Program Organic Youth Movement: Gerakan Kolaboratif untuk Mendorong Generasi Muda menjadi Petani Masa Depan


MEDAN, 28 Februari 2024 – Indonesia sangat rentan menghadapi permasalahan ketahanan pangan. Hal ini kian dipicu dengan kondisi perubahan iklim global yang semakin ekstrim berdampak pada negara-negara agraris seperti Indonesia. Salah satu dampak yang paling terasa saat ini adalah ketersediaan beras yang berkurang diiringi kenaikan harga beras yang melonjak.


Di tengah kondisi tersebut, Indonesia sedang menghadapi tantangan regenerasi petani. Hasil Sensus Pertanian 2023 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa petani di Indonesia saat ini mayoritas berusia 55 tahun. Dalam kurun satu dekade ke depan, Indonesia akan menghadapi krisis petani ekstrim bila tidak ada upaya bersama mendorong regenerasi petani muda.


Berangkat dari permasalahan tersebut, Aliansi Organis Indonesia, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan, dan BITRA Indonesia berkolaborasi melaksanakan Diskusi Grup Terfokus atau Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Petani Organik Muda sebagai Pilar Utama Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim”. Diskusi ini terlaksana secara hybrid di Polbangtan Medan dan dihadiri sebanyak 50 orang peserta di lokasi dan 130 peserta yang bergabung dalam jaringan atau online.


FGD bertujuan untuk menghimpun beragam perspektif dan menghasilkan narasi yang lebih lengkap tentang upaya mendorong generasi muda terlibat dalam seluruh spektrum pertanian organik sebagai pilar utama mewujudkan ketahanan pangan dengan berbasis perubahan iklim.


“Pandemi Covid-19, perang Rusia dengan Ukraina, dan perubahan iklim yang sangat terasa dampaknya adalah sebagian dari tantangan global yang sedang kita hadapi dan rasakan dampaknya pada ketahanan pangan kita, dan untuk itu kita perlu mempersiapkan generasi muda dalam pertanian organik,” terang Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Medan, Ir. Yuliana Kasrini, M.Si dalam pembukaan acara.


Dalam diskusi ini, hadir dua narasumber utama antara lain Pius Mulyono selaku Direktur Aliansi Organis Indonesia dan Ir.Lusyantini,MM sebagai Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara.
Direktur Aliansi Organis Indonesia, Pius Mulyono menjelaskan tentang peran generasi muda mewujudkan kedaulatan pangan dan bukan hanya berfokus di ketahanan pangan. Upaya-upaya yang dilakukan AOI untuk mendorong regenerasi petani organik muda melalui Program Organic Youth Movement (OYM). “Program OYM yang diluncurkan AOI merupakan salah satu bentuk kepedulian untuk menggerakkan generasi muda menjadi petani muda yang lebih sadar akan pertanian organik dan berkelanjutan,” terangnya.


Di sisi lain, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara, menegaskan peran pemerintah provinsi dalam mendukung pengembangan pertanian organik di Sumatera Utara. Ia memaparkan ketahanan pangan di Sumatera Utara cukup rentan karena tidak setiap kabupaten mampu untuk swasembada pangan sendiri. “Permasalahan utama saat ini adalah luas lahan pertanian kita semakin tergerus dan ancaman iklim juga memperparah situasi,” tuturnya dalam sesi diskusi. Meski demikian, ia optimis dengan generasi dapat melanjutkan pertanian organik melalui pengembangan potensi desa.


Beragam perspektif muncul dalam diskusi karena para peserta yang hadir sebagian besar adalah perwakilan NGO yang merupakan anggota dan jaringan AOI di Sumatera Utara, para pegiat yang bekerja di sektor pertanian organik seperti Louis Dreyfus Company (LDC), dan juga para akademisi dari fakultas pertanian universitas yang ada di Medan seperti Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), dan Universitas Nommensen dimana permasalahan ketimpangan kepemilikan lahan juga menjadi faktor yang membuat petani tidak tertarik menekuni dunia pertanian. Dalam sesi diskusi, Direktur BITRA Indonesia, Rusdiana, juga memberikan dukungan untuk program OYM yang selaras dengan program kerja BITRA dalam mendorong kemajuan pertanian organik di Sumatera Utara.


Moderator yang merupakan akademisi dari Fakultas Pertanian USU yaitu Ir.Yusak Maryunianta, M.Si merangkum hasil diskusi, “Kiat Mendorong Generasi Muda menjadi Pilar Utama Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim adalah antara lain dengan mendorong pemuda membangun desa, mengembangkan kapasitas pertanian pemuda, mendorong pengembangan pasar, diversifikasi dan hilirasasi produk organik, pendampingan dan sertifikasi. Semuanya bis akita dorong melalui pengembangan program Organic Youth Movement ini.”


Forum ini ditutup dengan penandatanganan perjanjian Kerjasama antara AOI dan Polbangtan Medan dan BITRA Indonesia yang memiliki visi dan misi searah untuk mewujudkan regenerasi petani muda yang memiliki pengetahuan berbasis iklim untuk masa depan kedaulatan pangan Indonesia.


Tentang Program Organic Youth Movement (OYM)
Program OYM merupakan program yang diinisiasi oleh AOI untuk menginspirasi dan memberdayakan generasi muda untuk terlibat dalam seluruh spektrum pertanian organik dan perubahan iklim sebagai ujung tombak kedaulatan pangan di Indonesia dan dunia. AOI akan melaksanakan rangkaian kegiatan pengembangan kapasitas bagi kaum muda yang tertarik menjadi petani organik, produsen olahan produk organik, dan peran lain dalam sektor pertanian organik. Pengembangan kapasitas tersebut antara lain melalui berbagai pelatihan, pembekalan, mentor, magang, dukungan peralatan, dan forum aktif yang dapat mendorong kaum muda menjadi petani masa depan.

Rilis Kegiatan: RUA AOI ke-VIII 2023

Meningkatkan Resiliensi Petani dengan Aksi Kolektif Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim melalui Pertanian Organis

[Salatiga, 19 Januari 2024] – Di tengah perdebatan akan upaya-upaya konkrit menekan laju kenaikan suhu bumi, Indonesia sebagai negara agraris yang rentan terdampak perubahan iklim memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan aksi adaptasi dan mitigasi. Perubahan iklim dan efek El-Nino yang terjadi sejak pertengahan 2023 terbukti memperparah kondisi pertanian di Indonesia. Petani kecil, perempuan, anak-anak, dan difabel menjadi kelompok masyarakat yang paling tinggi terdampak resiko perubahan iklim. Di sisi lain, kebijakan-kebijakan pertanian organik di Indonesia yang masih belum berorientasi pada petani organik kecil justru mempersulit laju gerakan pertanian organik sebagai bagian dari adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Pada tanggal 17-19 Januari 2024, Aliansi Organis Indonesia (AOI) mengadakan Rapat Umum Anggota ke-VIII tahun 2023 secara hybrid di Salatiga, Jawa Tengah. Acara tiga hari ini merupakan forum penting bagi anggota untuk berdiskusi, merumuskan strategi, dan mengambil keputusan penting yang berkaitan dengan pengembangan organisasi dan upaya meningkatkan keberlanjutan gerakan pertanian organik di Indonesia.

Rangkaian RUA 2023 diawali dengan Seminar Nasional dalam dua sesi yang bertajuk Arah Kebijakan Pertanian Organik dan Diskusi Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2023 dan Standar Pertanian Organik. Seminar ini dilaksanakan pada 17 Januari 2024 di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Sesuai dengan tema seminar, hadir tiga pembicara yang mewakili stakeholder dalam rantai pertanian organik, antara lain Dekan Fakultas Pertanian UKSW yakni Dr. Ir. Bistok Hasiholan Simanjuntak, Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas M.Si yaitu Jarot Indarto, SP, MT, MSc, PH.D, dan Indro Surono sebagai Dewan Kehormatan AOI. 

Diskusi tentang perkembangan SPOI 2023 dan perkembangan Standar Pertanian Organik menghadirkan Dr. Agr. Wahyudi David dari Universitas Bakrie yang juga merupakan penulis SPOI 2023 dan Antonius Waspo sebagai Direktur PT BIOCert. SPOI merupakan terbitan berkala AOI sejak tahun 2008 tentang data statistik perkembangan pertanian organik di Indonesia. SPOI 2023 merupakan terbitan terbaru yang melibatkan anggota AOI, akademisi, Lembaga Sertifikasi Organik, dan pemerintah dalam penyusunannya.  Seminar nasional dan diskusi ini menjadi pemantik untuk berbagai diskusi strategis dalam rangkaian RUA yang berlangsung pada 18-19 Januari 2023.

Rapat Umum Anggota AOI ke-VIII merupakan kesempatan bagi para anggota organisasi yakni kelompok tani, LSM, aktivis, akademisi, pakar pertanian, hingga wirausaha dalam pertanian organik untuk berkumpul, berbagi pengetahuan, dan merumuskan langkah-langkah konkrit memperkuat gerakan pertanian organik di Indonesia. Acara ini dihadiri oleh 64 anggota yang terdiri dari 43 anggota Lembaga dan 21 anggota individu. Para peserta aktif terlibat dalam diskusi untuk bertukar pandangan dan pengalaman, mengevaluasi capaian, dan merencanakan langkah-langkah masa depan.

Hasil dan Keputusan RUA AOI ke-VIII tahun 2023:

  1. Garis Besar Haluan Program (GBHP) AOI yang disepakati berfokus pada penguatan akses pasar, penguatan advokasi kebijakan, riset, dan media, peningkatan kapasitas anggota, dan pengembangan program dan jaringan yang secara khusus mengarah pada upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
  2. Perubahan Statuta AOI 2020 menjadi Statuta AOI 2023 untuk kemajuan organisasi agar mutakhir sesuai perkembangan jaman.
  3. Menetapkan anggota baru AOI sebanyak 18 anggota dan memberhentikan 12 anggota lama. Jumlah anggota AOI saat ini adalah 128 anggota.
  4. Menerima pengunduran diri Toto Himawan dan Kominta Sari sebagai anggota Dewan Kehormatan (DK) AOI. Mengangkat Petrus Sarija sebagai anggota Dewan Kehormatan (DK) AOI.
  5. Menetapkan tujuh Dewan Perwakilan Anggota Periode 2023-2026 yang mewakili wilayah, latarbelakang profesi, dan gender sebagai berikut: -Antonius Waspo (Presiden AOI), Emilia Tri Setyowati (Sekretaris AOI), Elsje Mansula (Bendahara AOI), Rusdiana (Anggota), Abdul Wahab (Anggota), Maya Stolastika (Anggota), Shofyan Adi Cahyono (Anggota)

RUA AOI Ke-VIII Tahun 2023 menghimpun kembali komitmen anggota untuk mendorong gerakan pertanian organik, membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan di Indonesia. Rapat Umum Anggota (RUA) AOI ke-IX Tahun 2026 akan diadakan dengan tuan rumah adalah JAMTANI Pangandaran.

SPOI 2023

Download SPOI 2023

Lengkapi data Anda untuk mendownload dokumen SPOI 2023. Informasi yang Anda berikan membantu kami memahami kebutuhan dan latar belakang pembaca SPOI.

Kontribusi Pertanian Organik Bagi SDGs 2030

KWT Ceria mengolah lahan percontohan pertanian organik.

Sistem pertanian berkelanjutan menfasilitasi produksi pangan berkelanjutan.

Apa itu SDGs?

Bertempat di markas besar Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB), pada tanggal 25 September 2015 para pemimpin dunia secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global. Kurang lebih 193 kepala negara hadir termasuk Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla turut mengesahkan Agenda SDGs.

Dengan mengusung tema “Mengubah Dunia Kita : Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, SDGs yang berisi 17 tujuan dan 169 target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030) untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa terkecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai tujuan dan target SDGs.

Prinsip SDGs

Prinsip utama dari SDGs adalah ‘Tidak Meninggalkan Satu Orangpun (Leave No One Behind)’. Prinsip tersebut SDGs harus bisa menjawab setidaknya dua hal : 1) Keadilan Prosedural yaitu sejauh mana seluruh pihak terutama yang selama ini tertinggal dapat terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan; 2) Keadilan Subtansial yaitu sejauh mana kebijakan dan program pembangunan dapat atau mampu menjawab persoalan-persoalan warga terutama kelompok tertinggal.

            Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs). SDGs dirancang dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan baik itu pemerintah, Civil Society Organization (CSO), sektor swasta, akademisi, dan sebagainya. Kurang lebih 8,5 juta suara warga di seluruh dunia juga berkontribusi terhadap tujuan dan target SDGs.

Kontribusi Pertanian Organik

Perkembangan pertanian organik khususnya di Indonesia semakin menggeliat, terbukti dengan semakin meningkatnya areal pertanian organik seiring tingginya permintaan produk organik baik dari pasar lokal dan pasar ekspor. Peningkatan tersebut tentunya tidak terlepas dari kontribusi semangat petani-petani dalam melakukan budidaya sesuai standar organik, gerakan pendampingan dan advokasi kebijakan dari lembaga sosial, regulasi dan kebijakan dari pemerintah dan peningkatan kesadaran konsumen terhadap produk yang aman untuk kesehatan dan lingkungan.

            Kontribusi sektor pertanian organik dalam mendukung dan mencapai tujuan SDGs 2030 adalah sebagai berikut :

  • Goal #2 : Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan.

Pertanian organik mendukung produksi pangan secara ekologis sehingga tercapai keamanan dan ketahanan pangan dengan peningkatan hasil dan produksi yang stabil, tahan terhadap serangan hama penyakit, dan memerangi kemiskinan melalui pengurangan hutang petani akibat pembelian input kimia yang mahal. Melatih petani dengan sistem budidaya berbiaya rendah, membangun keterampilan dari sumberdaya lokal, dan kita dapat mendorong petani untuk dapat menghasilkan makanan yang sehat dan bergizi dan memerangi kelaparan di komunitas mereka.

Sistem pertanian berkelanjutan menfasilitasi produksi pangan berkelanjutan. Sampai saat ini dampak yang diakibatkan oleh industri pertanian termasuk pencemaran air, udara, degradasi tanah dan hilangnya keanekaragaman hayati. Pertanian organik dapat membantu adaptasi dengan perubahan iklim dan cuaca ekstrem dengan melindungi hilangnya nutrisi dan air dikarenakan mengandung bahan organik tinggi sebagai penutup tanah, sehingga membuat tanah lebih tahan kekeringan, banjir, dan proses degradasi lahan. Pertanian organik juga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan agroekosistem. Faktor kunci membuat produksi pangan berkelanjutan adalah dengan mengurangi penggunaan input kimia dan berusaha untuk tidak ketergantungan kepada bahan kimia.

  • Goal #3 : Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia.

Berbeda dengan pertanian berbasis kimia, pertanian oganik tidak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti pembasmi gulma Glyphosate, yang oleh WHO baru-baru ini diduga mengandung karsinogen. Jejak Glyphosate telah ditemukan dalam makanan, air, dan udara. Selain itu WHO juga menyebutkan ada 3 juta kasus keracunan pestisida setiap tahun dan menyebabkan 220.000 kasus kematian terutama di negara berkembang. Penggunaan pestisida juga dikaitkan dengan sakit kepala dan mual hingga dampak kronis seperti kanker, ganggung reproduksi, diabetes dan gangguan endokrin. Penggunaan pestisida secara terus menerus juga dapat mengurangi kesuburan tanah dan mencemari air. Melalui kerjasama dengan petani dalam menghilangkan penggunaan bahan kimia dalam budidaya pertanian, kita bisa berkontribusi secara signifikan untuk mengurangi efek berbahaya pada orang dan planet ini dan berkontribusi bagi kesejahteraan semua.

  • Goal #6 : Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua.

Menghilangkan penggunaan bahan kimia beracun di pertanian akan menghambat pencemaran pestisida ke dalam saluran air, yang akan mencemari ikan yang kita makan dan air yang kita minum.

  • Goal #13 : Mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.

Bagian penting dari pertanian organik adalah pengolahan tanah. Degradasi tanah melalui pertanian yang tidak berkelanjutan telah melepaskan sejumlah besar karbon ke atmosfer. Praktik pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia, pengolahan tanah minimum, pengembalian sisa-sisa tanaman ke dalam tanah, penggunaan tanaman penutup tanah dan pola rotasi, dan integrasi dengan tanaman legum pengikat nitrogen dapat meningkatkan kembali karbon dalam tanah. Sebuah penelitian dari Rodale Institute menjelaskan penggunaan tanaman penutup, kompos, rotasi tanam dan pengolahan lahan secara minimum, dapat menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan dengan yang hilang sehingga kita bisa antisipasi perubahan iklim.

  • Goal #15 : Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi (penggurunan), dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati.

Menurut International Union for Conservation of Nature, hilangnya keanekaragaman hayati saat ini dapat dianggap sebagai sebuah krisis kepunahan terbesar setelah kepunahan dinosaurus. Penyebabnya adalah dari penggunaan pupuk kimia secara berlebihan sehingga memberi efek terhadap perubahan iklim akibat ulah manusia. Sebuah studi dari FIBL menunjukkan bahwa tanah yang dikelola secara organik memiliki sekitar 46 – 72 persen lebih banyak habitat semi alami, dan menampung 30 persen lebih banyak species dan 50 persen lebih banyak individu dibandingkan pertanian nonorganik.

Sudah menjadikan kewajiban dari semua stakeholder yang peduli terhadap pertanian organik di Indonesia untuk mewujudkan dan berkontribusi terhadap tujuan dari SDGs 2016-2030.

Penulis : Sukmi Alkausar
Sumber : www.sdg2030indonesia.org
                www.ifoam.bio

Organic and Natural Products Expo and Indonesia Organic Alliance join hands to Strengthen Business Opportunities within the Middle East Organic and Natural Ecosystem and Contribute to UAE’s Food Security Agenda.

Dubai, United Arab Emirates

The Middle East Organic and Natural Products Expo has announced its strategic alliance with the Indonesia Organic Alliance (AOI), AOI is a civil society organization incorporated as an association, non-profit and independent. Indonesia Organic Alliance has worked since 2002. The alliance works to build organic agriculture and fair trade movement in Indonesia. Specifically in empowering small farmers through strengthening institutional capacity and management of production quality. In this way, farmers can access better markets. Thus, small farmers will be sovereign and have a better life.

The strategic partnership aims at recognizing the importance of mutual collaboration to provide Indonesian exporters a platform to explore opportunities within the Organic and Natural landscape in the Middle East and beyond thereby enhancing regional food security and sustainable economic development. This is mainly achieved through participation in the 3-day exhibition, year-round digital marketing initiatives, listing of products through the Arabian Organics E-commerce portal and also through support in terms of certification, product registration, warehousing & logistics.
The Middle East Organic and Natural Product Expo Dubai is the Middle East’s sole business event that focuses on organic and natural products. The platform has been connecting suppliers with buyers for 20 years and is held under the patronage of the Ministry of Climate Change and Environment UAE. The show encompasses five natural market segments such as Food & Beverage, Health & Beauty, Living & Environment and is the largest gathering of bio products in the region and is regarded by the community to be the ideal place to source organic and natural products. The 21st edition is scheduled to take place between 12-14 December 2023 at the Dubai World Trade Center.

The Organic and Natural F&B market alone is said to be valued at $18.42 billion in the year 2022 growing at about 14.4% year on year since 2015. The growth is across sectors such as retail, wholesale and HoReCa. With the market brimming with opportunities, Indonesian products, services and trade are estimated to be in huge demand.

According to estimates, The UAE is one of Indonesia’s largest trade and investment partner in the Middle East. Furthermore, with the recent signing of the UAE-Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) will enable the two nations to get bilateral trade up from US$3 billion annually in 2021 to in excess of US$10 billion annually within five years.

This enhanced bilateral trade agremeent between the two countries also enhances UAE’s and the Middle East’s major goal to enhance food security and help achieve UAE’s 2030 agenda for sustainable development.


The Indonesian Organic Alliance (AOI) is a civil society organization incorporated as an association, non-profit and independent. AOI was founded in 2002 and currently has 122 members, consisting of 43 NGOs, 26 companies, 16 farmer organizations, and 37 individuals spread across 18 provinces in Indonesia.
Concerns about environmental conditions that are increasingly damaged, especially agriculture due to chemical practices, agricultural development that is less able to liberate and prosper farmers, and unfair trade practice, have motivated various Indonesian people to tackle the problem.


From various ideas, field experiences, and the work of regional and global networks, the initiators took the initiative to form associations to strengthen the organic agriculture and fair trade movement.
Organic farming can overcome the problem of environmental marginalization and encourage farmers’ sovereignty. Meanwhile, fair trade practices become a bridge for trade systems that liberate and prosper farmers and other actors. Therefore, to accommodate these efforts, the Indonesian Organic Alliance was established. AOI envisions the realization of farmer sovereignty and environmental sustainability, where Indonesian people also live an organic life.


“This collaboration is expected to increase market access for AOI members not only for certified organic products but also for organic products that have not been certified organic. Market demand information can be obtained by AOI in real time regarding the type of commodity, quantity, time, and price” added Pius Mulyono, Director, of Indonesia Organic Alliance.


“We are very excited about this partnership and looking forward to working with AOI. Through this partnership, we look to provide Indonesian businesses with Organic & Natural products an exclusive platform to showcase their products and services and meet with buyers from across the Middle East & Africa,” claimed Shinu Pillai, General Manager, Middle East Organic & Natural Products Expo.

Perkuat Regenerasi Petani Muda dengan Organic Youth Camp 2023

Claket, Mojokerto, 21 Februari, 2023 – Pemuda merupakan ujung tombak dalam regenerasi petani di Indonesia. Saat ini sebanyak 75% petani di Indonesia didominasi oleh orang tua dengan usia 50-70 tahun. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) hanya 19,18% pemuda Indonesia yang bekerja di sektor pertanian pada 2021. Adapun 25,02% di antaranya bekerja di sektor industri dan mayoritas sebesar 55,8% bekerja di sektor jasa. Angka ini menunjukkan masih rendahnya minat pemuda dalam sektor pertanian.

Tantangan pertanian saat ini tidak hanya dari sisi regenerasi petani saja tapi menyiapkan para petani yang memiliki kemampuan untuk menghadapi ancaman krisis pangan dan krisis iklim. Dengan mengangkat tema, “Sustainably Feeding the World”, Aliansi Organisi Indonesia (AOI) menginisiasi Organic Youth Camp 2023. Kegiatan ini merupakan program pelatihan pertanian organik dengan konsep perkemahan di Desa Claket, Mojokerto, Jawa Timur bagi para pemuda. OYC 2023 bertujuan untuk mendorong tumbuhnya regenerasi petani muda yang melakukan pertanian organik di Indonesia sebab pertanian organik merupakan salah satu solusi untuk pertanian dan pangan yang sehat, aman, dan berkelanjutan bagi manusia dan bumi.

Selama 4 hari dari tanggal 21-24 Februari 2023, sebanyak 26 pemuda hadir dan mengikuti rangkaian materi, praktik, kunjungan lapangan, untuk memperkaya pengetahuan mereka tentang pertanian organik dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Melalui pelatihan ini pula para peserta diharapkan memiliki pengetahuan tentang pertanian organik, kesadaran akan krisis iklim, dan kemampuan berinovasi mengembangkan bisnis pertanian organik. Adapun narasumber yang hadir dalam rangkaian kegiatan ini merupakan para petani, akademisi, praktisi, pengusaha, dan aktivis organik yang berkomitmen dalam mengembangkan pertanian organik di Indonesia.

“Melalui acara ini, AOI berupaya mempertemukan para aktor organik dan para pemuda untuk berbagi ilmu dan praktik terbaik pertanian organik untuk keberlanjutan produksi pangan kita di masa depan. Para petani muda ini nantinya dapat menyalin dan menerapkan serta menularkan semangat pertanian organik di daerah masing-masing.” jelas Pius Mulyono, Direktur Aliansi Organis Indonesia dalam sambutannya di acara pembukaan Organic Youth Camp 2023. 

OYC 2023 juga menjadi tempat berjejaring bagi para peserta. Para peserta adalah pemuda dengan rentang usia 20-35 tahun yang memiliki ketertarikan akan pertanian dan juga sudah melakukan praktik pertanian. Para peserta datang dari 9 provinsi di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Keberagaman asal peserta ini juga menunjukkan potensi kekayaan pertanian di Indonesia.

Dalam pembukaan rangkaian kegiatan OYC 2023 hadir Choirul Hidayat, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto sekaligus mewakili Bupati Mojokerto dr. Ikfina Fahmawati, M.Si untuk membuka secara simbolis. Pemerintah Desa Claket dan Cak Toko dari Wehasta juga memberikan sambutan dan ucapan selamat datang sebagai bagian dari tuan rumah.

AOI berkolaborasi dengan Perkumpulan Brenjonk, Wehasta, dan Twelve’s Organic dalam menyelenggarakan acara Organic Youth Camp 2023. Memiliki visi dan misi yang sama untuk mendukung regenerasi petani muda, ID FOOD Indonesia, Yayasan Trubus Bina Swadaya, Yayasan KEHATI, dan Toko Trubus turut serta mensponsori kegiatan ini. Dukungan langsung dari Pemerintah Desa Claket dan Kabupaten Mojokerto juga sejalan dengan semangat Kabupaten Mojokerto untuk menjadi kawasan organik.

Peta Jalan Pengembangan Susu Organik di Indonesia

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik, ruang
lingkup penjaminan yaitu a) Tanaman segar, produk tanaman dan produk olahannya, b) Ternak,
produk ternak dan produk olahannya, c) Peternakan lebah dan olahannya, d) Produk khusus (jamur)
dan produk olahannya, e) Produk yang tumbuh liar dan produk olahannya, dan f) Input produksi
(pakan, pupuk, pestisida, dan benih). Data Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2018, total
luasan lahan pertanian organik di Indonesia sampai dengan tahun 2018 adalah 251.630,98 hektar,
sedangkan total jumlah produsen atau operator adalah 18.162 operator (SPOI, 2020).


Peternakan Organik


Pengembangan pertanian organik secara holistik erat kaitannya dengan sektor peternakan dengan
prinsip saling mendukung antara produksi pertanian dan produksi peternakan. Limbah produksi
pertanian organik menjadi sumber pakan bagi peternakan organik. Sebaliknya limbah produksi
peternakan menjadi sumber input produksi untuk produksi pertanian organik.

Produk hasil peternakan mencakup produksi telur ayam, daging ayam, daging sapi dan susu kambing dan produk susu bubuk. Perkembangan jumlah pelaku peternakan organik yang tersertifikasi organik paling
tinggi yaitu 12 operator pada tahun 2018-2019, dan terendah adalah 4 operator pada tahun 2020
(SPOI, 2020). Fluktuasi tersebut erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah dalam program
sertifikasi 1000 desa organik, salah satunya adalah sektor peternakan organik. Namun, pasca program sertifikasi tersebut, kelompok peternak tidak mampu untuk melanjutkan sertifikasi secara mandiri, sehingga menyebabkan penurunan jumlah operator secara signifikan pada tahun 2020. Hal ini juga diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19 yang melemahkan daya beli masyarakat.

Strategic Sector Cooperation (SSC) Indonesia – Denmark


Pada tahun 2021, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Denmark resmi melakukan kerjasama
project SSC di sector produksi susu organik untuk periode kerjasama 2021 – 2024. Penandatanganan
dokumen proyek dan work plan sebagai dasar dimulainya proyek dilakukan oleh Direktur Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Deputy
Director General Danish Veterinary and Food Administration, Ministry of Food, Agriculture and
Fisheries Denmark.

Tujuan kerjasama SSC Indonesia – Denmark adalah:

  • 1) Menyusun kebijakan terkait pengembangan susu organik yang secara khusus dapat diimplementasikan di Peternak Rakyat,
  • 2) Meningkatkan kepercayaan dan kerjasama antar Kementerian Pertanian dengan Kedutaan Besar Denmark di Indonesia, dan
  • 3) Menciptakan jaringan kerjasama antara Koperasi Peternak baik dengan publik atau / private sector melalui Danida Market Development Partnership (DMDP).

Salah satu output utama dalam kerjasama ini adalah adanya peta jalan pengembangan susu sapi
organik di Indonesia. Adapun tim pemenang yang terlibat adalah dari Direktorat Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian berikut dengan jajarannya, dengan
melibatkan juga stakeholder lain yaitu Danish Veterinary and Food Administration (DVFA), Embassy
of Denmark, Universitas, Asosiasi dan perusahaan yang bergerak di sector persusuan.

Peta Jalan Susu Organik


Salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi indikator mencapai 20% pangsa pangan organik pada
tahun 2024 adalah dengan inisiasi produksi susu organik yang telah dimulai persiapannya sejak
tahun 2021. Pengembangan susu organik di Indonesia bertujuan untuk memenuhi permintaan
produk organik dari populasi yang terus bertambah di Indonesia dan untuk pemenuhan potensi
pasar ekspor. Pengembangan susu organik di Indonesia sangat penting karena selain dapat
berkontribusi kepada pemenuhan pangan berbasis protein, juga dapat berkontribusi pada beberapa
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau disebut juga 17 Sustainable Development Goals (17 SDGs).

Berdasarkan tantangan dan peluang tersebut, perlu disusun suatu Peta Jalan Pengembangan Persusuan Organik Nasional yang memuat strategi pelaksanaan dan rencana aksi untuk menemukan usaha-usaha yang efektif, efisien dan berkelanjutan, sehingga dapat dicapai produksi susu sapi organik yang berkelanjutan, terjangkau dan inisiasi ekspor produk organik komoditas susu dan turunannya, serta meningkatnya kesejahteraan peternak rakyat Indonesia.


Penyusunan peta jalan bermaksud sebagai acuan pengembangan persusuan organik nasional untuk
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak sapi perah organik melalui peningkatan
populasi, produksi, produktifitas, peningkatan kapasitas, pengolahan hingga pemasaran. Peta jalan
ditetapkan untuk dijadikan arah, pedoman, dan penyelerasan peran dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dalam pengembangan persusuan organik nasional. Sasaran peta jalan adalah peternak, kelompok peternak, gabungan kelompok peternak, koperasi peternak dan seluruh stakeholder terkait, baik pemerintah maupun swasta, akademisi, asosiasi dan pihak terkait lainnya.


Peta jalan pengembangan persusuan organik nasional 2022 – 2026 memiliki target dan rencana aksi
sebagai indicator pencapaian dari setiap kegiatan. Target kualitatif disusun sebagai acuan pelaksanaan pilot project peternakan susu organik di Koperasi Peternak Setia Kawan (KPSP), Pasuruan – Jawa Timur. Sedangkan rencana aksi disusun sebagai pendukung pencapaian target kualitatif dan acuan utama bagi seluruh stakeholder dalam melakukan replikasi dan pengembangan di lokasi lain.

Berikut adalah rencana aksi dari peta jalan yang disusun:

  1. Penguatan Kebijakan, Regulasi dan Standar
  2. Koordinasi dan Kerjasama antar Stakeholder
  3. Produksi Susu Organik
    a) Pembiayaan peternakan organik
    b) Sistem ketelusuran
    c) Sertifikasi organik
    d) Fasilitasi sarana dan prasarana penunjang
    e) Pendampingan penyusunan dokumen sistem mutu
    f) Identifikasi offtaker
  4. Perluasan Rantai Nilai yang Berkelajutan dan Replikasi
  5. Peningkatan Konsumsi Susu Organik
  6. Pemasaran Susu Organik

    Tentunya rumusan peta jalan ini harus bisa diimplementasikan dan dirasakan manfaat bagi peternak
    dan komunitasnya, bukan hanya sekedar dokumen pemenuhan capaian kerjasama. Koordinasi dan
    sinergisitas antar-stakeholder menjadi kunci utama dalam menyusun dan mengimplementasikan
    peta jalan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing stakeholder.
    Aliansi Organis Indonesia (AOI) sebagai salah satu actor yang mengetahui dan terlibat dalam penyusunan peta jalan ini, memberikan catatan khusus terkait dengan keterlibatan dan kemanfaatan yang diterima oleh peternak dan lingkungan sekitar peternakan organik. AOI akan mengawal dan memastikan bahwa peta jalan ini menjadi langkah kunci dalam mengembangkan sector peternakan organik khususnya dan pengembangan pertanian organik di Indonesia umumnya.
    Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, AOI mengapresiasi adanya peta jalan ini sebagai
    bagian dari kerjasama SSC Indonesia – Denmark. Semoga pendampingan dan pembelajaran dari
    keberhasilan Denmark dalam mengembangkan sector susu organiknya menjadi kesempatan yang
    bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Indonesia dalam konteks transfer of knowledge.

    Penulis : Sukmi Alkausar

    Referensi: Statistik Pertanian Organik Indonesia, 2020. Aliansi Organis Indonesia

    Coming Soon: Organic Youth Camp 2023

    Program Pelatihan Organik untuk Pemuda yang memiliki ketertarikan dan minat dalam pertanian organik maupun pengolahan produk organik. Jadilah bagian dari keberlanjutan pangan dan regenerasi petani Indonesia dan bergabunglah dalam Organic Youth Camp 223.

    Ikuti pelatihan intensif dengan materi dan praktek selama 4 hari di bumi perkemahan Mojokerto, Jawa Timur pada 21-24 Februari 2023.

    AOI_OYC2023
    Organic Youth Camp 2023 will be held on February 21-24, 2023