Informasi Kandungan Lemak Buah Tengkawang dan Dukungan Sarana Industri

  1. Pengujian Laboratorium Lemak Tengkawang

 
Desa Nanga Yen dan Desa Sahan merupakan dua desa dari beberapa desa yang memiliki potensi alam untuk menghasilkan komoditas buah tengkawang. Pohon tengkawang mampu tumbuh di hutan dengan baik. Dan dipastikan tengkawang yang dihasilkan dari hutan berupa tengkawang organik. Pengujian lemak tengkawang sangat penting bagi pelaku industri tengkawang.

Buah tengkawang dapat diolah menjadi bentuk lemak melalui proses ekstraksi. Lemak tengkawang ini memiliki karakteristik menyerupai lemak kakao sehingga tergolong kedalam Cocoa Butter Substitues (CBS). Selain itu, harga buah tengkawang lebih murah daripada buah kakao. Para pengusaha yang bergerak di bidang industi kosmetik dan makanan mulai melirik buah tengkawang untuk diambil lemaknya dan dijadikan bahan campuran kosmetik atau makanan. Maka dari itu, pengujian lemak buah tengkawang sangat penting bagi pelaku industri kosmetik dan makanan.
Pengujian lemak tengkawang telah dilaksanakan sepanjang bulan Maret 2017 di Laboratorium Biorefinery, Gedung Engineering Center lantai 7, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Kampus Depok. Pelaksana kegiatan ini adalah Aloysius Kahariyadi yang dibantu oleh tim peneliti konsultan pengembangan produk tengkawang yang terdiri dari Misri Gozan, Bibong Widyarti, Nurul Intan, Arif Safarianto. Penanggung jawab kegiatan ini adalah Janiarto Paradise Pawa.
Pengujian lemak tengkawang telah dilakukan dengan menggunakan dua sampel lemak, yaitu berasal dari Nanga Yen dan dari Desa Sahan, Bengkayang. Hasil pengujian atas sampel lemak tengkawang yang telah dilakukan sebagai berikut:

Parameter Lemak Tengkawang Bengkayang Lemak Tengkawang Nanga Yen
Kandungan Asam Lemak
–       Jenuh
–       Tidak Jenuh
Kandungan Logam Berat
Kandungan Nutrisi
–       Protein
–       Karbohidrat
–       Lemak
 
Tinggi
Rendah
–
 
0.15 %
99.1 %
 
Tinggi
Sedang
Tidak Terdeteksi
 
0.27 %
99.5 %

Sampel lemak tengkawang dari Bengkayang telah dilakukan analisis bahan baku kimia. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa kandungan abu (mineral/anorganik) tidak terdeteksi. Bilangan peroksida lemak tengkawang menunjukkan angka yang relatif rendah. Hal ini menjadi indikator bahwa lemak tengkawang relatif tidak mudah tengik. Sedangkan bilangan penyabunan lemak tengkawang menunjukkan angka yang relatif tinggi. Analisis kandungan logam berat pada sampel dari Bengkayang menunjukkan bahwa logam berat pada lemak tengkawang tidak terdeteksi. Umumnya hal ini berarti lemak tengkawang yang diuji bebas dari logam berat berbahaya. Begitu pula dengan kandungan lemak tengkawang Nanga Yen. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa tidak terdeteksi kandungan logam berat. Sehingga aman untuk dikonsumsi. Dan kandungan lemak yang tinggi menunjukkan bahwa buah tengkawang memang layak dijadikan bahan subtitusi kakao untuk diolah menjadi bahan campuran kosmetik atau industri makanan.

  1. Pengadaan Sarana Industri Tengkawang

Sarana industri tengkawang mendukung kegiatan untuk memproduksi tengkawang yang memiliki standar produksi yang lebih baik. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Desa Nanga Yen dengan melibatkan perwakilan masyarakat dan anggota Koperasi Serba Usaha Unyap Bina Usaha. Kegiatan ini adalah kelanjutan dari bulan sebelumnya. Bulan Maret 2017, pengadaan sarana usaha tengkawang masih dalam tahap penyusunan desain mesin pengolah tengkawang, dan dibuat dokumen Feasibility Study (FS) Usaha Lemak Tengkawang serta Detail Enginering Design (DED) rumah produksi tengkawang. Desain mesin akan saling menyesuaikan dengan DED rumah produksi. Dokumen FS dan DED telah dibahas di tingkat manajemen program dan selanjutnya akan dikonsultasikan ke manajemen Green Prosperity Project Millenium Challenge Account – Indonesia (MCAI).
Penanggungjawab utama kegiatan ini adalah Aloysius Kahariyadi dengan dibantu oleh Djoko Prakoso selaku konsultan program usaha tengkawang.

Harapannya, industri tengkawang kian maju dibarengi dengan budidaya tengkawang yang baik. Masyarakat sekitar dapat menerima manfaat dari kegiatan budidaya hingga pemasaran tengkawang.

Workshop Pemasaran Produk Pertanian untuk Warga Nanga Yen

Pemasaran merupakan usaha terpadu untuk menggabungkan rencana-rencana strategis yang diarahkan kepada usaha pemuas kebutuhan dan keinginan konsumen untuk memperoleh keuntungan yang diharapkan melalui proses transaksi. Kegiatan pemasaran harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen bila ingin mendapatkan tanggapan yang baik dari konsumen. Sebuah usaha harus secara penuh tanggung jawab tentang kepuasan produk yang ditawarkan tersebut. Proses pemasaran terdapat unsur penciptaan, pengkomunikasian, penyerahan kepada pelanggan, dan mengelola hubungan baik dengan pelanggan. Hal ini berarti konsep pemasaran telah berkembang menjadi suatu proses yang dilakukan perusahaan tidak hanya untuk memuaskan pelanggan, namun juga menciptakan nilai dalam benak pelanggan agar dapat mempertahankan pelanggan yang ada.

Konsep dalam pemasaran sangatlah penting untuk mencapai sukses. Konsep pemasaran sendiri dibuat berdasarkan 3 hal yaitu perencanaan yang berorientasi pada konsumen/pasar, volume produk yang akan dijual, dan seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan/koperasi/kelompok usaha harus dikoordinasikan dan diintegrasikan secara organisasi. Tujuan utama konsep pemasaran adalah melayani konsumen dengan mendapatkan sejumlah laba, atau dapat diartikan sebagai perbandingan antara penghasilan dengan biaya yang layak.

Konsorsium AOI menangkap peluang untuk memberikan sebuah pelatihan untuk membantu warga dalam melakukan praktik pemasaran produk pertanian yang memberikan keuntungan yang layak. Kegiatan workshop pemasaran produk pertanian telah diadakan tanggal 16 Februari 2017 di Balai Pertemuan Desa Nanga Yen, Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Peserta yang terlibat dalam pelatihan ini sebanyak 63 orang terdiri dari 23 orang pria dan 40 orang wanita.
Maksud dari pelatihan ini adalah untuk mendukung pemerintah daerah Kabupaten Kapuas Hulu dalam menerapkan Desa Nanga Yen sebagai salah satu lumbung padi kabupaten. Untuk mencapai hal tersebut, tentu ada beberapa tujuan yang perlu dilakukan untuk mencapai maksud tersebut. Tujuan untuk membantu peserta pelatihan dalam memahami konsep pemasaran, memahami manajemen pemasaran, memahami proses pemasaran, analisis peluang pasar, dan pemahaman akan perencanaan strategis pemasaran.
Hasil dari kegiatan antara lain: 1) Workshop pemasaran ini berupaya membuka wawasan petani untuk memasaran produk pertanian. Cara sederhana yaitu dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri dan apabila ada kelebihan untuk dipasarkan ke daerah lain. 2) Petani sebagai produsen yang fokus pada produksi produk pertanian yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur Budidaya Padi. Ketika sudah masuk pangsa pasar, petani harus mampu memproduksi produk pertanian sesuai permintaan pasar. 3) KSU Unyap Bina Usaha sebagai salah satu manajemen pemasaran diharapkan bisa menyalurkan produk dari petani. Diharapkan KSU Unyap Bina Usaha bisa membaca pangsa pasar dari skala pemasaran desa sampai pemasaran keluar desa. Perlu strategi yang mumpuni dan peka terhadap penangkapan peluang pasar. 4) Agar harga produk petani tidak turun ketika panen raya. Salah satu caranya yaitu dengan melihat kebutuhan pasar bukan keinginan petani. Selain itu, perlu menghitung analisa usahanya. Menghitung semua pengeluaran dari biaya pra tanam, panen sampai biaya transportasi ke pasar. Perhitungan ini digunakan sebagai dasar dalam penetapan harga jual petani pasar agar menguntungkan.
Kendala yang dihadapi oleh warga Desa Nanga Yen adalah pemasaran produk yang dihasilkan oleh Kelompok Tani akan dikelola melewati satu pintu penyalur yakni melalui KSU Unyap Bina Usaha. Tetapi kapasitas koperasi dalam mengelola pasar belum memadai. Solusi yang dihadapi adalah memberikan pendampingan lanjutan dan pemahaman terkait manajemen pemasaran yang akan dijalankan oleh KSU Unyap Bina Usaha (DYH).