Merenda Asa Organik dan Fair Trade di Indonesia

Jangan Terlewatkan
Buku baru AOI:
“Merenda Asa Organik dan Fair Trade di Indonesia”
Buku ini mengisahkan tentang pengalaman petani organik dalam mendapatkan produk berkualitas dengan harga yang layak di Indonesia. Kisah ini bisa memberi inspirasi seputar pengembangan organik dan perdagangan adil (fair trade) di Indonesia.
Penulis:
Sabastian E. Saragih/YP Sudaryanto/Imam Hidayat/Gandi Bayu/Agung Alit
Kami hanya mencetak 100 pieces
Berminat?

Hubungi: Aliansi Orgnis Indonesia

Telp: +62 251 7556328

E-mail: office@organicindonesia.org

Website: www.aoi.ngo

Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2012

Nama Buku: STATISTIK PERTANIAN ORGANIK INDONESIA 2012
Jumlah Halaman:
70 hal + xiv
Harga: @ Rp.
100.000 (belum termasuk ongkos kirim)
DAFTAR ISI :

PENGANTAR//UCAPAN TERIMA KASIH//DAFTAR ISI//DAFTAR TABEL & GAMBAR//DAFTAR ISTILAH//TENTANG ALIANSI ORGANIS INDONESIA//PENDAHULUAN: A.Tinjauan Umum, B.Metodologi//STATISTIK PERTANIAN ORGANIK INDONESIA 2011: Luas Area, Produk, Pelaku//PERKEMBANGAN PASAR ORGANIK– STUDI KASUS KOTA BESAR DI INDONESIA:

  1. Pasar Mainstream, 2. Pasar Khusus  //TREN PERTANIAN ORGANIK INDONESIA TAHUN 2012//

PUSTAKA//LAMPIRAN
 
Info selengkapnya: http://biomart.onigi.com/

Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2013

check this out….
 
Nama Buku: STATISTIK PERTANIAN ORGANIK INDONESIA 2012
Jumlah Halaman:
70 hal + xiv
Harga: @ Rp.
100.000 (belum termasuk ongkos kirim)
DAFTAR ISI :

PENGANTAR//UCAPAN TERIMA KASIH//DAFTAR ISI//DAFTAR TABEL& GAMBAR//DAFTAR ISTILAH//TENTANG ALIANSI ORGANIS INDONESIA//PENDAHULUAN: A.Tinjauan Umum, B.Metodologi//STATISTIK PERTANIAN ORGANIK INDONESIA 2011: Luas Area, Produk, Pelaku//PERKEMBANGAN PASAR ORGANIK– STUDI KASUS KOTA BESAR DI INDONESIA:

  1. Pasar Mainstream, 2. Pasar Khusus  //TREN PERTANIAN ORGANIK INDONESIA TAHUN 2012//

PUSTAKA//LAMPIRAN
Berminat?

Hubungi: Aliansi Orgnis Indonesia

Telp: +62 251 7556328

E-mail: office@organicindonesia.org

Website: www.aoi.ngo

Sayur Organik dari Halaman Rumah

03:51 WIB | Selasa, 08 Juli 2014 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Julianto
Pangan organik kini menjadi satu kebutuhan masyarakat yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Keinginan untuk hidup lebih sehat membuat masyarakat kembali memilih produk alami alias organik.
Begitu juga lahirnya KWT (Kelompok Wanita Tani) Vigur Organik. Sempat merasakan sakit yang sulit sembuh, akhirnya Titiek Widayati pendiri KWT Vigur Asri mengembangkan produk pertanian organik.
Bahkan nama KWTnya pun berganti menjadi Vigur Organik pada tahun 2010. Upaya keras Titiek akhirnya membuahkan hasil. Sebab pada tahun 2011, produk yang dia hasilkan mendapatkan sertifikasi organik dari LeSOS (Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman) untuk tanaman sayuran dan produk olahan.
“Awalnya ibu Titiek menanam tanaman organik hanya untuk kebutuhan pribadi,” kata Wakil Ketua Vigur Organik, Malang, Diyah Rahmawati kepada Sinar Tani saat menunggu stand Vigur Organik yang berada di Pasar Tani depan pintu utama Stadion Kanjuruhan.
Menurut Diyah, KWT Vigur Organik fokus dalam pengembangan sayuran yang bisa ditanam di halaman rumah. Jika awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, maka pada perkembangannya diperluas ke sekitar wilayah tempat tinggal. “Sebagai istri dari Ketua RT, ibu Titiek dengan mudah mengajak kalangan ibu rumah tangga,” katanya.
Diyah bercerita, memang pada awal pengembangan terbatas pada kalangan ibu rumah tangga yang mempunyai pendidikan tinggi. Namun kemudian ibu Titiek melihat bahwa ada kalangan ibu rumah tangga yang berpendidikan rendah juga perlu mendapat pengetahuan mengenai pangan organik.
Secara sosial ternyata mengajak kalangan ibu rumah tangga yang berpenghasilan rendah sangat membantu. Bukan hanya meningkatkan ketahanan pangan, tapi dapat menambah pendapatan rumah tangga.
“Jadi dengan lahan yang terbatas bisa menghasilkan produk yang berkualitas. Pada akhirnya secara sosial bisa meningkatkan pendapatan rumah tangga,” katanya.
Saat ini anggota KWT Vigur Organik beranggotakan 18 orang. Dengan luas lahan pengelolaan sekitar 6 ribu meter.  “Semua produk yang dihasilkan kita selalu awasi. Apalagi kita sudah mendapatkan sertifikasi organik,” ujar dia. Pengawasan produk sayuran segar dilakukan oleh internal control system (ICS).  Standar mutunya pengacu pada SNI.
Dari 100 produk sayuran segar yang pernah dikembangkan, KWT Vigur Organik kini hanya fokus pada 10 produk sayuran segar. Yakni, kangkung, caisim, pokcoy, sawi pahit, sawi wangi, kailan, bayam hijau, bayam sembur, bayam merah dan bayam Jepang. Pasar produk sayuran masih sekitar malang dan wilayah Jawa Timur lainnya. Pemasarannya, selain melalui supermarket, juga direct seller.
Produk Olahan
Berhasil mengembangkan tanaman sayuran organik, KWT Vigur Organik melebarkan sayap produknya yakni membuat pangan olahan. Beberapa produk olahan tersebut yakni, kecap manis, kecap autis, beras merah organik, sereal beras hitam dan beberapa produk lainnya. “Ke depan kami tengah mengkaji membuat produk sayuran kering,” katanya.
Keinginan mengembangkan sayuran kering ini karena selama ini terjadi kendala saat mengirim produk segar ke luar Jawa Timur atau luar Jawa. Pihaknya pernah mengirim produk segar melalui travel, ternyata terjadi penurunan mutu. Produk sayuran kering yang tengah dikaji adalah bayam kering. “Kami berupaya menyiasati agar harga produk sayuran kering tersebut lebih terjangkau harganya,” kata dia. Yul
Sumber:
http://tabloidsinartani.com/content/read/sayur-organik-dari-halaman-rumah/

Menteri PDT Apresiasi Gerakan Pertanian Organik di Bondowoso

11 Juli 2014; Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Helmi Faishal Zaini, mengapresiasi gerakan pertanian organik di Bondowoso. Ia mengungkapkannya saat berkunjung ke kelompok tani Karya Tani 2 di Desa Karangmelok, Kecamatan Tamanan.
Menteri PDT mengharapkan gerakan pertanian organik ini terus dilakukan dengan berbagai terobosan agar dapat menjadi sebuah gerakan yang bisa mendorong sekaligus mengangkat perekonomian Bondowoso.
Dalam kesempatan itu, Helmy didampingi Bupati Bondowoso Drs. H. Amin Said Husni mengelilingi beberapa unit pengelolaan pertanian milik Buharto, salah satu pengelola pertanian organik yang sukses di Bondowoso.
Menteri PDT memuji konsep yang telah dilakukan sekaligus dikembangkan kelompok Karya Tani 2. “Saya bangga atas pengembangan konsep pertanian terpadu oleh kelompok Karya Tani 2. Dengan konsep ini, saya yakin bisa memberikan sumbangsih besar untuk memajukan pertanian di Bondowoso,” katanya.
Sedangkan konsep pertanian terpadu adalah metode pertanian yang diterapkan mulai dari hulu ke hilir. Contohnya, kotoran hewan ternak bisa dijadikan pupuk. Sedangkan limbah pertanian bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.
Untuk Pemerintah Kabupaten, Helmy berharap agar terus memberikan support kepada kelompok-kelompok agar bisa terus berkembang lebih baik. Sedangkan, pihak Kementerian PDT pada tahun-tahun mendatang, akan menambah program-program untuk Bondowoso.
Dengan harapan, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Sementara Bupati Bondowoso menyampaikan Pemerintah Kabupaten akan terus memberikan support, karena pertanian organik memang menjadi salah satu fokus pengembangan. “Semua kita lakukan agar masyarakat Bondowoso menjadi masyarakat yang Berdaya,” tutur Bupati.(humas dan pde)
____________________________________________________________
Sumber: http://bondowosokab.go.id/menteri-pdt-apresiasi-gerakan-pertanian-organik-di-bondowoso-2.html

Batu Bentuk Klaster Pertanian Organik, Ini Tujuannya

Senin, 11 Agustus 2014, 16:26 WIB
Bisnis.com, BATU — Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, melalui dinas pertanian dan kehutanan setempat akan membentuk klaster guna memudahkan pembudidayaaan serta mengawasi perkembangan program pertanian organik di wilayahnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, Arif As Sidiq, mengatakan klaster khusus tersebut meliputi pertanian organik pangan, budi daya pangan, budi daya tanaman holtikultura seperti apel jeruk dan buah lainnya, serta sayur.
“Selain itu juga ada pertanian organik yang diorientasikan pada pekarangan-pekarangan milik warga,” kata Arif, Senin (11/8/2014).
Menurutnya hingga akhir 2014 dinas pertanian akan membentuk percontohan organik yang bisa diadopsi di rumah warga agar menjadi inspiratif bagi masyarakat untuk bertani organik.
Dalam hal ini pihaknya akan melibatkan seluruh komponen masyarakat mulai petani, masyarakat yang menjadi konsumen hasil pertanian, organisasi massa seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) serta pengurus Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk mendukung petani agar lebih mengingkatkan mutu dan kualitas produk pangannya.
“Selain klaster, kami juga akan memberikan insentif kepada petani, serta melakukan sosialisasi terkait program tersebut,” jelas dia.
Insentif tersebut berupa pupuk organik, obat-obatan organik, serta penghargaan khusus bagi petani organik yang berhasil mengingkatkan mutu dan kualitasnya dengan memberikan bantuan permodalan kepada mereka.
Asisten I Sekretaris Kota Batu, Siswanto, sebelumnya mengatakan saat ini terdapat sekitar 30 hektare lahan pertanian organik di Batu yang tersebar di tiga kecamatan yakni Bumiaji, Batu, dan Junrejo dengan luas masing-masing 10 hektare.
“Sedangkan lima hektare lainnya berada di desa Penden kecamatan Junrejo yang merupakan kawasan tambahan untuk pertanian organik khusus padi,” ujarnya.
Kendati petani disejumlah wilayah telah menerapkan pertanian organik pada tanamannya, namun bila dievaluasi lebih lanjut, ternyata program pertanian organik yang dijalankan Pemkot Batu masih berjalan cukup lambat.
Dari hasil pantauan tim evaluasi yang diterjunkan oleh pemkot beberapa waktu lalu terungkap jika pertanian organik di Batu masih berjalan sekitar 40%.
Minimnya petani yang menggunakan pertanian organik tersebut salah satunya disebabkan karena sulitnya petani menerapkan pola pertanian tersebut. Serta faktor kebutuhan petani yang membuat mereka memilih tetap menggunakan pola pertanian an-organik (kimia).
Sumber : JIBI
Editor : Wahyu Darmawan
http://surabaya.bisnis.com/m/read/20140811/10/73640/batu-bentuk-klaster-pertanian-organik-ini-tujuannya

Penanaman Padi Organik Tetap Dipertahankan

08 Agustus 2014, KUDUS, suaramerdeka.com– Meski tidak banyak petani di Kabupaten Kudus yang mengembangkan penanaman padi organik namun penanaman padi dengan metode system of rice intensification (SRI) berupaya tetap dipertahankan.
Kepala Dinas Pertanian, perikanan, dan Kehutanan Kudus, Budi Santoso mengatakan, persoalan mengapa petani enggan menanam padi organik dikarenakan lebih pada kebiasaan.
“Umumnya mereka ingin tanaman padi berbuah dengan cepat namun tanpa memperhitungkan efek yang ditimbulkan ketika mereka menggunakan bahan kimia sebagai pendukung untuk mengembangkan tanaman tersebut,” katanya.
Di samping itu petani masih meragukan akan hasil dari padi organik yang sebenarnya justru akan menghasilkan buah yang baik. “Ini merupakan kendala klasik, namun sejatinya hal tersebut bisa disiasati dengan melakukan tanam bersama gapoktan tentunya tidak mahal. Namun lagi – lagi hal itu juga belum banyak dilakukan petani,” ujarnya.
Meski demikian ada juga lahan pertanian padi yang berhasil mengembangkan padi organik, di antaranya adalah Kecamatan Kaliwungu luasnya 40 hektare, Undaan 280 hektare, Jati 160 hektare, Mejobo 180 hektare, Jekulo 300 hektare, Bae 20 hektare, dan Gebog 20 hektare. “Dipastikan tahun ini akan ada peningkatan, karena penanaman padi organik mulai digalakkan kembali,” katanya.
Budi juga menjelaskan bahwa keunggulan secara ekonomi bagi petani adalah tanaman hemat air,  karena selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen. Selanjutnya hemat biaya, hanya butuh benih lima kilogram per hektare. Kemudian hemat waktu, ditanam bibit muda 5 – 12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal produksi meningkat.
( Ruli Aditio / CN26 / SMNetwork )
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2014/08/08/212288/Penanaman-Padi-Organik-Tetap-Dipertahankan

Mahasiswa KKN-PPM UBH Ajarkan Masyarakat Buat Pestisida Organik

5 Agustus 2014, Bunghatta.ac.id. Saat ini petani masih menggunakan pestisida sintetis untuk membasmi hama pada tanaman. Padahal pestisida sintetis dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem bila dosis yang diberikannya tidak mengikuti ketentuannya.
Untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetis Lola Ineli Saputri mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta yang melakukan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Jorong Pauah, Nagari Panta Pauah, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam melakukan sosialisasi dan memberi pembelajaran mengenai pembuatan pestisida organik bagi petani dan masyarakat.
Lola mengatakan pestisida organik ini merupakan ramuan obat-obatan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang dibuat dari bahan-bahan alami. Salah satu pestisida organik adalah dengan menggunakan ekstrak daun pepaya untuk mengendalikan hama ulat dan hewan pengisap.
“Pemilihan daun pepaya sebagai bahan untuk pembuatan pestisida karena mengandung senyawa papain yang cukup efektif untuk membasmi hama pada tanaman,” ungkapnya.
Ia menjelaskan proses pembuatan pestisida organik ini cukup mudah, menggunakan bahan-bahan yang sederhana seperti deterjen, minyak tanah, air dan daun pepaya sebagai bahan utamanya serta alat yang digunakan pisau, alat penghalus/batu, tabung semprot dan ember.
Cara membuatnya, kita cuci bersih daun pepaya kemudian dihancurkan dan ditumbuk hingga halus. Masukan daun pepaya kedalam ember tambahkan air, deterjen dan beberapa sendok makan minyak tanah. Selanjutnya, didiamkan selama satu malam setelah itu disaring dan jadi pestisida organik dari daun pepaya.
Menurutnya untuk penggunaan pestisida tersebut cukup dimasukan kedalam tabung semprot dan disemprotkan ke tanaman yang akan dibasmi hamanya
“Keunggulan dari pengunaan pestisida organik dari daun pepaya ini adalah jenis pestisida yan mudah terurai, relatif aman bagi manusia dan tanaman, bahan yang digunakanpun tidak sulit dijumpai dan ekonomis,” tambahnya.
Selain sosialsiasi mengenai pestisida organik, Lola juga melakukan pengenalan sampah organik dan anorganik kepada masyarakat Jorong Pauah, Nagari Panta Pauah. (**Ubay-Humas UBH)
 
http://www.bunghatta.ac.id/news-1503-mahasiswa_kkn-ppm_ubh_ajarkan_masyarakat_buat_pestisida_organik.html

Petani Malang Ogah Pakai Pupuk Organik Bersubsidi

Senin, 04 Agustus 2014,
TEMPO.CO, Malang – Kebanyakan petani di Kabupaten Malang malas menggunakan pupuk organik bersubsidi. Akibatnya, pupuk organik bersubsidi yang terserap masih sangat sedikit.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pasar Pemerintah Kabupaten Malang Helijanti Koentari mengatakan sejak awal hingga pertengahan 2014 serapan pupuk organik bersubsidi masih yang paling rendah dibandingkan dengan pupuk kimia sintetis bersubsidi. “Karena masyarakat sekarang sudah bisa mandiri memproduksi pupuk organik,” kata Helijanti, Senin, 4 Agustus 2014.
Dia menyebut pupuk organik yang terserap baru 8.390 ton atau hanya 28,61 persen dari total kuota sebanyak 29.319 ton. Serapan pupuk organik ini lebih sedikit dari serapan pupuk kimia sintetis (anorganik) bersubsidi, seperti pupuk urea, zwavelzure ammoniak (ZA) alias amonium sulfat, NPK Phonska, dan SP-36.
Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung tiga unsur hara atau nutrisi utama sekaligus, yakni nitrogen, fosfat (phosphat), dan kalium. Pupuk NPK biasa disebut pupuk lengkap. Pupuk SP atau Superphosphat-36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari batuan fosfat yang ditambang.
Sedangkan pupuk organik di dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah didefinisikan sebagai pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Helijanti memprediksi rendahnya serapan pupuk organik bersubsidi berlanjut hingga akhir tahun anggaran sehingga dia pesimistis seluruh pupuk organik yang diberikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terserap habis.
Namun, Helijanti menekankan bahwa gabungan serapan pupuk organik dan pupuk anorganik bersubsidi masih kurang dari 50 persen. Hingga pertengahan Juli lalu, total pupuk bersubsidi yang terserap masih 69.922 ton atau setara 46,90 persen dari total kuota sebanyak 149.080 ton.
Dari lima jenis pupuk bersubsidi itu, hanya pupuk urea dan SP-36 yang serapannya melebihi 50 persen. Pupuk urea yang terserap sebanyak 27.002 ton atau 68,53 persen dari total kuota 39.403 ton. Sedangkan pupuk SP-36 yang terserap sebanyak 3.185 ton atau 56,58 persen dari total kuota 5.629 ton.
__________________________________________________________
http://www.tempo.co/read/news/2014/08/04/058597040/Petani-Malang-Ogah-Pakai-Pupuk-Organik-Bersubsidi