Rangkul NU, Bupati Anas bersinergi kembangkan daerah

Banyuwangi – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengajak kalangan Nahdlatul Ulama melalui Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk terus bersinergi mengembangkan daerah. Sinergitas tersebut digenjot dalam pemberdayaan ekonomi.
“Saat ini eranya bersinergi. Untuk itu, sinergi yang selama ini telah terbangun baik antara NU dengan Pemkab Banyuwangi harus terus dipertahankan dan ditingkatkan,” ujar Anas di Banyuwangi kepada wartawan di Kantor PCNU, Jalan Ahmad Yani, Selasa (9/1/2018).
Sinergitas tersebut, pinta Anas, digenjot dalam pemberdayaan ekonomi. Ia meminta pengurus NU di tingkat kecamatan bisa berkolaborasi dengan berbagai usaha unggulan yang telah berkembang di masing-masing kecamatan. Selain lebih efektif, hal tersebut juga lebih mudah untuk diaplikasikan.

Bupati Anas di kantor PCNU Banyuwangi
Bupati Anas di kantor PCNU Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)

“Misalnya NU Kecamatan Songgon bisa dengan peternak lele yang telah berkembang. Begitu juga dengan NU Singojuruh bisa berkolaborasi dengan petani beras organik,” saran Anas.
Lebih lanjut, Anas juga mengajak NU untuk memanfaatkan program-program pemberdayaan ekonomi yang ada di Pemkab Banyuwangi. Seperti halnya berbagai program pelatihan soft skill maupun kewirausahaan yang mencapai 400-an paket pelatihan.
Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi KH. Masykur Ali menyambut baik ajakan tersebut. “Sektor pemberdayaan ekonomi memang menjadi perhatian kerja NU. Tawaran bupati ini kami sambut dengan terbuka,” terangnya.
(iwd/iwd)
 

Ardian Fanani – detikNews

Liburan ke Banyuwangi? Jangan lupa cicipi buah naga organik

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Jika berencana menghabiskan liburan akhir tahun ke Banyuwangi, anda wajib berkunjung di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur. Pasalnya di desa yang berada di bawah kaki Gunung Raung ini menghasilkan buah naga organik yang bebas dari residu berbahaya.
Ada 40 hektar lahan pertanian di Desa Tegalarum yang ditanami buah naga secara organik oleh petani yang tergabung dalam kelompok tani Pucangsari yang terdiri dari 80-an petani.
“Sejak pertama kita menanam buah naga sudah secara organik. Tidak ada suntikan bahan kimia dan pupuk yang digunakan juga secara organik. Buah naga yang dihasilkan oleh petani desa kita sudah tersertifikasi,” kata Rukiyan, ketua kelompok tani Pucangsari kepada Kompas.com, Kamis (21/12/2017).
Ia mengatakan kelebihan dari buah naga organik adalah lebih tahan lama hingga 25 hari sedangkan buah naga yang tidak organik hanya bertahan sekitar seminggu sampai 10 hari.
“Selain itu rasa manis, teksturnya tentu berbeda dengan yang tidak organik. Yang paling penting buah ini lebih sehat,” ujarnya. Selain buah naga, desa tersebut juga mengahasilkan jambu kristal dan juga jeruk organik.
Musim panen buah naga di Desa Tegalarum untuk tahun ini dimulai bulan Desember 2018 hingga bulan Mei 2019.
Untuk sekali musim, dengan luas lahan 40 hektar, hasil panen buah naga organik kelompoknya sebanyak 1.600 ton dengan nlai ekonomis yang lebih tinggi.
“Dengan modal Rp 40 juta juta per hektar, kami bisa memperoleh Rp 560 juta setiap musimnya sekitar enam bulan,” ujarnya.
Ia menjelaskan dalam per bulan, kelompok tani Pucangsari mengirim 40 ton ke Jakarta, 15 ton ke Malang, 8 ton ke Bogor, Bali, Blitar.
“Untuk ke Singapura per bulan kita kirim 4 ton. Sebenarnya banyak permintaan tapi kita menjaga kualitas. Untuk ukurannya buah naga organik antara 4 sampai 6 ons per buah. Ada juga yang minta lebih kecil ukurannya sekitar 3 ons. Tapi kita tidak bisa penuhi,” kata Rukiyan.
Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, kepada Kompas.com menjelaskan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menyediakan outlet khusus produk organik yang diletakkan di Bandara Banyuwangi. Salah satunya adalah menyediakan buah naga organik dari Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu.

Buah naga organik di Desa Tegalsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Buah naga organik di Desa Tegalsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.(KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI)

“Buah naga organik ini bisa menjadi buah tangan atau oleh-oleh. Bisa datang langsung ke desa atau tinggal beli di bandara. Kita packing sedemian rupa agar lebih menarik, jadi nggak harus dimasukkan kresek. Nanti kalau ke Jakarta saya akan bawa buah naga ini buat oleh-oleh,” katanya.
Menurut Anas, Pemkab Banyuwangi juga memfasilitasi sekolah lapang kepada para petani buah untuk menjalankan praktik agrikultur yang baik atau good agricultural practices (SL-GAP) dan good handling practices (SL-GHP). Dengan penanganan yang baik, buah naga organik bisa terjaga kualitasnya dengan rasa buah lebih manis dan tekstur lebih renyah.
“Nilai ekonomisnya pastinya lebih tinggi dari yang tidak organik. Selisihnya bisa Rp 4.000-5.000 di tiap kilogramnya, tentu lebih mahal yang non-organik. Dan saat ini Banyuwangi adalah sentra buah naga nasional,” kata Anas.
Ia menambahkan, dengan luasnya lahan pertanian buah naga bisa menjadi alternatif kunjungan wisatawan yang datang ke Banyuwangi.
Saat ini, luas panen buah naga di Banyuwangi 2.283 hektare dengan produksi 117.709 ton.
 

Penulis : Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati
Editor : I Made Asdhiana

13 Ton beras organik asal Tasikmalaya dikirim ke Italia

TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Sebanyak 13 ton beras organik asal Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, diekspor kembali ke Italia.
“Dua hari kemarin kita sudah berhasil mengirim tiga belas ton kembali ke Italia, negara lainnya di Eropa. Sebelumnya masih berjalan di beberapa negara lainnya,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, Muhammad Zein, Selasa (21/3/2017).
Ekspor ke negara lain yang masih berjalan adalah ke Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Belanda dan Jepang.
Zein menambahkan, selama ini hampir 25 persen petani di Kabupaten Tasikmalaya telah beralih ke penanaman padi organik. Sampai sekarang pun, pengalihan tanaman padi biasa ke organik terus akan bertambah melalui program pemerintah daerah setempat.
Para petani sedang diberikan pola penanaman padi organik karena dinilai memiliki nilai jual tinggi.
“Sampai sekarang baru 25 persen petani organik yang aktif dan telah berhasil di Kabupaten Tasikmalaya. Tiap tahunnya tidak kurang dari 1.000 hektar lahan padi organik yang dibuka. Sekarang dari 25 persen sudah ada ribuan hektar sawah dengan padi organik di Tasikmalaya,” tambah Zein.
Sementara itu, Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum mengaku, sampai sekarang, pihaknya terus mengembangkan perluasan lahan sawah di wilayahnya untuk pengembangan padi organik.
Menurut dia, padi organik asal Tasikmalaya memiliki kualitas standar Internasional dengan harga yang relatif paling murah di pasaran luar negeri.
“Kalau permintaan beras organik di luar negeri ke Tasikmalaya sekarang sangat melimpah. Permintaan itu sedang kami maksimalkan dengan terus melakukan perluasan lahan sawah baru dan pengalihan penanaman padi konvensional ke padi organik,” ujarnya.
Program ini pun telah mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI. Bahkan, program padi organik Tasikmalaya pun ditargetkan bisa memenuhi stok permintaan luar negeri yang banyak selama ini.
“Program ini semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan para petani,” kata dia.
Pengalihan penanaman padi biasa ke padi organik selama ini dirasakan oleh para petani. Hasil panen padi organik memiliki keuntungan lebih karena harga jualnya lebih tinggi. Biasanya petani menjual gabah kering biasa Rp 4.000 per kilogram, sedangkan gabah kering organik bisa mencapai Rp 12.000 per kilogram.
“Sangat terasa sekali perbedaannya setelah panen padi biasa dulu dengan padi organik yang sekarang ditanam. Mudah-mudahan permintaan dari luar negeri terus bertambah. Apalagi kalau sudah jadi beras organik harganya bisa mencapai Rp 25.000 per kilogram. Kami pun terus menjaga dan meningkatkan kualitas padi tersebut,” ungkap Ketua Kelompok Tani Dusun Cantilan, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Agus Robert.
 

Penulis : Kontributor Tasikmalaya, Irwan Nugraha
Editor : Caroline Damanik
Sumber : https://goo.gl/4e7WZe

Restoran organik nan cantik di Yogyakarta

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Meski identik dengan gudeg dan bakpia, banyak tempat wisata kuliner yang bisa dikunjungi di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. KompasTravel bersama rombongan “Take Me Anywhere 2” yang berkunjung ke Yogyakarta pada 14-16 Oktober 2016 lalu menyambangi beberapa restoran yang ciamik.
Warung Bumi adalah salah satu restoran yang menjadi highlight kunjungan kami waktu itu. Restoran ini terletak di Jalan Imogiri-Mangunan Km 3, Desa Giriloyo, Wukirsari, Kabupaten Bantul. Warung Bumi menempati sebuah pendopo dengan beberapa kursi kayu panjang dan deretan kursi santai.
Terletak di atas bukit, pemandangan dari Warung Bumi sungguh memanjakan mata. Lanskap indah Mangunan, yang terkenal oleh Kebun Buah dan Hutan Pinus-nya terhampar di depan mata.

Restoran ini terletak di Jalan Imogiri-Mangunan Km 3, Desa Giriloyo, Wukirsari, Kabupaten Bantul. Warung Bumi menempati sebuah pendopo dengan beberapa kursi kayu panjang dan deretan kursi santai.(KOMPAS.COM/ARI PRASETYO)

Hal yang menjadikan restoran ini patut dikunjungi adalah bahan-bahan organik yang digunakan. Warung Bumi sendiri merupakan bagian dari Bumi Langit Institute, sebuah komunitas berbasis lokal yang memproduksi aneka panganan dan kerajinan lokal.
Bahan-bahan yang digunakan dalam tiap masakan berasal dari sekeliling restoran. Menunya beragam mulai dari Nasi Campur, Nasi Goreng Kecombrang dengan Petai dan Teri, juga aneka camilan seperti Roti Desa Panggang dan Pisang Goreng.
Nasi yang digunakan tak sembarangan. Warnanya agak kekuningan, dan bertekstur agak kasar. Ini adalah unpolished organic rice yakni nasi pecah kulit. Asupan gizi nasi jenis ini 90 persen lebih bermanfaat dibanding nasi putih biasa.
Roti yang disajikan pun tak main-main. Warung Bumi membuat sendiri roti gandum dari bahan lokal. Hasilnya, bantalan roti yang renyah di luar dan empuk di dalam. Roti disajikan dengan aneka selai homemade seperti markisa-nanas, stroberi-murbei, dan kacang.
Tiap Minggu pagi, digelar Pasar Organik yang menjajakan aneka bahan makanan organik. Meski begitu, selain hari Minggu, Anda juga bisa membeli aneka produk organik olahan lokal langsung di restoran Warung Bumi.

Anda bisa membeli aneka produk organik olahan lokal di restoran Warung Bumi.(KOMPAS.COM/ARI PRASETYO)

Untuk minuman, KompasTravel sangat merekomendasikan Kombucha. Ini merupakan fermentasi teh dengan jamur, yang mengubah gula menjadi minuman sehat. Ada pula Kefir, Mint Serai, juga Wedang Jahe dan aneka kopi.
Untuk produk lokal organik, harga makanan dan minuman di restoran ini sangat bersahabat. Nasi Campur dibanderol Rp 22.000. Nasi Goreng Kecombrang dengan Petai dan Teri dihargai Rp 25.000. Seporsi Roti Desa Panggang dibanderol Rp 20.000 lengkap dengan selai homemade yang sangat nikmat.
Untuk minuman, segelas Kombucha nan menyegarkan dihargai Rp 15.000. Segelas Kefir seharga Rp 12.000 (tawar) dan Rp 18.000 (selai buah). Aneka kopi dibanderol mulai Rp 16.000-20.000 per cangkir.

Warung Bumi membuat sendiri roti gandum dari bahan lokal. Hasilnya, bantalan roti yang renyah di luar dan empuk di dalam. Roti disajikan dengan aneka selai homemade seperti markisa-nanas, stroberi-murbei, dan kacang.(KOMPAS.COM/ARI PRASETYO)

Waktu KompasTravel berkunjung beberapa waktu lalu, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung. Salah satu turis, Paul (31) asal Kanada menyebutkan, dia sangat suka nasi organik buatan Warung Bumi.
“Saya suka rasanya. Tempatnya juga indah, benar-benar untuk hidup sehat,” tuturnya kepada KompasTravel.
Selain menikmati makanan, Anda juga bisa berkeliling kompleks Bumi Langit yang sangat indah. Rumah tradisional Jawa terletak di bagian bawahnya. Warga lokal dengan senang hati akan mempersilakan Anda masuk ke dalam rumah mereka.
 

Penulis : Sri Anindiati Nursastri
Editor : I Made Asdhiana
Sumber : https://goo.gl/aJdm2g

Wisata kampung organik, tempat asyik menikmati alam pedesaan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Menikmati sejuk serta keasrian suasana pedesaan terkadang menjadi alternatif lain untuk berekreasi. Udara pedesaan yang masih bersih dan sejuk, membuat sebagian orang memilih untuk berlibur di desa.
Salah satu tempat untuk menikmati nuansa pedesaan yang masih asri dan sejuk ialah Wisata Kampung Organik. Terletak di Dusun Bumen Desa Karangrejo, Borobudur, Jawa Tengah, Wisata Kampung Organik merupakan sebuah tempat untuk beristirahat dan berekreasi sambil menikmati keindahaan alam sekitar desa. Wisata Kampung Organik ini, dikelola oleh PGN dan juga warga sekitar Desa Karangrejo. Menurut Hani, salah seorang warga Karangrejo, tempat ini dikelola pihak PGN hanya dalam kurun waktu lima tahun, lalu selebihnya akan dikelola oleh warga sekitar. Di lokasi tersebut Anda dapat menikmati kemegahan pegunungan Menoreh yang terletak di sebelah selatan Kampung Organik tersebut.

Selain gubug-gubug yang berdiri di tempat itu, beberapa cottage dan homestay sederhana di buat untuk menginap para tamu. Cottage-cottage tersebut, dibuat artistik dengan nuansa outdoor yang sejuk. Wisata Kampoeng Organik tersebut juga menyediakan berbagai menu kuliner yang cukup lengkap. Mulai dari kopi hingga makanan khas tradisional. Hani yang juga selaku pemandu wisata di Desa Karangrejo juga membuat paket wisata di Desa Karangrejo ini.
Menggunakan mobil VW, ia memberi paket tour mulai dari borobudur, Puncak Setumbu, rafting di Sungai Elo hingga makan siang dan makan malam sambil menikmati sunset di Wisata Kampung Organik ini. Jika sore hari anda juga dapat menikmati bersepeda mengelilingi desa menggunakan sepeda ontel yang telah disediakan juga oleh Hani dan komunitasnya. “Biasanya yang menyewa sepeda ontel di sore hari yaitu wisatawan mancanegara. Mereka sangat tertarik mengelilingi desa melewati jalan di tengah-tengah persawahan, sambil memotret keadaan sekitar,” kata Hani.

Selain beberapa fasilitas wisata yang mendukung tersebut, Wisata Kampung Organik juga bisa menggelar tari-tarian tradisional jika dipesan jauh-jauh hari oleh para tamu. Wisata di Kampung Organik juga menjadi pembelajaran serta pengenalan seni dan budaya kepada para turis mancanegara. Suasana pedesaan yang masih sangat kental bisa Anda nikmati ketika Anda benar-benar mengelilingi desa Karangrejo tersebut menggunakan sepeda atau kendaraan pribadi. Para petani yang sedang memanen hasil bumi menjadi pemandangan menarik, serta menjadi potret human interest yang menarik.
Menurut Hani, saat senja hari yang cerah, panorama perbukitan Menoreh di sebelah selatan tidak tertutup kabut, membuat detail-detail di perbukitan tersebut terlihat jelas.

“Saat senja hari yang cerah, pengunjung dapat melihat, detail di sekitar perbukitan menoreh, rumah-rumah yang nampak dari kejauhan dengan kemerlip lampu dapat anda saksikan di senja hari,” ujar Hani.
Wisata Kampung Organik menjadi salah satu lokasi wisata pedesaan yang dapat menjadi alternatif rekreasi bagi para wisatawan ketika berkunjung ke Magelang. Nuansa desa yang masih sangat asri membuat setiap sudut desa tersebut layak untuk dijelajahi keindahannya. (tribunjogja.com)
 
Editor : I Made Asdhiana
Foto : (TRIBUN JOGJA/GILANG SATMAKA)
Sumber : https://goo.gl/XoWXAJ

Proses Sertifikasi Produk Pala di Sangihe [2]

Serangkaian proses sertifikasi organik mulai dari pendataan petani, penyuluhan standar organik internal, inspeksi internal, dan sampai pada proses inspeksi eksternal yang mana pada kegiatan ini akan dihasilkan beberapa rekomendasi perbaikan dan hasil dari semua implementasi organik yang telah dilakukan. Apakah implementasi yang selama ini dilakukan sudah benar dalam mempraktekan pertanian organik..
Proses demi proses telah dilakukan oleh APO KOMASA beserta 10 KT yang tersebar di Kepulauan Sangihe. Tiba saatnya untuk melakukan perbaikan hasil dari inspeksi eksternal kemarin.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
#sangiheisland
#sulut
#kepulauansangihe
@Kec.Tamako Kepl.Sangihe

TERANGI NUSANTARA : the learning event 2018

Hivos menandatangani sebuah kesepakatan kerjasama dengan Millenium Challenge Account – Indonesia (MCA-I) untuk mendukung peningkatan akses terhadap energi terbarukan melalui Proyek TERANG, yang merupakan kombinasi dari dua program kunci Hivos dalam energi terbarukan yaitu Biogas Domestik Program BIRU dan Sumba Iconic Island (SII).
Kemitraan antara Proyek MCA-I dan TERANG akan mencapai tahap akhir. Sehubungan dengan diseminasi praktik terbaik selama pelaksanaan proyek, dan berbagi pengalaman mengenai tantangan dan peluang untuk menyediakan akses terhadap energi terbarukan skala kecil untuk masyarakat di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan, Hivos akan menyelenggarakan sebuah Pembelajaran Acara bertajuk “Terangi Nusantara. Kegiatan ini diselengarakan pada tanggal 24 Januari 2018 di Upper Room – Annex Building (Pullman Hotel/Wisma Nusantara).








 

Mentan: Beras Organik Masa Depan Pertanian Indonesia

TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa beras organik akan menjadi masa depan pertanian Indonesia. Harga jualnya yang tinggi dinilai akan lebih menguntungkan petani.
“Beras organik ini harus kita kawal bersama-sama karena menguntungkan petani. Ini masa depan ekspor Indonesia untuk padi,” papar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menghadiri acara pelepasan ‘Sewindu Ekspor Beras Organik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik’ di Desa Mekarwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (1/9/2016).
Menurut dia, harga jual beras organik yang tinggi di pasar dunia dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Masa depan pertanian Indonesia pun ada di beras organik.
“Nilai jual beras organik per kilogram bisa mencapai Rp 90.000 atau enam Euro di Eropa. Artinya, bisa 15-20 kali lipat dengan harga beras biasa atau naik 1500 persen,” tutur Amran.
Lalu, berapa harga jual di petani dalam negeri? Amran mengatakan, harga jual di petani sendiri berkisar Rp 20.000/kg.
“Bila dibandingkan dengan harga jual beras biasa, angka tersebut lebih tinggi tiga kali lipat atau naik 300 persen. Ke depan harga jual di petani bisa mencapai Rp 30.000 dan itu sudah naik 600 persen,” ujar Amran.
Dalam acara tersebut, sebanyak 40 ton beras organik yang dihasilkan Gapoktan Simpatik akan diekspor ke Belgia. Pemerintah pun, lanjut Amran, akan mendukung dan mendorong ekspor beras organik.
“Kita akan mendorong ekspor beras organik dengan memperbaiki regulasi yang ada. Kita juga akan mendorong sawah baru yang dibangun tiap tahun minimal 100-200 hektare untuk pertanian organik,” ujar Amran yang juga almamater Universitas Hassanudin itu.
Selain Belgia, beras organik Indonesia sudah menembus pasar di beberapa negara, seperti Italia, Amerika, Singapura, Malaysia, dan Uni Emirat Arab (UEA). Kecenderungan negara luar menyukai produk organik memang sejalan dengan meningkatnya pasar produk tersebut.
Menurut data yang dikeluarkan Dinas Pertanian Tasikmalaya, setiap tahun pangsa pasar organik global selalu meningkat 20 persen. Pada 2013 saja nilai pasar organik global mencapai 72 miliar dollar AS.
Berdasarkan data hasil Research Institue of Organic Argiculture dan International Federation of Organik Agriculture Movements (IFOAM) tahun 2015, Amerika menjadi pasar produk organik terbesar dengan nilai mencapai 27,04 milliar dollar AS. Di posisi kedua ada Jerman dengan nilai 8,45 miliar dollar AS, Prancis 4,8 miliar dollar AS, dan China 2,67 miliar dollar AS.
 
Penulis : Mikhael Gewati
Editor : Latief
Sumber : https://goo.gl/uKo59M