah memenuhi kebutuhan? Di Permendag itu sudah dirinci secara mendetail, mengenai ekspor, impor, label, kemasan. Kita bekerjasama dengan Kementan untuk menspesifikasi apa yang bisa diperbuat oleh Kementan. Di Kemendag kita hanya mengeluarkan surat ekspor dan impor. Kita melakukan koordinasi dengan instansi terkait yang mendukung ekspor dan impor.
Andrew Leu, Presiden IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement) menyebutkan bahwa perkembangan pasar organik sangat pesat, sehingga sertifikasi adalah bagian dari perkembangan itu. Beras adalah makanan pokok sebagian besar masyarakat di  dunia. Khusus di Indonesia, banyak sekali jenis beras itu, beras unik, seperti beras merah dan beras hitam yang punya potensi untuk dikembangkan.
“Kalau kita bicara tentang kesesuaian ekspor dan impornya, negara-negara harus menyesuaikan standar satu sama lain, dan berarti juga hal ini menyangkut biaya-biaya yang ditanggung oleh petani. Dengan bekerjasama dengan FAO dan UNCTAD sekarang sedang diusahakan adanya harmonisasi peraturan-peraturan/standar yang ada di antara negara. Salah satu projeknya adalah bekerja sama dengan sekretariat ASEAN untuk membuat standar ASEAN,” jelas Andre.
Sementara itu tentang konsumen organik, Huzna Zahir, Peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebutkan bahwa konsumsi produk organik makin meningkat, terutama di kalangan kelas menengah dan mereka yang mempunyai daya beli. Beras organik sudah jelas untung ruginya apa bagi konsumen, informasi itu memberi jaminan sehat yang jelas. Produk curah konvensional bisa dengan mudah diakal-akali, karena kita tidak tahu asalnya dari mana, tidak bisa ditelusuri asalnya, apakah menggunakan pemutih, misalnya. Jadi beras organik ini lebih menjanjikan, lebih pasti. (HKL/ANP/SNY)

Cooking Demo (Chef Ayu-Rural Bakery) � Roti Mozarella Buah Naga�

Bahan-bahan :
–          Tepung terigu
–          Ubi kuning
–          Buah naga
–          Buah bit
–          Ubi ungu
–          Bayem merah
–          Wortel
Langkah Pertama :
Larutkan Ragi 3 gram (1/2 sendok teh) , Gula 3 gram (3 sendok makan) , susu / air putih (3 sendok makan) aduk hingga larut dan merata.
Langkah Kedua :
Tambahkan telur yang diambil kuning telurnya saja agar lebih lembut untuk adonan. Kemudian tambahkan ubi 75 gram yang dihaluskan, lalu menggunakan buah naga merah untuk adonan menjadi berwarna. Lalu dimasukan kedalam wadah yang telah berisi ragi,gula,susu dan diaduk hingga merata. Ditambahkan garam (1/2 sendok teh) , dan juga di tambahkan tepung terigu yang tinggi protein 175 gram, di tambahkan mentega 25 gram. Semua nya di aduk sekitar 10/15 menit hingga kalis dan tidak lengket di tangan sehingga menyerupai lilin. Selain memakai tepung terigu dapat juga memakai tepung beras.
Langkah Ketiga :
Siapkan wadah alumunium foil dan di olesi dengan mentega dan tepung , hingga merata agar adonan ketika di masukan ke oven tidak gosong bawahnya.  Lalu adonan di masukan kedalam wadah, kemudian dihiasi peterseli  kering, bumbu bawang merah bawang putih bubuk, lada bubuk,  susu evaporasi agar adonan ketika mengembang menjadi mengkilap, dan di tambahkan keju parut .
Langkah Ke Empat :
Dimasukan ke dalam oven kurang lebih 15/20 menit .
Langkah Ke Lima :
Roti Mozarella Buah Naga siap dihidangkan.(RST/ANP/SNY)

Makanan Sehat Berawal dari Rumah

Makanan sehat berasal dari dapur rumah sendiri karena paling bisa terkontrol dan kita dapat memilah-milah bahan makanan mana yang sehat. Bahan makanan terdiri dari hewani dan nabati. Sumber nutrisi sehat di rumah ini bisa didapatkan dari sayuran yang kita tanam dengan memanfaatkan halaman rumah kita.
“Menjadi sehat merupakan dambaan setiap orang dan menjaga kesehatan merupakan pilihan. Oleh karena itu marilah kita menjaga kesehatan dan dimulai dari rumah kita,” jelas Soeparwan Soeleman dari Farm Organic saat Talk and Demo bertema “Makanan Sehat Berawal dari Rumah.”
Farm organic sendiri menurut Soeparwan, dimulai tahun 2009, di Lembang, Bandung. Selain di daerah Parompong, Lembang, Farm Organic lebih utama menanam sayur-sayuran di halaman rumah sendiri. “Harus diakui konsep yang kami bawa ini lebih memfokuskan pada makanan sehat dan pola hidup sehat,”  ungkap Soeparwan.
Menurutnya aspek yang perlu diperhatikan sehari-hari biasanya berawal dari hidup sehat, gaya hidup sehat seperti sehat fisik yang terfokus pada kesehatan makanan. Makanan sehat nmengkombinasi nutrisi lengkap sesuai kebutuhan tubuh. Contoh makanan sehat sebagai berikut : non kontaminan (non pengawet,pewarna,penyedap dan bahan sintetis), proses (cara cuci, olah, masak dan makan), higienis (tempat , alat dan air), non residu (organik ) dan nutrisi tinggi (karbon , protein,lemak,vitamin, mineral).(RST/ANP/SNY)

BKPM: Investasi Sektor Kakao Cocok di Sulsel

MAKASSAR, KOMPAS.com – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai Sulawesi Selatan cocok sebagai tujuan investasi sektor kakao dan industri pengolahannya. Hal itu dituturkan Kepala BKPM Franky Sibarani saat menemui Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Senin (7/12/2015). “Pak Gubernur bilang di Sulsel ada produk coklat yang berorientasi untuk ekspor. Produk tersebut menggunakan brand daerah. Ke depan, Sulsel potensial dikembangkan sebagai daerah investasi sektor hilir kakao karena merupakan sentra produksi kakao nasional,” kata Franky kepada pewarta, Senin siang.
Franky menambahkan, menurut data Kementerian Pertanian, produksi kakao nasional tahun 2014 mencapai 709.331 ton. Sedangkan, produksi kakao di Sulawesi Selatan sendiri sebesar 116.691 ton.
Data secara keseluruhan menunjukkan nilai ekspor kakao Januari-September 2015 sudah mencapai 974 juta dolar AS. Adapun hal lain yang menunjang kegiatan ekspor di Sulawesi Selatan adalah adanya Pelabuhan Makassar yang melayani aktivitas transportasi dengan taraf internasional. Sulawesi Selatan juga dinilai dapat menjadi hub atau sentra penghubung bagi wilayah Indonesia bagian timur lainnya untuk masuk komunitas pasar global.
_____________________________________________________________
e: isi berita s: copyright
Penulis : Andri Donnal Putera
Editor : Josephus Primus
http://goo.gl/K9GA1Z

Laporan Dari Korea Selatan RI dan Korea Selatan akan Perkuat Kerja Sama di Bidang Agro Industri

Incheon – Kerja sama di bidang industri pertanian terus dikembangkan antara Indonesia dengan Korea Selatan. Langkah ini tengah didorong oleh Ketua DPD Irman Gusman bersama organisasi pertanian besar di Korsel 4H.
Organisasi 4H didirikan sebelum berdirinya negara Korea Selatan yakni 1947. Gerakan ini berawal ketika para pemuda dari berbagai daerah di Korsel berkumpul untuk saling berbagi mengenai pertanian.
“Jadi komunitas ini mengajarkan skill, leadership, inovasi dalam bidang pertanian. Tentu agar petani bisa lebih meningkatkan kesejahterannya. 4H ini gerakannya cuku masive di sini,” ungkap  Irman Gusman saat melakukan pertemuan dengan perwakilan 4H di Incheon, Korsel, Senin (7/12/2015).
Menurut Irman yang ternyata cukup memiliki nama di Korea ini, 4H sudah mulai memberikan bantuan kepada Indonesia. Saat ini baru wilayah Kendari, Sultra, yang sudah menjalin kerja sama dengan 4H.
“Ini program sudah berjalan, kita mau scale up di seluruh provinsi atau kabupaten, ini program yang sangat unggul untuk meningkatkan masyarakat petani kita. Ini membangun untuk desa,” kata Irman.
“Ini mereka bantu semua. Volounteer, dukungan karena persabahatan Indonesia dengan Korea,” sambungnya.
Ada berbagai program dalam kerja sama ini. Mulai dari pelatihan di mana Korsel mengundang sejumlah lulusan S1 yang memiliki konsentrasi di dunia pertanian. Saat ini dari Kendari sudah ada 4 yang didatangkan ke Korea untuk mendapat pelatihan, kemudian bertambah lagi 8 orang dan direncanakan 10 orang akan didatangkan.
“Saat ini ada 77 anggota yang terlibat, Pak Gubernur Sultra dan Pak Ketua DPD (Irman) adalah anggota kehormatan. Pelatihan sudah dibuka. Kami juga berpartisipasi di Kendari mulai dari TK hingga universitas,” jelas Chairman 4H Lee Kwan Eung di kesempatan yang sama.
Menurut Lee, 4H juga menjalin kerja sama dengan Antam untuk  membuka Puskesmas di Kendari. Ia juga menjelaskan tentang makna 4H, yakni head (inteligensi), hand (skill harus diasah), heart (karakter/kepribadian), health (kesehatan). Saat ini 4H sudah memiliki ribuan guru dan sekolah.
“Tahun lalu ketika Pak Irman ke sini bertemu dengan ketua pemimpin kami untuk MoU. Di bawah kepemimpinan beliau, pak Laoda Kamaludin sudah mendirikan 4H di Kendari,” ucapnya.
 
“Kami organisasi mengundang lulusan universitas untuk berpartisipasi di dalamnya. Tahun depan kami akan memperluas partisipan dari Indonesia. Kami juga meminta tolong Pak Irman untuk ada pertukaran guru,” imbuh Lee.
Sementara itu Wakil Ketua DPR Agus Hermnato yang juga ikut hadir dalam pertemuan itu menyatakan bahwa pihaknya mendukung adanya kerja sama ini. Apalagi melihat bagaimana budaya di Indonesia di mana lulusan ilmu pertanian banyak yang justru tidak bekerja di bidangnya.
“Ini juga sudah selaras dengan UU Desa di mana kita sedang menguatkan. Ini match karena sebagian besar masyarakat kita adalah petani. Sehingga nantinya akan ada banyak ahli pertanian yang dapat membangun, bukan sarjana pertanian kerja di bank,” tutur Agus.
Politisi Demokrat itu pun mengapresiasi bentuk bantuan 4H yang mengundang pemuda lulusan S1 untuk dididik di Korea. Agus berharap agar kemajuan di negara ginseng ini dapat ditularkan di Indonesia.
“Sehingga kita bisa global, agar kita bisa mandiri. Bukan hanya petani tradisional tapi petani yang memiliki skill,” tutupnya.
_____________________________________________________________
Elza Astari Retaduari – detikNews
(ear/Hbb)
http://goo.gl/tgg4Fi

Ini Saran BKPM untuk Investasi Kakao dan Pengolahannya

KOMPAS.com – Informasi terkini mengenai kakao dan pengolahannya datang dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani pada Senin (7/12/2015). Saat bertemu dengan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo di Makassar, Franky Sibarani mengatakan kalau provinsi tersebut cocok menjadi tujuan investasi kakao dan pengolahannya. “Pak Gubernur bilang di Sulsel ada produk coklat yang berorientasi untuk ekspor. Produk tersebut menggunakan brand daerah. Ke depan, Sulsel potensial dikembangkan sebagai daerah investasi sektor hilir kakao karena merupakan sentra produksi kakao nasional,” kata Franky kepada pewarta, sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas.com Andri Donnal Putra.
Franky, kemudian, mengutip data dari Kementerian Pertanian. Dia bilang, pada 2014, produksi kakao nasional mencapai 709.331 ton. Sementara, produksi kakao di Sulsel menyentuh angka 116.691 ton. Data secara keseluruhan menunjukkan nilai ekspor kakao Januari-September 2015 sudah mencapai 974 juta dolar AS.
Adapun hal lain yang menunjang kegiatan ekspor di Sulawesi Selatan adalah adanya Pelabuhan Makassar yang melayani aktivitas transportasi dengan taraf internasional. Sulawesi Selatan juga dinilai dapat menjadi hub atau sentra penghubung bagi wilayah Indonesia bagian timur lainnya untuk masuk komunitas pasar global.
Eropa
Sementara itu, catatan terkumpul Kompas.com menunjukkan, setahun silam, Duta Besar Indonesia untuk Uni Eropa, Belgia, dan Luksemburg Arif Hafas Oegroseno mengatakan Eropa adalah pasar paling potensial bagi produk kakao Indonesia. Menurutnya, Eropa adalah konsumen terbesar kakao di dunia. Pasar Eropa pun terbilang paling stabil.
Arif lebih lanjut membeberkan informasi bahwa ada aturan tunggal Uni Eropa yang memayungi perdagangan 28 negara anggotanya. Uni Eropa, sebagai kumpulan negara-negara industri, mengimpor 90 persen kebutuhan pangannya, termasuk kakao.
Selanjutnya, konsumsi cokelat masyarakat Uni Eropa mencapai 11 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan, penduduk Asia hanya mengonsumsi 1 kilogram coklat per kapita per tahun.
Catatan Arif juga menunjukkan bahwa impor kakao Uni Eropa pada 2013 mencapai 4,447 miliar euro. Rinciannya antara lain 2,851 miliar euro biji kakao, 668 juta euro pasta kakao, 619 juta euro butter kakao, dan 133 juta euro bubuk kakao.
Berikutnya, masih di Sulawesi Selatan, sejak 1996, Mars Incorporated, perusahaan asal Amerika Serikat, sudah berinvestasi di Makassar. Perusahaan cokelat terbesar di dunia beromzet hingga 22 miliar dollar AS per tahun, sebagaimana informasi dari laman coklatmarun.wordpress.com, hadir dengan nama PT Mars Symbioscience Indonesia (MSI).
Catatan laman itu juga menunjukkan bahwa MSI adalah perusahaan pengolahan kakao menjadi cokelat kali pertama di Sulsel. MSI memilih Sulsel lantaran 80 persen kakao asal Indonesia dipasok oleh Sulsel.
Beranjak ke Sulawesi Tenggara (Sultra). Di Sultra, salah satu pabrik pengolahan biji kakao yang terbilang terkenal adalah milik Kalla Grup. Perusahaan milik keluarga besar Wakil Presiden Jusuf Kalla ini mengunakan nama PT Kalla Kakao Industri.
Pabrik di atas lahan seluas 5 hektare ini berada di Kabupaten Konawe Selatan. Kapasitas produksinya mencapai 35.000 ton per tahun. Pabrik mulai beroperasi sejak Mei 2014. Di pabrik itu, biji kakao diolah menjadi bubuk cokelat, cokelat cair, dan cokelat butter. Gudang penyimpanan kakao yang dimiliki berkapasitas 1.500 ton. Produksi cokelat ditujukan untuk ekspor ke sejumlah negara yang menyukai cokelat, seperti China, India, Australia, dan negara-negara di Timur Tengah. (Baca: Dua Komoditas Ini Jadi Andalan Kabupaten Kolaka)
______________________________________________________________
http://goo.gl/TrXXbp

Kenal Lebih Dekat Organik di Bogor Organic Fair

Hari Kedua Bogor Organic Fair kelima yang diadakan di Gedung Indoor B GOR Pajajaran, Sabtu 12 September 2015, kita bisa semakin kenal dengan para pelaku dan penggiat organik, peserta pameran di Bogor Organic Fair di GOR Pajajaran, Bogor, 11-13 September 2015.
Ada petani madu organik di stand WWF Kalimantan Barat dan APDS (Asosiasi Petani Danau Sentarum)  yang menampilkan berbagai produk alami dari hutan seperti madu. Syafril, anggota APDS (Asosiasi Periau Danau Sentarum –red) yang terkenal dengan madu hitamnya menjelaskan bahwa APDS sudah berdiri cukup lama dan memiliki cukup banyak anggota, saat ini penjualan madu sudah masuk ke Jakarta dan bahkan merambah ke negara tetangga yaitu Malaysia.
Selanjutnya ada Kebun Cinta Organik dari Bogor yang berdiri sejak tahun 2005 dan  mendapat sertifikasi pada tahun 2009. “Menanam orgaik itu susah-susah gampang,” jelas Firman dari Kebun Cinta Organik. Seperti proses sertifkasi yang memakan waktu 4 tahun, karena dalam proses sertifikasi sangat ketat sekali, tanaman organik yang tidak boleh menggunakan air irigasi dan pestisida demi menjaga kualitas tanaman organik. Saat ini anggota Kebun Cinta Organik mencapai 35 orang. Sedangkan produk unggulan dari Kebun Cinta Organik antara lain sayuran dan beras organik dengan harga sayuran berkisar Rp 500,-/250 gram dan beras berkisar seharga Rp 20.000,-. Firman berharap  masyarakat bisa mengenal dan mengonsumsi makanan organik, bukan hanya dari kalangan menengah ke atas tapi juga menengah ke bawah.
Peserta pameran lainnya adalah 4 Serangkai Farm yang dikelola oleh mahasiswa IPB Jurusan Pertanian. “4 Serangkai Farm berdiri kurang lebih 1,5 tahun, berawal dari modal nekat Ramadhan dan kawan-kawan yang ingin mencoba bertani beneran, bukan hanya kuliah yang mereka dapat di kampus, bukan hanya teori tapi aksi,”  jelas Ramadhan.
Menurutnya untuk saat ini animo masyarakat pada organik sudah mulai menarik. Harapan ke depan 4 Serangkai Farm ingin punya lebih banyak lagi jaringan sesama petani organik.
Tak hanya hasil panen, ada juga peserta pameran yang menampilkan aneka benih yang berasal dari Yogjakarta. Menurut Hima, semua produk dari aneka benih merupakan produk unggulan. Aneka Benih mengawali kegiatannya dari penjualan online, lalu mulai bulan Februari lalu, Aneka Benih melakukan penelusuran ke petani langsung, khususnya petani yang berada di Yogyakarta.
Hima mengatakan jika proses benihnya organik, maka hasil yang didapat pun akan organik. Saat ini Aneka Benih sudah mulai mengikuti konferensi tingkat internasional yang diadakan di Malaysia dan Singapura. Untuk pendistribusian di Indonesia sendiri baru sampai di wilayah Jakarta dan Bogor, dan untuk selanjutnya akan merambah ke wilayah lain. Harapan  ke depan masyarakat menengah ke bawah bisa menikmati hasil bumi organic dengan harga  terjangkau.(IDR/ANP/SNY)

Lampung Bakal Suplai 40 Persen Kebutuhan Pangan Jakarta

Senin, 7 Desember 2015 | 22:34 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung akan menyuplai 40 persen kebutuhan pangan kepada DKI Jakarta.
Hal itu diungkapkan Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo seusai bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, di Balai Kota, Senin (7/12/2015) sore.
“Kami sadar Pulau Jawa sudah sangat sempit. Kemudian Lampung memiliki kemampuan untuk memenuhi 40 persen suplai kebutuhan pangan di Jakarta,” kata Ridho.
Adapun komoditi yang akan disuplai Pemprov Lampung seperti beras, sayur mayur, hingga daging sapi. Kerjasama komoditi pangan ini dilaksanakan melalui penandatanganan nota kesepahaman.
Meski demikian, pria kelahiran 1980 itu mengaku pasokan pangan ke DKI Jakarta masih belum berjalan maksimal.
“Ada beberapa kasus, misalnya ada beras dari Lampung. Tapi tidak tercatat beras dari Lampung ke Jakarta, tapi (beras) transit ke Karawang dulu. Sampai ke Jakarta, tercatat beras dari Jawa Barat. Data itu yang jadi masalah,” kata Ridho.
Sementara itu Basuki berharap optimalisasi kerjasama sudah terlaksana dalam jangka waktu enam bulan ke depan.
Basuki telah menginstruksikan Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Saefullah serta Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan; PD Pasar Jaya; PD Dharma Jaya; dan PT Tjipinang Food Station untuk membahas kerjasama lebih lanjut.
“Konsep Pak Presiden Jokowi, semua petani tidak boleh dirugikan. Jadi petani Lampung sama-sama kami yang niatnya bukan cari untung,” kata Basuki.
e: isi beritas: paging e: paging s: copyright
 
Penulis : Kurnia Sari Aziza
Editor : Fidel Ali
keterangan foto :
Keterangan foto :
(kiri ke kanan) Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo (pakai seragam linmas) dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (pakai batik cokelat), di Balai Kota, Senin (7/12/2015).
http://goo.gl/hol3Rd

Lomba Membuat Nuget Talas di Bogor Organic Fair 2014

Bogor, targetabloid.co.id – Setelah memberikan seminar singkat mengenai manfaat makanan organik siang tadi (15/11/2014) di Bogor Organic Fair 2014 di Lapangan Sempur Bogor, Chef Annisa kemudian mengajak pengunjung untuk membuat makanan organik yang berbahan dasar talas Bogor.
Delapan orang pengunjung maju ke depan kemudian dibagi ke dalam dua tim (satu tim masing-masing 4 orang). Sebelum lomba dimulai Chef Annisa memberikan penjelasan mengenai bahan-bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat nuget talas dan bagaimana cara membuatnya. Setelah diberikan penjelasan, masing-masing tim harus mengambil sendiri bahan makanan yang dibutuhkan di stand-stand yang tersedia.
“Oke ada delapan orang berarti dibagi kedalam dua tim yah, masing-masing tim terdiri dari empat orang. Setiap tim harus ambil sendiri bahan makanan yang dibutuhkan di stand-stand yang ada di sini yah,” Ujar Chef Annisa
Waktu yang diberikan untuk membuat nuget talas ini selama 30 menit. Setelah waktu lomba dimulai seluruh peserta berlomba mencari bahan-bahan yang sudah diberitahukan oleh Chef Annisa sebelumnya. Setelah mendapatkan seluruh bahan yang dibutuhkan, kedua tim langsung memulai memasak membuat nuget talas.
“Kalau sudah selesai, saya akan mencicipi nuget talas yang dibuat kedua tim,” Ujar Chef Annisa.
Setelah kedua tim selesai membuat nuget talas, Chef Anisa mencicipi nuget dari kedua tim tersebut. Kedua tim yang mengikuti lomba ini mendapatkan souvenir dari pihak panitia acara. (Red/ANS)
 
Sumber: http://targetabloid.co.id/berita/7169-lomba-membuat-nuget-talas-di-bogor-organic-fair-2014