AOI Gelar FGD Kebijakan di Pontianak, Kalimantan Barat

Aliansi Organis Indoneaia (AOI) menggelar diskusi terfokus kebijakan pertanian organik di Pontianak, Kalimantan Barat (11/7). Acara yang digagas bersama jaringan anggota AOI Kalbar tersebut merupakan bagian dari rangkaian seminar nasional yang sedianya akan diselenggarakan setelahnya di Jakarta. “Melalui FGD ini kami berharap kawan-kawan jaringan di Kalbar, khususnya para anggota memahami latar belakang, konteks dan materi advokasi kebijakan yang dilakukan oleh AOI”, kata Supia, pengurus Yayasan Dian Tama, Pontianak. “Dengan demikian anggota juga dapat terlibat secara aktif di dalamnya serya dapat memberikan berbagai masukan yang bermanfaat.”, lanjutnya.

Kegiatan yang digelar di Canopy Center Pontianak tersebut dihadiri sedikitnya puluhan peserta dari sejumlah lembaga dan petani organik Kalimantan Barat. Direktur Aliansi Organis Indonesia, Stevanus Wangsit,  menegaskan tentang pentingnya mendorong upaya advokasi kebijakan ini secara bersama dengan anggota AOI di berbagai wilayah di Indonesia, bahkan yang bukan anggota AOI sekalipun. “Penerima manfaat langsung dari materi advokasi ini tentu para petani, khususnya petani organik. Bukan hanya AOI dan anggotanya. Ini karena yang terdampak oleh  kebijakan nasional adalah semua pihak dalam jangkauan wilayah kebijakan tersebut diberlakukan. Karenanya sangat perlu acara diskusi semacam ini dilakukan untuk memastikan anggota juga dapat terlibat secara aktif di dalamnya”, tegasnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut koordinator divisi advokasi, Loji. Dalam presentasi pengantarnya ia menjelaskan tentang sejarah riset yang dilakukan oleh AOI dan penyusunan policy paper yang melibatkan sejumlah pihak hingga upaya penting untuk mendiseminasikannya kepada jaringan masyarakat sipil lainnya. “Beberapa waktu lalu kita sudah bikin diskusi kebijalan ini dengan melibatkan sejumlah lembaga lain. Ini penting untuk menggalang dukungan karena hal tersebut juga akan membawa manfaat yang luas, yang juga beririsan dengan visi dan perjuangan kawan-kawan dari banyak lembaga lain, khisisnya organisasi tani”, paparnya. Sementara itu Pius Mulyono dari Lesman Boyolali  yang sebelumnya terlibat dalam riset kebijakan tersebut  mempresentasikan sejumlah kisi penting diantaranya tentang ketimpangan pasar organik, reduksi makna organik hingga ketimpangan akses dalam rantai organik. Paparan tersebut secara substansi merupakan hasil analisis atas temuan riset sebagaimana sudah disusun dalam policy paper yang diterbitkan Aliansi Organis Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Gunawan yang mewakili koalisi nasional, dalam paparannya menjelaskan tentang revolusi hijau dan paten hingga dikeluarkannya UU Sistem Budidaya Tanaman dan UU Perlindungan Varietas Tanaman. Dia juga menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi atas judicial review UU SBT hingga Prioritas Prolegnas RUU Sistem Pertanian Berkelanjutan yang juga menjadi salah satu bagian dari materi rekomendasi policy paper. Dalam kaitan pemberdayaan  dipaparkan pula tentang peluang pada UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial. “Pertanian organik bukan hanya tentang sertifikasi organik dalam rangka perdagangan internasional. Untuk itu perlu diperbanyak petani pemulia benih. Dan sesuai putusan MK, perseorangan petani kecil tidak dilarang atau tak perlu izin dalam mencari, mengembangkan dan mengedarkan benih di komunitasnya”, ungkapnya.

Diskusi Terfokus pra Seminar Nasional bertajuk Re-orientasi Kebijakan Organik tersebut meski digelar dengan peserta terbatas, namun tidak mengurangi semangat peserta untuk bertukar pikiran. Hal tersebut tampak dari sejumlah pertanyaan yang dilontarkan peserta selama diskusi berlangsung. Meski tak secara langsung menukik pada masalah-masalah produk kebijakan, sejumlah pertanyaan yang muncul secara jelas merupakan ekspresi terutama dari petani agar pertanian benar-benar dapat berkembang secara luas dan mendapatkan dukunhan penuh pemerintah dalam hal pemberdayaan dan perlindungan. Selain diselenggarakan secara regional di Kalimantan Barat, FGD Kebijakan ini juga rencananya akan digelar di Medan pada 18 Juli memdatang.

BIOFACH SEA 2019 – Hari kedua

Hari Kedua (12 Juli 2019)berbeda dengan suasana di hari pertama, di hari kedua pameran BIOFACH SEA 2019 kali ini agak ramai pengunjung setelah jam makan siang, baik dari potensial buyer maupun dari para konsumen.

Booth AOI dikunjungi oleh mantan Menteri Pertanian Bpk. Anton Apriantono periode 2004 – 2009. Kemudian di pengunjung hari TOTA mengadakan bisnis matching di ASEAN Paviliun dengan 4 grup unit usaha, 1 grup importir, 3 grup lainnya pengusaha. Setiap anggota advisory board mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi mengenai peluang dan potensi kerjasama.

Kemudian pada malam hari tim BIOFACH mengundang para exhibitor dari Jerman dan ASEAN Paviliun untuk menghadiri acara “Industry Get – Together”. Di mana acara ini berkonsep untuk membangun jaringan dengan suasana yang lebih santai sambil menikmati hidangan.

Miske & Else:

  1. Sonya dari Kementrian Pertanian Jerman.

Peluang : Kerjasama dengan Indonesia melalui lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah Jerman, seperti : Naturland, GIZ

  • TOPS Supermarket, memiliki gerai di Thailand lebih dari 200 gerai. Produk yang mereka jual 50% diimport dari negara lain, dan dari semua produk yang diimport hampir semuanya adalah buah dan sayuran segar (konvensional dan organic).

Peluang : Ekspor untuk buah/sayuran segar, dengan catatan produk yang diekspor terdapat dalam daftar produk yang boleh diimpor oleh Thailand.

  • Naturland

Sebuah lembaga sertifikasi dari Jerman dengan standart lebih tinggi dari Badan Sertifikasi lainnya, dan ingin memperluas jaringan di Indonesia.

Peluang : Naturland dapat membantu market untuk anggotanya, termasuk support jika ada produsen yang mempunyai produk dengan high demand di Jerman.

  • Agroisolab

Laboratorium yang mempunyai akreditasi Eropa untuk memastikan produk organic atau bukan. Oleh karena itu para trader/eksportir cukup menggunakan 1 lab untuk menguji.

Else :

  1. Oil Palm Organic

Perantara antara investor dengan pelaku bisnis untuk organic oil palm.

Peluang : Mengajak PMA untuk mengembangkan produk ini, dan investor dari Belanda.

Lidia & Erol & Devi :

Pertemuan ini adalah business matching antara AOI dengan 3 grup usaha :

  1. Hotel dan Resort Peninsula

Mereka tertarik dengan produk pangan, terutama spices yang dilengkapi dengan sertifikat internasional.

  • Supermarket Bluport

Unit usaha ini tertarik dengan sabun yang diproduksi oleh Sumatran Organic Spices.

  • Organic and Natural Food Shop

Mereka menginginkan produk selain spices dan pangan atau produk organic yang tidak tersedia di Thailand.

Secara umum, ke tiga grup usaha ini mengatakan bahwa produk yang dihasilkan Indonesia dan Thailand hampir seluruhnya sama, sehingga peluang tejadinya transaksi sangat rendah.

Errol :

  1. Starindo Vac : Am + Mei
  2. Membahas potensi pasar di Thailand
  3. Komoditi yg dibutuhkan : beans, spices
  4. Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : PMA & SOS
  • Rudi Antoni : Rafa Topaz Utama
  • Project development
  • Priority : Sugar à Aren & Kelapa, Pepper, Vanili & Spices
  • Follow Up : New project OI, bikin penawaran dan rencana realisasi kegiatan
  • Hiro Kim
  • Tertarik dengan produk sabun SOS, planning ekspor ke Jepang
  • Komoditi yg dibutuhkan : Natural Soap
  • Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : SOS
  • Marcel Murder
  • Post harvest handling manufacturer
  • Komoditi yg dibutuhkan : Kerjasama untuk post harvest handling dengan perusahaan Indonesia
  • Follow up : Training & Post Harvest Development
  • Sureerat Darbavasu
  • Penawaran untuk ikut pameran natural & organic product Chiang Mai
  • Komoditi yg dibutuhkan : –
  • Follow up : Request informasi waktu
  • Fong Jen Chih
  • Tertarik dengan produk organic Indonesia
  • Komoditi yg dibutuhkan : Spices & Sugar
  • Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : SOS & PMA
  • Maheshkumar
  • Tertarik dengan produk organic Indonesia
  • Komoditi yg dibutuhkan : Spices & Sugar
  • Follow up : infokan kebutuhan ke mitra AOI : SOS & PMA

BIOFACH SEA 2019 – hari pertama

Pada hari ini (11/7/2019) pengunjung pameran ini tidak terlalu banyak dan justru didominasi oleh pembeli retail seperti tahun sebelumnya. Hal ini juga disebabkan oleh kunjungan keluarga kerajaan Thailand selama kurang lebih 4 jam, di mana tidak diperbolehkan satupun pengunjung masuk di dalam ruang pameran.

Pengunjung yang datang ke booth AOI juga kebanyakan adalah sesama Exhibitor di pameran ini. Pertukaran informasi mengenai sertifikasi, permintaan produk terjadi di antara sesama Exhibitor.

Seperti yang dilakukan Ibu Elsje (PMA) ketika berbincang dengan perwakilan dari Natural Efe (Thailand), Tofu Town (Jerman), dan Good Karma (Thailand) membuatnya mendapatkan peluang permintaan akan Jackfruit (raw materials).

Untuk perwakilan dari Organic Institute mas Erol ada perbincangan dengan Allan dari Green Pro (Phillippines), ingin mendalami mengenai AOI dan anggota2nya terutama mengenai produk, sekaligus menawarkan teknologi dari perusahaannya fungsinya untuk packaging dan drying produk. Dari segi peluang : Kerjasama pelatihan maupun pembicara dalam berbagai training post harvest handling.

Kedatangan dari Sanjay Deshmuth dari NACA dan Jayprakash dari QMS. Mereka dari lembaga sertifikasi di India dan berdiskusi mengenai lembaga dan sistem sertifikasi di Indonesia.

Selain itu Tim Mahler dan Dir GIZ Thailand, berdiskusi mengenai program peningkatan kapasitas petani kopi di Indonesia. Dengan pertemuan ini terbukanya peluang kerjasama dengan kelompok tani/Lembaga untuk mencapai standard yang diinginkan.

Policy Paper – Kebijakan Pertanian Organik (AOI)

Makalah kebijakan ini merupakan hasil dari sebuah proses penelitian kolaborasi banyak pihak seperti tercantum pada sampul depan makalah kebijakan ini, oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh tim peneliti dan penyusun makalah ini yang sudah mencurahkan seluruh hati, pikiran, tenaga dan waktu yang tidak terkira demi terwujudnya reorientasi kebijakan pertanian organik di Indonesia. Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu proses penyusunan makalah kebijakan (Policy Paper) ini sehingga bisa selesai tepat pada waktunya.

Harapan yang sangat besar bagi kami bahwa makalah kebijakan ini bisa memperkaya khasanah pemikiran dan ilmu pengetahuan mengenai pertanian organik dan memberikan rekomendasi untuk dapat mempertimbangkan kembali Kebijakan Pertanian Organik yang berlaku di Indonesia terutama sesudah dan pada pelaksanaan program “Go Organik 2010” dan “Seribu DesaPertanian Organik” sebagaimana judul dari makalah kebijakan ini.

Download Policy Paper - Kebijakan Pertanian Organik (AOI)

Lengkapi data Anda untuk mendownload dokumen. Informasi yang Anda berikan membantu kami memahami kebutuhan dan latar belakang pembaca dokumen ini.

Budidaya Pertanian Organik Desa Pulosari

Pada tanggal 25 – 27 Juni, AOI telah melakukan pemantapan budidaya pertanian organik di Pulosari, Sukabumi – Jawa Barat.

Dimulai dihari pertama (25/7/2019) dengan pembuatan mikroorganisme lokal, (MoL) yang melibatkan perwakilan kelompok tani desa Pulosari, PPL Kalapanunggal, Kelompok Wania Tani (KWT) dan Kader PKK Desa Pulosari. Pada sesi ini para peserta mampu mengenali bahan-bahan pembuatan (MoL) dan mempraktekan cara pembuatan (MoL) dari bahan nasi, gedebong pisang dan sisa sayuran hijau.

Dihari kedua (26/7/2019) para peseta dikenalkan dengan bahan-bahan pupuk kompos dan pupuk organik cair yang ada di sekitar desa Pulosari, yang selanjutnya para peserta memperaktikan cara pembuatan pupuk kompos dari bahan kotoran ayam, kotoran kambing dan starter alami dan peserta juga mampu mempraktikan pembuatan pupuk organik cair dari bahan urine kelinci, kotoran kambing dan dedaunan hijau

Dihari terakhir (27/5/2019) AOI menerangkan tentang pembuatan pestisida nabati, yang langsung dipraktikan oleh para peserta dimuali dari pengenalan bahan sampai proses pembuatan pestisida nabati dari bahan daun sirsak, empon-empon (jahe, lengkuas, kunyit) dan cabe rawit.

Bagaimana dengan hasilnya ?

Peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan praktik dan ikut terlibat aktif dalam kegiatan praktik. Peserta melakukan tanya jawab dan diskusi terfokus terkait materi praktik yang diajarkan serta diiringi dengan sesi berbagi pengalaman antar peserta praktik. Kehadiran dari PPL Kalapa Nunggal juga semakin menambah antusiasme petani dalam mengikuti kegiatan praktik yang diadakan selama 3 (tiga) hari berturut-turut. Pada saat kegiatan praktik, peserta juga melakukan pendokumentasian baik berupa foto dan video kegiatan. AOI akan terus mendorong para peserta untuk melakukan replikasi kegiatan serupa baik secara masing-masing maupun berkelompok sehingga bisa melatih kemampuan dalam hal praktik pembuatan MoL, Pupuk Organik, dan Pestisida Nabati. Selain itu juga menjadikan hasil praktik ini untuk diaplikasikan pada praktek penanaman dan pemeliharaan tanaman di demplot pembelajaran pertanian organik.

Majalah Organis 48

Halo semuanya majalah organis edisi 48 sudah terbit

Pada kali ini majalah organis edisi 48 ini membahas tentang Peluang produk organik di Eropa, Pertanian, Transformasi program 1000desa organik menuju kedaulatan petani, Pentingnya ICS dalam menjaga mutu pala di Sangihe, dan masih banyak lagi

Beberapa tahun belakangan ini, hampir semua pihak menyadari semakin luasnya pasar organic dunia. Konsumen yang membutuhkan hasil pertanian organis semakin banyak. Kecepatan pertumbuhan kebutuhan produk organic jauh meninggalkan kecepatan produsen menyediakan produk sesuai permintaan pasar

Indonesia Organic Food Day yang baru diselenggaran di London, Inggris dan beberapa pameran berskala internasional lain -Biofach- salah satunya, telah memberikan bukti fenomena diatas.

Namun demikian, petani di Indonesia sesungguhnya mampu untuk memenuhi persyaratan atas permintaan tersebut. Walaupun tidak semudah dikatakan, akan tetapi bukan berati itu tidak dapat dicapai. Seperti yang dilakukan oleh APO KOMASA di Sangihe, berkat adanya komunikasi antar anggota (AOI) dan saling membantu dalam semua proses persiapan keperluan, para petani pala di Shangihe akhirnya dapat mengekspor hasil pertaniannya ke pasar dunia. Tentu, ini tidak mengecilkan pasar domestik yang dibangun atas dasar saling percaya dan kemitraan

Semoga para petani organis kita semua dapat semakin berdaulat.
Slam Organis,

Terus Tingkatkan Pengetahuan dan Pengalaman dalam Bertani Organik

Pertanian organik di Indonesia dalam perkembangannya  muncul seiring dengan merebaknya isu pembagunan pertanian berkelanjutan. Isu pertanian organik sudah menjadi perhatian masyarakat di seluruh dunia. Walaupun mendapat tekanan dari sistem pertanian modern melalui program pertanian konvensional, pertanian organik masih bisa bertahan sampai saat ini. Konsep pertanian berkelanjutan telah mendapat perhatian yang lebih besar sebagai dampak dari konsep industrialisasi pada proses pembagunan pertanian yang dimulai sejak tahun 1980.

Pertanian organik terus berkembang secara signifikan baik di tingkat dunia, tingkat nasional, maupun tingkat lokal yang tampak dengan semakin bertambahnya luas lahan penanaman dan juga perumbuhan pasar produk organik tersebut.Data tahun 2016 total luas lahan pertanian organik di Indonesia adalah 262.383,65 ha ( SPOI AOI 2016 ) . Kenaikan nilai penjualan produk organik ini dipicu oleh tingkat kesadaran konsumen tentang mutu produk di Indonesia, produk pangan organik banyak diminati konsumen.

Dalam pergerakannya petani organik mengalami isolasi dan bahkan sering berada dalam konflik dengan diwarnai beragam konflik baik internal maupun eksternal baik berupa konflik kepentingan maupun konflik struktural. Salah satunya adalah konflik internal dalam organisasi yang melakukan advokasi pertanian organik untuk bekerja sama dengan organisasi yang memiliki visi dan misi yang sama sehingga organisasi menjadi kurang efektif.

Selain itu juga adanya konflik kepentingan dalam organisasi-organisasi atau lembaga sertifikasi, dimana lembaga-lembaga tersebut menjadi penting dalam menentukan standar organik baik dalam proses budidaya maupun produk yang dihasilkannya. Standar itulah yang kemudian lebih menentukan pasar produk yang dihasilkan oleh petani.

Untuk menciptakan kelembagaan yang kuat dan berkelanjutan maka harus membuka ruang konflik antara tujuan dan nilai-nilai pertanian organik dengan tujuan dan nilai-nilai sosial dan ekonomi yang lebih luas. Sulit untuk mengatasi konflik antara pertanian organik dan konvensional dimana pertanian konvensional dimana sudah mendominasi pertanian di Indonesia selama bertahun tahun. \

KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI

Mendirikan ataupun menjadi anggota kelompok tani tidak sulit. Kelompok tani bagi sebagian petani organik merupakan wadah untuk memperjuangkan pertanian organik melalui advocacy. Petani akan mendirikan organisasi sebagai wadah untuk berkumpul, membagi informasi tentang pertanian organik. Oragnisasi mereka biasa disebut dengan GAPOKTAN.

Pada variabel fakta, petani organik akan menggambarkan mengenai sikap terhadap informasi, komunikasi, pengambilan keputusan dan partisipasi dalam organisasi Gapoktan Pertanian organik sebanyak 90% selalu menjadi sumber nafkah utama, dan sering menjadi sumber pemasukan utama Gapoktan karena Gapoktan dapat mengelola penjualan padi organik hasil panen mereka, dan juga menjual padi organik ke Gapoktan merupakan hal yang utama. Masih sama halnya dengan hal sebelumnya, mereka medahulukan menjual padi mereka ke Gapoktan.

oleh karenanya pentingnya sebuah individu petani mulai harus tergabung dengan sebuah kelompok / organisasi tani yang dimana dapat menambah wawasan dan pelebaran pasar.

Pentingnya Penyadaran dan Pemberian Pendidikan tentang Pertanian Organik

Pertanian organik sudah cukup dikenal luas oleh masyarakat Indonesia seiring dengan munculnya tren hidup sehat. Banyak pelaku pertanian organik bermunculan seiring dengan pangsa pasar yang semakin terbuka. Tidak hanya karena bernilai ekonomis tinggi, pertanian organik penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak oleh tingginya penggunaan input pertanian yang berbasis sintetis dan kimia dalam kurun waktu yang lama.

Perkembangan dan dinamika pertanian organik juga semakin kompleks, terutama jika dikaitkan dengan berbagai kebijakan yang baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pertanian organik. Berbaagai bentuk perkembangan serta tantangan baru yang muncul tersebut juga sangat perlu diketahui oleh publik, terutama oleh para pelaku dan praktisi pertanian organik, selain juga masyarakat pada umumnya. Akses publik atas informasi tentang pertanian organik ini selanjutnya diharapkan bukan saja mampu semakin memperluas jangkauan penyebaran pertanian organis sebagai model hingga mampu memotivasi dan mendorong orang lain untuk semakin memiliki kesadaran yang sama serta beralih pada pertanian organis, tapi juga mampu memahami permasalahan-permasalahan mendasar yang dihadapi oleh pertanian organis ditengah masih kuatnya pengaruh kebijakan pertanian konvensional.

Gerakan kesadaran dan pendidikan publik menyangkut pertanian organis dapat dilakukan dengan aneka bentuk kegiatan yang relevan dan sesuai dengan tuntutan kebaruan zaman seperti mengoptimalkan penggunaan media daring, media sosial hingga menggelar berbagai forum diskusi, talkshow, kajian, seminar maupun melalui pembangunan opini denagn bekerjasama dengan kanal-kanal media yang tersedia. Melalui berbagai jalan dan kegiatan tersebut diharapkan kesadaran publik tentang pentingnya pertanian organis serta berbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapinya dapat terus ditingkatkan sehingga merangsang keterlibatan yang lebih aktif.

Petani Dairi Membentuk Unit PAMOR

Pada Selasa hingga Rabu, tepatnya 24-25 Juli 2018 yang lalu, PETRASA bersama dengan petani organik dampingan Yayasan PETRASA dari berbagai desa di Kabupaten Dairi berkumpul di Kantor PETRASA untuk mengikuti pertemuan dan diskusi tentang Penjaminan Mutu Organik (PAMOR) yang difasilitasi oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI).

Pertemuan ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari berbagai kegiatan petani organik yang dilakukan oleh PETRASA pada waktu sebelumnya. Para petani yang telah dilatih untuk bertani organik sudah mampu menghasikan produk pertanian organik yang siap jual di masyarakat. Namun menjual produk organik itu ternyata tidak mudah. Saat dijual ke pasar tradisional, pembeli tidak percaya dengan keorganikannya sehingga harganya pun tetap sama dengan produk non-organik. Oleh karena itu, PETRASA sebagai lembaga pendamping para petani organik ini, membantu pemasarannya dengan membangun komunitas konsumen organik di Sidikalang, ibu kota Dairi. Para konsumen ini percaya “keorganikan” produk tersebut dengan PETRASA sebagai penjamin. Namun penjaminan oleh PETRASA hanya dapat berlaku di kabupaten Dairi, dimana PETRASA dikenal. Harapan PETRASA dan para petani, di masa depan produksi organik petani ini dapat di jual ke pasar yang lebih luas, sebut saja ke kota Medan, sebagai kota besar yang paling dekat dengan Sidikalang. Dalam rangka meningkatkan kepercayaan konsumen dan untuk dapat meluaskan pasar, hasil pertanian inipun perlu mendapat sertifikasi. Namun mahalnya biaya sertifikasi menjadi tantangan terbesar bagi para petani. Mayoritas para petani adalah petani kecil yang tidak memiliki dana untuk membayar biaya sertifikasi yang cukup besar.

Di sisi lain, prosedur sertifikasi yang panjang dari sistem penjaminan pihak ketiga memberatkan petani kecil. Prosedur yang panjang tentu memakan waktu yang lama. Apalagi letak lembaga sertifikasi pihak ketiga umumnya ada di ibu kota atau kota besar. Petani kecil kesulitan untuk mengaksesnya. Salah satu sistem sertifikasi yang dapat diakses oleh para petani kecil adalah penjaminan komunitas atau yang secara Internasional dikenal dengan nama “Participatory Guarantee System (PGS).

Sejatinya, di beberapa negara seperti Thailand dan Argentina, sistem PGS sudah dikenal dan bahkan diakui oleh pemerintah. Di Indonesia sendiri, sistem PGS dikenal dengan nama Penjaminan Mutu Organik (PAMOR) yang pada tahun 2008 diinisiasi oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI) di Yogyakarta.

Penjaminan inilah yang menjadi agenda utama pertemuan di PETRASA pada bulan Juli 2018 tersebut. Diskusi yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka oleh Restu Aprianta Tarigan, perwakilan PAMOR Sumatera Utara. Dia menjelaskan penjaminan mutu produk organis penting untuk menjembatani kepercayaan antara petani dan konsumen.

“Ada tiga motto PAMOR yang penting untuk diingat. PAMOR itu murah, mudah dan terpercaya. Murah secara biaya, mudah secara proses, dan terpercaya karena sistem inspeksi dan pemeriksaan sistem budidaya ini dilakukan dengan baik dan terpercaya.” Terang pria yang akrab dipanggil Anta ini.             Suasana diskusi sangat hidup karena para petani dan staf PETRASA aktif bertanya. Peserta antusias membedah lebih dalam sejauh mana PAMOR dapat menjadi jawaban masalah kepercayaan konsumen selama ini. Diskusi juga interaktif karena para petani dilibatkan langsung memberikan ide dan saran untuk membuat standar internal pertanian organis yang disesuaikan kearifan lokal dan kondisi petani Dairi.

Asesment Ke Pulosari untuk Program Restorasi dan Pertanian Organik

Desa Pulosari terdiri dari 6 dusun dan memiliki 17 kelompok tani serta 1 Gapoktan. Namun Gapoktan yang diketuai oleh pak Odan Subandi ini kurang berfungsi dengan baik. Desa ini pernah mendapat bantuan program Bio Slurry dari Indonesia Power pada tahun 2014 karena hampir rata-rata penduduk memiliki ternak domba yang menghasilkan kotoran yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bio slurry. Banyaknya ternak di desa Pulosari sebenarnya terkait dengan kelompok peternak “ Bina Usaha“ yang pernah mendapatkan bantuan domba dari Indonesia Power sejumlah 50 ekor domba, yang terus dikembangkan oleh masyarakat setempat. Namun demikian program Bio Slurry tersebut belum mampu berkembang dan memberi manfaat luas. Instalasi percontohan Bio Slurry juga belum mampu berkembang dan direplikasi dan hanya berskala kecil. Bio gas yang juga dihasilkan oleh instalasi ini hanya bisa dimanfaatkan oleh 2 rumah tangga. Sisa atau bekas untuk Bio Slury menghasilkan 2 produk yaitu yaitu pupuk kompos cair dan pupuk komos padat, yang dimanfaatkan oleh anggota kelompok tani tersebut dan anggota kelompok lain. Bantuan program Bio Slury ini baru ditujukan untuk satu kelompok saja yaitu Klp. Tani Bina Mandiri dengan jumlah anggota 20 anggota.

Desa Pulosari juga memiliki kelompok UKM Ucing Gering yang memproduksi makanan olahan. Kelompok ini mempunyai anggota 20 orang, namun belum cukup aktif dalam pengelolaan kelompok usaha bersama.

Kelompok Tani Nagrang di desa Pulosari sebenarnya juga mempunya rumah kompos, namun sayangnya belum terkelola dengan baik untuk kepentingan kolektif petani. Petani masih cenderung berjalan sendiri-sendiri. Padahal jika dikelola dengan baik potensinya juga cukup besar karena jumlah domba yang ada di desa Pulosari kurang lebih berjumlah 10.000 ekor. Harga penjulan domba berkisar 1,5 juta  – 1,8 Jta.

Di desa Pulosari terdapat sebuah koperasi bernama AMANAH MADANI dengan program-program inti:

  1. Simpan pinjam
  2. Program Sosial 1 juta : 1 pohon
  3. Bank sampah (tahap persiapan)
  4. Persiapan lahan sampah
  5. Pengelolaan sampah

Produk pertanian rata-rata masyarakat Pulosari adalah sayur-mayur (hortikulura) dengan kepemilikan lahan minimal 1.000 meter2.

Sudah ada kelompok yang mengembangkan pertanian organik yakni Kelompok Tani Nangrang yang memiliki jumlah anggota 35 orang. Namun demikian tidak semua anggotanya mempraktikkan pertanian organik. Dari 35 petani anggota hanya beberapa petani yang mengimplentasikan pertanian organik. Untuk pasar meliputi Tangerang dan Bogor.

Untuk mendorong petani secara lebih massif melakukan pertanian organik, menurut ketua kelompok tani dibutuhkan beberapa pendekatan:

  1. Sosialisasi / penyadaran petani, yaitu melakukan pendampingan secara insten termasuk penguatan kelompok
  2. Permodalan
  3. Pelatihan – pelatihan tentang pertanian organik
  4. Pemasaran hasil produksi pertanian organik
  5. Sertifikasi organik.

PENGELOLAAN SAMPAH

Pengelolaan sampah di ketuai oleh Pak Didin, tetapi kegiatan diserahkan kepada komunitas anak muda di desa. Komunitas ini dibawah komando Karang Taruna desa Pulosari.

Yang dibutuhkan dalam pengelolaan sampah :

  1. Mesin pencacah ; saat ini kapasitas hanya 1 ton
  2. Pelatihan pengelolaan sampah
  3. Administrasi pengelolaan sampah

Untuk pengelolaan sampah baru proses awal, jadi belum berjalan secara kontinue.

RESTORASI

Restorasi berupa penanaman dan reboisasi hutan. Kegiatan ini melibatkan masyarakat di kampung Kiara Beres, Ketua P. Maman. Masyarakat diajak untuk mengolah hutan bekerjasama dengan Taman Nasional Halimun Salak.Wilayah Kiara Beres merupakan daerah yang berdekatan dengan Taman Nasional. ( Berbatas langsung dengan hutan )

  • Lahan digarap kelompok tani
  • Wilayah garapan petani ada di luar kawasan hutan maupun di dalam hutan ( nama petani terdata dan tercatat oleh TNHS )

KOPERASI AMANAH MADANI

Kegiatan dimulai tahun 2014 yaitu kegiatan 1juta = 1 pohon, artinya nasabah yang meminjam 1 juta maka diwajibkan menyumbang 1 pohon dengan diwujudkan Rp.2.000,-. Saat ini sudah melakukan reboisasi 10 hektar dengan perawatan minimal 2 tahun. Pohon yang ditanam merupakan pohon endemi asli Pulosari yang meliputi : Rakmalaya, Kuru, Saminten. Pohon buah adalah Harendong.

Ada 5 program koperasi AMANAH MADANI – PROGRAM SWADESI

  1. Pohon /  Restorasi
  2. Maintenance sampah keluarga
  3. Setiap anggota diwajibkan punya 2 buah tempat sampah

Kemampuan memilah sampah belum ada.

  • Marketing melibatkan 400 anggota dan 1500 calon anggota
  • Pertanian ramah lingkungan meliputi pengelolaan
  • Tanah
  • Air

Bekerjasama dengan kelompok tani dengan membuat rumah kompos. Untuk pertanian ramah lingkungan bekerjasama sama dengan SCI melalui Star Energy. Isinya adala isyu kampanye pemakaian pupuk kimia. Dimulai dari hulu dampai dengan hilir. Hanya pemasaran saja yang belum berjalan.

  • Air dan Sanitasi
  • Kampanye ( Lingkungan ) melalui sekolah mulai dari RA / TK dan SD

RUMAH KOMPOS

  1. Kebutuhan dasar
  2. Penguasaan materi organik
  3. Kemampuan publikasi
  4. Market produk

Kendala :

  1. Kapasitas mesin
  2. Musim hujan susah kering ( ada ide membuat oven manual )

KELOMPOK TANI

Kelompok tani Nangrang. Ketua pak Rukhiyat

Pada kelompok Nangrang secara prinsip mengoptimalkan potensi panen. Pemahaman organik masih terdistorsi wacana organik dinas pertanian yang cenderung reduktif. Masih menggunakan kimia dengan presentaisi 5 %. Sudah melakukan selama 4 tahun dengan standar pengurangan penggunaan kimia sesuai standart organik yaitu :

MUSIM KIMIA ASUPAN ALAMI
TAHUN I
I 100% 90%
II 90 % 80 %
III 80% 60%
TAHUN II
I 60 % 40%
II 40% 30%
III 30% 20%
TAHUN III
I 20% 15%
II 15% 10%
III 10% 5%

Sampa1 tahun ke 4 maka kima yang digunakan hanya 5 %.

Semua petani mengimplementasikan teori yang di dapat tetapi tidak kontinue, karena inginya instan dan tidak mau repot. Petani hortikultura Kelompok Nangrang terdiri dari : 14 petani hortikultura, dan 40 anggota petani sawah / pangan padi.

Permasalahan

  1. Tidak ada pertemuan rutin ( andaikata ada permasalahan hanya melalui sebatas ngobrol saja )
  2. Organik belum dihargai

Komuditas yang di tanam adalah Ketimun, Cabe. Luas lahan minimal 3.000 meter2.

Dalam perhitungan yang dipraktekkan oleh pak Rukhiyat, untuk non organik membutuhkan biaya 5 juta tetapi organik hanya 1.5 juta dengan komuditas ketimun. Rumah kompos dikelola oleh pak Rukhiyat dari tahun 2014.