Panggilan untuk teman muda wilayah Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Apakah kamu sesuai dengan kriteria berikut ini?
1. Rentang usia 20-35 tahun. 2. Memiliki ketertarikan dalam pertanian organik dan adaptasi mitigasi perubahan iklim. 3. Memiliki pengetahuan atau sedang menjalankan budidaya pertanian organik, pengolahan pasca-panen maupun pengolahan produk organik. 4. Memiliki inisiatif, disiplin, komitmen dalam gerakan pertanian organik dan memiliki semangat untuk belajar. 5. Berkomitmen untuk mengikuti rangkaian program Organic Youth Movement dan menjadi bagian dari gerakan pertanian organik di Indonesia.
Sebelum kamu mendaftar program ini, pastikan sudah mengetahui informasi terkait Aliansi Organis Indonesia dengan mengakses link bit.ly/profilAOI dan Program Organic Youth Movement melalui bit.ly/ProgramOrganicYouthMovement
Bootcamp ini akan menghadirkan narasumber dan mentor yang berpengalaman dalam gerakan pertanian organik di Indonesia. Daftarkan dirimu sekarang!
Sekolah Lapang Iklim (SLI) ke-3 sukses dilaksanakan pada 28–29 Juli 2025 di Dampek, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi petani dan masyarakat untuk memahami kondisi cuaca serta dampaknya terhadap pertanian, dengan fokus khusus pada budidaya sorgum organik.
Kegiatan dibuka oleh Mas Gusto, dilanjutkan dengan perkenalan fasilitator lapangan dari AOI serta pengantar materi oleh narasumber utama, Pak Mansi. Sebanyak 24 peserta dari berbagai latar belakang (laki-laki dan perempuan) mengikuti sesi pretest untuk mengukur pemahaman awal mereka mengenai iklim dan pertanian.
Memahami Cuaca dan Iklim
Materi pertama menekankan perbedaan mendasar antara cuaca dan iklim. Cuaca merupakan kondisi atmosfer jangka pendek yang selalu berubah, sementara iklim adalah pola rata-rata cuaca dalam kurun waktu minimal 30 tahun.
Diskusi menarik muncul ketika peserta membahas fenomena cuaca yang tidak biasa terjadi di Dampek pada bulan Juli, yaitu tidak turunnya hujan meskipun wilayah sekitar masih diguyur hujan. Sebagian peserta mengaitkan fenomena ini dengan penjelasan ilmiah, sementara yang lain merujuk pada kearifan lokal, seperti tidak dilaksanakannya ritual adat pemanggil hujan.
Praktik Pengamatan Curah Hujan
Peserta juga mempelajari cara mengukur curah hujan dengan alat sederhana dari botol bekas. Melalui praktik ini, mereka berlatih mengenali kategori intensitas hujan dan pentingnya data untuk menentukan waktu tanam, panen, serta mengantisipasi risiko cuaca ekstrem.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa beberapa varietas sorgum organik mengalami kelayuan dan biji tidak terisi sempurna akibat kondisi kering. Sementara itu, tanaman padi berkelanjutan terbukti lebih tahan terhadap situasi tersebut.
Belajar Ekosistem dan Perlindungan Tanaman
Sesi selanjutnya memperkenalkan konsep segitiga penyakit tanaman (inang–patogen–lingkungan), morfologi sorgum, serta jaring-jaring makanan yang menjelaskan peran serangga dalam ekosistem pertanian. Peserta juga diperkenalkan pada kebun serangga sebagai media edukasi mini untuk memahami interaksi serangga dengan tanaman.
Rencana Tindak Lanjut
Di akhir kegiatan, peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang mencakup persiapan SLI ke-4. Kegiatan berikutnya akan dilaksanakan selama tiga hari, dengan agenda pembukaan, evaluasi, praktik lapangan, dan seremoni panen raya.
Para peserta berkomitmen untuk:
memperkuat perlindungan tanaman,
mereplikasi praktik budidaya sorgum organik di lahan masing-masing,
serta memadukan pembelajaran ilmiah dan kearifan lokal demi mendukung pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Nantikan perjalanan para petani sorghum selanjutnya!
Sekolah Lapang Iklim (SLI) Berkelanjutan dibuka dengan semangat tinggi di Desa Kebun Kelapa, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai elemen: petani, Aliansi Organis Indonesia (AOI), BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Deli Serdang, Polbangtan Medan, BITRA Indonesia, BPP Secanggang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Langkat, Sekretaris Camat Secanggang, dan Pemerintah Desa Kebun Kelapa.
SLI ini merupakan kolaborasi antara AOI dan BITRA Indonesia yang bertujuan untuk mendorong petani menghadapi perubahan iklim dengan praktik bertani yang adaptif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Kegiatan ini disambut hangat oleh para pihak, dengan harapan petani mulai mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, lebih memahami kondisi iklim lokal, dan menerapkan teknik pertanian berkelanjutan.
Salah satu momen paling menginspirasi datang dari Soekirman, Ambassador Organik ALGOA dan juga seorang petani senior, yang membagikan praktik uniknya:
“Keong itu teman kita. Jangan diracun. Saya kumpulkan dan jual untuk makanan bebek,” ucapnya sambil tertawa ringan. Petuah ini bukan sekadar cerita, tapi contoh nyata bagaimana membangun hubungan harmonis dengan ekosistem—bagian penting dari pertanian yang lestari dan berdaulat.
SLI ini dirancang berlangsung selama 3–4 bulan ke depan, dengan rangkaian pertemuan lanjutan yang akan menguatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menyesuaikan praktik pertanian mereka terhadap iklim yang terus berubah. Direktur AOI, Sukmi Alkausar, dan Direktur BITRA Indonesia, Rusdianah, menekankan bahwa proses ini akan menumbuhkan kesadaran dan kemampuan petani sebagai pengelola utama tanah, air, benih, dan pangan secara mandiri.
Sebagai penutup, para peserta melakukan aksi tanam bersama di lahan berkelanjutan. Dua jenis benih lokal, Mentik Susu dan Cibatu, ditanam sebagai simbol harapan tumbuhnya benih pengetahuan, kemandirian, dan panen yang membawa masa depan yang lebih adil bagi petani dan lingkungan.
Mengokohkan Kedaulatan Benih Lokal: Pelatihan Budi Daya Benih Organik di Gianyar, Bali Ketika benih bukan lagi berada di tangan petani, kedaulatan pangan pun menjadi rentan. Inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Pelatihan Budi Daya Benih Lokal Organik bertajuk “Benih Kita, Masa Depan Kita: Membangun Kedaulatan dari Akar Rumput” yang diselenggarakan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerja sama dengan Yayasan IDEP Selaras Alam, pada tanggal 21–23 Juli 2025 di Gianyar, Bali. Pelatihan ini mempertemukan petani dan pendamping dari berbagai daerah yang selama ini berjuang menjaga keberlanjutan pertanian organik di komunitas masing-masing.
Pelatihan dibuka dengan suasana hangat dan penuh semangat. Peserta disambut oleh panitia dan fasilitator, lalu diperkenalkan dengan tujuan serta agenda kegiatan. Dalam sesi awal, peserta menyampaikan harapan serta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka mengenai kedaulatan benih dan budi daya benih lokal.
Materi pelatihan difokuskan pada penguatan pemahaman dan keterampilan teknis petani dalam membudidayakan benih lokal hortikultura. Narasumber menyampaikan bahwa benih lokal bukan hanya soal varietas tradisional, tetapi juga soal kontrol, akses, dan keberlanjutan. Petani yang mampu mengelola benihnya sendiri berarti petani yang berdaulat tidak tergantung pada perusahaan benih, tidak tunduk pada sistem yang merusak lingkungan, dan mampu menentukan masa depan pangan secara mandiri. Peserta dibekali dengan prinsip-prinsip dasar dalam memperoleh keturunan benih yang baik, termasuk pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati lokal. Diskusi interaktif pun mengalir saat peserta diajak menggali pengalaman masing-masing terkait metode pembenihan yang telah mereka praktikkan serta potensi tanaman hortikultura lokal yang layak dikembangkan sebagai sumber benih komunitas.
Pelatihan berlanjut dengan pemahaman teknis melalui pengenalan Seed Saving Cycle mulai dari tahap penanaman, perawatan, panen, hingga tahap-tahap pascapanen seperti pembersihan, pengeringan, pengujian daya tumbuh, penyimpanan, hingga distribusi. Para peserta juga diperkenalkan dengan alat sederhana seperti seed dryer untuk menjaga kualitas benih selama penyimpanan. Tidak hanya pada sistem generatif, pelatihan juga membahas sistem pembibitan vegetatif serta pentingnya mengenali genotipe dan fenotipe tanaman sebagai dasar untuk seleksi dan pemuliaan benih secara lokal.
Menjelang akhir pelatihan, peserta diperkenalkan dengan konsep bank benih dan perpustakaan benih sebagai sistem komunitas dalam pengelolaan benih jangka panjang. Tak kalah penting, peserta juga diajarkan sistem pencatatan benih dan manajemen stok sebuah keterampilan yang kerap terabaikan namun sangat penting untuk memastikan kualitas dan ketersediaan benih dari musim ke musim.
Pelatihan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut oleh peserta, yang akan diaplikasikan di wilayah masing-masing. Evaluasi dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Lebih dari itu, suasana kebersamaan dan semangat gotong royong selama pelatihan menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun jaringan petani mandiri di seluruh Indonesia.
Melalui pelatihan ini, AOI dan para mitranya membuktikan bahwa membangun kedaulatan pangan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari kerja-kerja kecil dan nyata di tingkat akar rumput. Dari tangan petani yang kembali memegang kendali atas benih, kita menapaki jalan menuju masa depan pertanian yang berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan.