HIDUP ORGANIK

Saat ini banyak produsen yang menawarkan roduk organik, namun tidak mudah untuk mengenali seperti apa produk organik yang baik: bahkan seringkali tertiu. Tis memilih sayuran dan buah organik di buku ini bisa membantu untuk mengenali produk-produk organik yang baik dan segar. Selain itu, masih banyak tis seputar rumah tangga ramah lingkungan yang mudah diterapkan di rumah. Buku yang menarik untuk dijadikan panduan dalam bergaya hidup sehat.
Patricia Loford
Produser DAAI TV, Program Talkshow “Dunia Sehat” dan life style “House and Living”

Hubungi: Aliansi Orgnis Indonesia

Telp: +62 251 7556328

E-mail: office@organicindonesia.org

Website: www.aoi.ngo

Mozaik ICS dalam Pertanian Organik

Dapatkan Segera

Buku baru AOI:

“Mozaik ICS dalam Pertanian Organik”

Merupakan kumpulan tulisan dari petani atau pendamping petani yang telah menerapkan

ICS di kelompoknya. Mereka memaparkan pengalaman situasi di organisasi

masing-masing sebelum ICS dilaksanakan atau pengalaman tertentu yang terjadi

dalam implementasinya, masalah-masalah penting yang biasanya muncul

dalam pelaksanaan ICS atau akan muncul di luar perkiraan, proses tata cara melaksanakan

aktifitas dan pendekatan-pendekatan yang diambil dalam menjalankan

ICS sehingga berjalan lancar, serta tantangan atau kendala dalam

pelaksanaan ICS yang diakibatkan oleh jenis program, lingkungan, budaya,

latar belakang sosial, tujuan ICS, dan lain-lain.

Penulis:

Indro Surono/ Slamet/ Theresia Eko Setyowati/ Novrizal/ Tommy Mulyadi/

Thomas Irawan Sihombing/ M. Tahir/ Akhmad Arif/ Yuli S

Kami hanya mencetak 200 pieces

Tersedia juga dalam Bahasa Inggris

Berminat?

Hubungi: Aliansi Orgnis Indonesia

Telp: +62 251 7556328

E-mail: office@organicindonesia.org

Website: www.aoi.ngo

WAJIB dimiliki bagi mereka yang ingin dan akan menerapkan ICS

Outlet produk organik PAMOR Indonesia resmi dibuka

Secara resmi Outlet PAMOR Indonesia di Ruko Brajamustika No. 18 Jl. Dr. Sumeru Bogor, Jawa Barat telah dibuka pada 25 Juni 2014. Out let PAMOR ini resmi dibuka dengan acara pemotongan tumpeng dari bahan organik oleh Sudaryanto, salah seorang anggota Dewan Kehormatan Aliansi Organis Indonesia (AOI). Outlet ini siap menyediakan produk-produk organik, sehat dan ramah lingkungan untuk konsumen di Bogor dan sekitarnya.
“Adanya outlet yang menyediakan produk-produk organik dari petani ini sudah lama menjadi impian kami. Kiranya outlet ini bisa membantu petani organik memasarkan hasil panennya dan juga mempermudah konsumen mendapatkan produk organik,” papar Sudaryanto.
Melalui outlet PAMOR Indonesia ini juga diharapkan bisa memberikan pendidikan publik akan pentingnya lingkungan yang sehat dengan memproduksi dan mengonsumsi produk-produk organik. Pada akhirnyapun bisa memberi manfaat akan kesehatan masyarakat yang lebih baik.
Sementara itu, Rasdi Wangsa, Direktur Utama AOI berharap agar outlet dengan penjaminan organik komunitas PAMOR Indonesia ini bisa berkelanjutan. Keberadaan outlet yang menyediakan produk-produk organik dengan harga layak dan terjangkau konsumen ini diharapkan bisa mendukung petani organik kecil untuk melakukan produksi pertanian secara berkelanjutan juga.
Untuk mewujudkan keberlanjutan dari outlet ini diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Dalam wadah berupa outlet ini diharapkan komunitas petani, konsumen, distributor dan pemerhati organik bisa saling mendukung dan bekerjasama menghasilkan dan memasarkan produk organik.
Outlet PAMOR Indonesia menyediakan produk-produk organik dengan penjaminan berbasis komunitas PAMOR Indonesia. AOI mengembangkan PAMOR Indonesia sebagai sistem penjaminan berbasis komunitas atau partisipatif dalam pertanian organik yang melibatkan produsen sendiri dan pihak lain (pedagang, konsumen, LSM, pemerintah) dalam penilaian dan pengakuan pemenuhan standar organik sejak 2008.
Hadir dalam pembukaan outlet PAMOR Indonesia adalah komunitas ibu-ibu konsumen organik, komunitas petani organik dari Bogor, Jawa Barat dan Boyolali Jawa Tengah, anggota AOI, dan pemerhati organik. (ANP/SNY)
Outlet PAMOR Indonesia
Ruko Brajamustika No. 18 Jl. Dr. Sumeru Bogor, Jawa Barat
Telp: 0251-8333534/8330434
Buka: 08.00-16.00 WIB

Demi Sehat, Ashraf Sinclair Jadi `Mr Organic`

Reporter : Kusmiyati | Kamis, 3 Juli 2014
Menurut pengakuan sang istri, Ashraf SInclair kini lebih memilih makanan untuk dikonsumsi. Semua yang dipilih Ashraf haruslah yang organik sehingga Bunga Citra Lestari menyebutnya Mr. Organik.
Dream – Kesibukan di dunia seni peran membuat suami dari Bunga Citra Lestari ini lebih menjaga kesehatan.
“Ashraf kan sedang shooting striping jadi waktunya banyak di lokasi. Karena padatnya aktivitas dia kini lebih peduli dengan kesehatan. Semakin protectif,” kata Bunga, Kamis (3/7/2014).
Hingga kini menurut Bunga, Ayah dari Noah itu menjalani program penggantian makanan yang biasa dikonsumsi dengan serba organik.
“Ashraf jadi Mr Organic sekarang. Lebih Picky (pilih-pilih) soal makanan pokoknya semua harus organik dan kualitas yang bagus,” ujar wanita yang akrab disapa Unge ini.
Kebiasaan sang suami inilah yang membuat Bunga jadi ikut mengonsumsi makanan serba organik tersebut.
Tubuh Bunga kini mengalami penurunan berat badan, namun kondisi tersebut menurut Bunga bukan akibat makanan organik.
“Aku kurusan banget, kekurusan malah. Ini bukan karena ikut kebiasaan Ashraf sih tapi karena lagi sakit, kalau suamiku menjalani program Mr Organic itu jadi lebih fit,” ujar Bunga. (Ism)
 
Sumber:
http://www.dream.co.id/fresh/demi-sehat-ashraf-sinclair-jadi-tuan-organik-1407035.html

Kemenperin Kembangkan IKM Pupuk Organik Cair di Gorontalo

KBRN, Gorontalo : Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengembangkan industri kecil menengah (IKM) yang memproduksi pupuk organik cair di Provinsi Gorontalo dengan Kabupaten Bone Bolango sebagai lokasi proyek perintis.
“Industri kecil dan menengah (IKM) adalah industri yang paling tepat dikembangkan di Indonesia kawasan timur dan salah satunya adalah pupuk organik cair,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex W Retraubun, di Gorontalo, Rabu (25/6/2014).
Alex menambahkan pupuk organik cair ini harus berstandar agar tetap menjamin keamanan para penggunanya.
Dalam acara pencanangan desa industri mandiri dan peresmian rumah produksi pupuk organik cair (POC) Marolis itu, Bupati Bone Bolango Hamim Pou menjelaskan pupuk organik akan menjadi salah satu strategi meningkatkan produksi padi di daerahnya.
“Mayoritas penduduk di sini adalah petani,” kata dia sambil menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengembangkan kopi organik dan gula semut.
Sementara itu Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMG), Prof. Nelson Pomalingo, menjelaskan bahwa POC Marolis merupakan sinergi antara pihak perguruan tinggi, koperasi, kelompok bisnis, dan pemerintah.
“Dengan program ini, kita bisa meningkatkan produksi pertanian dan mengentaskan kemiskinan. Pupuk ini sangat organik, menggunakan kotoran hewan ternak dan bebas limbah,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, “Berdasarkan hasil uji coba UMG memberikan POC Marolis di area sawah percobaan, penggunaan pupuk ini meningkatkan efisiensi dan produktivitas.”
Dari enam ton gabah kering dari setiap hektar sawah, bisa menjadi 10 per hektar.
Biaya untuk membeli pupuk bisa ditekan hingga 20 persen jika dibandingkan dengan pupuk kimia. Durasi tanam dari 3 bulan 10 hari, bisa dipangkas menjadi 90 hari. (mon/ant/WDA)
____________________________________________________________
Sumber: http://www.rri.co.id/post/berita/87368/ekonomi/kemenperin_kembangkan_ikm_pupuk_organik_cair_di_gorontalo.html

Mahasiswa KKN PPM Memberi Dorongan Pertanian Organik

LUBUK PANDAN, SO, Senin, 07 Juli 2014 – Sebanyak 69 mahasiswa dan mahasiswi Universitas Eka Sakti (Unes) Padang melakukan kuliah kerja nyata program pemberdayaan masyarakat (KKN PPM) di Kenagarian Lubuk Pandan, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman.
Menurut Dosen Pembimbing KKN PPM Unes, Ir Syamsuwirman MP, ke-69 mahasiswa akan fokus memberi dorongan kepada masyarakat agar bertani secara organik. Dengan kata lain, mahasiswa membimbing petani para petani supaya memanfaatkan pupuk organik dan meninggalkan penggunaan pupuk kimia.
Sebelumnya, ketika menyerahkan ke-69 mahasiswa kepada Walinagari Lubuk Pandan melalui Camat 2×11 Enam LIngkung Hasan Basri S Sos, Syamsuwirman mengharapkan tokoh masyarakat setempat agar memberikan teguran jika ada mahasiswa yang berperilaku kurang sopan selama ber-KKN PPM.
“Sebaliknya, jika mahasiswa kami melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk pembangunan, sosial, ekonomi dan kemasyarakatan, kami juga mohon tokoh-tokoh masyarakat memberikan apresiasi dan dukungan,” ujar Syam yang akan menyediakan pupuk organik sebanyak 300 karung.
Sedangkan Camat 2×11 Enam LIngkung Hasan Basri S Sos meminta kepada para mahasiswa agar selama melakukan KKN mempraktekkan ilmu dan teori yang mereka peroleh selama kuliah di tengah masyarakat. Selain itu, ia juga meminta para mahasiswa dapat menyesuaikan diri di tengah masyarakat.
Kenagarian Lubuk Pandan tempat 69 mahasiswa Unes ber-KKN terdiri dari lima wilayah Korong. Yakni Balai Satu, Kiambang, Padang Bukit, Kampung Guci dan Kampung Panyalai. Para mahasiswa akan dibagi pada kelima korong itu. Masing-masing kelompok 14 orang.
_____________________________________________________________
Dilaporkan: ZT –
Sumber: http://www.sumbaronline.com/berita-19470-mahasiswa-kkn-ppm-memberi-dorongan-pertanian-organik-.html#sthash.jOkz9hIc.dpuf

Mahasiswa Universitas Brawijaya ciptakan pupuk organik multifungsi

Malang (ANTARA News), Kamis, 10 Juli 2014 12:32 WIB – Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, menciptakan pupuk organik multifungsi berbahan baku limbah perikanan atau ikan yang sudah rusak, sisa olahan ikan dan ikan tidak layak konsumsi.
Menurut Lini Murni, salah seorang anggota tim yang menciptakan pupuk multifungsi berbahan baku limbah ikan, di Malang, Kamis, banyaknya limbah perikanan yang dibuang sia-sia inilah yang mendasari inovasi yang dituangkan dalam program kreativitas mahasiswa (PKM) dengan judul “PEMIMPIN S.P.O.K”.
“PEMIMPIN S.P.O.K ini untuk mengurangi ledakan limbah perikanan melalui sistem teknologi tepat guna. Salah satu bentuk pengolahan limbah perikanannya adalah limbah perikanan untuk pupuk organik karena nutrisi dan kandungan gizinya cukup tinggi, bahkan biaya produksinya pun juga terjangkau,” kata Lini.
Tim yang menciptakan pupuk multifungsi dari limbah perikanan itu, selain Lini Murni, juga dibantu empat mahasiswa lainnya, yakni Ratna Trisnaningrum, Anis Infitharika, Khoirul Anwar, dan Rine Sri Arini.
Selain dengan bahan baku limbah perikanan dan bahan pendukung lainnya, tim tersebut menciptakan pupuk organik yang tidak hanya bisa digunakan untuk pertanian, namun juga untuk perikanan itu sendiri.
Pupuk organik ini dapat digunakan untuk budidaya ikan lele, nila, patin, kultur pakan alami atau plankton, serta masih banyak kegunaan lainnya. Sedangkan untuk pertanian dapat digunakan pada tanaman mangga, tomat, terong, sawi, cabai, dan masih banyak jenis tanaman lainnya.
Menurut Lini, pupuk ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat, sebab limbah industri pengolahan ikan dapat menjadi alternatif pupuk yang mahal, ramah lingkungan, serta dapat digunakan untuk budidaya perikanan dan budidaya pertanian. Pupuk yang diciptakan oleh Tim PEMIMPIN S.P.O.K tersebut dipatok dengan harga Rp25.000 per liter.
Menyinggung legalitas produk, Lini mengatakan saat ini tim PEMIMPIN S.P.O.K sedang melakukan pengurusan legalitas produk dengan mendaftar di Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya (LPPM UB) dan pendaftaran izin dagang pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar.
“Kami berharap upaya kami untuk melegalkan produk yang kami temukan ini segera selesai, baik di HKI maupun di Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar agar masyarakat bisa mendapatkan pupuk yang berkualitas guna memacu produktivitas tanaman pertanian maupun perikanannya,” ujarnya.
Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Fitri Supratiwi
___________________________________________________________
Sumber:
http://www.antaranews.com/berita/443436/mahasiswa-universitas-brawijaya-ciptakan-pupuk-organik-multifungsi

Kliping Berita Organik AOI

Ingin dapat info organik…..?
Dapatkan infonya dari kliping berita pertanian, produk
dan gaya hidup organik
Kliping berita dalam Bahasa Indonesia
Biaya softcopy: Rp 50.000,-
Biaya hardcopy:
@ Rp 600/hal (hitam putih); @ Rp 1100/hal (berwarna)
Berminat…..?
Hubungi :
Layanan Jasa Mandiri (LJM)
Aliansi Organis Indonesia (AOI)
CP. Arief Rifali Firman
Jl. Bangkirai Blok H No.02, Kompleks Budi Agung,
Bogor, Jawa Barat 16165 – Indonesia
Telp/Fax: +62-251-7556328
HP : +62-811-1198976

Perlu Disikapi, Alasan Menerapkan Pertanian Organik

FOKUSTANI, MATARAM, Selasa, 08 Juli 2014 – Cara paling mudah untuk menciptakan hidup sehat, dengan mulai menciptakan sistem penanaman organik. “Organik itu mudah dan murah”, alam sekeliling telah menyediakan semuanya, tinggal bagaimana memanfaatkan dan menggunakannya dengan baik.
Iwan, salah seorang pemerhati pertanian asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang sedang menularkan pengalaman suksesnya di NTB mengatakan, para petani perlu sikapi beberapa alasan kenapa harus menerapkan pertanian organik.
“Alasan menerapkan pertanian organik yaitu, ketahanan pangan mulai menghadapi banyak persoalan seperti berbagai persoalan lingkungan sudah mulai muncul”, kata Iwan kepada FokusTani, di Mataram, kemarin.
Menurut dia, sejak beberapa tahun telah terjadi kenaikan produksi yang menurun, artinya terjadi kejenuhan produktivitas (Levelling Off). Hal tersebut merupakan suatu petunjuk bahwa efisiensi pemupukan telah menurun, salah satu sebabnya adalah kurangnya perawatan dan pelestarian sumber daya tanah, sehingga kesuburannya merosot baik dari segi kimia, fisika maupun biologi tanah.
“Pendapat Harwood–1991, yang dikutip oleh Swift dan Woomer–1993, bahwa revolusi hijau telah menurunkan kualitas sumberdaya lahan akibat pemakaian pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan dan terus menerus”.
Mutu tanah pertanian ditentukan antara lain oleh kandungan bahan organik tanah seperti yang dikategorikan oleh Karama–2001, bahwa tanah dengan kategori buruk jika mengandung kurang dari 1% bahan organik, kategori kurang mengandung 1-2% bahan organik, kategori sedang mengandung 2-3% bahan organik dan kategori baik jika mengandung bahan organik 3-5%.
Tanah pertanian di Indonesia, menurut dia, dari barat sampai dengan timur mempunyai kandungan bahan organik, pH, KTK, ketersediaan hara N, P, K, Ca, Cu, Zn, S, Mo, dan Bo rendah sampai sangat rendah.
Hasil penelitian kurang lebih 65% luas sawah di Indonesia kandungan bahan organiknya kurang dari 1 %, artinya masuk dalam kategori buruk (Karama S., 2001).
Peran bahan organik pada umumnya bahan organik mengandung unsur hara makro N, P dan K rendah tetapi mengandung unsur hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Keuntungan yang diperoleh jika memanfaatkan bahan organik yaitu dapat memperbaiki kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan organik mampu mengikat air, memperbanyak ruang udara, mengikat metal berat atau racun, meningkatkan aktivitas dan manfaat mikro serta makroorganisme, memperbesar Kapasitas Tukar Kation dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik.
“Kebiasaan para petani padi sawah dalam menangani jerami padi adalah dengan cara membakarnya. Padahal, jerami padi mengandung unsur N, P, K, S, Si, Ca dan Mg. Disamping itu, keuntungan pemanfaatan jerami padi dalam budidaya padi organik adalah tersedia langsung di lahan usaha tani”.
Hasil penelitian di Cicurug Sukabumi, kata Iwan, pemberian jerami padi pada tanah sawah selama 6 musim tanam sebanyak 5 ton/ha/musim, dapat menghasilkan sekitar 7 ton gabah kering giling/ha dan efisiensi pupuk N dan P banyak sekali bahan organik di lahan sawah, seperti : Azolla,Crotalaria, Sesbania bahkan gulma pun dapat dijadikan sumber pupuk organik.
“Dalam usaha melestarikan produktivitas tanah dengan mengembalikan sisa panen dan menambah bahan organik tanah merupakan kebijakan dan tindakan utama. Bahan organik merupakan sumber utama energi untuk mikroba”, jelasnya. [GUS]
______________________________________________________________
Sumber:
http://mataramnews.com/index.php/fokus-tani/item/3913-perlu-disikapi-alasan-menerapkan-pertanian-organik.html