Lestarikan Alam dan Hutan Kalimantan dengan Organik dan Berkelanjutan

 

Untuk menjaga hutan secara berkelanjutan, perlu ada motivasi yang kuat bagi masyarakat pengelola hutan. Beberapa pendekatan yang sangat strategis dalam memotivasinya adalah dengan mengembangkan sumber daya alam setempat menjadi bernilai ekonomis secara berkelanjutan dan organik.

Desiran angin menerpa dedaunan menebarkan suasana alam pedesaan yang alami. Di langit, warna biru berhias mega putih berarak. Warga di kampung pun nampak ceria. Laki-laki dan perempuan duduk di teras rumahnya masing-masing, sebagian memilih berjalan-jalan sambil mengajak anak-anak balitanya bermain. Sedangkan anak-anak bermain bersama teman-temannya. Lapangan kecil di samping masjid di tengah perkampungan menjadi pusat keramaian anak-anak desa di kawasan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ini.
Langit pun mulai menguning, menandakan sang surya yang sebentar lagi akan tenggelam. Dan, ratusan burung senja yang setiap sore melintas di atas desa itu seolah-olah terpanggil oleh kilauan sang surya di ufuk barat. Kawanan burung biasanya berisi sekitar 20 ekor sekali melintas. Sebagian ada yang hanya 10 ekor, sebagian lagi lebih banyak mencapai ratusan ekor. Di antara kawanan burung sriti itu terkadang muncul beberapa jenis burung besar dengan kepak sayap yang agak panjang terbang tenang menyalip kawanan sriti.
Senja makin beranjak. Bulatan bola api sang surya semakin turun, mengecil seakan tertelan belahan Pegunungan Muller-Schwaner. Alam pun mulai gelap. Kawasan Pegunungan Muller-Schwaner di Kalimantan Barat, tempat berlangsungnya Proyek Kemakmuran Hijau (Green Prosperity Project) diketahui sebagai habitat penting bagi kehidupan liar flora fauna, termasuk spesies yang terancam dan berstatus endemik Kalimantan. Kawasan ini menampung sekitar 34% jenis tumbuhan endemik, langka, dan eksotis yang ditemukan oleh studi terbaru. Beberapa tanaman asli berpotensi menjadi tanaman obat dan beberapa lainnya belum diketahui manfaatnya. Satwa langka, endemik, dan terancam punah seperti owa Kalimantan (Hylobates muelleri), Orangutan Borneo, macan dahan, dan beruang madu juga turut menghuni dataran hutan yang lebih rendah di kawasan pegunungan ini.
Sementara itu masyarakat di lima desa yang mendiami lokasi proyek ini masih menggantungkan kebutuhan hidupnya dari sumber daya hutan yang ada di desa. Mereka masih mengumpulkan buah-buahan dan sayur-sayuran dari hutan, berburu untuk memenuhi kebutuhan protein, penyedia air bersih dan air minum, kebutuhan kayu dan tanaman obat.
Untuk menjaga hutan secara berkelanjutan, perlu ada motivasi yang kuat bagi masyarakat pengelola hutan. Beberapa pendekatan yang sangat strategis dalam memotivasi masyarakat untuk terlibat aktif menjaga hutannya adalah dengan mengembangkan sumber daya alam setempat menjadi bernilai ekonomis dan memberikan keuntungan nyata bagi masyarakat setempat. Selain itu juga dengan menerapkan pola pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan seperti pertanian organik untuk tanaman padi, sayur-sayuran dan lainnya. Dengan pertanian organik, diharapkan petani sekitar hutan khususnya di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat bisa memanfaatkan potensi alam sekaligus menjaga keberlangsungan dan kelestarian alam untuk meningkatkan taraf kehidupannya.
Dalam mengembangkan pertanian organik yang berkelanjutan, petani Kapuas Hulu diajak berpikir ulang tentang pentingnya menggunakan bahan-bahan alami untuk mengolah areal persawahan secara berkelanjutan. Selain itu juga menyadarkan petani agar tidak lagi menjadi korban dari kapitalisme dan globalisasi yang melanda wilayah pertanian saat Revolusi Hijau lalu. Dimana petani dipaksa menggunakan bibit sintetis produksi asing, menggunakan pupuk kimia sintetis yang berbahaya dan memodernisasi peralatan pertanian. Akibatnya sangat fatal, seperti merusak unsur hara tanah yang mengakibatkan tanah persawahan menjadi keras dan tidak subur lagi, menimbulkan ketergantungan petani. Selain itu penggunaan bibit sintetis menuntut setiap siklus pertumbuhan tanamannya untuk menggunakan pupuk sintetis pula. Dan paparan bahan-bahan kimia sintetis inilah yang nantinya akan memunculkan penyakit degeneratif.
Mengapa Pertanian Organik?
Pertanian organik sesungguhnya sudah dipraktikkan sejak masa berburu dan meramu dan kini muncul sebagai perlawanan terhadap pertanian non organik yang khas Revolusi Hijau dan menimbulkan permasalahan. Di antaranya pencemaran lingkungan akibat bahan kimia sintetis, hilangnya bibit asli yang alamiah (organik), serta sistem pertanian yang mengarah pada “industrialisasi” membuat buruh tani kian terancam kehidupannya.
Di awal perkembangannya, pertanian organik ingin memulihkan alam dari kerusakan yang ditimbulkan pertanian non organik, mengembalikan hubungan harmonis antara alam dan manusia, meningkatkan taraf hidup petani, mengatasi persoalan marjinalisasi lingkungan dan mendorong kedaulatan petani. Selain itu meningkatkan kesehatan petani dan konsumen yang mengonsumsi hasil panen organik. Dalam pertanian organik, petani menggunakan bahan-bahan organik atau alami, mengutamakan kearifan lokal dalam semua perlakuan mulai pembibitan, pengolahan lahan, pemilihan peralatan hingga pasca panen. Bahkan dalam distribusi dan pembagian hasil juga memperhatikan prinsip-prinsip sosial, kemanusiaan dan adil.
Bagaimana Pertanian Organik?
Proses pertanian organik dimulai dengan mengembalikan kondisi tanah menjadi alami. Dalam tahap ini, tanah kembali dikondisikan seperti semula yaitu sebelum terpapar bahan-bahan kimia sintetis (pupuk dan pestisida kimia sintetis). Dalam proses ini disebut masa konversi (menunggu), selama beberapa tahun (3 tahun untuk tanaman tahunan, dan 2 tahun untuk tanaman musiman). Dalam proses menunggu ini, unsur-unsur hara dan unsur alamiah tanah lainnya akan kembali pulih dengan penggunaan bahan-bahan organik.
Tahap berikutnya adalah pemilihan bibit. Bibit tanaman adalah bibit organik. Selanjutnya dalam penanaman juga bersifat heterogen, ada beberapa jenis dalam satu lahan pertanian organik. Misalnya untuk pertanian padi organik, selain tanaman padi yang utama, di sekitarnya juga ditanam jagung dan sayuran sebagai tanaman pendukung. Dengan penanaman heterogen ini, selain mengembalikan fungsi alami juga bermanfaat untuk mendukung perekonomian petani. Sayuran bisa dipanen untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, sedangkan padi bisa dipanen untuk mencukupi kebutuhan pokok lainnya.(*)
 
Oleh: M. Syaiful Rohman, Manager Monitoring dan Evaluasi Green Prosperity Project Aliansi Organis Indonesia
 

Pestisida Alami untuk Pertanian Berkelanjutan di Desa Nanga Yen

 

Untuk menangani dan mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar menjadi pestisida alami.

Potensi lahan persawahan di Desa Nanga Yen, Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang sangat luas dan terintegrasi dengan hutan harus tetap terjaga.  Untuk menjaganya dengan mengembangkan pertanian berkelanjutan sehingga berbagai manfaat bisa didapatkan. Di antaranya lahan subur dengan pengairan yang lancar dan berlimpah serta   meningkatakan produksi baik kualitas maupun kuantitas. Selain itu, mendukung program Pemerintan Daerah (Pemda) Kapuas Hulu dengan menjadikan Desa Nanga Yen sebagai lumbung padi Kabupaten Kapuas Hulu.
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi di sawah, kemungkinan besar bisa terserang hama dan penyakit karena rusaknya ekosistem. Apabila tidak dikendalikan akan mengakibatkan penurunan produksi bahkan gagal panen. Untuk menangani dan mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar menjadi  pestisida alami.
Beberapa pestisida alami yang bisa dikembangkan masyarakat Desa Nanga Yen adalah sebagai  berikut:

  1. Pestisida Alami untuk Penyakit Bercak Daun, Walang Sangit, Wereng, Penggerek Batang Padi, dan Menghijaukan Daun

    Bahan :
    Daun sirih 100 lembar
    Daun salam 100 lembar
    Bawang putih 5 siung
    Cara Pembuatan: Semua bahan dihaluskan, tambahkan air 5 liter, lalu direbus sampai mendidih. Setelah dingin, disaring lalu tambahkan alkohol 50 CC dan masukkan ke dalam botol, lalu diamkan selama semalam.
    Dosis Pemakaian: ½ gelas ditambah 14 liter air lalu disemprotkan pada tanaman.
  1. Pestisida Alami untuk mengendalikan semua jenis serangga, tikus dan burung yang menyerang tanaman
    Bahan :
    Cabai merah ½ kg
    Bawang putih ½ kg
    Jahe 1 ons
    Cara Pembuatan: Semua bahan dihaluskan, tambahkan air 5 liter, kemudian disaring dan tambahkan alkohol 50 CC. Lalu masukkan ke dalam wadah dan diamkan selama semalam.
    Dosis Pemakaian: 80 CC ditambah 14 liter air lalu semprotkan ke tanaman.
    Bahan :
    Brotowali 1 kg
    Sambiloto 1 kg
    Daun sirsak 100 lembar
    Cara Pembuatan: Semua bahan dihaluskan, tambahkan air 5 liter kemudian disaring dan tambah alkohol 50 CC.
    Dosis Pemakaian: 80 CC ditambah 14 liter air lalu semprotkan ke tanaman.
  1. Pestisida alami untuk hama putih palsu, ulat, walang sangit, penggerek batang, wereng coklat
    Bahan :
    Akar, kulit kayu jenu 1 kg
    Biji mahoni 2 ons
    Brotowali 1 kg
    Lengkuas 0,5 kg
    Air 5 liter
    Alkohol 100 CC
    Cara Pembuatan: Semua bahan dihaluskan/ditumbuk lalu masukkan ke dalam ember yang berisi 5 liter air dan diaduk hingga merata, diamkan semalam dan jangan lupa tambahkan alkohol.
    Cara penggunaan : Ambil larutan pestisida alami dari jenu ini dan disaring. Setiap 250 CC larutan ditambah air 14 liter dan disemprotkan ke tanaman yang terserang hama.
  1. Pestisida alami untuk jamur, wereng coklat, walang sangit dan ulat daun yang menyerang tanaman padi maupun palawija
    Bahan :
    Jahe 1 kg
    Kunyit 1 kg
    Lengkuas 1 kg
    Daun sirih 0,5 kg
    Alkohol 100 cc
    Cara Pembuatan: Semua bahan dihaluskan/ditumbuk dan diuleni/diaduk dengan air 3 liter, lalu diperas, air perasan ditambah alkohol dan masukkan ke dalam derigen, difermentasi selama 3 hari, lebih lama lebih baik, setiap pagi dikocok supaya endapannya larut.
    Cara Penggunaan: Ambil 200 CC larutan bahan tersebut dan tambahkan air 14 liter,  semprotkan ke tanaman yang terserang, akan lebih baik ditambah cuka beras/methanol.(*)

 
Oleh : Sutriyono, Ketua Poktan Jati Jaya Sawangan
 

PAMOR, Penjaminan Mutu Organik Komunitas di Indonesia

 
Pelaku organik di seluruh dunia telah mengembangkan cara untuk menjamin kualitas produk mereka. Salah satunya dengan metode penjaminan alternatif (partisipatif) yang dikembangkan untuk produsen kecil di negara berkembang. Pada tahun 2004, konferensi yang dimotori MAELA dan IFOAM di Brazil dihadiri perwakilan lebih dari 20 negara mempresentasikan perkembangan pertanian organik skala kecil di negara mereka. Saat itu banyak petani skala kecil bergabung dalam program alternatif di tingkat internasional yang dikenal sebagai sistem penjaminan partisipatif atau Participatory Guarantee System (PGS).
Di Indonesia, Aliansi Organis Indonesia (AOI) sebagai jaringan petani organik pun menginisiasi PGS. AOI bersama mitranya di wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Lampung mengawali inisiatif tersebut dengan melakukan studi kasus pengembangan PGS di negara lain dan penggalian data berbagai praktik sistem penjaminan yang sudah dilakukan di tingkat kelompok tani di beberapa daerah di Indonesia. Hasil studi dipresentasikan pada workshop nasional sistem penjaminan mutu partisipatif yang dilakukan pada 2008 di Yogyakarta dan dihadiri oleh produsen, konsumen, pedagang serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pertanian.
Salah satu temuan dari hasil studi lapangan ini adalah masalah mutu produk organik yang belum bisa memenuhi permintaan pasar. Hal ini mengakibatkan produk organik yang dihasilkan petani banyak yang tidak diterima oleh pasar. Belum lagi tuntutan dari konsumen agar petani dapat menunjukkan integritas keorganikan produknya.  Memang selama ini penjaminan yang diakses petani adalah sistem penjaminan pihak pertama dan kedua yang sangat mengandalkan kepercayaan dari konsumen.  Tetapi dengan kesadaran konsumen yang semakin tinggi atas masalah jaminan produk organik ini akhirnya memerlukan  ada institusi yang mereka percayai untuk menjamin karena tidak semua konsumen dapat melihat langsung ke lahan petani.
Seperti diketahui bahwa sertifikasi organik akhirnya banyak menimbulkan perdebatan terutama di produsen skala kecil dan konsumen lokal.  Produsen kecil terkendala dengan biaya sertifikasi, demikian juga dengan konsumen harus dibebankan biaya tinggi untuk menutupi biaya sertifikasi jika mereka membeli produk organik yang tersertifikasi.
Akhirnya para peserta workshop bersepakat bahwa sertifikasi atau penjaminan organik untuk petani kecil seharusnya dapat diperoleh dengan biaya yang lebih murah, dapat diterima secara nasional, memiliki integritas organik bertaraf tinggi, mudah dipahami dan kredibel. Pilihan para peserta jatuh pada pembentukan penjaminan mutu alternatif yang dinamakan PAMOR Indonesia (Penjaminan Mutu Organik Indonesia) dan terdaftar serta masuk dalam payung IFOAM. Penjaminan Mutu Organik (PAMOR) ini merupakan Penjaminan Berbasis Komunitas dengan standar organik yang disarikan dan mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) tentang Sistem Pertanian Organik. Selain itu juga memperhatikan standar organik AOI. PAMOR merupakan sistem penjaminan yang mendukung dan mendorong kelompok tani untuk bekerjasama dan meningkatkan hal-hal yang terkait dengan praktik pertanian orgnaik.
Unit PAMOR
Melalui proses perkembangan, hingga saat ini telah terbentuk 14 Unit PAMOR, yaitu Unit Pamor Kolaka, Unit Pamor Sumatera Utara, Unit Pamor Kapuas Hulu, Unit Pamor Jabodetabek, Unit Pamor LSKBB, Unit Pamor Lesman, Unit Pamor Riau, Unit Pamor Trukajaya, Unit Pamor Poso, Unit Pamor SPTN HPS, Unit Pamor Jatim, Unit Pamor Sahani, Unit Pamor Paguyuban Bandung dan Unit Pamor TOM. Dengan anggota kurang lebih 17.486 total petani di Indonesia, ada 402 petani dengan 69 produk organik yang sudah mendapatkan penjaminan PAMOR. Untuk pemasaran produk organik dengan penjaminan PAMOR tersebut, sebagian besar melalui pasar komunitas maupun langsung kepada konsumen dan beberap sudah ada yang bisa masuk ke pasar retail seperti di Yogyakarta dan Jawa Timur.
Unit PAMOR merupakan lembaga pelaksana penjaminan mutu organik PAMOR Indonesia di masing-masing daerah dengan tugas utama memastikan bahwa proses produksi yang dilakukan produsen telah memenuhi standar PAMOR Indonesia. Unit PAMOR dapat diinisiasi dan dijalankan oleh lembaga dengan melibatkan para pihak. Fungsi lain Unit PAMOR adalah membantu fasilitasi akses pasar dan bimbingan teknis kepada kelompok tani.
Pengembangan Penjaminan Mutu Organik (PAMOR) ini sangat baik dan berpotensi terutama bagi kelompok petani kecil. Dengan biaya dan cara mendapatkan penjaminan atau sertifikasi secara partisipatif atau komunitas, kelompok petani kecil pun bisa menjamin kualitas produk organiknya. Penjaminan PAMOR ini juga bisa menjadi awal dari petani untuk mendapatkan sertifikasi organik dari Lembaga Sertifikasi Pihak Ketiga (Lembaga Sertifikasi Organik/LSO) bila ingin mengekspor produknya. Di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), untuk memasuki persaingan global, penjaminan atau sertifikasi produk organik petani akan sangat membantu.
Pada pertemuan nasional PAMOR yang diselenggarakan bulan 28 Oktober 2016 lalu, petani dan para pihak dari Unit PAMOR bersepakat untuk memperkuat kerjasama meningkatkan penjaminan mutu organik dengan PAMOR. Para peserta telah melihat potensi pasar. Banyak pasar yang melirik produk organik petani. Dengan penjaminan organik PAMOR, petani bisa memenuhi permintaan pasar dan konsumen dengan kualitas terjamin. Selain itu, untuk dapat memenuhi permintaan pasar, komunitas petani juga bergabung dan bekerjasama.(*)
 
Oleh : Fatimah, Staf Mutu dan Pemasaran Aliansi Organis Indonesia

Prospek Ekonomis Budidaya Empon – Empon Organik

Pentingnya empon – empon sebagai bahan obat-obatan, produk olahan jamu yang digunakan untuk merawat kecantikan dan menjaga kebugaran tubuh hingga saat ini juga, membuat empon-empon terus dicari dan menjadi komoditas yang tidak lekang oleh waktu ini. Kebutuhan di dalam maupun di luar negeri masih tetap tinggi. Hal ini tentu saja dapat menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.

Sejak jaman dahulu, manusia sangat mengandalkan lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya untuk makan, tempat berteduh, pakaian, obat, pupuk, parfum, bahkan untuk kecantikan dapat memperoleh bahannya dari lingkungan. Tak heran, sesungguhnya  kekayaan alam di sekitar manusia sedemikian rupa sangat bermanfaat dan belum sepenuhnya digali, dimanfaatkan, atau bahkan dikembangkan, salah satunya empon-empon. Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman empon-empon sebagai obat.
Tanaman rimpang yang dikenal sebagai empon-empon (Jawa) atau rempah-rempah dapat digunakan sebagai ramuan tanaman, obat tradisional, atau jamu.  Pemakaian obat tradisional yang berasal dari tanaman rimpang ini tidak hanya oleh mereka yang tinggal di pedesaan, namun sekarang ini masyarakat kota sudah mulai meminatinya. Terbukti dengan banyaknya masyarakat perkotaan yang mengonsumsi obat tradisional dalam bentuk jamu instan, mulai dari jahe, kencur, temulawak dan lain-lain untuk merawat kecantikan dan menjaga kebugaran tubuh.
Petani di Indonesia mulai menyadari prospek budidaya empon-empon yang sangat tinggi ini. Wonogiri, Jawa Tengah termasuk salah satu daerah yang mengembangkan budidaya empon-empon dan termasuk daerah penghasil empon-empon sebagai bahan pembuat jamu. Wonogiri merupakan daerah terluas di wilayah Eks-Karisidenan Surakarta atau sekarang lebih dikenal dengan Solo Raya. Sebagian besar penduduk di Desa Sukoharjo, Wonogiri bekerja sebagai petani empon-empon selain padi.
Petani daerah Sukoharjo mengembangkan jenis empon-empon berupa jahe, kunyit, kunyit putih, kencur, temulawak, lengkuas/laos. Sebagian besar warga di Dusun Ngroto, Ngandong, Dalan Gedhe, Bonagung, Sendangsari, Dadapan dan Pule yang menanam empon-empon. Petani biasanyanya membudidayakan tanaman empon – empon secara turun temurun. Sedangkan penanamannya berada di sela-sela tanaman hutan tahunan seperti jati, mahoni, akasia yang berada di perbukitan.
Mengingat peran penting empon – empon sebagai bahan obat-obatan, produk olahan jamu yang digunakan untuk merawat kecantikan dan menjaga kebugaran tubuh hingga saat ini juga, tanaman ini masih terus dicari dan menjadi komoditas yang tidak lekang oleh waktu. Kebutuhan di dalam maupun di luar negeri masih tetap tinggi. Hal ini tentu saja dapat menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.
Untuk itu perlu ada upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas dari empon – empon, antara lain dengan :

  1. Penyediaan benih/bibit empon-empon yang bermutu.
    Benih merupakan faktor penentu dalam upaya peningkatan produksi tanaman (Sadjad, 1993). Dalam menilai suatu mutu benih dapat berdasarkan mutu genetik, fisiologis, fisik  dan  patologis. Mutu genetik ditentukan oleh derajat kemurnian genetik sedangkan mutu fisiologis ditentukan oleh daya berkecambah, viabilitas benih, dan vigor benih. Mutu fisik ditentukan oleh kebersihan fisik dan mutu patologis adalah mendeteksi ada atau tidaknya penyakit yang terbawa oleh benih.
  1. Persiapan media tanam.
    Media tanam untuk tanaman ini bisa bermacam macam. Bisa menggunakan tanah, pasir maupun pupuk organik. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah jika menggunakan tanah sebagai media tanam maka pilihlah jenis tanah yang gembur dan subur. Tanah yang gembur adalah tanah yang mempunyai komposisi tanah liat, pasir dan debu secara seimbang. Sedangkan tanah yang subur adalah tanah yang mengandung unsur hara yang kaya.
  1. Media pasir
    Media tanam pasir ini bisa kita gunakan jika tidak dapat menemukan tanah yang cukup gembur. Namun pastikan bahwa pasir yang digunakan adalah pasir yang mengandung tanah liat. Atau Anda bisa sedikit mencampurnya.
  1. Pembibitan
    Pilihlah tanaman empon-empon yang sudah tua dan sehat untuk dijadikan bibit tanaman. Bibit yang baik akan menghasilkan tanaman yang baik. Ciri dari tanaman empon – empon yang sehat dapat bermacam-macam tergantung jenis tanamanya. Namun secara umum dapat disimpulkan bahwa tanaman empon – empon yang baik adalah tanaman empon – empon yang pertumbuhanya baik dan tidak terdapat penyakit. Daun tidak terserang hama, akar tumbuh simetris dan tanaman tampak gemuk.
  1. Penanaman
    Tanamlah bibit tanaman empon-empon pada media tanam yang telah dipilih dengan membuat lubang untuk meletakan bibit tanaman. Hal ini juga bisa dilakukan dengan menanamnya di polybag dan pot. Lubang yang dibuat disesuaikan dengan ukuran bibit tanaman tersebut. Setelah itu tutup kembali lubang tersebut dan padatkan seperlunya. Jangan lupa beri siraman air supaya bibit tanaman tidak kekurangan air untuk pertumbuhanya.
  1. Pemeliharaan, pengamatan penerapan pertanian organik
    Pemeliharaan tanaman empon-empon cukup mudah yaitu hampir sama dengan tanaman-tanaman yang lain. Sirami dengan teratur, beri pupuk organik dan biopestisida untuk memaksimalkan pertumbuhan. Pengamatan penerapan sistem pertanian organik dapat dilakukan dengan inspeksi intenal dan juga inspeksi eksternal.
  1. Pemanenan
    Siklus panen rata-rata tanaman empon-empon adalah 10 bulan. Namun hal ini juga tergantung jenis tanaman empon-empon yang Anda tanam. Tanaman empon-empon yang siap dipanen adalah tanaman yang sudah melewati masa mengering yaitu daun dan batang sudah menguning.

Empon – Empon Organik oleh Kelompok Tani PPEO Wonogiri
Banyak potensi usahatani di Kabupaten Wonogiri. Salah satu adalah budidaya tanaman empon – empon yang tersebar di 10 kecamatan lebih. Salah satu kecamatan yang sebagian penduduknya bertani empon-empon adalah Kecamatan Tirtomoyo tepatnya di Desa Sukoharjo dan tergabung di Kelompok Tani Paguyuban Petani Empon – Empon Organik (PPEO) Wonogiri dengan pendampingan oleh Lembaga Studi Kemasyarakatan Bina Bakat (LSKBB).
Kelompok Tani PPEO Wonogiri di Desa Sukoharjo tersebar di 11 Dusun, yaitu Blaraksari, Sukoharjo, Tulakan, Jati, Pule, Dadapan, Bonagung, Dalan Gedhe, Sendangsari, Ngroto, dan Ngandong. Adapun data jumlah dan kualitas produksi petani empon-empon Kelompok Tani PPEO Wonogiri di Desa Sukoharjo sebagai berikut :

No Jenis Empon – Empon Jumlah Panen Luas Lahan
1 Kunir 65 Ton / tahun 21 hektar
2 Lengkuas / Laos 15,2 ton / 2 tahun 2,63 hektar
3 Temulawak 2,25 ton / tahun 0,57 hektar
4 Jahe 4,5 ton / tahun 2,10 hektar

Sumber : Laporan perkembangan pertanian empon-empon Kelompok Tani PPEO Wonogiri Wonogiri-LSKBB
Untuk memasarkan empon – emponya, Kelompok Tani PPEO Wonogiri berupaya  dengan melakukan kunjungan ke perusahan jamu seperti PT. AIR MANCUR. Melalui kunjungan ini, petani bisa mendapatkan informasi berupa :

  1. Jenis komoditas empon – empon yang dapat diterima perusahaan jamu.
  2. Standar dan kualitas bahan baku dari empon – empon yang bisa diterima oleh perusahaan jamu.
  3. Penanganan pasca panen yang benar.
  4. Proses penjualan dan pembelian produk empon – empon di perusahaan jamu serta bisa membedakan kualitas empon – empon yang bisa diterima dengan kadar air kurang dari 10%.
  5. Proses penjaminan mutu produk empon – empon yang bisa diterima oleh perusahaan jamu (seperti tidak di tanah dan diiris dengan pisau stainless steel).(*)

 
Oleh : Nurhaniah Retno Eka, Staf Mutu dan Pemasaran Aliansi Organis Indonesia