Aliansi Organis Indonesia (AOI) bekerjasama dengan Tokopedia mengadakan workshop strategi penjualan produk organik online di Hotel Pangrango I, Bogor, Jawa Barat, 23 Mei 2015. Kegiatan bertajuk Tokopedia Meet Up Aliansi Organis Indonesia ini bertujuan untuk memperluas pemasaran produk organik melalui dunia internet atau lebih dikenal dengan dunia maya atau online.
Saat ini pelaku organik belum banyak yang memanfaatkan media ini untuk memasarkan produknya. Padahal perkembangan gadget yang pesat saat ini bisa mempermudah akses internet untuk memperluas pangsa pasar produk organik. Dunia online merupakan ajang promosi terpadu yang diperlukan untuk memberikan awareness kepada masyarakat dan sekaligus menciptakan pasar bagi produk organik, baik ditingkat domestik maupun internasional. Hal ini diperlukan untuk memperpendek jarak dan mendekatkan diri antara produsen dengan konsumennya.
“Hari ini kita bicara tentang pasar online untuk produk organic, yaitu bagaimana petani organik di Indonesia bisa lebih baik dengan pemasaran hasil panennya yang lebih luas melalui dunia online,” ungkap Rasdi Wangsa, Direktur Eksekutif AOI saat pembukaan workshop.
Menurutnya, visi dan cita-cita AOI adalah di bidang organik. Sejak 2002 AOI berdiri dan mempunyai anggota ribuan petani organik di Indonesia hingga saat ini. Petani organik telah memberi sumbangsih untuk kebaikan lingkungan hidup dan hasil panen yang lebih sehat dengan berorganik. Untuk itu petani organik layak mendapatkan kehidupan yang lebik baik dan sejahtera. Salah satunya dengan pemasaran produk organik yang lebih luas dengan teknologi internet dan berjaringan baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara Arie Baskoro dari Tokopedia mengatakan bahwa pasar di Indonesia besar di tingkat dunia dengan populasi penduduk ke-4 di dunia dimana 16 persen pengguna internet yang memanfaatkannya untuk berbelanja. Meski masih termasuk sedikit (jumlahnya), namun karena populasi penduduk yang besar maka pangsa pasar ini cukup besar juga. Dan potensi ini bisa tumbuh lagi.
Rahasia Kenikmatan Kopi Gunung Kelir: Pupuk Organik
Selasa, 09 Juni 2015
Ilustrasi Kopi. ericcressey.com
TEMPO.CO, Jakarta – Kopi robusta Gunung Kelir menjadi salah satu unggulan Jawa Tengah karena memiliki rasa yang enak, kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Semarang Wigati Sunu.
“Rasa kopi yang enak ini salah satunya merupakan dampak positif dari peralihan penggunaan pupuk dari kimia ke pupuk organik,” katanya di Semarang, Selasa, 9 Juni 2015.
Pihaknya optimis, dengan cita rasa yang dimilikinya, kopi Gunung Keli ini akan mampu bersaing di pasar internasional. Bahkan, diakuinya, sudah banyak eksportir yang tertarik untuk menjual kopi tersebut.
“Memang saat ini sudah ada beberapa eksportir kopi dari Indonesia yang menyalurkan kopi Gunung Kelir ke sejumlah negara di antaranya ke Korea dan Jepang,” katanya.
Sementara itu, untuk terus meningkatkan volume panen, pihaknya terus mengarahkan para petani agar merawat tanaman kopi lebih baik lagi.
“Salah satunya dengan mengganti pupuk, dan sejauh ini ternyata sangat berdampak di cita rasa kopi. Apalagi dari sisi persediaan, pupuk organik lebih mudah diperoleh,” katanya.
Meski demikian, pihaknya tetap memberikan pembinaan kepada para petani kopi agar memiliki keahlian yang lebih baik dalam merawat dan mengelola hasil panen kopi.
Dalam hal ini, pihaknya menggandeng sejumlah pihak yang sudah hafal dengan karakteristik komoditas kopi. Dengan begitu, pihaknya berharap produktivitas dapat meningkat minimal 10 persen setiap tahunnya.
“Saat ini, luas lahan untuk kopi Gunung Kelir mencapai 3.500 hektar, sedangkan volume panen mencapai 600 ton/tahun. Harapannya ini dapat meningkat seiring dengan semakin baiknya pengelolaan pascapanen yang dilakukan oleh para petani,” katanya.
______________________________________________________________
Sumber: http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/06/09/090673522/rahasia-kenikmatan-kopi-gunung-kelir-pupuk-organik
Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kunjungi Korem 032/Wbr, Saksikan Sukses Pertanian Organik
Padang, Sumbar 11 Juni 2015
Padang, PADANG-TODAY.com-Direktur Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian Republik Indonesia Dr Ir Sumarjo Gatot Irianto mengunjungi Makorem 032/Wirabraja dalam rangka melakukan Rapat Koordinasi dan Evaluasi pelaksanaan Program Upaya Khusus (Upsus) tanaman Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) di Sumatera Barat, Rabu (10/6).
Rapat Koordinasi dan Evaluasi pelaksanaan Upsus tahun 2015 yang dilaksanakan di Gedung Sapta Marga Makorem 032/Wbr dengan melibatkan seluruh Dinas dan Instansi terkait se Kabupaten Kota sumatera Barat dan dihadiri oleh seluruh Dandim Jajaran Korem 032/Wbr.
Rapat yang dipimpin langsung oleh Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dan pelaksanaan program Upsus di Sumatera Barat sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program ini dan mencarikan solusinya sehingga Upsus bidang pertanian di Sumatera Barat dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Pencapaian target ketahanan pangan dan swasembada pangan dalam tiga tahun kedepan, Sumatera Barat pada tahun 2015 ini peningkatan produksi pertanian padi berada pada level menengah bila dibandingkan dengan Provinsi lainnya di seluruh Indonesia (sesuai data di Dinas Pertanian Provinsi Sumbar), oleh karena itu hal ini harus sama-sama disikapi dengan meningkatkan kinerja di bidang pertanian baik secara administrasi maupun implementasi nyata di lapangan dengan harapan target Sumbar untuk mendukung tercapainya Swasembada Pangan secara Nasional dapat terwujud sebelum tahun 2017.
Sebelum memimpin rapat Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian berkesempatan untuk meninjau pelaksanaan lomba pembuatan pupuk organik antar satuan Jajaran Korem 032/Wbr dan melakukan peninjauan tanaman percontohan, Demplot Peternakan dan Laboratorium Organik Korem 032/Wirabraja. Dalam kesempatan itu beliau menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh Korem 032/Wbr dan Satuan jajarannya dalam mendukung dan membantu pelaksanaan program ketahanan pangan melalui Pertanian dan Peternakan Organik di Sumbar sudah sangat baik.
Hal yang perlu segera di lakukan oleh Korem 032/Wbr dan jajarannya adalah membuat Branding tentang hasil pertanian dan peternakan organik ini, sehingga masyarakat secara luas mengetahui tentang hasil dan manfaat produk pertanian organik yang pada akhirnya Korem 032/Wbr dan jajarannya tidak lagi kesulitan dengan masalah pemasaran hasil produksi petani yang sudah dibina.(rel/Penrem 032/Wbr)
_____________________________________________________________
Sumber: faisal budiman http://www.padang-today.com/dirjen-prasarana-dan-sarana-pertanian-kunjungi-korem-032wbr-saksikan-sukses-pertanian-organik/
Perpisahan Suta Dharma School Bertema Goes Organic
Minggu, 7 Juni 2015 00:05
Tribun Bali/I Putu Darmendra
Perpisahan Sekolah Suta Dhrama Gianyar, Bali.
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Goes Organic, begitu tema acara yang diusung Suta Dharma School. Sekolah yang beralamat di Jalan Jero Gadung, Kutuh Kelod Ubud, Gianyar, Bali, ini sejak dulu getol menanamkan konsep keseimbangan yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.
Dalam acara pagelaran seni dan perpisahan kemarin keseriusan tampak lebih terasa. Tidak hanya guru dan murid, orangtua juga begitu antusias. Terlebih sejumlah komunitas organik pun ikut meramaikan.
“Ini acara perpisahan yang biasa kita gelar setiap tahun. Tapi hari ini menjadi tidak biasa karena kami mengusung konsep Suta DharmaGoes Organic. Kami bekerjasama dengan banyak elemen untuk mewujudkan lingkungan yang asri,” kata Kepala Sekolah Play Gruop dan Taman Kanak-kanak (PG/TK) Suta Dharma School, Gusti Ayu Andiwikasih, Sabtu (6/6).
Untuk menjadikan sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Tri Hita Karana ini menjadi sekolah yang secara nyata mengusung konsep organik, berbagai aspek penunjang pun dipersiapkan.
Sejak dini, murid tidak hanya diberikan materi tentang apa itu organik secara teori, melainkan turun langsung menyaksikan di halaman sekolah maupun di lingkungan sekitar.
“Kami kenalkan sejak dini makanan sehat seperti apa. Agar anak mau makan sayur dan buah, tidak hanya makanan cepat saji. Kami juga akan menyediakan kantin organik. Dukungan banyak sekali yang mengalir,” ujarnya.
Kampanye organik rupanya tidak hanya dilakukan di Suta Dharma School. Pihaknya juga turut mengundang sekolah lain agar memiliki prinsip yang sama. Namun, saat ini responnya masih kecil. Gusti Ayu menegaskan, generasi muda yang sehat yang terlepas dari olahan zat kimia menjadi harapan untuk masa depan yang lebih baik.
“Mari kita kampanyekan makanan berbahan organik agar kehidupan lebih sehat. Saya yakin kalau semuanya kompak, maka semangat ini tersebar dan bisa direalisasikan bersama-sama,” tuturnya.
Ketua Yayasan Tri Hita Karana, Tjokorda Raka Kerthyasa atau yang akrab disapa Cok Ibah mengatakan, acara perpisahan kali ini memang berbeda. Beberapa stand dan lapak hasil pertanian maupun kerajinan lokal dipamerkan.
Ini secara tidak langsung bisa mengenalkan produk-produk tersebut kepada siswa didik. Benar adanya, para siswa memang tampak begitu antusias mengunjungi lapak-lapak tersebut.
“Ini satu cara agar anak-anak mengenal produk lokal tentunya yang organik yang ramah lingkungan,” ucapnya.
Dalam acara kemarin, berbagai hiburan disajikan. Sejumlah anak-anak berlenggak-lenggok di panggung layaknya model profesional. TarianBali juga dipentaskan.
Mereka yang masih tampak lugu kerap kali memancing gelak tawa pengunjung. Di pengujung acara, musisi yang mahir memainkan alat musik jenis tiup, Gus Teja mampu membius siswa, orangtua, guru dan pengunjung lainnya. (*)
______________________________________________________________
http://bali.tribunnews.com/2015/06/07/perpisahan-suta-dharma-school-bertema-goes-organic
Disnak Ajak Petani Gunakan Pupuk Cair Organik
PANGKALANKERINCI (RIAUPOS.CO) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan melalui Dinas Peternakan (Disnak) terus membuat inovasi kesejahteraan petani, salah satunya adalah menciptakan pupuk cair organik, guna memutus mata rantai permasalahan yang terjadi bagi para petani. Inovasi yang dilakukan Disnak tersebut, saat ini telahmulai disosialisasikan kepada masyarakat petani.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Peternakan Ir HT Muhktaruddin MSi kepada Riau Pos, Jumat (31/7) di Pangkalankerinci. Dikatakannya, bahwa pupuk organik merupakan pupuk yang sangat ramah lingkungan, karena bahan dasar pembuatan pupuk tersebut berasal dari limbah ternak.
“Ya, kotoran binatang ternak merupakan bahan pokok dari pupuk organik, disamping ramah lingkungan, pupuk ini juga bisa memutus ketergantungan petani terhadap pupuk kimia lainya. Dengan demikian, maka para petani tidak perlu repot memikirkan biaya yang mahal membeli pupuk urea. Dan petani cukup memupuk tanaman mereka dengan mengunakan pupuk organik yang berasal dari urine sapi. Disamping harganya murah, pupuk organik juga mempunyai efek jangka panjang yang lebih baik bagi kesuburan tanah,” terangnya.
Diungkapkan mantan Kepala BPMP2T Pelalawan ini, bahwa pupuk organik dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah. Selain itu juga, pupuk organik ini menghasilkan produksi pertanian yang aman bagi kesehatan, sehingga pupuk organik ini dapat juga dipakai serta digunakan untuki pupuk yang ramah lingkungan. Disamping itu, pupuk organik juga memiliki fungsi dan manfaat yang lebih baik. Di antaranya zat perangsang pertumbuhan akar tanaman pada benih atau bibit, sebagai puput daun organik, dengan dicampur petisida organik membuka daun yang kriting akibat serangan thrip.
“Cara pembuatannya juga sangat mudah dan petani bisa melakukan sendiri, tentu dengan modal yang sangat sedikit dan efesien. Dan bagi petani, harga pupuk yang murah dengan hasil panennya melipah, maka dinas Pertenakan diharuskan membuat terobosan baru sekaligus menyosialisasikan kepada masyarakat. Cara yang dapat dilakukan petani, pertama urine sapi ditampung di dalam drum plastik, kedua lengkuas, kunyit, tebu ireng, jahe, kencur ditumbuk sampai halus kemudian dimasukkan kedalam drum yang di dalamnya berisi urine sapi, maksudnya penambahan bahan tersebut untuk menghilangkan bau urine ternak yang berbauh busuk, selanjutnya tetes tebu dimasukkan ke dalam drum plastik lalu dimasukkan stater dan air rendam kedelai, air rendaman kedelai ini berguna untuk fermentasi dan setelah menjadi pupuk cair bisa menambah jumlah mikroba menguntungkan yang ada di dalam tanah,” ujarnya.
Mantan Kepala Dinas Perkebunan Pelalawan ini menambahkan, bahwa selanjutnya fermentasi urine selama 14 hari dan diaduk setiap hari. Setelah itu drum plastik ditutup rapat, dan setelah 14 hari pupuk cair tersebut telah bisa diberikan ke tanaman, namum sebelum itu alangkah baik pupuk cair tersebut disaring serta dikemas.
‘’Jadi melalui informasi ini, saya mengajak petani beralih menggunakan pupuk organik daripada menggunakan pupuk kimia. Pasalnya, selain harga yang relatif murah, juga bisa dilakukan pembuatan sendiri,” tutupnya.(amn/mal)
____________________________________________________________
Sumber:
http://www.riaupos.co/80276-berita-disnak-ajak-petani-gunakan-pupuk-
cair-organik.html#.VcHG0rX3T0c
Tanam Sayuran Organik, Mahasiswa IPB Ini Raup Rp 4 Juta/Bulan
Jakarta -Meski terdaftar sebagai mahasiwa di Institut Pertanian Bogor (IPB), Ramadhan Nur Iman dan Febri Khafidzin berhasil memperoleh pendapatan Rp 4 juta per bulan dari bisnis sayuran organik. Di bawah binaan Agribusiness Development Station (ADS) IPB, Ramadhan dan rekannya menanam berbagai jenis sayuran seperti selada, kangkung, dan caisin pada lahan seluas seperempat hektar.
Meski lahan tidak besar, produktivitas pertanian Empat Serangkai Farm ini cukup tinggi.
“Saat awal merintis, kami mulai dari menjadi binaan Agribusiness Development Station (ADS) IPB. Pertama kali menaman sebanyak 80 Kilogram per minggu dan bisa panen dua kali seminggu. Hasil panennya kami supply ke ADS IPB, dan Alhamdulillah kangkung dan selada dari Empat Serangkai Farm mampu menjadi peringkat teratas sayuran organik terbaik di ADS,” kata Ramadhan dalam keterangan tertulisnya kepada detikFinance Rabu (5/8/2015).
Usaha yang telah dijalani sejak 1 tahun ini, tidak selamanya mulus. Ramadhan mengaku hasil tanaman sayur mayur milik mereka sempat gagal panen selama 1 bulan karena terserang hama. Belum lagi, anggota tim mereka ada yang mengundurkan diri. Namun hal ini tidak membuat mahasiswa IPB itu putus semangat.
“Waktu itu sempat gagal, tidak panen selama satu bulan karena dimakan hama. Lemahnya kami saat itu ialah masih berfikir dan mematok teori, padahal praktik di lapang tidak semudah itu. Sekarang kami sangat terbantu dengan adanya dua orang pekerja di lahan yang memang merupakan petani sayuran,” tambah Ramadhan.
Ramadhan menyebut sayur mayur organik yang diproduksi oleh Empat Serangkai Farm ini tidak menggunakan pupuk kimia ataupun pestisida kimia sehingga sangat aman dikonsumsi dan baik untuk kesehatan. Pupuk yang dipakai memanfaatkan limbah alami dari tumbuh-tumbuhan hingga kotoran hewan.
“Saya menggunakan pupuk kandang dari kotoran ayam dan kambing, juga daun mimba, sereh, kluwek, dan batang brotowali untuk pestisida,” jelas Ramadhan.
Ia dan rekannya mengakui pihak kampus, yakni ADS, memberikan dukungan penuh. Bimbingan tersebut juga menuntut standar tinggi produk sayur mayur produksi mereka. ADS juga sudah memiliki pasar sehingga bisa menampung produk mahasiswa seperti Empat Serangkai Farm.
Agar keberlanjutan usaha tetap berjalan, Ramadhan dan rekannya secara ketat dan konsisten menjaga proses pengolahan dan produksi.
“Untuk menjadi petani binaan ADS menuntutnya untuk menjaga kualitas hasil pertanian. Selain karena pemilahan yang ketat, ADS juga sudah memiliki pasar yang apabila dilepas akan menjadi sebuah kesempatan yang terbuang bagi para petani yang baru memulai produksi,” tuturnya. (Feby Dwi Sutianto-detikfinance-Rabu, 05/08/2015)
_____________________________________________________________
Sumber:
http://finance.detik.com/read/2015/08/05/112734/2983731/480/tanam-sayuran-organik-mahasiswa-ipb-ini-raup-rp-4-juta-bulan
A Brief of Bogor Organic Fair 5
A BRIEF OF BOGOR ORGANIC FAIR 5
AOI which is an organization that carrying a mandate to promote organic farming and facilitate market access of organic agricultural products in Indonesia, has pioneered an exhibition event since 2010 which is named “Bogor Organic Fair” (BOF).
Figure growth of BOF yearly since 2010:
|
NO |
YEAR |
NUMBER OF BOOTH and food stalls |
VISITOR |
|
1 |
2010 |
25 |
500 |
|
2 |
2011 |
30 |
1000 |
|
3 |
2012 |
40 |
3,000 |
|
4 |
2013 |
50 |
3,200 |
|
5 |
2014 |
60 |
4,500 |
|
6 |
2015 |
100 |
10,000 |
Our theme for 2015 is “Organic Food Street” and it is hope that visitors will be 10,000 peoples and high lighted by 100 booths and food festival stalls from all over Indonesia and Asia and is targeting a transaction of Rp. 500.000.000, –
This BOF 2015 will be cooperated by IFOAM and IFOAM Asia, and hopefully there will be an international seminar on Organic Agricultute who the speakers are from IFOAM and IFOAM Asia. This is as a first step before Indonesia ( BOF ) became the forerunner like BioFach.
There are a variety of activities such as talk shows, workshops, seminars, and cooking demos, kids cooking demo and kid coloring contest and “Color Run” that will be enliven the BOF5. Traditional performances such as ‘angklung’ and ‘dog dog lojor’ (West Java traditional music derived from bamboo), also enlivened by the band as well as quizzes in between activities.
We also want to introduce that organic food materials that can be found around us can be served in a good appearence, so as to increase the sale value of the product like a high class food. Nowadays, Indonesia have so many traditional recipes.
Up to forth, BOF held in collaboration with the City Government of Bogor with the support of stakeholders from government (esp. Indonesia Ministry of Agriculture), academia, national and international figures, sponsors, media partners and communities of organic and eco-friendly observers. We also want to include this event to become Bogor annually event.
BOF activity is part of the efforts in campaigning AOI organic farming and fair trade in Indonesia. The hope of this activity can be sustained, together with various parties and a grand event to be collaborating with organic and fair trade at the world level as BioFach.
BOF as the annual event has long-term goals (7-10 years) is a trade center, education center and organic farm advocacy center in Indonesia and become part of the organic farming movement and the regional and global fair trade.
Through this event, hoping that Indonesia is able to produce agricultural products are friendly to nature and do not violate human rights are knowing by the world. And it must have been from year to year, BOF will be flooded with organic agricultural products, consumers and traders of organic agricultural products. In the future BOF will also be flooded by the importer of organic agricultural products from other countries.
For 2015, this event will be opened by:
– Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia *
– Mayor of City Government of Bogor *
– President of IFOAM *
– President of IFOAM Asia *
– President of Indonesia Organic Alliance *
Bogor Organic Fair (BOF) Kembali Digelar di Bogor
Bogor Organic Fair (BOF) ke-5 kembali berlangsung di Bogor, tepatnya di GOR Pajajaran Bogor selama tiga hari, 11-13 September 2015. BOF kali ini dimeriahkan dengan Tarian Tradisional “Tari Kacida” dari Sanggar Bagaskara, yang menceritakan tentang anak-anak pemulung yang ingin mencapai cita-citanya. Tahun ini BOF mengambil tema “Organic Street Food” dimana ingin menunjukan bahwa produk organik makin dekat dengan masyarakat dan dapat diperoleh dengan mudah.
“Bogor Organic Fair merupakan sebuah even tahunan yang diselenggarakan AOI untuk perkembangan pertanian indonesia. Harapan kita pertanian organik menjadi pertanian yang bisa berkembang untuk kesehatan konsumen kita,” jelas Rasdi Wangsa, Direktur Eksekutif Aliansi Organis Indonesia (AOI) dalam sambutannya saat Pembukaan (11/9).
“Even ini akan terus terselenggara setiap tahun dan saya berharap agar mendapat dukungan dari kita semua. Kami dari AOI selama ini bekerjasama dengan 118 anggota di 20 provinsi di Indonesia, dan terus berupaya untuk bisa mengembangkan pertanian organik da n bekerja sama dengan kawasan Asia. Semoga pertanian organik ini menjadi pertanian yang kita harapkan bersama,” lanjutnya.
Kepala Dinas Pertanian Bogor, Ir. H. Azrin pun turut menyambut baik gagasan Bogor Organic Fair ke-5 ini. “Apresiasi ini saya sampaikan karena berharap menjadi ruang untuk mengekspresikan dan mengembangkan serta menggunakan bahan-bahan organik yang diolah tanpa pestisida,” tegasnya.
Andrew Leu, Presiden IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement) yang untuk kedua kalinya hadir membuka Bogor Organic Fair (2014 Andre Leu membuka Bogor Organic Fair 4, 2014-red), menyatakan bahwa acara BOF ke-5 ini bisa memberikan kesadaran bagaimana bahaya penggunaan pestisida pada makanan konvensional. Pemerintah Indonesia telah menyediakan 1000 desa organik, ini merupakan suatu inisiatif yang bagus sekali.
Sementara itu Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. Spudnik Sujono Kamino, MM menyampaikan bahwa masalah pertanian ini sangat penting bagi kita semua karena berurusan dengan 245 juta populasi penduduk Indonesia. Kita harus melakukan terobosan-terobosan dengan menyediakan dan menggunakan lahan pertanian untuk keberhasilan pertanian rakyat Indonesia.
“Pembangunan pertanian selama ini telah memberikan lompatan-lompatan dari sisi produktifitas yang kemudian pangan kita cukup tersedia. Namun di sisi lain memang ada kelemahan-kelemahan yaitu ketergantungan terhadap faktor input dan output yang tidak bisa dihindari yang bisa berdampak pada kerusakan lingkungan dan menggangu kesehatan,” ungkapnya. (RST/ANP/SNY)
Siaran Pers BOF 5: Organic Street Food
Siaran Pers
Bogor, Senin, 07 September 2015
BOF 5: Organic Street Food
Bogor Organic Fair kelima tahun 2015 ini akan berlangsung di GOR Pajajaran Bogor, Jawa Barat, 11-13 September 2015 dengan tema“Organic Street Food.” Kali ini, BOF ingin menunjukkan bahwa produk organikmudah didapat asal kita tahu trik bagaimana cara mendapatkannya.
“Melalui ajang Bogor Organic Fair yang kelima ini, kita bisa melihat bermacam produk lokal dan organik dengan aneka bentuk olahan khas dan tradisional dari berbagai daerah yang ada di sekitar kita. Selain itu, kita juga semakin mengenal produk organik sebagai produk yang berkualitas dan bisa didapatkan atau dinikmati dengan mudah dan harga yang terjangkau,” jelas Andreas Setiawan, Koordinator Panitia BOF 5.
Lebih lanjut menurut Setiawan, di BOF 5, kita juga akan disuguhi dengan bermacam produk pangan olahan organik yang pastinya kaya manfaat untuk kesehatan. Pangan organik olahan yang dihasilkan tanpa menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya seperti pupuk dan pestisida kimia sintetis tentu terbebas dari residu berbahaya. Apalagi tamu khusus kita tahun ini adalah Mr. Andre Leu-President IFOAM Global yang akan menyampaikan orasi bukunya “the Myth of Safe Pesticide” sebuah buku yang diterbitkan di Amerika dan mendapatkan penghargaan NIEA (National Indie Execelent Award) award. Andre akan berbicara pada dua sesi; pertama pada PRA BOF 5 dalam Seminar International di Aula Seminar BALITRO Bogor, Kamis, 10 September 2015 dan Pembukaan BOF 5, Jumat, 11 September 2015 di GOR Padjajaran Bogor.
Selain berisi pameran produk organik dan lokal, BOF kali ini juga diisi dengan aneka kegiatan seperti talkshow/diskusi tentang SNI Multikualitas Beras Organik, Menghias Lollycookies, interactive cooking, Herba Healing, berbagai lomba, hiburan dll. Tentunya dengan narasumber, pakar atau pelaku organik yang sayang kalau dilewatkan. Tak kalah seru, artis-artis dan tokoh publik juga hadir berbagi pengalaman organiknya.
Pada 2015 ini, BOF menargetkan ada 10 ribu pengunjung yang akan datang memeriahkan acara ini. Jadi jangan sampai kita ketinggalan moment penting ini.
“BOF sebagai even tahunan dan nasional ini diharapkan bisa menggerakkan publik untuk berperan aktif dalam menjaga dan menerapkan pola hidup sehat secara organik. Baik pola makan, bertani, maupun dalam kebiasaan sehari-hari,” ungkap Rasdi Wangsa, Direktur Eksekutif AOI. “Dengan mengonsumsi pangan organik, masyarakat bisa lebih sehat dan petani bisa lebih sejahtera karena hasil panen lebih baik dengan harga yang relatif lebih tinggi,” lanjutnya.
Tak hanya soal pangan, Bogor Organic Fair dengan aneka kegiatannya ini juga bertujuan untuk menunjukkan pada masyarakat luas, terutama masyarakat Indonesia dan dunia, bahwa bangsa Indonesia memiliki produk dan jasa layanan yang berkualitas, serta mempertemukan beragam komunitas organik baik yang bergerak di lini produksi, distribusi, pemasaran dan kelompok konsumen dalam satu harmoni “ORGANIK” untuk Indonesia yang lebih baik (*)
______________________________________________________________
Kontak media:
Ani Purwati (081932898698/ani@organicindonesia.org)
Sri Nuryati (08128164009/sri@organicindonesia.org)
Herbal Healing, Metode Pengobatan yang Sangat Efektif
Metode penyembuhan alami atau bisa disebut juga Herbal Healing memang masih menjadi pengobatan yang sangat efektif, seperti yang dijelaskan oleh dr. Erna, salah satu pembicara di even Bogor Organic Fair ke-5, Jumat, 11 September 2015 di Gedung Indoor B GOR Pajajaran, Bogor, Jawa Barat.
Pada kesempatan ini dr. Ema menjelaskan mengenai dua tipe ekstraksi, yang pertama melalui rebusan dan yang kedua melalui bahan kimiawi etanol. “Jadi kalau rebusan itu biasanya metode ekstraksi juga cuma ekstraksinya menggunakan air, kalau ekstak kapsul biasanya diekstraksi menggunakan etanol,” tegas dr. Erna.
Lebih lanjut dr. Ema menjelaskan bahwa ekstraksi yang bagus adalah ekstraksi yang menggunakan air atau rebusan karena senyawa terlarut biasanya paling banyak terdapat di ekstraksi menggunakan air atau direbus dengan air, sedangkan jika diekstraksi menggunakan etanol senyawa yang terlarut tinggal sedikit.
Namun, dari kedua ekstraksi tersebut terdapat kekurangan dan kelebihan masing-masing, yang pertama kekurangan dari ekstraksi rebusan adalah proses ekstraksi relatif lama dan juga tidak dapat tahan lama, berbeda dengan ekstraksi kimiawi menggunakan etanol yang dengan cepat dapat mengektraksi karena alkohol dapat dengan cepat menguap.
Tidak hanya itu, dr.Erna juga menjelaskan bahan-bahan alami yang dapat kita temui di dapur sebagai pengobatan alami yang dapat dengan mudah di praktikkan di rumah, diantaranya:
1. Bawang merah: berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah, meredakan demam (untuk anak-anak), mengencerkan darah (berfungsi menetralisir lemak ketika kita memakan sate),
2. Bawang putih: mengandung kadar selenium yang tinggi, selenium adalah salah satu mineral yang mengandung antioksidan yang sangat berfungsi mencegah kanker,
3. Lengkuas: berkhasiat sebagai anti-panu, dengan diolesi di bagian yang terkena panu, juga sebagai obat pegel linu dan asam urat,
4. Jahe merah: rasanya lebih pahit dan tidak begitu wangi,
5. Jahe gajah: wangi dan nyaman di perut, berkhasiat sebagai obat peradangan tulang, pegel linu, ruam-ruam sehabis olah raga bisa diolesi oleh jahe gajah. Jahe juga bisa meningkatkan daya ingat, diminum satu hari tiga gelas, dengan cara digeprek, diseduh air, lalu dikasih gula aren, dapat juga meringankan lambung dengan dosis yang cukup, satu hari 2 gelas.
Dan beberapa bahan lain yang berada di dapur dapat diolah dengan mudah sebagai pengobatan yang alami. “Dan sebenarnya apabila makanan yang kita konsumsi seimbang dan alami, maka tubuh kita juga akan stabil dan akan terhindar dari penyakit,” jelas dr. Ema.
Di akhir sesi konsultasi, dr, Erna mempraktikan membuat teh hijau yang dicampur dengan jeruk nipis dan kapulaga, sebagai minuman herbal yang menyehatkan. (IDR/ANP/SNY)




