BOF4 & Family Farming 2014: Rayakan Tahun Pertanian Keluarga 2014 untuk Pangan Lokal dan Organik

Siaran Pers
BOF4 & Family Farming 2014: Rayakan Tahun Pertanian Keluarga 2014 untuk Pangan Lokal dan Organik
Bogor, 5 November 2014
Bogor Organic Fair yang keempat (BOF4) akan hadir kembali pada 14-16 November 2014 di Lapangan Sempur Bogor, Jawa Barat. Dalam suasana pencanangan Tahun 2014 sebagai Tahun Pertanian Keluarga oleh FAO, perhelatan akbar tahunan ini bertajuk BOF4 & Family Farming 2014.
“Tahun ini, BOF4 & Family Farming 2014 akan menyampaikan ke publik akan pentingnya Pertanian Keluarga untuk menghasilkan pangan organik dan lokal yang sehat, baik untuk masyarakat maupun lingkungan sekitarnya karena melihat pentingnya pola makan dan makanan yang sehat bagi tubuh dan kelangsungan generasi muda,” jelas Ani Purwati sebagai Ketua Panitia BOF4 & Family Farming 2014.
Dijelaskannya, BOF4 & Family Farming 2014 diselenggarakan Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerjasama dengan  Aliansi Petani Indonesia (API) , Pemerintah Kota Bogor, anggota AOI dan para pihak baik pemerintah, akademisi maupun swasta ingin menyampaikan pada publik (masyarakat) akan pentingnya pola hidup dan makanan sehat untuk tubuh serta proses produksinya hingga sampai di meja makan.
“Masyarakat terutama generasi muda kiranya bisa memikirkan kembali pola hidupnya, bagaimana cara makan dan bahan makanan yang dikonsumsinya. Apakah makanan itu organik, lokal dan sehat? Apakah proses produksinya memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan keluarga petani dan sebagainya?” tutur Ani.
Berbagai kegiatan di BOF4 dan Family Farming 2014 seperti pameran produk organik dan local; seminar “pentingnya peran perempuan dalam pertanian keluarga”; Organic Honey Lemon Shot (mengenal & menikmati aneka minuman kesehatan dari madu); pembukaan oleh Presiden IFOAM; klinik organic; talkshow: peta rasa pangan lokal, organic lifestyle for young generation, smart mom; kids planting; lomba mewarnai; interactive cooking; kelompencapir; pentas seni dan musik tradisional; talk & demo: tips dan trik membuat happy healthy smoothies vs juice, membuat permen dari sari buah, kerajinan dari koran bekas, kids planting; quize dan organic sale.
Menurut Sri Nuryati sebagai Direktur Program AOI, BOF sebagai event tahunan ini bisa menggerakkan publik untuk berperan aktif dalam menjaga dan menerapkan pola hidup sehat secara organik. Baik pola makan, bertani, maupun dalam kebiasaan sehari-hari. Dengan mengonsumsi pangan organik, masyarakat bisa lebih sehat dan petani bisa lebih sejahtera karena hasil panen lebih baik dengan harga lebih tinggi juga.
“Dengan peran aktif publik secara lebih luas, diharapkan perubahan lebih baik dalam hal kesehatan masyarakat dan lingkungan bisa terwujud dengan mudah. Begitupun kesejahteraan petani organik dan lokal bisa tercapai,” ungkap Sri.
Lebih lanjut Sri mengatakan bahwa pertanian organik mampu meningkatkan pendapatan usaha tani petani. Sampai saat ini harga produksi pertanian organik, utamanya beras dan berbagai sayuran, masih lebih tinggi dibandingkan komoditas konvensional. Contohnya adalah petani di Boyolali. Petani Appoli mampu menghasilkan gabah kering panen 1,5-2 ton atau 700-1000 kg beras dari lahan seluas 0,25-0,3 ha sekali musim tanam. Dengan harga beras Rp 15.000 per kg, maka pendapatan petani kotor mencapai Rp 45 juta per hektar.
Dalam perayaan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014, IFOAM (International Federation Organic Agriculture Movements) pun mengakui peran penting dari pertanian keluarga dan petani kecil dalam produksi pangan dan ekonomi pedesaan berkelanjutan. IFOAM mendorong agar adopsi pertanian organik di pertanian keluarga sebagai pendekatan yang berkelanjutan. Ini didasarkan pada disiplin ilmu agroekologi yang terbukti efektif dalam mencapai intensifikasi ekologi, agronomi dan sosial ekonomi untuk pertanian rakyat.
Sementara itu menurut Ika N. Krisnayanti, Divisi Hubungan Internasional Aliansi Petani Indonesia, pertanian keluarga adalah basis produksi pangan yang berkelanjutan, bertujuan mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan, mengelola dan menjaga kelestarian lingkungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, serta menjadi landasan bagi pelestarian warisan sosial-budaya yang penting dari bangsa-bangsa dan komunitas pedesaan di seluruh dunia.
Dari berbagai sumber, tercatat sekitar 3 miliar penduduk dunia tinggal di pedesaan. Kebanyakan dari penduduk itu adalah keluarga yang melakukan kegiatan pertanian (disebut pertanian keluarga). Dari jumlah itu, sekitar 1,5 miliar perempuan dan laki-laki petani hidup dari 404 juta lahan pertanian kecil (kurang dari 2 hektar). Sementara, sekitar 410 juta orang mengumpulkan hasil hutan dan padang rumput, 100-200 juta menjadi penggembala, sekitar 100 juta merupakan nelayan kecil, dan 370 juta lainnya merupakan kelompok masyarakat asli yang sebagian besar bertani. Selain itu, 800 juta manusia bertanam di kebun-kebun (pekarangan) di perkotaan.
“Oleh sebab itu, pertanian keluarga mempunyai nilai strategis, karena memiliki fungsi ekonomis, sosial, budaya, lingkungan, dan kewilayahan (teritori). Baik perempuan maupun laki-laki dalam pertanian keluarga menyumbangkan 70% pangan dunia,” jelas Ika.(*)
_____________________________________________________________
Info selengkapnya:
Ani Purwati (081932898698/ani@organicindonesia.org)
Sri Nuryati (08128164009/sri@organicindonesia.org)
Ika N. Krisnayanti (08128387971/ikank@yahoo.com)

BOF 4 dan Family Farming 2014 Berlangsung Kembali

Rayakan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014
Siaran Pers
Bogor, 14 November 2014
Bogor Organic Fair 4 (BOF-4) dan Family Farming 2014 berlangsung pada 14-16 November 2014 di Lapangan Sempur Bogor, Jawa Barat. Perhelatan akbar ini diselenggarakan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerjasama dengan Aliansi Petani Indonesia (API) dan Pemerintah Kota Bogor.
Untuk merayakan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014, Bogor Organic Fair keempat  kali ini mengambil tema Bogor Organic Fair 4 dan Family Farming 2014: “Pangan Lokal dan Organik.” Dengan tema ini, BOF 4 dan Family Farming 2014 bertujuan untuk mempromosikan produk pangan dan non-pangan lokal dan organik Indonesia,  mempertemukan produsen (petani kecil) – konsumen  – pedagang produk lokal dan organik, mempromosikan pentingnya eksistensi Pertanian Keluarga /Family Farming dalam mewujudkan kesejahteraan petani dan kesehatan konsumen dan mengangkat dan memfasilitasi para petani lokal untuk mempromosikan produknya dan menjadi ajang promosi efektif dan berkesinambungan bagi semua peserta pameran, maupun pihak sponsor.
Untuk mempromosikan pentingnya pertanian keluarga dan produk-produk lokal dan organik, BOF4 dan Family Farming 2014 diisi dengan berbagai acara talkshow, seminar, lomba, pameran dan quiz yang menampilkan produk lokal dan organik dari pertanian keluarga. Ada 54 peserta pameran produk lokal dan organik baik pangan maupun non pangan.
Menurut Wahyudi sebagai Koordinator Dewan Perwakilan Anggota-Aliansi OrganisIndonesia (DPA-AOI) bahwa BOF kali ini mendapatkan momentum yang paling strategis bersamaan dengan pencanangan tahun 2014 sebagi Tahun Internasional Pertanian Keluarga (International Year of Family Farming/IYFF) oleh  Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui sebuah deklarasi oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Mengapa? Pertanian keluarga ternyata menyumbang 70% dari pangan dunia dan sekaligus menjadi basis produksi pangan dunia.
“Jika kita ingin mendiskusikan bagaimana menjamin suplai, distribusi, keberlanjutan, kedaulatan dan ketahanan pangan, kita harus memulainya dari lingkup terkecil,  yakni dari pertanian keluarga. Mulailah dari situ kemudian membesar bicara hal-hal yang global. Jangan dibalik,” ungkap Wahyudi.
Sementara itu M. Nuruddin sebagai Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API) menyatakan,”Ini waktunya dan momentum bagi rumah tangga petani di Indonesia yang mengalami penurunan dari segi jumlah dan pendapatan akibat praktik-praktik pertanian yang tidak berkelanjutan.”
“Dengan perayaan tahun pertanian keluarga dan kegiatan BOF4 dan Family Farming 2014 akan dibangun kembali praktik-praktik pertanian yang berkelanjutan, hubungan dan pertukaran petani dengan sumber daya alam yang berkontribusi terhadap tingkat kesejahteraan dan keberlanjutan antar generasi,” lanjut M. Nuruddin.(*)
Notes:
Bogor Organic Fair (BOF) merupakan event tahunan yang diinisiasi Aliansi Organis Indonesia (AOI) sebagai organisasi yang mengemban mandat untuk mempromosikan pertanian organik dan memfasilitasi akses pasar produk pertanian organik di Indonesia. AOI telah merintis sebuah event pameran ini sejak tahun 2010. Pada tahun 2010 pameran ini dikunjungi oleh hampir 500 orang, sementara pada tahun 2011 jumlah pengunjungnya mencapai 1.000 orang, dan pada tahun 2012 meningkat lagi menjadi 3.000 pengunjung.
Untuk ketiga kalinya, pada 2013 pengunjung BOF mencapai 3200 orang. Pameran produk organik yang digelar selama 2 hari pada 2013 dimeriahkan oleh 44 stand peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dengan beragam latar belakang, seperti petani, trader, media massa, UKM, lembaga sertifikasi dan lembaga konsultan organik. Pameran juga dimeriahkan oleh 8 booth food festival yang menyajikan penganan sehat dan ramah lingkungan.
____________________________________________________________
Kontak Media:
Sri Nuryati dari AOI(08128164009/sri@organicindonesia.org)
Ika Nurila Krisnayanti dari API (0812 8387 971/ ikank@yahoo.com)

Kampanye Publik, Trik Kembangkan Pangan Lokal dan Organik

Pangan lokal yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan pangan impor perlu terus disosialisasikan dan ditingkatkan citranya di mata masyarakat Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Wahyudi sebagai Koordinator Dewan Perwakilan Anggota Aliansi Organis Indonesia (DPA-AOI). Menurutnya trik untuk meningkatkan citra pangan lokal dan organik adalah dengan kampanye publik.
“Kita perlu kekuatan media untuk terus mengampanyekan produk lokal, terutama mengangkat kelebihan pangan lokal dengan membandingkan pada pangan impor agar masyarakat terdorong untuk mengonsumsi pangan lokal,” jelasnya dalam konferensi pers di acara Bogor Organic Fair 4 dan Family Farming 2014 di Lapangan Sempur, Bogor, Jawa Barat, 14 November 2014.
Masyarakat Indonesia masih banyak yang menganggap produk impor kualitasnya lebih bagus dari produk lokal, padahal anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam berbagai penelitian yang dilakukan, nilai gizi pangan lokal justru lebih baik dan lebih sehat dibandingkan pangan impor. Hal itu karena beberapa hal seperti 1) proteksi tanaman lokal terhadap hama setempat lebih tinggi sehingga meminimalisir penggunaan pestisida, 2) input budidaya yang rendah karena adaptasi tanaman terhadap lingkungannya sudah baik, 3) budidayanya relatif lebih mudah, 4) sesuai dengan budaya petani Indonesia.
Aliansi Organis Indonesia (AOI) dalam mendorong perkembangan pangan lokal telah bekerjasama dengan berbagai media seperti DAAI TV, Green Radio, Kisi FM, Food Review, Kulinologi, Sinar Harapan, Jurnal Bogor serta berbagai media massa lain baik elektronik maupun cetak.
Wahyudi pun berharap jika di stasiun TV lain bisa menyuguhkan pangan lokal dalam acara prime timenya sehingga kampanye publik menjadi lebih strategis. “Kekuatan media sosial, media cetak dan audio visual dibutuhkan untuk mengampanyekan pangan lokal agar dapat semakin berkembang,” tambahnya.(Putri/SNY)

Peran LSM dalam Pertanian Organik Indonesia

Bogor Organic Fair 4 & Family Farming 2014 yang dimeriahkan dengan berbagai acara mengusung tema “pangan lokal dan organik” menggelar jumpa pers tentang pertanian organik, pangan lokal dan pertanian keluarga.
Aliansi Organis Indonesia (AOI) sebagai lembaga yang memiliki peran meningkatkan produksi dan konsumsi organik di Indonesia mengajak 54 peserta pelaku organik untuk menggelar pameran produk organik yang menarik di Lapangan Sempur, Bogor, 14 – 16 November 2014.
Menurut M. Nuruddin, Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API), telah terjadi penurunan pendapatan akibat praktik pertanian yang tidak berkelanjutan. “Dengan perayaan tahun pertanian keluarga dan kegiatan BOF 4 dan Family Farming 2014 akan dibangun kembali praktik-praktik pertanian yang berkelanjutan, hubungan dan pertukaran petani dengan sumber daya alam yang berkontribusi terhadap tingkat kesejahteraan dan keberlanjutan antar generasi,” lanjut Nuruddin.
Manfaat pertanian organik di Indonesia mulai dirasakan banyak petani namun tantangan tetap ada yaitu bagaimana mengajak petani lain yang belum beralih menjadi mau beralih ke pertanian organik.
“Tantangan terbesar untuk mendorong produksi organik adalah bagaimana merubah mindset para petani yang masih menganggap pertanian konvensional lebih menguntungkan dibanding pertanian organik,” begitu menurut Wahyudi,  Koordinator Dewan Perwakilan Anggota (DPA) AOI.
Strategi yang dilakukannya selama ini yaitu memperlihatkan contoh/demplot pertanian organik kepada petani lain, praktik pertanian organik, keuntungan bertani organik, cerita-cerita keberhasilan dan film dokumenter yang bisa meningkatkan semangat petani Indonesia beralih ke organik.
Wahyudi pun menambahkan peran pemerintah lebih kepada produktivitas pertanian dan untuk urusan organik pemerintah talah melakukan perlindungan kebijakan pertanian organik sehingga LSM lah yang lebih berperan besar dalam mendorong perkembangan pertanian organik di Indonesia.
Sampai saat ini AOI telah fokus mengembangkan sentra produksi pertanian organik di berbagai daerah seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. (Putri/SNY)

Bitterballen dari Talas di BOF4 dan Family Farming 2014

Bitterballen adalah makanan khas dari negeri Belanda yang biasanya berbahan baku kentang. Namun, di tangan Cheff Annisa, Cheff yang biasa berkegiatan di Cafe Ranin,  makanan khas Belanda itu disulap menjadi makanan yang lezat berbahan dasar produk lokal Indonesia yaitu ‘talas’.
“Talas itu baik untuk penderita diabetes karena tidak meningkatkan gula darah secara drastis melainkan perlahan-lahan, ” jelasnya tentang manfaat dari talas tersebut di Bogor Organic Fair 4 dan Family Farming 2014, Lapangan Sempur, Bogor, 15 November 2014.
Berawal dari hobinya memasak, Annisa mulai mengolah talas menjadi masakan yang lezat dengan dibantu oleh sang ibundanya. Dengan latar belakang keinginannya mengembangkan produk pangan lokal agar kembali disukai anak muda akhirnya terciptalah Bitterballen talas ini. Dan setelah dicoba rasanya pun tidak kalah dengan yang asli. “Ternyata enak juga, ” tandasnya.
Berikut cara memasaknya:
Bahan:

  1. Bawang putih (4-5 siung)
  2. Bawang bombay (2 siung)
  3. Garam (1 sdt)
  4. Gula
  5. Mentega
  6. Tepung Roti
  7. Telur
  8. Wortel/Buncis/Jagung manis/Brokoli
  9. Talas (2 buah)
  10. Ayam organik (200 g)
  11. Keju (1/3 Craft)
  12. Merica
  13. Susu (200 gr)

Cara membuat:

  1. Kupas bawang putih dan bawang bombay, cincang halus
  2. Ayam dipotong dadu, wortel kecil-kecil
  3. Parut keju
  4. Potong talas tipis-tipis lalu rebus
  5. Masak ayam, wortel, bawang bombay dan bawang putih
  6. Bumbui garam, gula dan merica
  7. Masukkan susu (api dikecilkan) sampai mendidih
  8. Lalu masukkan talas dan hancurkan
  9. Masukkan tepung terigu sampai bisa dibuat adonan
  10. Ceplok telur ke dalam wadah, kocok lalu siapkan tepung roti
  11. Bulatkan adonan, masukkan ke telur lalu ke tepung roti.
  12. Goreng hingga matang.
  13. Siap sajikan bersama kopi atau teh. Lebih nikmat dicocol dengan saus dan mayonise.

Dengan resep tersebut bisa didapat  40 butir Bitterballen dan 1 porsi isi 3 butir dijualnya seharga 15.000 rupiah di cafenya. Anda tertarik mengembangkan pangan organik lokal juga seperti Cheff Annisa? (Putri/SNY)

Pesta Kuliner Lokal di Bogor Organic Fair 4 dan Family Farming 2014

Bogor Organic Fair 4 dan Family Farming 2014yang gencar mengangkat kembali produk pangan lokal Indonesia terus mempromosikan kepada masyarakat akan luar biasanya biodiversitas Indonesia yang potensial untuk terus dikembangkan. Dalam acara Cooking Demo yang digelar di lapangan Sempur tersebut menghadirkan ibu-ibu kreatif dari Aliansi Petani Indonesia (API) yang telah menyempatkan diri datang dari Jawa Timur ke Bogor untuk berbagi ilmu memasaknya.
Kroket Singkong ala Ibu Maryati
Bu Maryati mengembangkan kuliner berbahan baku produk lokal Indonesia yaitu Kroket dari singkong. Seperti apakah Kroket dari Singkong itu? Berikut penjelasannya:

  1. Siapkan 800 gr singkong, kukus lalu haluskan
  2. Siapkan tepung singkong (tepung mocaf). Tepung mocaf ini diproduksi oleh anggota API sendiri dengan harga 6000/bungkusnya.
  3. Siapkan mentega 1 sdm, bawang putih 1 sdt, kuning telur 3 butir, dan susu (200 ml)
  4. Singkong + Tepung dicampur lalu diaduk dengan bumbu lalu bentuk adonan.
  5. Masukkan isi kroket lalu bentuk sesuai selera lalu diguling-gulingkan di tepung roti lalu kuning telur lalu tepung roti kembali.
  6. Goreng selama 5 menit lalu sajikan.

Isi Kroket biasanya adalah sayuran seperti wortel dan jagung manis yang dipotong halus lalu dimasak dengan bumbu berupa bawang putih, merica bubuk dan garam. Bisa juga ditambah jamur tiram agar rasa lebih gurih.
Puding Coklat
Bubuk coklat dari buah coklat organik kini menjadi andalan bu Nina salah satu anggota API yang mengembangkan bubuk coklat organik dan dijual seharga 25.000/250gr untuk membuat puding coklat. Berikut resepnya:

  1. Masukkan 6 gelas susu ke dalam panci lalu rebus
  2. Masukkan 1 gelas gula pasir
  3. Masukkan 1 bungkus nurtrijell coklat
  4. Masukkan 1 bungkus agar-agar putih
  5. Campurkan bubuk coklat dengan susu yang agak panas, aduk hingga kental lalu masukkan ke panci.
  6. Terakhir masukkan susu kental manis 1 gelas ke panci.
  7. Aduk-aduk selama 10 menit hingga mendidih
  8. Masukkan ke wadah. Puding siap dihidangkan ketika sudah dingin.

Keterangan: Agar-agar bisa diganti dengan kuning telur yang dicampur dengan tepung maizena.
Brownies Ketan Hitam
Bu Sulastri dari Banjarnegara mengembangkan Brownies kukus dari ketan hitam. Berikut cara memasaknya:
Bahan:

  1. 1 gelas cup besar gula semut
  2. 1 gelas cup besar tepung ketan hitam
  3. ½ gelas cup besar minyak sayur
  4. ½ gelas cup besar santan
  5. Vanili ¼ sdt
  6. Emulsifier 1 sdt
  7. 6 butir telur kampung

Cara membuat:

  1. Campurkan telur, emulsifier, vanili dan garam lalu kocok selama 10 menit hingga mengembang.
  2. Setelah mengembang, masukkan tepung ketan hitam sedikit demi sedikit.
  3. Lalu masukkan santan
  4. Lalu masukkan minyak sayur bergantian dengan gula semut
  5. Lalu masukkan ke loyang yang sudah dioleskan dengan minyak sayur
  6. Lalu kukus.
  7. Brownies siap disajikan.

Keterangan: bila memakai gula putih maka gula putih dimasukkan pada saat kocokan pertama.
Bu Sulastri biasa menjual brownies ini seharga 20.000 rupiah dan dipasarkan dengan menitipkannya ke toko-toko kue.
Dengan tangan yang kreatif maka ibu-ibu dari API ini bisa membantu perekonomian keluarganya dari pengembangan produk pangan lokal Indonesia dan semakin memperkaya kuliner khas Indonesia. (Putri/SNY)

Organic Lifestyle For Young Generation

Salah satu perubahan yang terjadi di Indonesia adalah perubahan gaya hidup yang  awalnya sederhana dan santai menjadi lebih cepat atau instan.  Perubahan ini mengakibatkan banyak orang  merubah pola konsumsinya. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuhnya mereka lebih memilih untuk mengonsumsi fast food, multi-vitamin, obat-obatan dibandingkan dengan sayur-sayuran, buah-buahan dan makanan bergizi lainnya. Hal  ini sangat disayangkan karena perubahan pola komsumsi tersebut sangat membahayakan tubuh.
“Jangan bangga mengonsumsi fast food dan makanan instan karena makanan tersebut mengandung bahan pengawet yang membahayakan tubuh,” itulah yang diungkapkan oleh Maya pada sesi acara Organic Lifestyle For Young Generation. Pada acara tersebut, Maya yang berasal dari komunitas Bogor Berkebun berusaha untuk mengajak para  generasi muda untuk mengubah pola hidupnya. Acara yang dihadiri oleh 30 anak muda ini berjalan dengan lancer dan berlangsung kurang lebih selama 45 menit.
Maya juga menjelaskan mengenai manfaat dari mengonsumsi buah-buahan untuk kesehatan. “Coba ganti multivitamin dengan buah-buahan seperti mangga, jeruk, apel, dan buah lainnya yang lagi musim. Bagi penderita maag bisa mencoba untuk mengonsumsi buah melon atau jus melon. Hal ini lebih baik dibandingkan kita mengonsumsi obat-obatan. Lalu, kalausedang stress atau galau, makan pisangsaja,” tegas Maya.
Hal ini menambah pengetahuan peserta mengenai cara menjaga kesehatan tanpa harus mengonsumsi obat-obatan maupun multi-vitamin.
Selainitu, Maya juga menjelaskan bahwa anak muda jaman sekarang bisa merubah pola hidupnya sendiri. “Biasanya kalau sedang masa panen, kami dari Bogor Berkebun mengajak anak-anak muda untuk memanen buah atau sayur di kebun kami. Disana kalian bisa selfie-selfie juga loh makanya itu lebih asik daripada kalian pergi ke mall,” ungkap Maya.(Dilla/SNY)

Peta Rasa Pangan Lokal

Apakah Anda tahu Slow Food? Ya, Slow Food adalah lawan kata dariFast Food, tetapi bukan makanan yang disajikan dengan lama. Slow food berawal dari sebuah gerakan untuk menyelamatkan tradisi makan dan makanan tradisional dari kepopuleran fast food. Gerakan tersebut kemudian dijadikan organisasi dunia oleh aktivis Italia Carlo Petrini pada tahun 1987. Terdapat 150 negara anggotaslow food dan Indonesia adalah salah satunya.
Pada tahun ini, slow food berusaha untuk melindungi produk-produk local Indonesia yang terancam “punah” akibat kepopuleranfast food. Salah satu cara yang dilakukan adalah mengajak peserta untuk mengenal tentang “Peta Rasa Pangan Lokal” pada acara Bogor Organic Fair 2014 ini.
Slow Food Indonesia yang diwakili oleh Bibong Widyarti selaku pimpinan Slow Food untuk area Jabodetabek menjelaskan tentang penggunaan indera perasa secara maksimal untuk merasakan manis, asam, pahit pada makanan lokal. Hal ini disebut juga dengan peta rasa pangan lokal. Dengan adanya peta rasa, kita diajarkan untuk menyantap makanan dengan tidak terburu-buru sehingga dapat menikmatinya. Bibong  Widyarti juga mengajak peserta untuk mencicipi makanan lokal seperti ubi cilembu dan madu dari lebah Apis dorsata dan Apis serana dengan menggunakan peta rasa.
“Cobalah gunakan indera perasa secara maksimal, makan dengan dikecap, dirasakan, dikunyah pelan-pelan, lalu ditelan. Kemudian rasakan cita rasa terakhir dari makanan itu seperti apa. Itulah yang dinamakan dengan peta rasa, kalau makanfast food yang kita tahu hanya gurih saja,” ungkap Bibong.
Setelah menerapkan peta rasa saat menyantap ubi cilembu dan madu, peserta dapat merasakan cita rasa dari makanan tersebut. “Mmm, rasa madunya agak asam, cair, dan berbau kelapa, pokoknya berbeda dari madu-madu lainnya,”ungkap salah satu peserta setelah mencicipi madu Apis dorsata. (Dilla/SNY)

Perempuan dan Pertanian Keluarga

Peran perempuan dalam pembangunan pertanian keluarga dan ketahanan pangan sangat strategis. Hal ini membuat Komite Nasional Pertanian Keluarga Indonesia yang bekerjasama dengan Aliansi Organis Indonesia (AOI) dan Aliansi Petani Indonesia (API) mengadakan seminar sehari “Peran perempuan dalam pertanian keluarga Indonesia. Seminar nasional ini diselenggarakan di Gedung Balai Kota Bogor pada Sabtu, 15 November 2014 sebagai rangkaian acara Bogor Organic Fair (BOF) 4 dan Family Farming 2014.
Mereka menyadari bahwa peran perempuan di sector pertanian sering termarginalisasi akibat budaya patriarki yang berkembang di masyarakat. Budaya patriarki menyebabkan pembagian kerja secara gender sehingga menimbulkan permasalahan.
“Perempuan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, tidak memiliki akses yang sama dalam memperoleh kesempatan, tidak memiliki akses dalam penggunaan teknologi, tidak bisa mengorganisasi peran mereka terhadap alam, dan ketidakadilan terhadap akses dan kontrol dari hasil pertanian,” jelas Annisa, perwakilan dari IFAD (International Fund for Agricultural Development/Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian).
Padahal sebenarnya perempuan sangat berperan dalam keluarga maupun pertanian. Dalam keluarga, perempuan bertanggung jawab untuk merawat keluarga, mendidik anak-anaknya, menjaga ketahanan pangan, gizi, dan nutrisi keluarga, memantau perkembangan anak, dll.
Untuk pertanian, perempuan mampu ikut bekerja di sawah (melakukan penanaman, penyiangan, pemumpukan, pemeliharaan, pemanenan, dll). Hal ini dilakukan untuk menyediakan pangan bagi keluarga dan juga dunia. Akan tetapi, peran perempuan ini belum dapat diakui sehingga perempuan kadang hanya dilihat sebelah mata.
“Perempuan merupakan penyedia pangan keluarga yang berkontribusi atas 70% pangan dunia. Mereka bekerja rata-rata 17-18 jam per hari untuk keluarga dan pertanian, namun mereka tidak diakui sebagai tenaga kerja produktif,” ungkap DwiAstuti, perwakiland ari Bina Desa.
Perempuan yang ikut dalam pertanian keluarga mampu menyumbang dalam pendapatan rumah tangga. Seperti yang dijelaskan oleh Annisa, berdasarkan salah satu kasus yang ia tangani di daerah Indonesia Timur, sebagian perempuan di sana telah ikut dalam pertanian keluarga.
Mereka menjadi pencari nafkah utama sehingga mereka lebih dihargai. Mereka juga menjadi pengambil keputusan dalam pertanian. Hal ini membuat pendapatan rumah tangga mereka meningkat hingga empat kali lipat. Jika perempuan-perempuan di Indonesia mampu memaksimalkan perannya dalam pertanian keluarga,  pastilah mereka bisa berkontribusi atas peningkatan pendapatan rumah tangganya.(Dilla/SNY)

Bogor Organic Fair Angkat Tema Pertanian Keluarga

Fitria Rahmadianti – detikFood
Kamis, 06/11/2014 12:11 WIB
Badan Pangan Dunia (FAO) mencanangkan tahun 2014 sebagai Tahun Pertanian Keluarga. Karena itu, Bogor Organic Fair keempat (BOF4) yang akan digelar di Lapangan Sempur Bogor akan mengangkat tema ‘BOF4 & Family Farming 2014’.
BOF4 & Family Farming 2014 yang diselenggarakan Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerja sama dengan Aliansi Petani Indonesia (API) dan Pemerintah Kota Bogor akan berlangsung pada 14-16 November 2014.
Lewat siaran pers yang diterima Detikfood (05/11/2014), Ketua Panitia BOF4 & Family Farming 2014 Ani Purwati menjelaskan bahwa acara tahunan ini akan menyoroti pentingnya pertanian keluarga untuk menghasilkan pangan organik dan lokal yang sehat.
“Masyarakat, terutama generasi muda, diharapkan bisa merenungkan kembali pola makan dan makanan yang dikonsumsinya. Apakah makanan tersebut organik, lokal, dan sehat, apakah proses produksinya memerhatikan kepentingan dan kesejahteraan keluarga petani, dan sebagainya,” tutur Ani.
Di seluruh dunia, sekitar 3 miliar orang tinggal di pedesaan dan kebanyakan adalah keluarga petani. Dari angka tersebut, 1,5 miliar perempuan dan laki-laki hidup dari 404 juta lahan pertanian kecil (luasnya kurang dari 2 hektar).
Sekitar 410 juta orang mengumpulkan hasil hutan dan padang rumput, 100-200 juta orang menjadi penggembala, dan 100 juta orang merupakan nelayan kecil. Sebanyak 370 juta jiwa adalah masyarakat asli yang sebagian besar bertani, sedangkan 800 juta orang bercocok tanam di kota.
Menurut Direktur Program AOI Sri Nuryati, pertanian organik dapat meningkatkan pendapatan petani. Sebab, sampai saat ini harga hasil pertanian organik, terutama beras dan sayuran, masih lebih tinggi daripada komoditas konvensional.
Next
“Pertanian keluarga memiliki nilai strategis karena mempunyai fungsi ekonomis, sosial, budaya, lingkungan, dan kewilayahan. Dalam pertanian keluarga, perempuan maupun laki-laki menyumbang pangan dunia sebesar 70%,” kata Ika N. Krisnayanti, Divisi Hubungan Internasional API.
BOF4 & Family Farming 2014 akan diisi dengan berbagai kegiatan. Beberapa di antaranya adalah pameran produk organik dan lokal, seminar ‘Pentingnya Peran Perempuan dalam Pertanian Keluarga’, serta talkshow ‘Peta Rasa Pangan Lokal’ dan ‘Gaya Hidup Organik untuk Generasi Muda’.
Kelompencapir, semacam acara cerdas cermat dengan tema pertanian yang dicetuskan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, pun akan dihidupkan kembali di ajang ini. Selain itu akan ada klinik organik serta kegiatan mengenal dan menikmati aneka minuman kesehatan dari madu.
Para orang tua dapat mengikuti demo masak interaktif serta tips dan trik membuat smoothies dan jus. Anak-anakpun akan disibukkan dengan kegiatan penanaman pohon, lomba mewarnai, membuat permen dari sari buah, serta membuat kerajinan dari koran bekas. Para pengunjung juga akan dihibur dengan pentas seni dan musik tradisional.
Sri berharap, acara tahunan ini dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif menerapkan pola hidup organik. “Dengan demikian, kesehatan masyarakat, lingkungan, serta kesejahteraan petani bisa tercapai,” ungkap Sri.
(odi/fit)
Sumber:
http://food.detik.com/read/2014/11/06/121121/2740735/294/2/bogor-organic-fair-angkat-tema-pertanian-keluarga