Efek COVID-19 Pada Penjualan Hasil Pertanian Organik

Setelah arahan dari Presiden dan pemerintah daerah disebarkan, banyak aktivitas kerja dan belajar dilakukan dirumah masing-masing. Namun demikian tidak sedikit orang yang masih bekerja diluar rumah, seperti conto nya petani. Mereka melakukan tetap melakukan pekerjaan budidaya seperti biasanya namun tetap dengan dilakukan sesuai dengan arahan pemerintah daerah.
WHO telah menyatakan COVID-19 sebagai Pandemi (11/03). Penyakit ini telah melewati fase wabah dan epidemi, seperti Flu Babi pada 2009. Karena penyebaran semakin meningkat di berbagai negara maka Presiden Joko Widodo menetapkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomer 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Informasi lengkap klik disini

Presiden Joko Widodo juga menyampaikan keterangan pers terkait penanganan COVID-19 di Istana Bogor, Jawa Barat (15/03). Presiden meminta agar masyarakat Indonesia bekerja, belajar dan beribadah di rumah serta tetap tenang, tidak panik, tetap produktif agar penyebaran COVID-19 ini bisa diberhentikan.
Selain itu masyarakat juga diminta untuk selalu menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan secara teratur dengan menggunakan sabun dan menggunakan masker pada saat dirumah dan ketika berada di luar rumah juga menjaga social distancing.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dengan menjaga asupan gizi melalui konsumsi pangan sehat untuk menjaga daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang kuat sangat diperlukan dalam melawan serangan dari virus yang menyebabkan sakit. Dengan demikian kebutuhan pangan yang sehat menjadi kebutuhan utama, bersama dengan peran desinfektan, hand sanitizer, masker dan APD. Oleh karenanya permintaan terhadap produk pangan mengalami peningkatan. Dengan adanya instruksi pemerintah untuk tidak bepergian membuat masyarakat lebih memilih untuk berbelanja produk pangan hasil pertanian langsung pada petani atau produsen.

Lalu apa kata produsen (petani) tentang peningkatan permintaan pangan (organik) ?

BP AOI melakukan wawancara kepada beberapa anggota, tentang efek dari COVID-19 ini  kepada hasil tani (organik) mereka.
Untuk produk organik juga ada peningkatan permintaan seperti yang dirasakan oleh (Warung Hijau – Yayasan Trukajaya) menambahnya konsumen baru (Twelve’s Organik), Meningkatnya permintaan komoditi empon-empon (Brenjonk). Bahkan untuk permintaan hasil tani produk organik oleh supermarket bisa meningkat sampai 300% (Tani Organik Merapi) permintaan yang meeningkat tersebut tidak dapat sepenuhnya terpenuhi karena keterbatasan produk dan karena proses penanaman (budidaya) yang sudah diatur. Sama halnya dengan TOM, peningkatan penjualan dirasakan oleh TOM (Tani Organik Merbabu). Sedangkan pada produk olahan ada peningkatan permintaan Instan rimpang jahe (Lily go Organik & Trukajaya)
Beberapa pelanggan dari koperasi SAHANI juga meningkatkan pembeliannya, hal ini terjadi karena kehawatiran akan ketidak pastiaan kedepan, ujar pak Imam (SAHANI). Kenaikan yang terjadi pada sayuran dan empon-empon.

Contoh Produk Yang Paling di cari konsumen (Foto Doc : Twelves Organik)


Untuk penurunan permintaan pasar itu tidak ada / tidak terjadi (belum ada laporan mengenai hal tersebut) seperti yang diinformasikan oleh Kelompok Tani Mulyo, Boyolali. Mereka menyebutkan jika penjualan mereka berjalan seperti biasa, belum ada permintaan khusus / baru. Yayasan PETRASA pun memberikan informasi tidak ada kenaikan permintaan dikarenakan ke khawatiran akan COVID-19 ini baru terjadi di akhir bulan maret, ditambah dengan dorongan masyarakat sekitar yang bersikap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah.
Adanya peningkatan pada permintaan pasar supermaket dan produk empon-empon itu dipicu oleh ke kwatiran masyarakat tentang adanya batasan keluar dan beraktifitas diluar rumah, sehingga mereka mempersiapkan diri (kebutuhan keluarga) untuk hari esok. Dampak dari permintaan pasar yang dan ketersediaan produk yang terbatas membuat harga komoditi empon-empon menjadi naik.

PRESS RELEASE: GLOBAL ORGANIC AREA CONTINUES TO GROW

Over 71.5 Million Hectares Of Farmland Are Organic!

The latest global data on organic farming worldwide will be presented by the Research Institute of Organic Agriculture (FiBL) and IFOAM – Organics International at BIOFACH, the world’s leading trade fair for organic food, in Nuremberg, Germany. The statistical yearbook “The World of Organic Agriculture” will be launched on Wednesday, 12 February, 2020, from 5 to 6 pm CET in Hall Shanghai, NCC East.

(Frick/Nuremberg, 12 February, 2020) – 2018 was another record year for global organic agriculture. According to the latest FiBL survey on organic agriculture worldwide, organic farmland increased by 2.0 million hectares, and organic retail sales also continued to grow, reaching another all-time high, as shown by the data from 186 countries (data as of the end 2018). The 21st edition of the study “The World of Organic Agriculture” published by FiBL and IFOAM – Organics International shows a continuation of the positive trend seen in the past years. This annual survey on organic agriculture worldwide is supported by the Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO), the International Trade Centre (ITC), the Sustainability Fund of Coop Switzerland, and NürnbergMesse, the organizers of the BIOFACH fair.

The Global Organic Market Continues To Grow Worldwide And Has Passed The 100 Billion US Dollar Mark

The market research company, Ecovia Intelligence, estimates that the global market for organic food surpassed 100 billion US dollars for the first time in 2018 (almost 97 billion euros). The United States is the leading market with 40.6 billion euros, followed by Germany (10.9 billion euros) and France (9.1 billion euros). In 2018, many major markets continued to show double-digit growth rates, and the French organic market grew by more than 15 percent. Danish and Swiss consumers spent the most on organic food (312 Euros per capita in 2018). Denmark had the highest organic market share with 11.5 percent of its total food market.

2.8 Million Organic Producers Worldwide

In 2018, 2.8 million organic producers were reported. India continues to be the country with the highest number of producers (1’149’000), followed by Uganda (210’000), and Ethiopia (204’000).

Steady Increase Of Organic Farmland

A total of 71.5 million hectares were organically managed at the end of 2018, representing a growth of 2.9 percent or 2 million hectares compared to 2017. Australia has the largest organic agricultural area (35.7 million hectares), followed by Argentina (3.6 million hectares), and China (3.1 million hectares). Due to the large area of organic farmland in Australia, half of the global organic agricultural land is in Oceania (36.0 million hectares). Europe has the second largest area (15.6 million hectares), followed by Latin America (8 million hectares). The organic area increased in all continents compared to 2017.

Ten Percent Or More Of The Farmland Is Organic In 16 Countries

Globally, 1.5 percent of farmland is organic. However, many countries have far higher shares. The countries with the largest organic share of their total farmland are Liechtenstein (38.5 percent), Samoa (34.5 percent), and Austria (24.7 percent). In sixteen countries, 10 percent or more of all agricultural land is organic.

Global Organic Statistics Show The Contribution Of Organic Agriculture To The Sustainable Development Goals

According to Dr. Monica Rubiolo from SECO, “Access to good quality data on organic farming not only helps to measure success toward achieving the Sustainable Development Goals but also to orient decision-makers and other stakeholders along the whole value chain.” Joseph Wozniak from ITC believes that “This publication provides key insights for those who attach importance to environmental conditions behind the products produced in their countries or sold in their nation’s shops.”

“The global organic statistics have proven useful for development programs and supporting strategies for organic agriculture and markets, and they are crucial for monitoring the impact of these activities. This publication shows our ongoing engagement with transparency in the organic sector,” say Louise Luttikholt, IFOAM – Organics International Executive Director, and Professor Urs Niggli, director of FiBL

 

More information : Click Here

Video Animasi Advokasi PGS (Participatory Guarantee System)

Proyek EATingCRAFT baru-baru ini (Pendidikan Menuju Pembuatan Jaringan Makanan Alternatif) berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan mencari cara untuk mengubah sistem pangan kita pada skala lokal dan nasional.
Disimpulkan pada Desember 2019 setelah periode implementasi dua tahun, EATingCRAFT dilakukan berkoordinasi dengan IFOAM – Organics International dan enam mitra Eropa: Nature et Progrès (tautan eksternal) (Prancis), Association of Conscious Consumers (tautan eksternal) ( Hongaria), PRO-BIO Liga (tautan eksternal) (Republik Ceko), MIRAMAP (tautan eksternal) (Prancis), Agroecopoli (tautan eksternal) s (Yunani), dan Jaringan CSA Internasional URGENCI (tautan eksternal) (Prancis) ).
Para mitra ini bekerja bersama untuk mengadvokasi sistem pangan berkelanjutan yang berakar pada pertanian organik. Mereka mengembangkan program pelatihan tentang Sistem Jaminan Partisipatif (PGS) untuk pelajar dewasa, yang berfokus pada bagaimana mengadopsi / mengadaptasi PGS dalam inisiatif Pertanian yang Didukung Masyarakat (CSA).
PGS dan CSA memiliki tujuan yang sama untuk meningkatkan mata pencaharian bagi produsen organik dan meningkatkan akses konsumen ke makanan yang aman dan bergizi. Kedua sistem meningkatkan pengambilan keputusan yang transparan dan berbagi dan memprioritaskan pendekatan berbasis solidaritas, yang memungkinkan tanggung jawab untuk menerapkan praktik berkelanjutan untuk dibagikan oleh masyarakat.
Source : BIOFACH.bio