BANYUWANGI,KOMPAS.com – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menargetkan sebanyak 200 hektar sawah sudah tersertifikasi organik pada tahun 2020.
Saat ini baru 45 hektar sawah dengan sertifikat organik di Banyuwangi, yang tersebar di tujuh kecamatan. Sementara, 110 hektar masih masuk kategori konversi yaitu peralihan dari sawah anorganik menjadi organik. Adapun total lahan persawahan yang ada di Banyuwangi seluas 65.457 hektar
“Peralihan dari anorganik menuju ke organik membutuhkan waktu sekitar 4 tahun. Sawah organik ini dimulai tahun 2015 di tiga kecamatan dan sekarang dikembangkan di tujuh kecamatan yaitu Singonjuruh, Sempu, Rogojampi, Glenmore, Kalibaru, Licin dan Glagah,” jelas Aris Setiawan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi kepada Kompas.com senin (10/4/2017).
Menurutnya, pada awal peralihan menuju organik, hasil panen akan menurun, biaya juga akan bertambah terutama untuk pembelian pupuk organik lebih banyak. Namun ke depannya akan semakin efisien karena ada perubahan tekstur tanah menjadi lebih baik, lebih hemat serta harga beras organik lebih mahal.
“Memang butuh proses, tidak serta merta hasilnya kelihatan bagus dan yang terpenting adalah harus berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menekankan, banyak keuntungan bagi petani jika beralih ke sawah organik. Selain biaya lebih murah, harga beras juga lebih mahal 30 persen dibandingkan harga beras biasa.
Sementara itu Mawardi, Ketua Gabungan Kelompok Tani Ketangi Santoso Desa Kelibaru Wetan Kecamatan Kalibaru menjelaskan, kelompoknya menggunakan benih padi organik Salmona yang benih dasarnya berasal dari pemerintah.
“Benihnya kami beri nama salmona, singkatan dari salam organik nasional. Sudah setahun ini kami sudah beralih ke organik dan tahun ini semoga sudah sertifikasi. Masih dalam proses,” jelasnya.
Ia mengatakan pada setangkai padi Salmona berisi sampai 400 bulir sedangkan untuk padi bibit unggul antara 200 sampai 250 bulir dan padi normal hanya 150 bulir.
“Jika menanam organik, panen pertama bisa turun hingga 20 persen dari panen sebelumnya. Biasanya satu hektar sawah yang tidak organik hasil panennya 4 sampai 6 ton dan jika organik panen awal masih turun tapi jika kondisi tanah sudah baik sekitar 4 tahun kemudian satu hektar bisa mencapai 10 ton. Kuncinya harus sabar,” pungkasnya.
Foto : Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat panen raya padi organik di Desa Kalibaruwetan Senin (10/4/2017)
Penulis Kontributor : Banyuwangi, Ira Rachmawati
Editor : M Fajar Marta
Sumber : https://goo.gl/AkoPVA
Pilih Kosmetik Natural atau Organik?
Tren kembali ke alam membuat semua produk yang memakai embel-embel alami atau tradisional laris dicari orang, termasuk kosmetik. Lantas, apakah produk kosmetik yang menggunakan bahan kimia berbahaya? Dan, tahukah Anda bahwa natural tidak sama dengan organik?
Menurut situs cosmeticinfo.org, arti kata organik dan natural dalam produk kosmetik tidaklah sama.
Natural berarti tidak ada bahan kimia yang digunakan dalam produk tersebut. Pada umumnya produk yang memiliki label natural biasanya dibuat dari bahan-bahan alami, seperti tanaman, mineral, atau rumput laut. Meski begitu, mereka tetap menggunakan bahan kimia, tentu saja dalam dosis yang aman, misalnya untuk menghasilkan busa atau meningkatkan performa kerja bahan aktif.
Sementara itu, organik berarti bahan-bahan yang digunakan dalam produk itu diambil dari tanaman yang dikembangkan secara organik, mulai dari benih hingga panen, tanpa bahan kimia. Produk organik biasanya mengklaim aman dari bahan kimia yang bisa menimbulkan efek samping, seperti reaksi alergi. Jadi secara umum, produk organik lebih ramah lingkungan,karena tanamannya dikembangkan dengan standar organik. Kalau di AS atau Eropa, standar tersebut dibuat oleh Departemen Pertanian.
Certified Organic, bila Anda menemukan produk kosmetik yang memasang label ini, berarti tanaman organik yang dipakai dalam produk ini telah mendapatkan sertifikat sah dan dikontrol ketat oleh National Organic Program, Departemen Pertanian AS. Untuk menghasilkan produk yang certified organic, paling tidak 95 persen kandungannya harus mendapat sertifikat dari lembaga tersebut.
Nah, setelah Anda mengetahui perbedaan bahan-bahan tersebut, ada beberapa hal yang perlu diketahui:
– Produk yang berbahan dasar organik mengandung 40 persen lebih banyak antioksidan, baik berat dan jumlahnya, dibandingkan dengan produk berbahan kimia.
– Faktanya, 87 persen bahan yang digunakan di kulit akan terserap sampai ke aliran darah di tubuh. Dengan menggunakan bahan natural atau alami, maka kita mengurangi paparan bahan kimia pada kulit.
– Dengan membeli produk natural dan organik, secara tidak langsung kita telah ikut peduli pada lingkungan.
– Beberapa bahan-bahan dalam produk natural bisa menimbulkan iritasi, terutama pada kulit sensitif. Misalnya saja rosemary, mint,minyak lemon, lavender, kayu manis, dan bergamot oil.
– Tanpa bahan kimia atau nonsintetik, produk natural dan organik biasanya akan lebih cepat kedaluwarsa.
Sumber : https://goo.gl/2SEvr6
Srini Maria, “Ibu Sayur Organik” dari Lereng Merapi
Memperingati Hari Perempuan Internasional setiap tanggal 8 Maret, Redaksi Kompas.com menayangkan beberapa artikel yang mengangkat kisah-kisah inspiratif perempuan dari berbagai wilayah Indonesia.
MAGELANG, KOMPAS.com – Siang itu, gerimis mengguyur sebagian kawasan lereng Gunung Merapi. Udara seketika menjadi dingin dan berkabut. Namun cuaca itu tidak membuat Srini Maria Margaretha berdiam diri di dalam rumah.
Wanita setengah baya itu masih terlihat sibuk melayani sekelompok mahasiswa yang ingin berkonsultasi terkait penelitian perkebunan organik dengannya.
“Ya begini, setiap hari banyak yang datang ke rumah saya untuk belajar bersama tentang bercocok tanam dan ternak secara organik,” tutur Srini kepada Kompas.com saat bertandang ke rumahnya, Minggu (6/3/2016).
Warga Dusun Gowok Ringin, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu memang dikenal sebagai petani wanita yang gigih mengggerakkan para petani, khususnya petani wanita, sekitar lereng merapi untuk gemar bercocok tanam.
Rumah Srini tidak begitu besar. Hanya saja memiliki pekarangan sekitar 2.500 meter persegi mengelilingi rumah. Aneka macam tanaman sayuran, seperti sawi, pokcoy, peterseli, tomat, cabai, rosemary, lettuce, buncis, hingga buah-buahan seperti jeruk, srikaya, dan bit.
Di belakang rumahnya, ada belasan kambing dan sapi ternak miliknya sendiri dan milik mitra taninya. Tampak seorang pegawai yang sedang sibuk membersihkan kandang binatang ternak itu.
“Coba cium baunya, tidak bau kotoran kambing dan sapi kan?” ujar Srini saat kami mendekat kandang kambing dan sapinya.
“Kandang jadi tidak bau kotoran karena kami pakai sistem organik, rumput atau pakan ternak difermentasi dahulu sebelum diberikan ternak. Kotoran dan air kencing juga dipisah untuk nantinya diolah lagi menjadi pupuk tanaman,” ungkapnya.
Menggunakan sistem organik, lanjut dia, memiliki banyak keuntungan. Tidak ada kotoran maupun limbah yang terbuang sia-sia. Semua bisa diolah lalu dimanfaatkan kembali. Di samping ramah lingkungan, pengelolaan ternak menjadi lebih hemat dari segi biaya dan tenaga.
“Kami tidak lagi ngarit (merumput) setiap hari karena rumput sudah difermentasi. Kami tidak lagi perlu bermacam-macam pupuk kimia yang harganya mahal. Semua pupuk kami olah dari bahan-bahan sekitar kami,” tutur dia.
Sarjana pendidikan bahasa

Belakangan Srini memang dikenal sebagai wanita yang handal dan gigih mengkampanyekan budaya bercocok tanam dan beternak organik. Dia tidak pelit ilmu sehingga para petani sekitar dan dari luar daerah kerap bertandang ke rumahnya untuk berkonsultasi.
Dari latar belakang pendidikan, sejatinya Srini bukanlah sarjana pertanian. Ia merupakan alumnus jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar Magelang.
Lulus kuliah, Srini pun menekuni profesi yang bertolak belakang dengan aktivitas bercocok tanam. Dia pernah menjadi guru TK di Kecamatan Muntilan dan guru SMA di Kota Magelang. Srini juga pernah menekuni bisnis multilevel marketing (MLM).
Kemudian saat mulai pensiun, dia beraktivitas sebagai pendamping wisata Live In untuk anak-anak kos yang tinggal di desanya. Saat itu, tanpa sengaja dia bertemu dan berkenalan dengan seorang petugas Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah. Dari perkenalannya itu, ia kenal dengan dunia pertanian.
Di dunia barunya itu, dia seolah menemukan kehidupan yang jujur. Kehidupan yang senantiasa berdampingan dengan alam dan masyarakat sekitar. Dia pun optimistis untuk menghabiskan masa pensiunnya dengan bertani dan berternak.
“Kehidupan seperti ini tidak saya temukan di dunia pekerjaan saya sebelumnya. Saya benar-benar belajar kehidupan di sini (pertanian). Karena kalau kita baik dengan alam maka alam juga memberi imbas baik kepada kita,” ungkapnya.
Pertama kali ia tertarik dengan tanaman baby buncis yang kemudian mengantarkannya menjadi eksportir baby buncis sejak pertengahan 2010 silam. Ia sempat belajar tentang pertanian di Bandung Jawa Barat.
Setiap dua hari sekali, dia mengirim puluhan kuintal sayuran ke luar Singapura, Malaysia dan berbagai negara. Dari usaha ekspor sayuran itu, dia mampu membangun rumah packing sayuran samping rumahnya.
Berbagi
Menjadi petani perempuan sukses bukan perkara mudah. Dia juga berpikir ilmu yang didapatkannya harus ditularkan kepada perempuan-perempuan sekitarnya yang saat itu menjadi petani konvensional.
Dia rajin pergi ke berbagai arisan maupun pertemuan untuk sosialisasi hingga akhirnya terkumpul 28 orang petani perempuan untuk membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Merapi Asri sampai sekarang.
Namun, baru saja merintis usaha packing sayuran bersama anggota KWT-nya, erupsi Merapi 2010 nyaris menggagalkan semuanya. Tanamannya habis, modal ludes diterjang bencana.
Dengan sisa semangat dan modal dari bantuan suami yang juga pensiunan PNS, dia bertekad memulai lagi pertaniannya.
Penulis Kontributor : Ika Fitriana, Magelang
Editor : Caroline Damanik
Sumber : https://goo.gl/ZKTPj2
Produk Organik Sumut Kesulitan Pemasaran
PEMATANG SIANTAR, MINGGU – Produk pertanian organik dari beberapa kabupaten di Sumatera Utara masih sulit dipasarkan. Bahkan karena tak bisa menembus pasar khusus, produk organik asal Sumatera Utara terpaksa dijual layaknya produk pertanian yang biasa menggunakan pupuk kimia.
Menurut petani organik di Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara, OP Purba, meski dari sejak pengolahan lahan hingga pemeliharaan tanaman dari serangan hama, petani sudah menggunakan pupuk dan pestisida organik, namun saat panen tiba, produk organik mereka ta k bisa dipasarkan secara khusus. “Sebenarnya dari hasil panen maupun kualitas produk pertanian organik kami tak kalah dengan produk pertanian yang menggunakan pupuk kimia. Tetapi itulah kelemahan kami. Kami masih belum bisa memasarkan secara khusus produk pertanian organik ini,” ujar Purba di Pematang Siantar Sabtu (12/7).
Menurut Purba, tak jarang produk pertanian organik bahkan bisa mengungguli produk pertanian yang menggunakan pupuk kimia. Purba mencontohkan, dengan pupuk organik dan perawatan menggunakan pestisida organik, dia bisa menghasilkan satu kilo gram kentang hanya dengan tiga buah. Purba dan kelompok taninya membudidayakan produk organik mulai dari sayuran hingga jeruk dan kopi.
Purba mengungkapkan, bersama anggota kelompok taninya yang berjumlah 20 orang, mereka sebenarnya sempat mendapat bantuan mesin pembuat kompos dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara. Dengan mesin seharga Rp 40 juta ini, petani bisa mengolah rumput hingga jerami padi menjadi bahan kompos. Mesin ini juga bisa mencampur kompos dengan bakteri pengurai.
Namun kata Purba, bantuan pemerintah daerah sebatas hanya membuat petani beralih tidak lagi menggunakan pupuk kimia. “Selebihnya ya kami masih tak bisa memasarkan produk organik ini secara khusus, berbeda dengan produk pertanian yang menggunakan pupuk kimia biasa,” katanya.
Menurut konsultan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Simalungun Janri P Damanik, produk pertanian organik semestinya bisa lebih mahal dibanding produk pertanian yang menggunakan pupuk kimia. “Petani organik kan membantu masyarakat agar bisa sehat dengan mengkonsumsi produk-produk bebas bahan kimia dan pes tisida. Produk yang membantu kesehatan masyarakat, harus dihargai lebih mahal dari produk pertanian biasa,” katanya.
Menurut Janri, yang bersama kelompok taninya sudah bisa memasarkan bakteri pengurai, konsumen masih belum banyak yang sadar bahwa produk pe rtanian organik membantu mereka mendapatkan kesehatan dari konsumsi makanan sehari-hari. Pemerintah kata Janri juga tak bisa berbuat banyak karena ditekan kepentingan produsen pupuk kimia besar.
Akhirnya kata Janri, produk pertanian organik baru bisa dipasarkan dalam skala dan konsumen yang sangat terbatas. “Hasil sayuran organik yang saya tanam hanya bisa dipasarkan ke tetangga-tetangga yang memang mengenal bahwa produk ini bebas dari bahan kimia,” katanya.
Untuk bisa memasarkan secara khusus, menurut Purb a, petani organik membutuhkan dampingan ahli pemasaran dan investor. Dia mengatakan, banyak petani di Sumut yang sebenarnya sudah mulai beralih menggunakan pupuk dan pestisida organik. Namun di tengah jalan mereka terhadang ancaman, tak bisa memasarkan produknya secara khusus. “Kami ini kan enggak tahu bagaimana cara mengemas produk untuk dijual di supermarket. Banyak di antara kami yang tak tahu bagaimana menembus pasar di kota-kota besar seperti Medan. Kalau sama saja dengan produk pertanian biasa, mereka selalu bilang, ngapain harus susah-susah mengolah bahan-bahan pupuk organik,” katanya.
Penulis : Khaerudin
Sumber : https://goo.gl/zsFbTP
Nih, Kopi Papua Arabika Organik Penuh Khasiat
BANDUNG, KOMPAS.com – Tanah yang subur membuat Indonesia kaya akan hasil perkebunan, terutama perkebunan dataran tinggi seperti kopi. Salah satu dataran tinggi di Indonesia ternyata memproduksi kopi arabika terbaik, rendah asam dan kafein.
Kwei Ing, salah satu penyedia kopi arabika Papua saat Organic Weekend Festival di Hotel Crowne Plaza Bandung, Sabtu (19/3/2016) mengatakan kopi arabika dari dataran tinggi Papua merupakan salah satu kopi terbaik yang dimiliki Indonesia.
(BACA: Doyan Kopi? Kunjungi 2 Warkop Legendaris di Belitung)
“Kopi arabika yang ditanam di area puncak pegunungan Jayawijaya memiliki kadar asam yang mendekati nol, dan kafein yang rendah. Karena semakin tinggi tempatnya, kopi arabika akan semakin bagus,” ujar Ing kepada KompasTravel.
Menurut Ing, kopi arabika ditanam pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, secara geografis termasuk yang tertinggi di dunia. Sehingga bebas polusi, bebas hama, dan tidak membutuhkan pupuk.
(BACA: “Kawanua Menyeduh”, Ngopi Pagi Bayar Suka-suka…)
Kopi tersebut pun diekspor ke beberapa negara Eropa bahkan Amerika, tapi masyarakat Indonesia banyak yang belum mengetahui kehebatan kopi Papua tersebut.
Menurutnya kopi organik tersebut memiliki antioksidan 10 kali dari buah lemon, dan digunakan sebagai obat beberapa penyakit di Amerika, seperti kanker payudara dan vertigo. Kafein yang didapat dari dataran tinggi papua merupakan pencegah kanker payudara terbaik.
Salah satu kopi arabika organik asal Papua tersebut ber label Hibo, kopi tersebut dipanen hingga diolah di Papua. Dia menambahkan proses tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas biji kopi yang di panen, untuk langsung diolah dan dikemas.
“Kopi arabika yang rentan terhadap hama, ditanam secara organik dan diberi perlakuan khusus agar bebas hama. Untuk menjaga kualitas, langsung di-roasted di Papua, baru dibawa keluar setelah siap,” ujar Ing.
Hibo sendiri hanya mengeluarkan dua jenis atau dua varian rasa yang berbeda sesuai dari tahapan pengolahannya. Pertama dark french yang lebih ringan dan black italian, yang memiliki cita rasa arabika lebih kuat dan lebih hitam.
KompasTravel berkesempatan mencicipi keduanya di stand kopi organik Papua tersebut, saat acara Organic Weekend Festival di Crowne Plaza Bandung. Dark french memiliki warna yang lebih tembus pandang, dibanding black italian.
Ketika diseruput, dark french memiliki rasa pahit yang sama seperti arabika pada umumnya tapi rasa asamnya lebih tipis. Sedangkan black italian, memiliki aroma dan pahit yang lebih kuat, tapi sama sekali minim rasa asamnya.
Ing menambahkan jika ampas dari kopi organik tersebut baik untuk detoksifikasi. Dengan cara diseduh ulang dengan menggunakan air pans, dan diminum tanpa campuran.
Kopi arabika organik dari Papua tersebut dapat Anda dapatkan di Natural Farm, Trans Studio Mall Bandung, dan Graha Radio Maestro, Jalan Kacapiring nomor 12, Bandung. Untuk takaran 100 gram seharga Rp 65.000 dan 200 gram seharga Rp 100.000.
Penulis : Muhammad Irzal A
Editor : I Made Asdhiana
Ilustrasi : kopi papua
Sumber : https://goo.gl/ImY3uW
Perlukah MPASI Terbuat dari Bahan Organik?
KONSULTASI GIZIDr. Ida Gunawan, MS, Sp.GK
TANYA:
Dokter apakah pola makan organik lebih baik bagi kesehatan, misalnya dalam hal nutrisinya lebih banyak. Saya saat ini sedang hamil 8 bulan dan sedang giat mempelajari pola makan yang sehat untuk anak saya kelak.
Saya ingin tahu apakah untuk makanan MPASI bayi sebaiknya makanan yang organik? Kebanyakan resep juga menyarankan pemberian ikan salmon, setahu saya harganya lumayan mahal. Mohon saran dokter untuk penggantinya dari ikan lokal. Terima kasih penjelasannya.
Aryani (26), Semarang
JAWAB:
Terima kasih kembali Aryani untuk pertanyaannya
Terlebih dahulu saya ucapkan selamat atas kehamilannya. Makanan organik merupakan makanan yang dihasilkan maupun diproses tanpa menggunakan bahan kimia baik pupuk, pestisida maupun bahan pengawetnya.
Secara kandungan gizi, makanan organik tidak banyak berbeda dibandingkan dengan makanan non organik, namun secara keamanan pangan makanan organik memiliki keuntungan yang lebih baik. Ada beberapa keuntungan makanan organik :
• Memiliki kapasitas antioksidan yang lebih baik karena tidak terjadinya interaksi negatif antara bahan kimia seperti logam berat, dll (yang terdapat dalam pupuk / pestisida) dengan mineral dan vitamin dalam makanan (terutama dalam produk susu organik maupun tomat organik), sehingga memberikan kualitas produk yang lebih baik.
• Pengurangan paparan dengan pestisida, bahan growth hormone dan GMO (Genetically Modified Organisms). Ada beberapa argumentasi yang menyatakan bahwa meningkatnya kasus autisme maupun ADHD pada anak, juga kejadian kanker karena mengkonsumsi makanan yang tercemar dengan bahan organo fospor (senyawa kimia yang banyak terdapat dalam pestisida).
• Membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jantung, karena hewan hewan yang mengkonsumsi rumput organik ternyata menghasilkan susu dan daging yang tinggi akan kandungan CLA (asam linoleat terkonjugasi) serta omega 3 yang baik untuk kesehatan jantung dan juga produk organik ini tidak diberi antibiotika terhadap virus maupun bakteri tertentu, sehingga bermanfaat juga untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
• Makanan organik memiliki rasa dan kesegaran yang lebih baik karena tidak diberikan pengawet sehingga dapat segera dikonsumsi dalam kondisi segar.
• Ikut serta dalam program pengurangan polusi terhadap lingkungan (tanah, air maupun udara) sehingga memberikan lingkungan hidup yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.
Jika melihat keuntungan dari makanan organik (tidak mengandung pestisida dan memiliki antioksidan yang lebih tinggi), maka untuk MPASI bayi boleh saja memilih makanan organik selama harga terjangkau.
Biasanya produk organik memiliki harga yang lebih mahal dibanding produk konvensional. Jika harga memang menjadi pertimbangan, silahkan saja tetap menggunakan produk konvensional (karena secara nilai gizi memang tidak berbeda bermakna), namun ibu dapat mengurangi pestisida yang menempel pada makanan dengan cara mencuci dan menyiangi makanan tersebut secara lebih teliti, misalnya dengan membuang kulit buah, dan sebagainya.
Mengenai pengganti ikan salmon, banyak sekali ikan lokal yang juga tidak kalah kandungan omega 3 nya seperti yang diunggulkan dari ikan salmon, seperti ikan teri basah, ikan tuna, ikan sarden, ikan tongkol, dan lain-lain.
Editor : Lusia Kus Anna
sumber tautan : https://goo.gl/4rkjkx
Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2016
Nama Buku: STATISTIK PERTANIAN ORGANIK INDONESIA (SPOI) 2016
Jumlah Halaman: 135 halaman
Pembaca yang budiman,
Buku Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) terbit di setiap tahunnya guna mendukung pengembangan pertanian organik yang lebih luas.
Seratus lima puluh ribu rupiah (Rp.150.000) adalah kisaran biaya produksi setiap eksemplar buku SPOI yang anda baca. Dengan dukungan donasi anda, produksi dan distribusi buku SPOI akan hadir dan berkembang.
Donasi dapat dikirimkan ke rekening :
Bank OCBC NISP 048800001819 a/n Aliansi Organis Indonesia
Salam Organik
Aliansi Organis Indonesia
Link Download :
https://goo.gl/Vigb5K
Informasi Kandungan Lemak Buah Tengkawang dan Dukungan Sarana Industri
- Pengujian Laboratorium Lemak Tengkawang
Desa Nanga Yen dan Desa Sahan merupakan dua desa dari beberapa desa yang memiliki potensi alam untuk menghasilkan komoditas buah tengkawang. Pohon tengkawang mampu tumbuh di hutan dengan baik. Dan dipastikan tengkawang yang dihasilkan dari hutan berupa tengkawang organik. Pengujian lemak tengkawang sangat penting bagi pelaku industri tengkawang.

Buah tengkawang dapat diolah menjadi bentuk lemak melalui proses ekstraksi. Lemak tengkawang ini memiliki karakteristik menyerupai lemak kakao sehingga tergolong kedalam Cocoa Butter Substitues (CBS). Selain itu, harga buah tengkawang lebih murah daripada buah kakao. Para pengusaha yang bergerak di bidang industi kosmetik dan makanan mulai melirik buah tengkawang untuk diambil lemaknya dan dijadikan bahan campuran kosmetik atau makanan. Maka dari itu, pengujian lemak buah tengkawang sangat penting bagi pelaku industri kosmetik dan makanan.
Pengujian lemak tengkawang telah dilaksanakan sepanjang bulan Maret 2017 di Laboratorium Biorefinery, Gedung Engineering Center lantai 7, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Kampus Depok. Pelaksana kegiatan ini adalah Aloysius Kahariyadi yang dibantu oleh tim peneliti konsultan pengembangan produk tengkawang yang terdiri dari Misri Gozan, Bibong Widyarti, Nurul Intan, Arif Safarianto. Penanggung jawab kegiatan ini adalah Janiarto Paradise Pawa.
Pengujian lemak tengkawang telah dilakukan dengan menggunakan dua sampel lemak, yaitu berasal dari Nanga Yen dan dari Desa Sahan, Bengkayang. Hasil pengujian atas sampel lemak tengkawang yang telah dilakukan sebagai berikut:
| Parameter | Lemak Tengkawang Bengkayang | Lemak Tengkawang Nanga Yen |
| Kandungan Asam Lemak – Jenuh – Tidak Jenuh Kandungan Logam Berat Kandungan Nutrisi – Protein – Karbohidrat – Lemak |
Tinggi Rendah – 0.15 % 99.1 % |
Tinggi Sedang Tidak Terdeteksi 0.27 % 99.5 % |
Sampel lemak tengkawang dari Bengkayang telah dilakukan analisis bahan baku kimia. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa kandungan abu (mineral/anorganik) tidak terdeteksi. Bilangan peroksida lemak tengkawang menunjukkan angka yang relatif rendah. Hal ini menjadi indikator bahwa lemak tengkawang relatif tidak mudah tengik. Sedangkan bilangan penyabunan lemak tengkawang menunjukkan angka yang relatif tinggi. Analisis kandungan logam berat pada sampel dari Bengkayang menunjukkan bahwa logam berat pada lemak tengkawang tidak terdeteksi. Umumnya hal ini berarti lemak tengkawang yang diuji bebas dari logam berat berbahaya. Begitu pula dengan kandungan lemak tengkawang Nanga Yen. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa tidak terdeteksi kandungan logam berat. Sehingga aman untuk dikonsumsi. Dan kandungan lemak yang tinggi menunjukkan bahwa buah tengkawang memang layak dijadikan bahan subtitusi kakao untuk diolah menjadi bahan campuran kosmetik atau industri makanan.
- Pengadaan Sarana Industri Tengkawang
Sarana industri tengkawang mendukung kegiatan untuk memproduksi tengkawang yang memiliki standar produksi yang lebih baik. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Desa Nanga Yen dengan melibatkan perwakilan masyarakat dan anggota Koperasi Serba Usaha Unyap Bina Usaha. Kegiatan ini adalah kelanjutan dari bulan sebelumnya. Bulan Maret 2017, pengadaan sarana usaha tengkawang masih dalam tahap penyusunan desain mesin pengolah tengkawang, dan dibuat dokumen Feasibility Study (FS) Usaha Lemak Tengkawang serta Detail Enginering Design (DED) rumah produksi tengkawang. Desain mesin akan saling menyesuaikan dengan DED rumah produksi. Dokumen FS dan DED telah dibahas di tingkat manajemen program dan selanjutnya akan dikonsultasikan ke manajemen Green Prosperity Project Millenium Challenge Account – Indonesia (MCAI).
Penanggungjawab utama kegiatan ini adalah Aloysius Kahariyadi dengan dibantu oleh Djoko Prakoso selaku konsultan program usaha tengkawang.

Harapannya, industri tengkawang kian maju dibarengi dengan budidaya tengkawang yang baik. Masyarakat sekitar dapat menerima manfaat dari kegiatan budidaya hingga pemasaran tengkawang.
Workshop Pemasaran Produk Pertanian untuk Warga Nanga Yen
Pemasaran merupakan usaha terpadu untuk menggabungkan rencana-rencana strategis yang diarahkan kepada usaha pemuas kebutuhan dan keinginan konsumen untuk memperoleh keuntungan yang diharapkan melalui proses transaksi. Kegiatan pemasaran harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen bila ingin mendapatkan tanggapan yang baik dari konsumen. Sebuah usaha harus secara penuh tanggung jawab tentang kepuasan produk yang ditawarkan tersebut. Proses pemasaran terdapat unsur penciptaan, pengkomunikasian, penyerahan kepada pelanggan, dan mengelola hubungan baik dengan pelanggan. Hal ini berarti konsep pemasaran telah berkembang menjadi suatu proses yang dilakukan perusahaan tidak hanya untuk memuaskan pelanggan, namun juga menciptakan nilai dalam benak pelanggan agar dapat mempertahankan pelanggan yang ada.

Konsep dalam pemasaran sangatlah penting untuk mencapai sukses. Konsep pemasaran sendiri dibuat berdasarkan 3 hal yaitu perencanaan yang berorientasi pada konsumen/pasar, volume produk yang akan dijual, dan seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan/koperasi/kelompok usaha harus dikoordinasikan dan diintegrasikan secara organisasi. Tujuan utama konsep pemasaran adalah melayani konsumen dengan mendapatkan sejumlah laba, atau dapat diartikan sebagai perbandingan antara penghasilan dengan biaya yang layak.

Konsorsium AOI menangkap peluang untuk memberikan sebuah pelatihan untuk membantu warga dalam melakukan praktik pemasaran produk pertanian yang memberikan keuntungan yang layak. Kegiatan workshop pemasaran produk pertanian telah diadakan tanggal 16 Februari 2017 di Balai Pertemuan Desa Nanga Yen, Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Peserta yang terlibat dalam pelatihan ini sebanyak 63 orang terdiri dari 23 orang pria dan 40 orang wanita.
Maksud dari pelatihan ini adalah untuk mendukung pemerintah daerah Kabupaten Kapuas Hulu dalam menerapkan Desa Nanga Yen sebagai salah satu lumbung padi kabupaten. Untuk mencapai hal tersebut, tentu ada beberapa tujuan yang perlu dilakukan untuk mencapai maksud tersebut. Tujuan untuk membantu peserta pelatihan dalam memahami konsep pemasaran, memahami manajemen pemasaran, memahami proses pemasaran, analisis peluang pasar, dan pemahaman akan perencanaan strategis pemasaran.
Hasil dari kegiatan antara lain: 1) Workshop pemasaran ini berupaya membuka wawasan petani untuk memasaran produk pertanian. Cara sederhana yaitu dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri dan apabila ada kelebihan untuk dipasarkan ke daerah lain. 2) Petani sebagai produsen yang fokus pada produksi produk pertanian yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur Budidaya Padi. Ketika sudah masuk pangsa pasar, petani harus mampu memproduksi produk pertanian sesuai permintaan pasar. 3) KSU Unyap Bina Usaha sebagai salah satu manajemen pemasaran diharapkan bisa menyalurkan produk dari petani. Diharapkan KSU Unyap Bina Usaha bisa membaca pangsa pasar dari skala pemasaran desa sampai pemasaran keluar desa. Perlu strategi yang mumpuni dan peka terhadap penangkapan peluang pasar. 4) Agar harga produk petani tidak turun ketika panen raya. Salah satu caranya yaitu dengan melihat kebutuhan pasar bukan keinginan petani. Selain itu, perlu menghitung analisa usahanya. Menghitung semua pengeluaran dari biaya pra tanam, panen sampai biaya transportasi ke pasar. Perhitungan ini digunakan sebagai dasar dalam penetapan harga jual petani pasar agar menguntungkan.
Kendala yang dihadapi oleh warga Desa Nanga Yen adalah pemasaran produk yang dihasilkan oleh Kelompok Tani akan dikelola melewati satu pintu penyalur yakni melalui KSU Unyap Bina Usaha. Tetapi kapasitas koperasi dalam mengelola pasar belum memadai. Solusi yang dihadapi adalah memberikan pendampingan lanjutan dan pemahaman terkait manajemen pemasaran yang akan dijalankan oleh KSU Unyap Bina Usaha (DYH).
Kolaborasi Beberapa Pihak dalam Sukseskan Festival Makanan Tradisional dan Pengembangan Desa Hijau 2016
Potensi sumber daya alam yang kaya di bumi Kapuas Hulu telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pendukung ketersediaan pangan. Beragam bahan baku tersebut diolah menjadi sebuah kuliner tradisional yang khas dan dapat dinikmati banyak orang sebagai wisata kuliner. Hutan yang menyediakan sumber bahan makanan bagi masyarakat di sekitar hutan yang secara turun temurun telah dikelola secara bijaksana adalah upaya masyarakat dengan kearifan tradisi untuk menjaga keanekaragaman hayati yang tersedia di alam secara berkelanjutan yang juga mendukung upaya pengembangan desa hijau.

Pagelaran budaya dalam menjaga kearifan lokal dengan menampilkan keberagaman dan identitas lokal berlangsung di perbatasan Indonesia dan Malaysia tepatnya di Desa Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu yang berlangsung meriah tanggal 9-12 Desember 2016. Peserta yang dilibatkan dari desa binaan Konsorsium Aliansi Organis Indonesia terdiri dari wakil-wakil masyarakat Desa Nanga Yen, Desa Sri Wangi, Desa Nanga Sangan, dan Desa Nanga Jemah.
Ketua Panitia Festival Makanan Tradisional dan Pengembangan Desa Hijau 2016, Indra Prasetyo mengatakan kegiatan ini sudah selaras dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan tradisional. Sedangkan program pemerintah pusat juga sudah menjadikan Kapuas Hulu sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
Festival ini merupakan kolaborasi antara lembaga pemerintah (BAPPEDA Kapuas Hulu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kapuas Hulu, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kapuas Hulu, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum, Kecamatan Batang Lupar, Lembaga Desa) dan lembaga non-pemerintah (Konsorsium Aliansi Organis Indonesia ((Aliansi Organis Indonesia, PRCF-Indonesia, Rumpun Bambu Nusantara, Yayasan Lentera Hijau, Koperasi Serba Usaha Unyap Bina Usaha, dan Koperasi Serba Usaha Sidi Easi)), Yayasan Riak Bumi, Yayasan Dian Tama, Perkumpulan Kaban, Lanting Borneo, Serakop Iban Perbatasan (SIPAT), Forina, , dan WWF-Indonesia).
Hasil dari kegiatan ini adalah: (1) Terpromosikannya produk-produk hasil inovasi desa dampingan atau penerima manfaat program kepada publik, (2) Terbangunnya jaringan dan ruang komunikasi sosial dengan para pihak lainnya untuk pengembangan dan pemasaran produk-produk dari desa dampingan, (3) Meningkatnya kesadaran dan motivasi masyarakat penerima manfaat program karena karyanya mendapat penghargaan oleh publik (DYH).
#latepost



