Bogor Organic Fair 2016 menuangkan banyak cerita bagi para pengunjung dan partisipannya, terutama dari beberapa rangkaian aktivitas campaign yang tersaji selama event berlangsung. Bogor Organic Fair 2016 menyuguhkan beberapa kegiatan campaign, diantaranya Clinic Organic, Talkshow Fairtrade, Cooking Competition, Cooking For Love, Workshop Urban Farming, Botram Festvial Organik, Ngopi Bareng, Lomba Mewarnai, dan Lomba Melusik Pot. Kegiatan campaign ini bertujuan untuk mengedukasi dan menumbuhkan minat para pengunjung Bogor Organic Fair untuk hidup sehat dengan mengkonsumsi produk-produk organik. Beberapa kegiatan campaign memang langsung ditargetkan untuk memperkenalkan makanan sehat dengan produk organik, sementara beberapa kegiatan lainnya untuk mengedukasi tentang produk-produk organik. Berikut ini galeri foto yang merekam beberapa keceriaan dan aktivitas selama kegiatan berlangsung.

Permintaan Produk Pertanian Organik Makin Meningkat
JAKARTA – Minat masyarakat untuk menggunakan produk pertanian organik (alami) semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan tren gaya hidup sehat terutama di kota-kota besar yang mulai mengerti akan dampak negatif dari penggunaan pupuk an-organik (bahan kimia) pada produk pertanian.
“Konsumen semakin sadar dan selektif atas segi kualitas kesehatan produk pertanian. Mereka kini lebih suka mengonsumsi produk organik ketimbang yang menggunakan bahan an-organik,” ujar Sekjen Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina), Ali Zum Mashar disela acara Rakernas I Maporina di Jakarta, Sabtu (11/2/2017).
Dia mengatakan, produk pertanian organik menghasilkan protein makanan yang aman dan bergizi sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat. Selain itu, menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani, karena petani akan terhindar dari paparan (exposure) polusi yang diakibatkan oleh digunakannya bahan kimia sintetik dalam produksi pertanian. Pertanian organik juga meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian
“Menurut berbagai penelitian, tanaman organik kaya akan kandungan gizi dan esensial yang berguna untuk meminimalisir risiko kanker dan melawan radikal bebas,” katanya.
Sebagai langkah sosialisasi dan edukasi manfaat tanaman organik kepada masyarakat, Maporina telah melakukan sejumlah inisiatif, mulai dari membangun klaster desa organik, menyelenggarakan bazaar tanaman & buah organik, pengkaderan aktivis pertanian organik serta sertifikasi produk pertanian organik.
“Merupakan bagian dari tanggung jawab kami juga untuk menjamin seluruh produk pertanian organik yang diproduksi para anggota binaan Maporina mendapatkan sertifikasi karena tidak sedikit produk mereka yang telah didistribusikan di berbagai supermarket terkemuka di seluruh Indonesia,” katanya.
Dia mengakui, sosialisasi manfaat produk pertanian organik masih harus digencarkan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat atas pentingnya produk organik. Selain itu, pemerintah masih memberikan subsidi kepada pupuk an-organik.
“Seharusnya subsidi dicabut, dan diberikan ke petani yang menanam produk pertanian langsung. Komponen pupuk itu hanya 10% dari produksi,” katanya.
Ketua Umum Maporina, Joko Sidik Pramono mengatakan, Maporina mendukung pembangunan industri tanaman organik di Indonesia dengan berperan aktif mengajak masyarakat terapkan gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan organik. Rakernas Maporina ditutup dengan penandatanganan tujuh nota kesepahaman dengan sejumlah instansi dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas pertanian organik dan dukungan terhadap petani tanaman organik di seluruh Indonesia.
“Tanaman organik memiliki manfaat yang sangat signifikan bagi kesehatan manusia, tapi banyak masyarakat yang belum menyadarinya. Di situlah kami hadir untuk mensosialisasikan berbagai manfaat yang ditawarkan tanaman organik yang ditanam oleh petani lokal,” ujarnya. (dmd)
Sumber: https://ekbis.sindonews.com
Pemprov Sumbar Dorong Pengembangan Pertanian Organik
Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mengembangkan pertanian organik padi pada sembilan desa yang terdapat di kabupaten dan kota di provinsi itu, guna meningkatkan produksi padi organik.
“Pengembangan desa pertanian organik, dengan total luas 180 hektare pada sembilan desa tersebut,” kata Kepala Satuan Petugas (Satgas) Organik, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Ramailis, di Padang, Sabtu (11/2).
Lokasi pengembangan itu antara lain di Kabupaten Tanah Datar, Solok Selatan, Lima Puluh Kota, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Agam, Pasaman, Dharmasraya dan Kota Solok.
“Dengan luas masing-masing lahan seluas 20 hektare di masing-masing kabupaten dan kota tersebut,” kata dia.
Sebelumnya, Sumbar telah memiliki lahan padi organik yang telah disertifikasi seluas 96.991 hektare dengan 17 kelompok tani pertanian organik. Lokasi lahan pertanian organik padi tersebut antara lain seluas 35.845 hektare di Kabupaten Padang Pariaman.
Kemudian, 7,76 hektare di Kabupaten Agam, Tanah Datar seluas 9,8 hektare, Kabupaten Lima Puluh Kota 29,49 hektare, Solok 5,9 hektare, dan Padang Panjang 8,20 hektare.
Ia menjelaskan, syarat lahan bisa dikatakan organik adalah dengan telah memiliki sertifikat organik yang berpedoman pada Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 6729 Tahun 2016, tentang sistem pertanian organik.
Diantaranya adalah lahan, lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian konvensional, ketika akan dipergunakan untuk pertanian organik, harus terbebas dari bahan kimia, dengan masa transisi selama dua tahun untuk tanaman musiman seperti padi dan palawija.
“Sedangkan untuk tanaman perkebunan dengan masa transisi selama tiga tahun,” katanya.
Benih yang digunakan untuk pertanian organik, harus benih organik yang berasal dari budidaya lahan organik. Kemudian dalam penggunaan pupuk, harus menggunakan pupuk organik seperti pupuk kandang dan pupuk kompos.
Sedangkan untuk pengendalian hama pada lahan organik dengan menggunakan sistem pengendalian hama terpadu tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya seperi pestisida.
“Pengendalian hama dapat menggunakan musuh alami, seperti ular yang dapat mengurangi populasi tikus sawah,” kata dia.
Sementara itu, kata dia, untuk sistem pengairan lahan organik, air yang digunakan harus berasal dari sumbernya tanpa melalui lahan pertanian konvensional.
Namun, jika pada sistem irigasi, pada pintu air dapat dibuat kolam yang berukuran 0,1 persen dari luas lahan yang berguna untuk penetralisir air dengan ditanami eceng gondok pada kolam tersebut,” ujarnya.
Ia berharap dengan pengembangan lahan padi organik, semakin meningkatkan produksi padi organik di Sumbar, sehingga akan tercipta masyarakat yang sehat dengan konsumsi beras yang bebas dari bahan kimia.
Sumber: www.beritasatu.com
Panen di Desa Gemilang Makin Melimpah dengan Pupuk Organik
REPUBLIKA.CO.ID, WONOGIRI – Petani di desa binaan LAZ Al Azhar di Dusun Baran, Mundu, Desa Puloharjo, Kec. Eromoko, Wonogiri kini makin sumringah. Sebab, hasil panen padi musim tanam ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Penggunaan pupuk padat organik Umbaran yang diproduksi sendiri dari pemanfaatan limbah hayati pertanian selain dapat menurunkan biaya produksi juga mampu meningkatkan hasil sekaligus melestarikan alam.
Masyarakat Baran- Mundu hampir 100 persen bertani dan beternak. Keseharian mereka banyak dihabiskan di ladang dan sawah. Pertanian padi menjadi primadona masyarakat yang dijalankan dengan pola tanam yang biasa. Ketika program Indonesia Gemilang belum masuk desa ini, petani mengandalkan pupuk kimia sebagaimana lazimnya petani di tempat lain.
Karena fokus penghasilan dan aktivitas masyarakat di sawah dan ladang, maka kandang sapi dan kambing yang berada di belakang rumah kurang terurus. Kotoran ternak dibiarkan menumpuk sehingga aroma dari kandang terkadang terhirup hingga ke dalam rumah. Belum lagi sisa pakan yang juga menurunkan kualitas kebersihan lingkungan rumah.
Di tahun 2015 masuklah program Indonesia Gemilang LAZ Al Azhar dengan menempatkan satu orang pendamping yang disebut Dasamas (Da’i Sahabat Masyarakat). Kemudian pada Juli 2015 dibentuk rumah pupuk organik padat yang diberi nama Umbaran (Usaha masyarakat Mundu Baran) melalui Saung Ilmu untuk masyarakat yang berada di Baran, Mundu, untuk membangun kampungnya.
Kini Umbaran sudah mampu memproduksi hingga 10 ton pupuk organik, dan semua pupuk telah dimanfaatkan oleh petani setempat. Bahkan petani dari luar desa pun ikut memesan hingga para petugas Umbaran harus rela lembur demi mengejar target memproduksi pupuk pesanan petani.
Alasan penggunaan pupuk organik di petani Baran – Mundu ternyata bermacam macam. Pertama, faktor bahan dasarnya yang melimpah di rumah mereka. Dampak lanjutannya pun dapat membersihkan dan menyehatkan rumah petani. Kedua, biaya pengadaan pupuk organik yang lebih murah hingga 30 persen per hektare dibanding dengan pupuk kimia. Ketiga, hasil panen padi lebih berisi dan lebih berat bobot padinya, sehingga nilai jualnya lebih baik dari pada pada menggunakan pupuk kimia.
Sumber : al azharpeduli.com
Demplot Pertanian Organik Transmigrasi Bahitom Jadi Percontohan
PROKAL.CO, PURUK CAHU – Program Demplot Pertanian Organik Transmigrasi Desa Bahitom, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya jadi percontohan dan untuk ditiru oleh warga masyarakat desa lain.Apalagi dengan luas lahan 5,6 hektare, jika dimanfaatkan semua tentu hasilnya nanti akan membawa dampak besar baik bagi kelompok tani maupun masyarakat sekitar.
Bupati Murung Raya (Mura), Drs Perdie MA, Selasa (14/2) menyampaikan, Demplot pertanian organik seperti ini, bisa meningkatkan penghasilan masyarakat yang secara tekun melakukannya. Diharapkan demplot pertanian organik juga nanti bisa dilakukan di daerah Kecamatan Tanah Siang dan Tanah Siang Selatan.
“Karena di daerah Tanah Siang dan Tanah Siang Selatan daerah berbukit, sangat cocok untuk budidaya, pertanian dan sebagainya. Soal hasil tentu bisa kita bayangkan kalau itu benar-benar dikelola dengan baik,” jelas Perdie ketika meninjau lokasi Demplot Pertanian Organik di Transmigrasi Bahitom.
Disamping pertanian, banyak hal yang bisa dikembangkan di daerah tersebut. Seperti halnya tempat pembibitan ikan air tawar. Karena sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, masyarakat Mura sangat konsumtif dengan air tawar seperti nila.
“Nah ini peluang, potensi yang bisa garap oleh masyarakat kita. Setidaknya apa yang menjadi permintaan dan kebutuhan masyarakat kita bisa disuplai masyarakat atau petani lokal, sehingga perputangan uangnya juga di daerah ini juga,” tutur Perdie.
Selain ikan nila juga, beberapa ikan air tawar lainnya tidak kalah bersaing seperti Lele, patin, dan ikan mas. “Kalau kita kembangkan akan berdampak secara ekonomi, karena itu tantangan kita bersama WWF, secara pribadi dan pemerintahan kita sangat mendukung dan akan membackup program ini,” jelas bupati alumnus STPDN ini. (ren/cah)
Sumber : http://kalteng.prokal.co

