Produk-produk organik memiliki standar dan aturan tertentu dalam pengolahan dan pengelolaannya. Standar dan aturan ini terangkum dalam prinsip Good Handling Practices dan Good Manufacturing Practices yang bertujuan untuk memastikan produk organik tersebut diproses, dikemas, dan diedarkan dengan aman. Masing-masing komoditas produk seperti produk organik segar dan olahan memiliki standar dan ketentuan tertentu sesuai dengan perlakuan yang dibutuhkan.
Warung Hijau Trukajaya merupakan produsen, sekaligus bagian dari Yayasan Trukajaya, yang fokus dalam mengembangkan dan memasarkan beragam jenis beras organik. Beras organik ini dibudidayakan secara kelompok oleh para petani di daerah Jawa Tengah. Warung Hijau Trukajaya telah memasarkan ragam beras organik di pasar lokal hingga nasional.
Sebagai bentuk dukungan untuk pengembangan produksi beras organik, Aliansi Organis Indonesia memberikan peralatan berupa 1 Unit AC Gudang dan 5 Pallet Plastik. Peralatan ini secara khusus untuk mendukung manajamen gudang beras Warung Trukajaya yang menampung beragam beras organik dari petani.
Dalam manajemen pascapanen tepatnya pada tahap gudang, beras organik harus disimpan di tempat yang kering pada suhu ruang untuk menjaga kualitas beras tetap baik. Beras juga harus berada pada kadar air yang tepat yakni 14 derajat celcius agar nilai gizi nya tetap baik. Untuk itu diperlukan peralatan khusus yang wajib ada untuk memastikan beras tersimpan dengan baik.
Dukungan peralatan pascapanen tersebut diserahkan oleh Direktur AOI, Pius Mulyono dan diterima oleh Direktur Yayasan Trukajaya bersama Tim Pemasaran Warung Hijau Trukajaya di kantor Warung Hijau di Salatiga.
Dengan dukungan ini, AOI berharap Warung Hijau Trukajaya dan Yayasan Trukajaya dapat semakin meningkatkan manajamen pascapanen beras organik. Secara simultan, dukungan ini juga dapat meningkatkan kualitas beras organik yang diproduksi oleh petani di Jawa Tengah untuk dipasarkan ke lebih banyak konsumen.
Membangun komitmen petani dalam melakukan pertanian organik sesuai dengan standar PAMOR Indonesia dilakukan dengan beberapa tahap. Salah satunya adalah dengan memastikan Unit PAMOR memiliki Standar dan Struktur Internal Control System (ICS) yang akan menjalankan fungsinya dalam proses inspeksi. Selama tiga hari, tepatnya pada 16-18 Desember 2022, AOI memberikan pelatihan Internal Control System (ICS) kepada petani dan pengurus Unit PAMOR Jamtani di Pangandaran.
Salah satu materi kunci dalam pertemuan ini antara lain adalah mendiskusikan ketidaksesuaian dan sanksi yang menjadi acuan ICS untuk mengantisipasi dan memecahkan situasi tidak ideal yang mungkin terjadi selama proses inspeksi. Kelompok ICS perlu membuat kesepakatan apabila ditemukan dari produksi petani dengan membuat tindakan pencegahan maupun hukuman bagi yang melanggar. Para peserta aktif menyampaikan pendapat mereka terutama para petani yang memiliki pengalaman langsung di lapangan.
Hasil diskusi ini menjadi dasar mereka untuk memetakan risiko-risiko yang harus didokumentasikan dalam dokumen analisa risiko masing-masing kelompk ICS. Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk membahas hal tersebut sesuai dengan komoditas yang mereka produksi, yakni kelompok padi, sayuran dan produk olahan. Setiap kelompok kemudian menyusun analisa risiko masing-masing kelompok dengan berlandaskan standar yang ada beserta pengalaman mereka. Tindakan perbaikan, sanksi dan solusi yang diberikan kemudian akan dilanjut diskusinya dalam kelompok masing-masing.
PAMOR Indonesia digunakan sebagai penjaminan yang akan menjadi jembatan kepercayaan antara produsen dan konsumen terkait produk organik yang dihasilkan oleh dampingan dan jaringan JAMTANI Pangandaran.
JAKARTA, 13 Desember, 2022 – Krisis pangan menjadi momok di seluruh dunia seiring dengan meningkatnya populasi penduduk, terbatasnya lahan dan sumber daya alam, dan krisis iklim yang terjadi diseluruh dunia. Krisis pangan bukan hanya tentang ketersediaan pangan tapi juga tentang kualitas pangan. Pertanian organik memiliki peran dan kontribusi dalam menyediakan pangan yang berkualitas dan memastikan sistem pangan berkelanjutan. Pertanian organik setidaknya memiliki empat prinsip utama yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan antara lain prinsip kesehatan, prinsip ekologi, prinsip keadilan, dan prinsip perlindungan.
“Pangan organik bukan hanya lifestyle segelintir orang, tapi jadi kesadaran bersama untuk pangan dan planet yang berkelanjutan,” terang Emilia Setyowati, Presiden Aliansi Organis Indonesia dalam pembukaan acara Diskusi Publik Pertanian Organik Solusi Pangan Berkelanjutan.
Diskusi Publik dengan topik Pertanian Organik Solusi Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Aliansi Organis Indonesia bertujuan untuk menghimpun beragam perspektif dan menghasilkan narasi yang lebih lengkap tentang upaya pembangunan pangan berkelanjutan. Dalam diskusi ini, hadir lima narasumber dari latar belakang beragam antara lain Noor Avianto, S.P, M.Agr selaku Koordinator Pangan dan Pertanian Direktorat Pangan dan Pertanian BAPPENAS, Diah Ariyani, Koordinator Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan BAPANAS, Dr. Adi Setiyanto, M.Si selaku Analis Kebijakan Muda Kementerian Pertanian, Ir. Bibong Widyarti sebagai Petani dan Peneliti Pertanian Organik, dan Pius Mulyono Direktur Aliansi Organis Indonesia.
Dalam diskusi ini, Noor Avianto, S.P, M.Agr selaku Koordinator Pangan dan Pertanian Direktorat Pangan dan Pertanian BAPPENAS menyatakan ada setidaknya dua aspek penting yang dibangun dalam roadmap pertanian organik dalam rencana pembangunan ketahanan pangan Indonesia yang holistik, antara lain aspek harga untuk petani dan juga aspek pemasaran dari masyarakat. Lebih jauh, Noor menegaskan, “Pertanian organik juga menjadi bagian dari regenerative food system dan mendorong tumbuhnya ekonomi sirkular.”
Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (BAPANAS) menegaskan peran pertanian organik sebagai solusi pangan antara lain integrated production yang mengarah kepada kemandirian pangan untuk smallholder farmer, meningkatkan pendapatan dan akses terhadap pangan yang beragam, dan partisipasi dalam perlindungan sumber daya alam dan lingkungan untuk memastikan produksi pangan yang berkelanjutan.
Menyadari peran ini, Diah Ariyani, Koordinator Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan BAPANAS dalam presentasinya juga menekankan arah kebijakan pengembangan pangan organik ke depannya dengan mendorong revisi Regulasi Sistem Pertanian Organik dan Revisi SNI Pertanian Organik. Revisi ini diharapkan dapat mengakomodir lebih banyak perkembangan dalam praktek pertanian organik di Indonesia.
Sementara itu, Kementerian Pertanian yang diwakilkan oleh Dr. Adi Setiyanto, M.Si juga menyoroti tantangan pengembangan pertanian organik dalam hal akses sertifikasi produk organik yang mahal bagi petani kecil. “Kementan mendorong adanya penjaminan mutu atau sertifikasi yang lebih murah dan terjangkau mulai dari lahan, input, proses produksi, panen, hingga pasca-panen agar produk pangan organik memiliki pasar yang lebih luas,” tegas Dr. Adi Setiyanto, M.Si dalam sesi presentasinya.
Pernyataan ini sejalan dengan gerakan Penjaminan Mutu Organis Indonesia (PAMOR) yang digagas dan digerakkan oleh Aliansi Organis Indonesia. “PAMOR Indonesia yang merupakan Participatory Guarantee System (PGS) atau sistem penjaminan partisipatif menjadi suatu solusi untuk menjawab tantangan mahalnya dan sulitnya akses sertifikasi organik bagi petani kecil di Indonesia,” terang Pius Mulyono, Direktur Aliansi Organis Indonesia.
Disambut oleh Bibong Widyarti, Petani dan Peneliti Pertanian Organik juga menyuarakan peran pertanian organik dalam upaya membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan. Mengambil studi kasus diversifikasi pangan sumber karbohidrat di 7 kelompok masyarakat adat di beberapa wilayah di Indonesia, faktanya sekitar 80-100% menjadikan beras sebagai sumber pangan karbohidrat utama disusul komoditas singkong, sagu, jagung, ubi-ubian, kentang, biji-bijian, dan olahan gandum.
“Saat ini kita memasuki pertanian organik 3.0 dimana kita berfokus dalam diversifikasi pangan, memperluas konversi lahan organic, dan mendorong pertanian organik yang inklusif,” jelasnya.
Dalam penutup diskusi, Dewi Hutabarat dari Koperasi Benih Kita Indonesia selaku moderator menyimpulkan dan mendorong rencana tindak lanjut yang sinergis antara BAPPENAS, BAPANAS, Kementan, Peneliti, dan NGO untuk mengembangkan pertanian organik secara holistik, antara lain dengan mendorong revisi regulasi tentang Pertanian Organik, mendorong adaptasi dan pengakuan Sistem Penjaminan Partisipatif di Indonesia, dan secara berkala menyediakan Statistik Pertanian Organik Indonesia untuk mendukung pangan yang berkelanjutan.
Jakarta, 13 Desember 2023 – Narasumber kunci dari BAPPENAS, BAPANAS, Kementerian Pertanian, dan Aktivis Pertanian Organik berbagi perspektif tentang pertanian organik dan kaitannya dalam upaya mewujudkan pangan berkelanjutan.
PAMOR Indonesia: Penjaminan Partisipatif Memperkuat Praktik Pertanian Organik dan Mendorong Berkembangnya Pasar Organik Lokal
Dalam rangka memperkuat praktik pertanian organik dan mendorong berkembangnya pasar organik lokal, Aliansi Organis Indonesia mengembangkan PAMOR Indonesia. PAMOR Indonesia adalah sistem penjaminan partisipatif dalam pertanian organik yang melibatkan petani atau produsen dengan pihak lain seperti pedagang, konsumen, LSM, dan pemerintah daerah dalam menilai sistem mutu suatu produk yang sesuai dengan standar organik. Sistem penjaminan partisipatif atau dalam nama internasional disebut Participatory Guarantee System (PGS) adalah sistem jaminan kualitas yang berfokus pada produk lokal dimana PGS menjamin produsen organik berdasarkan partisipasi aktif dari para pemangku kepentingan dan dibangun atas dasar kepercayaan, jejaring sosial, dan pertukaran pengetahuan (definisi IFOAM, 2008).
Pemutaran Video PAMOR Indonesia merupakan upaya untuk sosialisasi lebih luas kepada berbagai stakeholder tentang adanya penjaminan organik yang multipihak, partisipatif, dan mengakomodir kebutuhan petani dan produsen organik skala kecil dan menengah. PAMOR Indonesia mengambil peran dalam memperkuat praktik pertanian organik dan mendorong berkembangnya pasar organik lokal, dimana selama ini petani kecil kesulitan mengakses sertifikasi organik pihak ketiga dan rentannya kemandirian petani sebagai aktor utama dalam rantai pertanian organik.
“PAMOR Indonesia sebagai PGS Indonesia menjadi solusi untuk petani organik kecil dan menengah untuk mendapatkan akses penjaminan mutu yang terpercaya dengan biaya yang terjangkau, sehingga ke depannya dapat meningkatkan produksi dan mengembangkan pasar organik di Indonesia” jelas Pius Mulyono, Direktur Aliansi Organis Indonesia.
PAMOR Indonesia pertama kali digagas pada tahun 2008. Gerakan PAMOR Indonesia terus bertumbuh seiring dengan bertambahnya Unit-unit PAMOR di berbagai daerah di Indonesia. Sampai Desember 2022, terdapat sekitar 13 Unit PAMOR di setidaknya 6 provinsi di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Produk organik yang dijamin oleh PAMOR Indonesia antara lain tanaman pangan, holtikultura, produk liar (wild product), produk olahan organik, jamur, peternakan, perkebunan, dan asupan organik.
Para pihak yang tergabung dalam kesatuan Unit PAMOR membangun skema penjaminan organik mulai dari standar, sistem pengawasan, pelaksanaan, hingga evaluasi sistem. Hal ini menggambarkan adanya kepedulian bersama banyak pihak terhadap kesejahteraan produsen, keamanan produk pertanian, keberlanjutan pangan, pertanian, dan kehidupan. PAMOR Indonesia mengacu pada standar dasar PAMOR Indonesia dan SNI 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik. PAMOR Indonesia bertujuan memberikan penjaminan atas produk organik yang dihasilkan di pasar lokal hingga nasional, khususnya diprioritaskan bagi produk yang dihasilkan oleh kelompok tani atau produsen menengah dan kecil.
Produk organik kian diminati masyarakat Indonesia terutama sejak pandemi Covid-19 melanda. Lonjakan permintaan dirasakan sejumlah petani dan produsen organik dari konsumen. Kenaikan paling terasa adalah pada produk organik segar seperti sayuran, buah-buahan, beras hingga produk olahan dan rempah-rempah yang dipercaya mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Kenaikan ini memang disertai kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi produk sehat dan aman untuk menjaga kekebalan tubuh.
Bertambahnya minat masyarakat mengonsumsi produk organik menjadi peluang bagi para petani dan produsen organik untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk organiknya. Petani dan produsen organik skala kecil menengah (UMKM) dapat memanfaatkan momentum ini dengan melakukan gebrakan pada produknya agar dapat bersaing pada pasar organik yang lebih luas di skala lokal maupun nasional.
Peluang ini jugalah yang mendorong AOI untuk menyelenggarakan pelatihan branding dan packaging kepada anggota AOI khususnya petani dan produsen skala kecil dan menengah. Materi ini diperlukan untuk mendorong dan meningkatkan anggota melakukan evaluasi dan inovasi untuk branding dan packaging produk organik yang mereka pasarkan. Mengambil tempat di Solo, Jawa Tengah, pelatihan ini diikuti oleh 11 orang produsen organik selama 2 hari pada 8-9 Desember 2022.
“Pemilihan desain kemasan produk organik disarankan terdiri dari 3 komposisi warna saja. Tujuannya untuk menarik perhatian dan memudahkan konsumen dalam mengenali produk kita,” terang Dr. Sekar Wulan P dan Artha Sejati Ananda, Phd yang merupakan narasumber pelatihan ini. Kedua narasumber ini merupakan dosen di Binus University.
Selama dua hari, narasumber memberikan materi dan latihan kepada peserta tentang langkah-langkah membranding produk. Narasumber juga secara interaktif memberikan ulasan kemasan produk yang dibawa oleh masing-masing peserta sekaligus juga memberikan saran untuk melakukan inovasi kemasan.
Materi tentang strategi mengembangkan pasar produk organik juga diberikan dengan mengulas banyak tentang pengenalan profil konsumen dan cara memanfaatkan platform digital untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Peserta diajak berlatih mengambil foto yang baik dan menarik dan menonjolkan keunggulan produk organik mereka dan menuangkannya dengan bercerita atau storytelling melalui caption sebelum diunggah melalui media sosial.
Sejatinya setiap produk organik memiliki nilai produk dan keunggulan yang tidak hanya menjawab kebutuhan konsumen tapi juga memiliki makna berarti dari segi produsen atau petani. Hal inilah yang harus dikembangkan dan dikemas secara konsisten dalam branding dan packaging.
Setelah pelatihan ini berakhir, para peserta yang merupakan petani dan produsen UMKM berencana untuk melakukan evaluasi bersama tim internal mereka dan melakukan upaya perbaikan kemasan dan akan menerapkan langkah-langkah branding dengan mengenali lebih banyak keunggulan produk organik mereka dan potensi konsumen di pasar yang lebih luas.
Dr. Sekar memaparkan materi mengenai Pasar dan Strategi Pengembangan Bisnis Produk Organik kepada peserta pelatihan.