Harga Beras Naik, Eksportir Beras Organik Untung

Senin, 09 Maret 2015 , 01:59:00 WIB
RMOL. Mahalnya harga beras di beberapa daerah membawa berkah tersendiri bagi pelaku eksportir beras organik di Tasikmalaya. Pasalnya harga beras kualitas ekspor ini ikut terdongkrak naik sehingga bisa meningkatkan keuntungan.
Ya, sejak sebulan terakhir di beberapa daerah harga beras mengalami kenaikan hingga 30 persen. Tak dipungkiri kenaikan tersebut cukup memberatkan kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Namun dibalik kenaikan harga beras, berkah tersendiri bagi pelaku eksportir beras organik. Karena harga beras ekspor turut naik hingga 18 persen.
Seperti dirasakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik di wilayah Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya. Ekspor beras organik sejak 2009 ini harganya terdongkrak. Semula harga beras yang sudah dikemas tersebut berada dikisaran Rp 17 ribu per kilogramnya. Kini dijual dengan harga Rp 20 ribu.
Sayangnya kenaikan harga beras organik tidak diimbangi dengan pasokan gabah, karena musim panen jatuh pada akhir bulan Maret 2015,” kata salah seorang eksportir beras organic, Saiful Bahri, kepada wartawan, Minggu siang.
Selain itu, tambah Bahri, adanya peningkatan pesanan hingga 270 ton untuk dikirim ke beberapa negara Eropa maupun di Amerika, membuat para petani kewalahan.
Kini Gapoktan Simpatik akan terus melakukan sosialisasi kepada para petani, terkait cara bercocok tanam padi organik dengan baik, agar hasilnya bisa maksimal. [zul]
Sopyan Munawar
http://www.rmol.co/read/2015/03/09/194654/Harga-Beras-Naik,-Eksportir-Beras-Organik-Untung-
 

Jual Produk Organik, Pemkot Malang Dirikan Pasar Tani

TEMPO.CO, Malang – Pemerintah Kota Malang membuka Pasar Tani di Lapangan Rampal. Pasar yang dibuka setiap pekan itu menjual aneka produk pertanian, terutama hasil pertanian organik. “Ada beras, sayuran, dan buah organik,” kata Wali Kota Malang Mochamad Anton, Jumat, 6 Maret 2015. Dibuka mulai pukul 06.00 hingga 11.00, pasar itu juga menjual hasil ternak, ikan budi daya air tawar, bunga potong, dan bunga hias.
Pasar Tani diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Lantaran harga yang ditawarkan biasanya lebih mahal, petani menjual langsung ke pembeli. Mata rantai perdagangan produk pertanian dipangkas, agar petani tidak menjual melalui tengkulak.
Beragam produk pertanian yang ditawarkan diharapkan akan menarik pembeli. Apalagi Lapangan Rampal selama ini menjadi pusat kegiatan olahraga masyarakat Malang. Pasar Tani dikelola atas kerja sama antara tim penggerak PKK dan Persatuan Istri Tentara (Persit) Chandra Kirana.
Anton berharap Pasar Tani dapat meningkatkan gairah di sektor pertanian. Mengingat keterbatasan lahan pertanian menyebabkan produk pertanian di Malang rendah, Anton meminta petani mempertahankan lahan pertanian. Kebun atau sawah diharapkan tidak beralih fungsi menjadi kawasan permukiman. Selain itu, masyarakat Kota Malang bisa bertani dengan memanfaatkan pekarangan serta menggunakan sistem hidroponik. Jika sektor pertanian kuat, ucap Anton, ketahanan pangan juga kuat.
“Sulit membendung alih fungsi lahan, tak ada aturan hukumnya,” kata Kepala Dinas Pertanian Hadi Santoso. Rencana ini dituangkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Tujuannya, agar lahan pertanian tetap terjaga, tak menyusut signifikan.
Pendataan Dinas Pertanian, lahan pertanian di Malang tersisa 2.000 hektare yang tersebar di Lowokwaru, Kendangkandang, Sukun, dan Blimbing. Sedangkan Klojen tak menyisakan lahan pertanian sama sekali, karena wilayah itu merupakan pusat kota yang dipenuhi bangunan. Klojen menjadi kawasan perdagangan, industri, permukiman, dan pusat pemerintahan, termasuk pusat perbelanjaan berdiri di kawasan Klojen.
Pemerintah Kota Malang bekerja sama dengan TNI untuk melaksanakan program ketahanan pangan. Sejumlah lahan aset Pemerintah Kota Malang yang tak produktif dimanfaatkan untuk menanam aneka tanaman pangan. Menurut Anton, program itu sangat efektif, terutama saat harga beras mahal seperti sekarang. Selama empat tahun, luas lahan pertanian menyusut 250 hektare.
Lahan pertanian juga menjadi upaya untuk mempertahankan ruang terbuka hijau. Selain itu, Dinas Pertanian mendorong adanya pertanian di kawasan perkotaan. Konsepnya, setiap rumah ditanami aneka jenis tanaman produktif. Selain sebagai penghijauan, itu untuk menambah lahan pertanian.
 
EKO WIDIANTO

http://www.tempo.co/read/news/2015/03/06/090647654/Jual-Produk-Organik-Pemkot-Malang-Dirikan-Pasar-Tani

Bupati Ajak Petani Gunakan Pupuk Organik

SOREANG – Kabupaten Bandung yang berpenduduk ± 3,4 juta jiwa membutuhkan konsumsi beras per tahun sebanyak 331.615 ton atau setara dengan 519.176 ton gabah kering giling (GKG). Kebutuhan tersebut dihitung apabila seorang penduduk memerlukan konsumsi beras sebanyak 96 kilogram per tahun.
’’Setiap tahun kebutuhan konsumsi beras penduduk selalu tercukupi, bahkan kita bisa surplus. Untuk 2014 lalu, realisasi produksi padi sebesar 519.886 ton GKG. Dilihat dari data itu saja, sebenarnya Kabupaten Bandung sudah surplus padi. Bahkan 2015 kita menargetkan sebesar 353.150 ton atau naik sekitar 5 persen dari 2014,’’ungkap Bupati Bandung H Dadang Mochamad Naser, SH, M.Ip ketika membuka sosialisasi gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GP PTT) padi, jagung, kedelai di Gedung Moch Toha Soreang, kemarin (4/3).
Kegiatan yang diikuti sekitar 850 peserta tersebut, dihadiri pula Dandim 0609 Kabupaten Bandung, Letkol. Arh. Try Sugianto,S.Sos; Sekda Kabupaten Bandung Ir. H. Sofian Nata Prawira MP; Kepala Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat, DR.Nandang Sunandar; serta pihak terkait lainnya.
Di balik optimistis surplus beras, Dadang mengaku khawatir dengan tingginya alih fungsi lahan pertanian. Dan kondisi itu tidak bisa dihindari. Nah, seriring sejalan dengan jumlah produksi yang semakin menyusut, dia pun mengajak para petani padi untuk menggunakan pupuk organik. Sebab, dengan menggunakan pupuk tersebut, produktivitas padi akan meningkat, di samping harga jual relatif tinggi karena kulitas berasnya sangat bagus. ’’Negara Singapura banyak memesan beras jenis ini, pemasarannya sangat terbuka lebar.’’ kata Dadang.
Upaya lain yang telah ditempuh Pemkab Bandung untuk meningkatkan produksi padi menurutnya, dilakukan melalui perbaikan jaringan irigasi, distribusi pupuk dan bibit padi. Kemudian, pembentukan brigade pembasmian hama tanaman di setiap kelompok tani.
Dia merasa yakin, kedaulatan pangan di Inddonesia dalam tiga tahun mendatang akan segera terwujud seiring dengan dilibatkannya unsur TNI-AD di bidang pertanian. ’’Rekan rekan TNI AD, akan membantu para petani di lapangan, manakala menemui kendala yang tidak bisa terpecahkan dan memerlukan keterlibatan TNI,’’ Kata Dadang pula.
Unsur TNI-AD yang banyak terlibat di lapangan, menurut Dandim 0609 Bandung, Letkol Arh.Try Sugianto,S.Sos sebagian besar para Babinsa sebagai unsur terdepan. ’’Kami sifatnya hanya membantu, bukan mengambil alih tugas seorang penyuluh pertanian,’’ kata Try.
Sementara itu, untuk mendukung kedaulatan pangan tiga tahun mendatang, Kabupaten Bandung menurut Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Distanhutbun) Kabupaten Bandung, Ir. H. Tisna Umaran ditargetkan 2015 memproduksi padi sebesar 508.241 ton dan jagung sebesar 82.347 ton pada 2015. (mg14/rie)
_____________________________________________________________
http://bandungekspres.co.id/2015/bupati-ajak-petani-gunakan-pupuk-organik/

Petani Tak Dipaksa Beli Pupuk Organik

*KOTA MANNA*  Menanggapi komplain para petani terkait ada paksaan membeli
pupuk organik saat beli pupuk urea, dibantah keras Kepala Dinas Pertanian
(Dispertan) Kabupaten Bengkulu Selatan (BS), Ir. Wika Gatot Subroto.
“Petani tidak ada paksaan dalam membeli pupuk apa pun. Sejauh ini, kitabelum menerima laporan terkait masalah tersebut dari petani. Memang dari pemerintah sarankan kepada para petani untuk menggunakan pupuk organik,”  jelas Wika kepada *RB*, kemarin (5/1).
Meski imbauan telah dilakukan kepada para petani untuk menggunakan pupuk organik, tapi para petani berhak untuk memilih menggunakan pupuk dalam pertaniannya. “Kalau mau menggunakan organik, ya silahkan. Kalau tidak mau, juga tidak ada paksaan,” tambahnya.
Disisi lain, terkait minimnya sosialisasi penggunakan pupuk organik oleh pemerintah seperti yang dikeluhkan para petani, Wika menyebut sosialisasi sudah dilakukan pemerintah sejak jauh hari lewat penyuluh pertanian yang ada di wilayah masing-masing.
“Sudah kita lakukan sosialisasi melalui penyuluh. Kita harapkan dengan sosialisasi itu para petani sudah bisa mengetahui manfaatnya. Tapi kalau kita lakukan sosialisasi terus menerus, cost yang dikeluarkan pemerintah akan bertambah,” imbuh Wika.
Sementara itu Didi (42) salah satu pemilik kios pupuk Desa Kayu Kunyit Kecamatan Manna mengaku bahwa dia dipaksa oleh distributor untuk membeli pupuk organik apabila ingin mengambil pupuk Urea, TSP atau KCL. Karena itu dia juga meminta kepada para petani untuk membeli pupuk organik dalam
setiap pembelian pupuk kimia.
“Kalau tidak seperti itu, kami rugi. Kami juga dipaksa oleh distributor untuk membeli pupuk organik. Kalau tidak, maka pembelian kami tidak akan dilayani oleh distributor,” terang Didi.
Terkait sosialisasi, Didi mengatakan belum ada sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah tentang penggunaan dan manfaat dari pupuk organik kepada petani. “Setahu kami, yang melakukan sosialisasi hanya produsen pupuk PT Petrokimia terkait manfaat dan kegunaan pupuk organik,” katanya.*(sly)*
_____________________________________________________________
sumber:http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2015/01/06/petani-tak-dipaksa-beli-pupuk-organik/

Akibat Mahalnya Harga Pupuk, Petani Buat Pupuk Organik

KBRN, Malang :  Akibat harga pupuk semakin mahal, sejumlah kelompok tani di
wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, memproduksi sendiri pupuk organik.
“Kami merintis membuat pupuk organik pada awal tahun 2008 saat pupuk langka
dan mahal,” ungkap Ketua Kelompok Tani Rukun Makmur Desa Sempol, Kecamatan
Pagak, Kabupaten Malang, Budiono, kepada RRI, Senin,(26/1/2015)
Bahkan, awalnya pupuk organik yang diberi nama Bokasi itu hanya mampu
memproduksi 5 kuintal dalam semusim.
“Tetapi kini sudah mampu membuat pupuk organik Bokasi hingga 40 ton dalam
semusim atau sekitar tiga bulan,” terang Budiono, yang juga tergabung dalam
Jaringan Petani Pembuat Pemakai Pupuk Organik (JP4O) Jawa Timur itu.
Dijelaskannya, selama menggunakan pupuk kimia, hasil panen berkurang, sebab
biaya tersedot untuk operasional.
“Berbeda dengan menggunakan pupuk organik. Lebih irit dan harganya hanya Rp
600 per kilogram” bebernya.
Sehingga sampai sekarang pihaknya selain memproduksi juga menjadi pemakai
pupuk yang berbahan baku kotoran ternak, dan sejumlah bahan baku alami
lainnya.
“Bahan bakunya ya kotoran kambing, ayam, sapi, limbah cair tebu dan
bakteri, mas,” urainya.
Ia menambahkan, satu hektar lahan pertanian biasanya membutuhkan pupuk
kimia sebanyak 5 kuintal. Namun, dengan pupuk organik membutuhkan dua ton,
tapi harganya jauh lebih murah dibanding pupuk anorganik.
“Untungnya kita bisa. menjaga kesuburan tanah,” tegasnya.
Karenanya, Budiono mengajak masyarakat petani di kabupaten Malang untuk
tidak segan segan menggunakan pupuk kandang untuk menyelamatkan kerusakan
tanah dari kontaminasi bahan kimia. (SP/HF)

Piknik Organik ke Kampung Cijulang Bogor, Jawa Barat

Kebutuhan masyarakat akan pangan sehat saat ini semakin meningkat, namun tidak banyak masyarakat yang dapat mengakses informasi langsung dari penyedia pangan sehat tersebut. Hubungan yang terjalin antara produsen dan konsumen biasanya hanya melalui produk yang tersedia di pasar. Sayangnya, informasi yang terbatas pada label produk seringkali tidak cukup untuk menumbuhkan kepercayaan dalam diri konsumen akan produk tersebut.
Outlet Pamor sebagai sebuah wadah yang menyediakan berbagai produk organik, melihat pentingnya mempertemukan produsen produk organik dengan konsumennya sebagai upaya membuka komunikasi dua arah sehingga dapat saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Minggu (11/01/2015), Outlet Pamor dan Aliansi Organis Indonesia mewujudkan pertemuan tersebut melalui kegiatan bertajuk Piknik Organik “Temu Produsen dan Konsumen”.
Piknik Organik mengajak 15 keluarga muda mengikuti kunjungan ke Kampung Cijulang Bawah, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Bogor. Peserta yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak ini diajak mengunjungi lahan pertanian masyarakat dan merasakan pengalaman menanam serta memanen sayuran organik, seperti bayam, lobak, dan kacang merah. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai proses bertani organik dari hulu ke hilir termasuk kendala dan tantangan yang dialami para petani.
Selain praktek bertani organik, peserta diajak menonton film mengenai pertanian organik dan juga diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan proses produksi maupun produk organik. Berbagai pertanyaan menarik justru datang dari anak-anak. Rasa keingintahuan yang tinggi membuat mereka melemparkan banyak pertanyaan mengenai proses bertani, menumbuhkan tanaman sayuran, dan lain-lain. Beberapa anak juga bersemangat ingin menanam sayuran di halaman rumah mereka.
Menurut Direktur AOI, Rasdi Wangsa, kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan partisipasi konsumen dan produsen dalam kampanye pertanian organik.
“Organik tidak akan tercapai kalau hanya petani sendiri, konsumen juga harus terlibat. Kenapa anak-anak? Karena masa depan kita ini tergantung anak-anak kita”, ujar Rasdi. (guli/SNY)

Dorong Petani Gunakan Pupuk Organik, Pemprov Bagikan Kambing

Jum’at, 09 Januari 2015, 15:32 WIB
Wisnu Wage
 

(antara)

Bisnis.com, BANDUNG–Meski masih mengalokasikan pupuk kimia, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengaku pihaknya tetap mendorong penggunaan pupuk organik.
 
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan karena itu pada sejumlah wilayah, Jabar menurutnya mengalokasikan bantuan ternak kambing yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber pupuk organik.
“Lihat di Ciptagelar, di Badui, Banten, pernah enggak mereka kekurangan pangan. Padahal mereka tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida,” katanya di Bandung, Jumat (9/1/2015).
Menurutnya kesadaran penggunaan pupuk organik harus terus dibangun, karena pengenalan pupuk kimia andilnya lebih banyak oleh pemerintah.
“Karenanya sekarang mulai gunakan kembali pupuk organik atau kompos. Jadi muda-mudahan dengan pemberian ternak kambing bisa menjadi solusi masalah pupuk,” katanya.
_____________________________________________________________
Editor : Adi Ginanjar Maulana
 
http://bandung.bisnis.com/m/read/20150109/5/524645/dorong-petani-gunakan-pupuk-organik-pemprov-bagikan-kambing

Pemerintah Didorong Bantu Promosikan Produk Pertanian Organik

Miftahul Khoer – Kamis, 25 Desember 2014, 16:51 WIB
Gula kelapa organik
 
Bisnis.com, BOGOR – Aliansi Organik Indonesia meminta pemerintah membantu promosi dan pengenalan pada masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi produk pertanian organik.
 
Ketua Aliansi Organik Indonesia Wahyudi mengatakan respons masyarakat terhadap produk pertanian organik selama ini belum begitu menggembirakan.
 
“Sehingga serapan produk pertanian organik tidak hanya tersebar di kota-kota besar yang selama ini mendominasi pasar,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (25/12/2014).
 
Menurut Wahyudi, masih terbatasnya pemasaran pertanian organik membuat produk olahannya pun kurang berkembang. Padahal, kata dia, industri olahan pertanian organik memiliki potensi cukup besar.
 
Dia menjelaskan saat ini produk olahan pertanian organik sebagian besar terdapat pada komoditas rempah dan umbi-umbian. Kebanyakan olahan tersebut dijadikan makanan ringan yang dipasarkan di sejumlah pameran dan swalayan.
 
“Pemasaran produk olahannya pun harus melalui promosi yang maksimal, karena kebanyakan olahan pertanian organik diproduksi secara home industry,” paparnya.
 
Wahyudi berharap ada kebijakan khusus yang mengatur pertanian organik agar perkembangan sektor tersebut bisa menyaingi produksi seperti di beberapa negara tetangga.
 
Selama ini, kata dia, regulasi yang mengatur terkait pertanian organik masih menumpang pada kebijakan pertanian.
 
“Padahal, apabila pemerintah ingin pertanian organik berkembang, aturannya harus lebih fokus dan mandiri,” ujarnya.
 
Editor : Nurbaiti
 
http://jakarta.bisnis.com/read/20141225/383/385907/pemerintah-didorong-bantu-promosikan-produk-pertanian-organik
 

Masakan Organik Melly Manuhutu di Momen Natal

21 Dec 2014 | 09:51
Melly ingin mengurangi kimia berbahaya bagi tubuh.
Tomi Tresnady, Nanda Hadiyanti
Suara.com – Keseriusan penyanyi Melly Manuhutu menggeluti masakan sayur organik bukan cuma untuk berbisnis, ia juga terapkan di rumah. Contohnya saja ketika Natal tiba, Melly akan menyiapkan masakan yang serba organik.
“Kalau Natal pasti masak juga yang organik. Ayam rica-rica, sayuran, organik semua, berasnya pun beras merah,” kata Melly saat berbincang dengan suara.com, baru-baru ini.
Di saat hari raya di mana keluarga berkumpul, dimanfaatkan Melly untuk mengedukasi keluarganya tentang produk organik.
“Misalkan ke kakak saya, saya kasih tahu juga kalau produk organik itu bukan cuma sayur,” ujar ibu dua anak dari Kaçamelyv Prakaca, dan Qalycea Prakaca ini.
Sejak merambah bisnis sayur organik sejak 2001, Melly berhasil mengembangkan banyak produk lainnya, seperti kecap dan garam organik.
Dengan mengkonsumsi organik, perempuan berusia 39 tahun ini berharap keluarganya bisa hidup lebih sehat.
“Kita mengurangi bahan kimia yang nggak baik buat tubuh.”
http://www.suara.com/entertainment/2014/12/21/095128/masakan-organik-melly-manuhutu-di-momen-natal