Kolaborasi Beberapa Pihak dalam Sukseskan Festival Makanan Tradisional dan Pengembangan Desa Hijau 2016

Potensi sumber daya alam yang kaya di bumi Kapuas Hulu telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pendukung ketersediaan pangan. Beragam bahan baku tersebut diolah menjadi sebuah kuliner tradisional yang khas dan dapat dinikmati banyak orang sebagai wisata kuliner. Hutan yang menyediakan sumber bahan makanan bagi masyarakat di sekitar hutan yang secara turun temurun telah dikelola secara bijaksana adalah upaya masyarakat dengan kearifan tradisi untuk menjaga keanekaragaman hayati yang tersedia di alam secara berkelanjutan yang juga mendukung upaya pengembangan desa hijau.

Pagelaran budaya dalam menjaga kearifan lokal dengan menampilkan keberagaman dan identitas lokal berlangsung di perbatasan Indonesia dan Malaysia tepatnya di Desa Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu yang berlangsung meriah tanggal 9-12 Desember 2016. Peserta yang dilibatkan dari desa binaan Konsorsium Aliansi Organis Indonesia terdiri dari wakil-wakil masyarakat Desa Nanga Yen, Desa Sri Wangi, Desa Nanga Sangan, dan Desa Nanga Jemah.
Ketua Panitia Festival Makanan Tradisional dan Pengembangan Desa Hijau 2016, Indra Prasetyo mengatakan kegiatan ini sudah selaras dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan tradisional. Sedangkan program pemerintah pusat juga sudah menjadikan Kapuas Hulu sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
Festival ini merupakan kolaborasi antara lembaga pemerintah (BAPPEDA Kapuas Hulu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kapuas Hulu, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kapuas Hulu, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum, Kecamatan Batang Lupar, Lembaga Desa) dan lembaga non-pemerintah (Konsorsium Aliansi Organis Indonesia ((Aliansi Organis Indonesia, PRCF-Indonesia, Rumpun Bambu Nusantara, Yayasan Lentera Hijau, Koperasi Serba Usaha Unyap Bina Usaha, dan Koperasi Serba Usaha Sidi Easi)), Yayasan Riak Bumi, Yayasan Dian Tama, Perkumpulan Kaban, Lanting Borneo, Serakop Iban Perbatasan (SIPAT), Forina, , dan WWF-Indonesia).
Hasil dari kegiatan ini adalah: (1) Terpromosikannya produk-produk hasil inovasi desa dampingan atau penerima manfaat program kepada publik, (2) Terbangunnya jaringan dan ruang komunikasi sosial dengan para pihak lainnya untuk pengembangan dan pemasaran produk-produk dari desa dampingan, (3) Meningkatnya kesadaran dan motivasi masyarakat penerima manfaat program karena karyanya mendapat penghargaan oleh publik (DYH).
 
#latepost

Konsorsium AOI Fasilitasi Pelatihan Panen dan Pascapanen Padi Sawah Organik

Penerapan teknologi prapanen belum cukup untuk mendukung upaya pencapaian sasaran kecukupan pangan, peningkatan pendapatan petani, dan pemerataan kesempatan kerja. Upaya tersebut harus didukung oleh pengamanan produksi melalui penerapan pascapanen. Usaha penyelamatan hasil padi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dapat dilakukan antara lain dengan meningkatnya kemampuan petani untuk memanen, merawat, mengeringkan, menyimpan, dan menggiling jadi beras, serta meningkatnya mutu hasil panen maupun hasil olahan.
Teknologi pascapanen dapat mengamankan hasil panen dan mengolah hasil panen menjadi komoditas bermutu, siap dikonsumsi, dan meningkatkan daya guna hasil maupun limbah hasil olahan. Petani melaksanakan proses pengamanan produksi pada tahap paling rawan, yaitu panen (pengumpulan, perontokkan, pembersihan, dan pengangkutan), pengeringan (penjemuran, pembalikan dan pembersihan), dan pengolahan (penggilingan, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan). Upaya ini lebih banyak ditujukan untuk menyelamatkan kehilangan hasil daripada mengurangi susut maupun meningkatkan mutu karena terbatasnya kemampuan petani, baik dalam penguasaan teknologi, penyediaan sarana, maupun permodalan.
Mutu dan produksi padi sangat dipengaruhi oleh penanganan panen dan pascapanen. Penanganan panen dan pascapanen yang tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan SOP akan mengakibatkan mutu yang rendah dan kehilangan hasil, sehingga produksi berkurang.
Panen adalah suatu proses akhir dari tindakan manusia dalam hal budidaya tanaman dengan pertumbuhan tanaman yang akan terjadi perubahan secara fisiologis (rasa, kandungan bahan kimia) dan morfologis (warna, ukuran, bentuk). Proses pascapanen merupakan rangkaian masalah yang luas dan kompleks, yang tidak hanya ditentukan oleh masalah teknis tetapi juga melibatkan sosial dan ekonomi. Teknologi pascapanen tepat guna mutlak diperlukan karena berkaitan dengan jumlah dan mutu komoditas. Masalah pendayagunaan hasil dan limbah hasil panen serta hasil olahan perlu mendapatkan perhatian untuk dapat menunjang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Konsorsium AOI telah memfasilitasi pelatihan panen dan pascapanen padi sawah organik yang telah dilakukan di tanggal 16 – 17 Desember 2016 di Desa Nanga Yen, Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan hari pertama merupakan penyampaian materi mengenai panen dan pascapanen padi sawah. Pelatihan ini dihadiri oleh 63 orang (12 orang laki-laki dan 51 orang perempuan). Tujuan pelatihan untuk menyampaikan cara mengetahui karakteristik tanaman siap panen, dan sistem pasca panen serta penanggulangannya. Di sela penyampaian materi juga diselingi oleh storytelling pengalaman petani terkait panen dan penangananan pascapanen.
Hari kedua membahas mengenai mekanisme pengelolaan lumbung padi dan mendata inventaris alat pertanian khususnya mesin penggiling padi. Lumbung padi merupakan bangunan penyimpanan padi-padi yang telah dirontokkan dan sebagai sarana untuk menyimpan cadangan pangan keluarga. Mekanisme yang dibangun dalam pengelolaan lumbung padi berbeda di setiap tempat ataupun wilayah. Tetapi prinsip dari pengelolaan lumbung padi ini tidak merugikan yang surplus dan tidak memberatkan yang minus dalam perolehan padi tiap musim tanam atau tiap tahun. Pengelolaan lumbung padi dibuat sedemikian rupa agar tidak merugikan siapapun. Harapan dengan adanya lumbung padi ini akan berdampak pada kemandirian pangan dan menjadikan Desa Nanga Yen sebagai lumbung padi bagi Kapuas Hulu.
Berdasarkan survei dari 4 kelompok tani yaitu Mentelung, Topin, Tengkuyung 1, dan Tengkuyung 2, dan dari data AFL (Aproved Farmer List) yang dikumpulkan ada 2 kelompok yang bisa dipakai untuk menghitung cadangan makanan. Data pertama adalah Kelompok Topin dengan rata-rata perkiraan panen 205 kg GKP menjadi beras 103 kg dengan kebutuhan tiap tahun  sebesar 252 kg yang di hasilkan selisih hasil panen sebesar -149 kg beras/tahun. Artinya cadangan makan tiap 1 KK menunjukkan angka minus. Sumber untuk menutup kekurangan beras biasanya petani membeli beras ke tetangga dan toko dengan satuan gantang (1 gantang = 2,5 kg). Sedangkan dari Kelompok Mentelung dengan rata-rata perkiraan panen 900 kg GKP yang dapat menjadi beras 300 kg. Kebutuhan beras tiap tahun/KK sebesar 252 kg sehingga didapatkan selisih hasil panen 48 kg yang artinya surplus sebesar 48 kg. Ketika surplus, petani menyimpannya untuk cadangan makanan di tahun depan, dan ada juga diperuntukkan untuk pakan ayam dan sebagian di jual kepada tetangga.
Selain menghitung kebutuhan cadangan makanan, juga diidentifikasi inventaris peralatan yang ada di Desa Nanga Yen. Berdasarkan identifikasi tersebut terdapat 8 mesin penggiling padi, 3 mesin penggiling yang melakukan pelayanan masyarakat, dan 5 mesin penggiling lain mangkrak dikarenakan tidak ada operator. 8 buah mesin penggiling padi merupakan milik pribadi masyarakat.
Hasil dari pelatihan ini adalah (1) Meningkatnya pengetahuan dalam panen padi sawah yang baik dan penanganan pasca panennya, (2) Peserta mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan lumbung padi dalam upaya mendukung kemandirian pangan petani. (DYH)
 
#latepost

Perkembangan Kegiatan Dukungan Onfarm Dan Offarm Berupa Demplot Pupuk

Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu menetapkan Desa Nanga Yen sebagai salah satu lumbung padi kabupaten. Sebagai salah satu lumbung padi kabupaten terbilang ironi dengan data Bupati Kapuas Hulu yang menginformasikan dalam setahun kekurangan produksi sebanyak 11.000 ton/tahun. Pengembangan pengelolaan usaha pertanian berkelanjutan ini berada pada kawasan perdesaan yaitu di Desa Nanga Yen.
Secara umum, kondisi persawahan di Nanga Yen begitu luas dengan status kepemilikan anggota 4 Kelompok Tani. Pengelolaan sawah yang belum optimal dan masih terpaku pada pengalaman menyebabkan produktifitas padi dari tahun ke tahun terus menurun. Meningkatkan produktifitas perlu dilakukan perbaikan sistem intensifikasi dan  ekstensifikasi.
Dalam upaya mewujudkannya, konsorsium  Aliansi Organis Indonesia didanai MCA-Indonesia untuk melaksanakan program pertanian berkelanjutan. Beberapa rangkaian pelatihan dari  pra tanam sampai pasca tanam. Selain itu, pentingnya pengorganisasian petani dan internal control system dalam mendukung sistem pertanian organik.
Sistem pertanian organik  merupakan sistem pertanian yang lebih memanfaatan sumber daya lokal untuk memperbaiki dari kondisi lahan serta produksi. Selain itu, lebih ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan biaya produksi yang mahal.
Kegiatan yang telah berlangsung dari bulan November hingga Desember 2016 berjalan dengan baik. Lahan yang digunakan sebagai lahan demplot merupakan lahan petani Desa Nanga Yen yang berada di kelompok Tengkuyung 2 dengan luasan lahan 3000 m2. Lahan yang digunakan merupakan lahan bera ± 5 – 8 bulan yang di biarkan begitu saja sehingga tumbuh rerumputan liar. Lokasi dari lahan demplot ini satu blok dengan lahan petani Desa Nanga Yen khususnya kelompok Tengkuyung 2.
Kegiatan penanaman telah diikuti oleh 96 orang (laki-laki=46 orang, perempuan= 50 orang) yang terdiri dari Kelompok Tani, Koperasi Unyab Bina Usaha, dan MABM. Pada demplot padi sawah di Nanga Yen ini sudah menerapkan teknik System Of Rice Intensification-SRI – Organik dengan sistem tanam Jajar Legowo. System Of Rice Intensification-SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara  mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983-1984 oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Perancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana. Oleh penemunya, metododologi ini selanjutnya dalam  Bahasa Perancis dinamakan Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Dalam bahasa Inggris populer dengan nama System of Rice Intensification disingkat SRI.
Hasil akhir yang didapat, dari total luas lahan 0,3 ha yang ditanami 2 jenis padi yaitu Raja Baloi dan Raja Yen. Dalam perkembanganya terdapat 0,15 ha (50%) padi tumbuh dengan cukup baik meskipun tidak dilakukan pemeliharaan secara maksimal. Tanggal 2 April 2017 menjadi hari bersejarah bagi petani di Nanga Yen bahwa pada saat itu dapat melakukan pemanenan padi organik. Pemanenan dilakukan secara tradisional menggunakan ani-ani. Kegiatan ini telah diikuti oleh 67 peserta yang terdiri dari 30 perempuan dan 37 laki-laki. Mereka yang hadir dalam kegiatan ini, Sekretaris Desa, Fasilitator Program Pertanian Berkelanjutan, dan Koordinator Lapang. Sekretaris Desa Nanga Yen, Bapak Karnadi menilai bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal bagi Desa Nanga Yen untuk menuju kemandirian pangan, apalagi dalam praktek budidayanya menggunakan sistem pertanian organik. Ini juga menjadi langkah awal bagi kami untuk mengembangkan pertanian ramah lingkungan. Pemanenan dilakukan pada umur panen mencapai 107 hari dengan kriteria tanamaan sudah menguning, malai sudah merunduk, bulir padi sudah menguning, dan bulir padi sudah mengeras.
Hasil panen yang didapat dari varietas Raja Yen yaitu 450 kg Gabah Kering Panen dan varietas Raja Baloy 125 kg Gabah Kering Panen. Berdasarkan hasil panen tersebut dapat menghasilkan Raja Yen sebanyak 220 kg beras dan raja Baloy sebanyak 60,5 kg beras. Berdasarkan hasil panen tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil panen bagus, karena dalam 1 kg benih dapat menghasilkan 100 kg beras.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa varietas Raja Yen menghasilkan beras sebanyak 221,4 kg dan varietas Raja Baloy sebanyak 61,5 kg beras terdapat selisih antara hasil panen di lapangan dengan hasil panen varietas Raja Yen 220 kg beras dan raja Baloy 60,5 kg beras. Selisih ini terjadi karena beberapa faktor seperti; adanya gabah hampa, beras menyangkut dimesin penggilingan, dan beras tercecer. Namun, dapat disimpulkan bahwa beras yang dipanen dalam kategori baik.
Hasil panen padi disimpan dirumah koordinator lapang sebelum disimpan di lumbung padi yang akan segera dibangun. Padi yang di panen ini merupakan varietas baru di Desa Nanga Yen. Benih ini didapatkan di Kabupaten Kapuas Hulu dari seorang petani tua yang memberikan 2 jenis benih yang berbeda yang biasa disebut padi lokal. Varietas ini kemudian ditanam dan beri nama Raja Yen dan Raja Baloi. (DYH)
 
#latepost

Pelatihan Peningkatan Mutu Pengolahan Biji Tengkawang

Tengkawang merupakan salah satu komoditas hasil hutan yang sangat terkenal di Kalimantan Barat dengan biji yang dihasilkan dari pohon jenis meranti atau Shorea sp. Desa Nanga Yen memiliki pohon tengkawang yang cukup banyak di kawasan hutan. Masyarakat Nanga Yen masih memanfaatkan biji tengkawang untuk menghasilkan minyak atau lemak. Lemak dapat digunakan untuk bahan campuran cokelat, kosmetik, margarin, dan obat tradisional. Umumnya biji tengkawang dijual dalam bentuk biji yang dikeringkan, namun harga relatif murah yaitu sekitar Rp 1.500,- – Rp 3.000,-/kg. Jika masyarakat bisa memproduksinya dalam bentuk lemak, maka nilai jualnya bisa mencapai Rp 90.000,- – Rp 100.000,- /kg.
Bisnis tengkawang sudah lama dilakukan oleh masyarakat di Kalimantan Barat, namun produk yang dijual berupa biji yang dikeringkan. Hingga sekarang produk ini masih sangat laku dipasaran. Penampung utama adalah PT. Wilmar yang berkedudukan di Pontianak dan pengumpul dari Malaysia, namun harga jual cenderung menurun sehingga petani kurang antusias untuk mengumpulkan biji tengkawang dari hutan. Program Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI) akan mendukung pengembangan inovasi produk tengkawang dari biji kering ke lemak, sehingga meningkatkan nilai tambah dari barang mentah menjadi setengah jadi. Pasar dari produk ini sangat diminati oleh perusahaan kosmetik. Sudah ada permintaan dari perusahaan kosmetik PT. Marta Tilaar dan Green Indonesia. Selain untuk bahan baku kosmetik, lemak tengkawang juga dapat digunakan sebagai bahan campuran cokelat. Usaha ini akan dikelola oleh koperasi desa yang sudah ada, yaitu Koperasi Serba Usaha Unyap Bina Usaha.
Maka dari itu pentingnya peningkatan mutu pengolahan biji tengkawang menjadi utama dalam kegiatan yang dikordinir oleh Konsorsium AOI yang terdiri dari Aliansi Organis Indonesia, Lembaga Lentera Hijau (LEH), Yayasan PRCF Indonesia (People Resources and Conservation Foundation), Rumpun Bambu Nusantara (RBN), Koperasi Serba Usaha Sidi Easi (KSU Sidi Easi), dan Koperasi Serba Usaha Unyap Bina Usaha (KSU Unyap Bina Usaha).
Kegiatan pelatihan ini telah dilaksanakan tanggal 13-14 Desember 2016 di Desa Nanga Yen, Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Peserta yang hadir sebanyak 45 orang yang terdiri dari 14 laki-laki dan 31 perempuan.
Hasil dari pelatihan ini adalah: (1) Peserta pelatihan mendapatkan gambaran bahwa saat ini pemanfaatan kayu yang tidak bertanggung jawab akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan dan cara yang paling tepat adalah dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti buah tengkawang menjadi produk setengah jadi maupun barang jadi, (2) Peserta mendapatkan pengetahuan tambahan tentang pemanfaatan buah tengkawang melalui praktik pembuatan minyak anti serangga yang berbahan lemak tengkawang serta memanfaatkan sumber lemak tengkawang menjadi panganan yang sehat yaitu bolu kukus yang memanfaatkan lemak tengkawang sebagai bahan baku untuk pengganti mentega. (DYH)
 
#latepost

Konsorsium AOI Fasilitasi Pendampingan Pengelolaan Koperasi di Putussibau

Kedudukan Koperasi di Indonesia mulai mendapat perhatian lebih saat pemerintahan orde baru mengesahkan UU No.12 Tahun 1967 yaitu tentang berdirinya Departemen Koperasi. Penguatan dasar hukum koperasi terus mengalami peningkatan terlebih pada tahun 1992. Pemerintah telah mengesahkan UU No.25 Tahun 1992 tentang Koperasi. Penerbitan UU yang baru merupakan bentuk amandemen dan pengganti UU No.12 Tahun 1967. Adanya UU yang baru menempatkan kedudukan koperasi menjadi sejajar dengan PT, CV, Perusahaan Perseorangan, dan Firma yang merupakan bentuk badan usaha mandiri.
Pengertian Koperasi menurut UU No.25 Tahun 1992 yaitu koperasi adalah badan usaha yang memiliki keanggotaan, atau badan hukum koperasi dengan penerapan kegiatan koperasi harus selalu berpedoman pada prinsip-prinsip koperasi yang bertujuan sebagai penggerak ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.
Landasan struktur Koperasi di Indonesia ada 4 yaitu: 1) Landasan Idiil adalah Pancasila, 2) Landasan Konstitusional adalah Undang-Undang Dasar 1945, 3) Landasan Mental adalah sikap yang berdasarkan pada kesadaran pribadi dan kesetiakawanan, 4) Landasan Operasional adalah UU No. 25 Tahun 1992, didalamnya berisi tentang Pokok-pokok Perkoperasian, dan Anggaran Dasar (AD) Anggaran Rumah Tangga (ART) Koperasi.
Atas dasar landasan itu, Konsorsium AOI mengambil peran dalam memfasilitasi koperasi yang ada di Putussibau. Fasilitasi kegiatan kepada pendampingan kelembagaan koperasi di Putussibau telah dilaksanakan tanggal 3-4 Desember 2016.  Kegiatan ini menghadirkan pengurus dan wakil anggota dari tiga KSU penerima, yaitu KSU Bangi Betuah, KSU Sidi Easi dan KSU Unyap Bina Usaha. Peserta  hari pertama yang hadir ada 26 orang yang terdiri dari 16 laki-laki dan 10 perempuan.  Hari kedua sebanyak 23 orang yang terdiri dari 12 laki-laki dan 11 perempuan.  Dan hari ketiga sebanyak 24 orang yang terdiri dari 13 laki-laki dan 11 perempuan.
Hasil dari proses fasilitasi kegiatan adalah: 1) Tersampaikan informasi dan terdidiknya peserta tentang laporan keuangan dengan komputer, 2) Peningkatan pemahaman tentang komputer dengan pelaporan keuangan koperasi, 3) Dengan adanya kemampuan ketik masih tergolong lamban, maka fasilitator tetap akan membantu dan memantau pelaporan kegiatan dan keuangan koperasi tersebut, 4) Koperasi masih membutuhkan pelatihan keuangan lagi untuk menunjang pelaksanaan RAT tahun buku 2016. (DYH)
 
#latepost

Konsorsium AOI Fasilitasi Pemasangan Patok Batas Hutan Desa Tanjung dan Desa Sriwangi

Desa Sriwangi dan Desa Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat merupakan 2 dari 5 desa binaan Konsorsium AOI pada Program Millenium Challenge Account Indonesia (MCA-I). Program yang dimulai bulan Agustus 2016 hingga Desember 2017 yang dijalankan oleh Konsorsium AOI dengan fokus utama “Pengembangan Hutan Desa melalui Pemanfaatan HHBK dan Jasa Ekosistem secara Berkelanjutan di Kabupaten Kapuas Hulu”. Salah satu kegiatan dalam program ini adalah fasilitasi pemasangan patok batas hutan desa di Desa Tanjung dan Desa Sriwangi.

  1. Desa Tanjung

Kegiatan pemasangan patok di Desa Tanjung, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat dilaksanakan tanggal 9 – 20 Desember 2016 (12 hari). Peserta kegiatan sebanyak 8 orang laki-laki yang terdiri dari unsur pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), pemerintah desa, dan masyarakat pengelola lahan. Realisasi pemasangan patok pada periode ini ada 58 patok. Tim I memasang patok 101 – patok 127 (27 patok) dan Tim II memasang patok 70 – patok 100 (31 patok). Total ada 114 patok dipasang.
Sisa patok yang belum terpasang 20 patok, dengan rincian sebagai berikut: 1) Ada 7 patok belum terpasang, lokasinya berbatasan dengan Desa Bahenap (patok 128 – patok 134), karena belum ada kesepakatan antar dua desa maka patok batas tersebut belum di pasang. 2) Ada 5 patok belum terpasang (patok 69, 135-188), karena ada rencana pemindahan batas hutan desa. 3) Ada 8 patok belum terpasang (Patok 1– patok 8), karena masuk dalam wilayah desa tetangga/Desa Kepala Gurung), sehingga dialihkan. Kondisi topografi berbukit, hanya 5% yang landai dan sebagian besarnya lainnya berbukit terjal

  1. Desa Sriwangi

Kegiatan pemasangan patok di Desa Sriwangi, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu dilaksanakan pada tanggal 26-28 Desember 2016 (3 hari) di Desa Sri Wangi, Kecamatan Boyan Tanjung.  Kegiatan ini merupakan kegiatan monitoring yang didukung oleh Pemerintah Desa Sri Wangi, sebagai tindaklanjut dari kegiatan penataan batas sebelumnya.  Pelaksanaan patroli ini dikuti 8 orang (laki-laki) dengan melibatkan 1 orang personil dari unsur BHABINKAMTIBMAS (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyaakat) dan 1 orang personil dari BABINSA (Bintara Pembina Desa) serta 6 orang personil dari pengurus LPHD dan pemerintah desa
Informasi kegiatan ini diperoleh Berdasarkan surat pemberitahuan dari Pemerintah Desa Sri Wangi Nomor  15/LPHD-BTH/16, perihal Monitoring Kawasan Hutan Desa, tanggal 23 Desember 2016. Patroli ini dilakukan atas biaya sendiri oleh pemerintahan desa dengan dukungan dana sebesar Rp 4.000.000,- untuk mendukung konsumsi dan logistik. (DYH)
 
#latepost

Pertanian Organik jadi Opsi Tekan Angka Kebakaran Hutan dan Lahan

Aloysius – Staff Konsorsium AOI, Kalimantan Barat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAPUASHULU – Nanga Yen merupakan salah satu desa di Kabupaten Kapuas Hulu yang memiliki potensi pertanian. Pertanian yang sedang berjalan adalah pertanian dengan sistem budidaya secara organik.
Pertanian secara organik umumnya menggunakan bahan-bahan alami yang ada di sekitar alam untuk pembudidayaan sehingga interaksi antara alam sekitar, manusia, dan tanaman dapat hidup selaras dengan alam.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis sejumlah lokasi yang memiliki titik api kebakaran hutan dan lahan. Sebaran titik api terbanyak terdapat di Provinsi Kalimantan Barat. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak praktik-praktik pembukaan areal di Kalimantan Barat dengan menggunakan cara membakar untuk areal persawahan.
Sutriyono, selaku Petani Penyuluh Swadaya Banyumas Organik menuturkan ”Saat terjadi pembakaran lahan hutan, maka akan muncul banyak arang. Arang yang sebenarnya mengikat unsur hara yang ada dalam tanah namun praktik semacam ini dapat menciptakan pencemaran udara, dan rusaknya ikatan partikel tanah serta matinya mahluk mahluk mikroskopis yang berfungsi sebagi pengurai tanah”.
Tanggal 30 Juli 2016 sekitar pukul 12.15 WIB, Pelaksana proyek Millenium Challenge Account Indonesia yang difasilitasi oleh Konsorsium AOI bersama Perwakilan Millennium Challenge Corporation (MCC) Eric Streed-Millenium Challenge Acount Indonesia (MCAI) National Relationship dengan Manager Novel Abdul Ghofur, dan General Project Manager Rony Christianto dari KEHATI tiba di Desa Nanga Yen. Mereka di sambut dengan kearifan lokal masyarakat Tepung Tawar dan tarian Jepin.
Kegiatan ini merupakan monitoring dan peninjaunan terkait proyek yang dikerjakan di lapangan berupa Fasilitasi Hutan Desa, Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu Buah Tengkawang, dan Pertanian Berkelanjutan secara Organik yang bertujuan untuk melihat secara langsung perkembangan kegiatan yang telah terealisasi melalui wawancara kepada penerima manfaat secara langsung adalah masyarakat Desa Nanga Yen yang diorganisir oleh Koperasi Unyap Bina Usaha.
Wawancara yang dilakukan untuk mencari tahu sudah sejauh mana masyarakat penerima manfaat dapat menerapkan dan menggembangkan ilmu-ilmu yang telah diberikan melalui pendampingan yang tujuannya adalah bisa mengubah pola pikir masyarakat secara perlahan dalam mengelola areal pertanian dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar sebagai sumber pupuk, sumber pembuat pestisida alami dan mengembalikan kondisi tanah yang semuanya dengan cara yang organik sehingga pembukaan areal dengan cara membakar perlahan lahan dapat dihilangkan sehingga dapat mengurangi angka degradasi hutan dan deforestrasi.
Setelah Eric Streed (Amerika Serikat) memanen padi organik dia menerangkan ,“Saya sangat mengapresiasi pekerjaan teman-teman di lapangan. Saya berharap manfaat dari proyek ini dapat menyebar ke tempat-tempat lain dengan harapan semua petani dapat menerapkan pertanian organik yang sehat dan tidak mencemari lingkungan, terutama dapat menggurangi pembukaan areal pertanian dengan cara membakar, sehingga dapat menjadi salah satu opsi dalam menggurangi dampak pemanasan global.
Pertanian secara organik yang di Inisiasi Konsorsium AOI merupakan salah satu bentuk persembahan kepada alam melalui praktik-praktik budidaya tanaman mulai dari penyemaian, pemupukan, perawatan sampai pemanenan secara organik dengan tetap menjaga keselarasan dengan alam sekitar. Praktik semacam ini tentunya diharapkan dapat merubah pola pikir petani-petani yang tadinya konsumtif terhadap produk kimia dan beralih ke bahan alami yang melimpah di kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran di areal pertanian.
______________________________________________________________
Sumber: http://pontianak.tribunnews.com/2017/08/02/pertanian-organik-jadi-opsi-tekan-angka-kebakaran-hutan-dan-lahan. Rabu, 2 Agustus 2017 12:56

Konsorsium AOI Melatih Warga dalam Pemanfaatan Bambu

RIO AFIAT, STAF KONSORSIUM AOI
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Bambu jadi solusi kongkrit mereduksi pemanfaatan kayu dalam upaya penyelamatan hutan.
“Ternyata tidak hanya di televisi saja kita melihatnya. Disini kami bisa membuatnya juga”, itulah statement pertama dengan penuh semangat dilontarkan oleh laki-laki yang akrab dipanggil Uju Ahmad ketika diminta pendapat tentang program pemanfaatan bambu sebagai hasil hutan non-kayu di daerahnya.
Kemudian dia melanjutkan cerita tentang pengalamannya dalam pemanfaatan bambu yang diperolehnya beberapa bulan terakhir. Seraya memamerkan beberapa produk peralatan rumah tangga yang terbuat dari bambu hasil karya dari tangannya sendiri.
Pria yang bernama lengkap Ahmad Rahmad (62) dipercaya memimpin Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Batang Tau, Desa Sri Wangi, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.
Larut dalam cerita tentang bambu di daerahnya yang selama ini dianggap tidak ada manfaat dan hama bagi kebun masyarakat ternyata memiliki manfaat dan fungsi yang sangat luar biasa ketika kita mampu dan mau mengolahnya.
Millennium Challenge Account – Indonesia ( MCA-I ) melalui Konsorsium Aliansi Organis Indonesia (AOI) telah melakukan intervensi program “Pengembangan Hutan Desa melalui Pemanfaatan HHBK dan Jasa Ekosistem secara Berkelanjutan Untuk Mendukung Pengembangan Ekonomi Rendah Emisi melalui pemanfaatan bambu di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat”.
Program tersebut telah berjalan sejak Bulan Agustus 2016 hingga sekarang. Konsentrasi program ini berada di 5 desa yaitu Desa Sri Wangi, Desa Nanga Jemah, Desa Nanga Sangan-Kecamatan Boyan Tanjung, Desa Nanga Yen-Kecamatan Hulu Gurung, dan Desa Tanjung-Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas hulu.
Hal ini ditegaskan oleh Imanul Huda (47) selaku Manajer Program tersebut. Beliau menambahkan bahwa kondisi masyarakat pulau Kalimantan dengan ketergantungan akan kayu begitu besar dalam kehidupan sehari-hari tidak berbanding lurus dengan kondisi kayu hutan yang kian hari kian menipis.
“Maka dibutuhkannya alternatif pilihan pengganti kayu, dan bambu adalah jawabannya”, tegasnya sambil menggambarkan potensi bambu di Kalimantan Barat yang banyak dan belum tersentuh secara pengelolaannya. Inilah yang mendasari program pemanfaatan bambu ini dilakukan.
Senada dengan yang disampaikan oleh Muhammad Nur (45) Plt Kepala Desa Sri Wangi, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan antusias menyambut berjalannya program pemanfaatan bambu di Desa yang dipimpinnya. Desa Sri Wangi yang ditunjuk sebagai lokasi sentra pengolahan bambu di Kabupaten Kapuas Hulu.
Dalam waktu dekat akan didirikan industri pengelohan bambu. Industri bambu ini akan menghasilkan produk-produk olahan bambu seperti: tusuk sate, tusuk gigi, supit makanan, berbagai produk mebel, kerajinan, dan berbagai produk olahan berbahan dasar bambu lainnya yang dikelola dan dihasilkan oleh masyarakat Desa Sri Wangi dan sekitarnya. Sebanding lurus dengan semangat masyarakat dalam pelaksanaan program tersebut.
Hal ini bisa dilihat dari dimulainya penanaman bambu, perawatan rumpun bambu, dan produksi produk-produk kerajinan bambu dari hasil pendampingan konsorsium AOI. Bambu adalah solusi kongkrit untuk mereduksi pemanfaatan dan ketergantungan kayu dalam upaya penyelamatan hutan, air, dan udara demi penghidupan yang berkelanjutan.
 
_____________________________________________________________
Sumber:
http://pontianak.tribunnews.com/2017/04/28/aoi-latih-warga-manfaatkan-bambu?page=2 . Jumat, 28 April 2017 17:34

Catatan Penting dari Organic & Natural Exhibition 2017 di Bangkok

*Diadopsi dari catatan Sabastian Eliyas Saragih
28-30 Juli 2017, AOI mengirimkan delegasi untuk mengikuti kegiatan Organic & Natural Exhibition 2017 di Bangkok-Thailand. Organic & Natural Exhibition (ONE) 2017 merupakan pameran tahunan yang diselenggarakan di tahun ketujuh yang dikelola oleh Department of Internal Trade-Ministry of Commerce Thailand. Patron dari ONE adalah Thai Organic Trade Association (TOTA), sebuah asosiasi sektor swasta untuk pengembangan perdagangan produk pertanian organik di Thailand dengan salah satu motor utamanya adalah Vitoon Panyakul (Green Net). Selama dua tahun terakhir, pemerintah Thailand dan TOTA melakukan banyak pembicaraan untuk mengembangkan ONE di bawah brand  Biofach.
Secara garis besar tujuan menghadirkan pelaku pasar organik dan Asosiasi Organik Negara-Negara ASEAN tersebut adalah untuk mencoba format pameran tingkat ASEAN kepada pelaku pasar internasional untuk menyepakati institusi yang akan menjadi patron Biofach ASEAN menetapkan persyaratan-persyaratan formal antara pemerintah Thailand dan pihak Biofach.
Beberapa event berjalan secara terus menerus dan sequential dalam upaya pembentukan Biofach ASEAN antara lain: Simposium Regionalisasi Gerakan Pengembangan Pertanian Organik, Pameran, Pembentukan Advisory Board Biofach ASEAN, Pembentukan Organic ASEAN Federation (OgAFe), dan Negosiasi antara Pemerintah Thailand dan Pihak Biofach.
Pameran dibuka oleh Ratu Kerajaan Thailand dan Menteri Perdagangan Thailand. Menurut Atase Perdagangan Republik Indonesia untuk Thailand, Myamar, Laos, Vietnam, dan Kamboja, itu menandakan bahwa event ini sangat penting bagi pemerintah Thailand. Ada empat pembicara dalam symposium mewakili tiap negara yang hadir yaitu Indonesia (AOI-Sabastian Eliyas Saragih), Malaysia (IOM-Ong Kung Wai), Filipina (Girlie Sarmento-OPTA), dan Thailand (Vitoon Panyakul-TOTA).
Kesimpulan kegiatan ini, ONE akan dipromosikan menjadi salah satu Biofach, maka akan menjadi lebih energik bagi pelaku pasar internasional jika membawa serta negara-negara ASEAN sehingga menjadi Biofach ASEAN. Tujuan didirikan Biofach ASEAN, Department of Internal Trade-Ministry of Commerce Thailand dengan rujukan utama dari Thai Organic Trade Association (TOTA) mengundang pelaku pasar organik dan Asosiasi Organik dari negara-negara ASEAN berpartisipasi di ONE 2017. (DYH)

Tani Organik Merapi (TOM) Sebagai Model Percontohan Bisnis Pertanian Organik Berkelanjutan

Nurhaniah Retno Eka yang biasa disapa Nia berinisiatif untuk magang di sebuah perusahaan pertanian organik bernama CV Tani Organik Merapi (TOM) yang berlokasi di Yogyakarta selama 10 hari. Hal ini dilakukannya untuk meningkatkan kapasitas dan ketrampilan demi menunjang kegiatan Nia selama bergabung di Aliansi Organis Indonesia. Selama magang, dia menjelajahi desa di bawah lereng Merapi mulai dari off farm hingga on farm. TOM berdiri tanggal 1 September 2008 dengan visi membangun usaha tani berbasis teknologi organik dengan menyediakan produk tanaman pangan sehat untuk kemandirian bangsa dan kelestarian alam semesta. Sedangkan misi TOM adalah menjalankan dan mengembangkan usaha agribisnis secara organik, 2) Memasyarakatkan usaha agribisnis dan perdagangan umum; dan 3) Menyebarkan wawasan pertanian organik yang berkelanjutan secara utuh dan menyeluruh.Tani Organik Merapi lahir atas niat dan harapan atas konsisi alam umumnya kondisi tanah dan pertanian pada khususnya. TOM juga bertekad untuk mendukung penyelamatan lahan pertanian dengan bijak dan berkelanjutan. Saat ini TOM aktif dalam pengembangan pertanian organik berkelanjutan secara langsung. Sebelumnya TOM menggunakan skema PAMOR untuk menjamin keorganikan produknya, namun sekarang setelah dirasa TOM mampu meningkatkan skema penjaminan produknya dengan sertifikasi pihak ketiga yang diperoleh. Akhirnya TOM endapatkan sertifikat organik dari Lembaga Sertifikasi Pertanian Organik SNI : 6729-2013 No. 027/LSPO-007-IDN/1412/2016. Usaha yang dijalankan oleh TOM adalah agrobisnis dan agrowisata organik, perdagangan umum, dan jasa konsultan pertanian organik. Segmentasi pasar  adalah pasar modern, konsumen langsung, dan rumah makan. Pasar TOM ada dua yaitu B2B dan B2C yang berada di seluruh gerai superindo di Jogjakarta dan sekitarnya.Strategi pengembangan pasar yang diterapkan oleh TOM antara lain:  1) Mengikuti pameran pertanian, 2) Melakukan promosi via media sosial, blog, dan website, 3) Menjaga kualitas produk, 4) Kerjasama dengan pihak bisnis seperti supermarket, rumah makan, dan konsumen langsung, 5) Penambahan toko dengan sistem penjualan titip jual, 6) Kemasan yang menarik, 7) Adanya pengawasan produk. Manajemen budidaya yang diterapkan oleh TOM antara lain: 1) Kerjasama dengan kelompok tani atau petani lokal tahun 2017 ada 19 petani, 2) Memiliki Standar Prosedur Organik, 3) Pertemuan tiga bulanan, 4) Melakukan sertifikasi organik, 5) Pengecekan lapangan (inspeksi), 6) Mengoptimalkan penanaman, 7) TOM melakukan budidaya sayur organik. Manajemen proses pascapanen dan handling antara lain: 1) Penimbangan sayuran per petani, 2) Penimbangan setelah rompesan, 3) Menyiapkan sayuran sesuai order, 4) Menggunakan kemasan ramah lingkungan, 5) Pengiriman barang disertai PO (Purchase Order) mulai jam 04.00 sampai selesai, 6) Pengecekan sayur mulai jam 07.00 sampai selesai, 7) Mendokumentasikan fraktur (nota transaksi). Produk-produk TOM menggunakan sistem traceability untuk menjaga kepercayaan produk dari petani. Hal ini berguna dalam komplain dari konsumen sehingga bisa dilacak dari kode tiap petani. Petani yang kedapatan produk-produknya ditolak, maka akan dibina kembali. Kerugian produk bisa ditanggung oleh perusahaan dan petani, tetapi sebagian besar ditanggung oleh perusahaan. Jadi jangan khawatir jika membeli produk dari TOM, karena TOM menggunakan standar pertanian organik secara utuh.Penerapan strategi kemitraan dengan petani antara lain: 1) Sosialisasi pertanian organik, 2) Memilih petani mitra, 3) Adanya kontrak kerjasama, 4) Melakukan pelatihan organik, 5) Melakukan pertemuan 3 bulanan, 6) Inspeksi/pengecekan lapang, 7) Menentukan harga beli ke petani berdasarkan analisis usaha dan kesepakatan dengan petani, 8) Membantu petani mitra dalam pengadaan benih, sarana, dan teknologi pertanian, 9) Menjamin pasar. Strategi kemitraan dengan lembaga lain terutama lembaga pembiayaan dan partner bisnis antara lain: 1) Manajemen komplain, 2) Mengisi formulir evaluasi dari lembaga bisnis, 3) Menjalankan 2 sistem penjualan (langsung dan konsinasi), 4) Pemenuhan order, 5) TOM menentukan harga jual ke lembaga bisnis, 6) Talkshow organik dengan pihak supermarket, 7) Pendidikan kepada konsumen tentang pertanian organik melalui sales TOM, 8) Promosi dengan memberikan diskon. Atas dasar ide cemerlang Untung Wijanarko dan Sugiarto yang merupakan pendiri CV TOM, maka TOM mampu berdiri dan membantu perekonomian masyarakat lereng Merapi dengan agribisnis organik berkelanjutan. TOM juga membuka kesempatan bagi para pecinta organik atau yang mau belajar organik untuk mengikuti program magang, praktek kerja lapang, kunjungan lapang, dan outbond.  (DYH)